Jumat, 06 November 2020

Hikmah Pandemi Covid-19 Bagi Dunia Pendidikan

 

Oleh Enang Cuhendi


Sabar ya, pasti ada hikmah di setiap kejadian”, demikian ungkapan yang sudah sangat familiar di telinga kita. Ungkapan itu biasanya keluar tatkala ada suatu musibah atau cobaan yang menimpa. Umumnya dimaksudkan sekedar untuk menguatkan diri agar tetap tegar dalam menghadapi cobaan atau musibah tersebut. Uniknya walau terkesan cukup sederhana, namun entah kenapa, saat kita mengatakan “pasti ada hikmah di setiap kejadian” membuat hati ini seketika menjadi tenang dan tenteram. Rasa cemas dan khawatir yang sebelumnya kita rasakan sedikit demi sedikit memudar.

Apa itu hikmah? Ada beberapa definisi yang menjelaskan tentang hikmah. Dalam ajaran Islam, hikmah berasal dari kata al-hikmah yang artinya suatu keadilan atau kebijaksanaan (dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.). Sedangkan menurut ilmu bahasa, hikmah adalah suatu arti dan makna yang terkandung dalam suatu kejadian atau peristiwa yang telah selesai. Umumnya Hikmah sering dikaitkan dengan makna kejadian yang sudah dilalui, misalnya ketika menghadapi masalah dan cobaan kehidupan. Pada dasarnya cobaan adalah bentuk ujian dari Allah SWT. untuk hamba-Nya.

Kata kata hikmah seperti di atas menandakan bahwa kita adalah seorang yang mampu bersabar, bersyukur, dan menerima semua takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita. Kita sangat percaya bahwa di setiap kejadian pasti ada makna di dalamnya. Selama kita ikhlas dan sabar menjalaninya, kita akan memetik pelajaran berharga dari suatu kejadian yang akan bermanfaat sekarang dan di kemudian hari.

Pandemi Covid-19

Sejak awal tahun 2020 sampai sekarang dunia dilanda pandemi Covid-19 (Corona virus disease-19). Pandemi yang disebabkan oleh tersebarnya Virus Corona ke seluruh pelosok dunia. Virus yang awal mulanya berkembang di Kota Wuhan China di akhir 2019 ini telah menimbulkan dampak luar biasa. Sampai 29 Oktober 2020, 11:15 pm GMT+7 berdasarkan data dari WHO terkonfirmasi di 219 negara ada 44.351.506 kasus dengan jumlah yang meninggal 1.171.255 orang. Sedangakan data Satgas Covid-19 per 29 Oktober 2020 menyebutkan di Indonesia terkonfirmasi positif 404.048, yang dinyatakan sembuh 329.778 dan meninggal 13.701.

Kondisi di atas tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Ini pastinya sangat memprihatinkan. Apalagi di negara kita sejak Maret 2020 angkanya terus menunjukkan grafik naik. Untuk itu upaya dari berbagai pihak termasuk masyarakat perlu terus dilakukan guna mencengah berkembangnya Covid-19, salah satunya dengan selalu menerapkan protokol kesehatan Covid-19, seperti selalu mengenakan masker, menjaga jarak saat dikeramaian dan sering mencuci tangan dengan sabun. Insyaallah dengan kerjasama yang baik pasti bisa teratasi.

Dampak pandemi ini sangat terasa di berbagai aspek kehidupan, termasuk di antaranya pendidikan. Sejak merebaknya Pandemi Covid-19 terhitung sejak Maret 2020 sampai saat ini proses pembelajaran secara tatap muka di kelas mulai dihentikan. Proses ujian baik Ujian Nasional. Penilaian Akhir Tahun, prosesi wisuda dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi peserta didik baru serta proses pembelajaran di tahun pelajaran 2020-2021 semua terpaksa dilakukan secara daring (online).

Prosesi daring tentunya bukan hal yang ideal dalam semua aktivitas yang disebutkan di atas, namun ini adalah salah satu pilihan yang terbaik untuk saat ini. Walaupun tidak bisa mencakup layanan secara maksimal, setidaknya dengan daring layanan pembelajaran kepada peserta didik masih terlayani dan sekaligus bisa menekan penyebaran Covid-19.

Harus diakui bahwa Pandemi Covid-19 telah banyak menimbulkan permasalahan dalam dunia pendidikan, tetapi kalau kita mau jujur banyak juga hikmah yang bisa diambil dari adanya pandemi ini. Diberlakukannya Surat Edaran Mendikbud RI Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 memaksa hadirnya Proses Belajar dari Rumah (BDR) melalui pembelajaran jarak jauh model daring. Proses BDR ini dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Proses BDR melalui pembelajaran jarak jauh model daring menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Bagi mayoritas bahkan hampir keseluruhan guru pembelajaran model baru ini menjadi problem tersendiri karena model seperti ini relatif belum pernah dilakukan sebelumnya. Melalui pembelajaran daring para guru akhirnya dituntut untuk lompat selangkah ke depan. Mereka harus merubah mindset dan cara mengajar, dituntut punya kreativitas yang tinggi serta dituntut pula untuk meningkatkan kompetensi penguasaan ICT (Information, Communication dan Technology). Mereka harus mampu menyajikan proses pembelajaran daring yang menarik dan tetap mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk terus belajar meski tidak melalui tatap muka langsung di kelas.

Tuntutan perubahan mindset, perlunya kreativitas yang tinggi dalam mengajar, dan pentingnya kompetensi penguasaan ICT sebenarnya bukan hal baru. Sejak pola pendidikan semakin berkembang modern dan kurikulum beralih menjadi berbasis kompetensi di awal abad 21 tuntutan tersebut sudah berkembang, hanya umumnya sebagian besar guru masih terkesan kurang peduli. Guru masih asyik berkutat dengan model mengajar gaya lama. Aneka pelatihan dan penataran yang diikuti seakan tidak ada hasilnya, karena proses pembelajaran masih cenderung model lama yang berpusat pada guru. Kemudian upaya untuk melaksanakan Pengembangan Keprofesian secara Berkelanjutan (PKB) juga relatif minim dilakukan apalagi secara mandiri atau atas dasar inisiatif sendiri.

Datangnya perintah untuk melaksanakan pembelajaran daring menimbulksn hikmah tersendiri. Kini sebagian besar guru berusaha tidak hanya merubah mindset tetapi juga semaksimal mungkin meningkatkan kreatifitas dalam melakasanakan proses pembelajaran. Mereka berusaha memberikan layanan pembelajaran terbaik sekreatif mungkin. Karena pembelajaran wajib dilakukan secara daring maka keterampilan penguasaan ICT dan pemanfaat media internet, komputer atau telpon pintar mutlak diperlukan. Untuk itu banyak guru dengan sadar, terpaksa atau memaksakan diri untuk belajar atau mengikuti aneka macam pelatihan, workshop atau seminar secara daring yang bermunculan luar biasa banyaknya sejak era pembelajaran daring berlangsung.

Di masa pandemi ini juga muncul fenomena menarik. Banyak guru yang berubah menjadi youtuber. Mereka aktif bikin konten youtube yang berisikan proses pembelajaran atau materi pelajaran. Ini bukti lain dari berkembangnya proses kreatifitas. Sayangnya banyak juga yang Cuma mengunduh video di youtube kemudian disalin dan dikirim ke peserta didiknya untuk ditonton. Secara tidak langsung ia menyuruh orang lain (bintang pengisi di video) untuk menggantikan perannya dalam mengajar peserta didiknya. Ada juga yang kreatif memanfaatkan aplikasi whatsapp untuk mengajar, dengan memanfaatkan fitur pesan tertulis, voice note, pengiriman gambar atau dokumen.

Tingkat kepedulian guru untuk berinteraksi secara langsung ke tempat tinggal peserta didik juga bisa terlihat lebih tinggi. Ini terutama saat dilakukan program guru kunjung ke wilayah tempat tinggal peserta didik. Selain bertujuan untuk melayani peserta didik yang kesulitan melakukan pembelajaran daring karena berbagai alasan juga memberikan suntikan motivasi. Dalam situasi dan kondisi normal urusan kunjungan ke tempat tinggal peserta (home visit) biasanya dilakukan secara terbatas kalau ada peserta didik yang bermasalah.

Di sisi lain selama Pandemi Covid-19 sekolah pun banyak yang lebih peduli dengan urusan kebersihan dan kesehatan. Ini karena adanya protokol kesehatan yang wajib diikuti sekolah kalau ingin melakukan tatap muka, yaitu adanya keharusan untuk memiliki sarana sanitasi dan kebersihan berupa toilet bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer), ketersediaan disinfektan dan kepemilikn thermogun (pengukur suhu tubuh tembak). Untuk itulah setiap sekolah seakan berlomba mempersiapkan dan memenuhi ketentaun. Di banyak sekolah terlihat adanya pembenahan toilet supaya lebih bersih. Selain itu dibangun aneka sarana cuci tangan di depan setiap kelas lengkap dengan sabun atau cairan pembersih tangan. Kalau terus dipelihara mungkin setiap sekolah menjadi jauh lebih bersih.

Apa yang disampaikan di atas merupakan sekelumit hikmah dari adanya Pandemi Covid-19. Mudah-mudahan adanya pandemi ini akan membawa juga sisi positif dalam perkembangan pendidikan ke depan. Saat musibah korona menimpa, ada doa dari Nabi Muhammad SAW yang bisa kita panjatkan, “Allaahumma’jurnii fii mushiibatii, wa akhliflii khairan minhaa (Ya Allah, berikanlah aku pahala dari musibahku dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya).” (HR Muslim No. 918). Semoga Allah akan mengganti yang lebih baik dari musibah yang kita alami dan memberikan kita kemampuan untuk mengambil hikmah terbaik atas musibah Pandemi Covid-19 ini.