Minggu, 15 November 2020

LELAKI DI UJUNG MATA

 Oleh: Wiwin Wintarsih


Sore itu hujan sangat deras. Aku berteduh di emper toko yang tutup. Angin berhembus kencang suaranya terdengar menderu. Membuat tempias ke tempatku berteduh. Udara terasa sangat dingin menusuk tulang. Aku merapatkan jaket yang kukenakan. Jaket itu tidak mampu menahan dinginnya udara. Aku bergidik ketika angin menerpa tubuhku.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Sebagian besar toko sudah tutup. Mungkin pemilik toko berpikir tidak akan ada lagi pembeli di sore yang diguyur hujan lebat seperti itu. Di tempat lain aku melihat masih ada beberapa kedai makanan yang buka. Sangat pas menikmati secangkir minuman panas di saat seperti ini. Perutku mendadak berbunyi saat mata memperhatikan kedai makanan. Otak telah mengirimkan sinyal lapar ke perutku.

Di kota kecil tempat tinggalku suasana sore itu sungguh muram. Pandanganku terus berpindah-pindah dari satu objek ke objek lain. Kini tertuju kepada seseorang yang tengah berteduh di emper toko lain yang juga sudah tutup. Orang tersebut tampak menggigil. Ia tidak mengenakan jaket. Aku bisa membayangkan bagaimana udara dingin yang dirasakannya. Tanpa sadar tanganku merapatkan jaket yang kukenakan.

Orang tersebut tampak menyalakan sebatang rokok. Mungkin untuk mengusir udara dingin. Aku secara pribadi kurang menaruh hormat kepada orang yang menyalakan rokok di tempat umum apalagi jika sedang banyak orang. Karena hal itu merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Mengingat saat itu udara sangat dingin aku memaklumi yang dilakukannya. Lagi pula posisi ia sangat jauh dari posisiku saat ini, “Apakah mungkin aku termasuk orang yang permisif?” gumamku dalam hati.

Laki-laki itu tampak gelisah. Ia menghisap rokoknya dengan tidak teratur. Terlihat dari jarak kepulan asap yang dihembuskannya. Sesekali ia menengadahkan kepalanya ke langit. Mungkin dalam hatinya bertanya, “Kapan hujan akan reda?” kali lain ia memandang lama ke satu titik. Aku tidak tahu pasti apa yang menarik perhatiannya di titik itu, sampai ia dapat memandang ke arah tersebut begitu lama. Atau mungkin hanya pandangan yang kosong. Aku sendiri tidak tahu dan tidak peduli. Toh itu bukan urusanku dan yang pasti aku tidak mengenalnya.

Di ujung kiri dari tempatku berdiri ada seorang perempuan yang juga sedang berteduh. Ia mengenakan rok super pendek. Lagi-lagi aku membayangkan rasa dingin yang mungkin dirasakannya. Tangan lebih merapatkan jaket yang kukenakan. Sesekali terlihat perempuan itu menggeser posisi payung kecilnya untuk menghalangi tempias agar tidak mengenai tubuh langsingnya. Aku tergeli sendiri menyaksikan tingkah laku perempuan di seberangku itu. Aku tak habis pikir mengapa ia mengenakan rok super pendek di musim hujan seperti sekarang ini, “Mungkin tuntutan pekerjaan,” gumamku lagi. 

Hari semakin gelap. Hujan belum juga reda. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Sekarang suasana lebih cerah setelah cahaya lampu menerangi tempat tersebut. Tak sadar aku mengelus kantong plastik yang membungkus obat untuk Abah. Bimbang mulai menyelimutiku. Antara meneruskan perjalanan pulang ke rumah atau menunggu hujan reda. 

Jika harus menunggu hujan reda maka obat untuk Abah tidak dapat segera sampai ke rumah. Jika memaksa menerobos hujan, aku harus rela kepalaku diikat kencang-kencang untuk menahan sakit. Kepalaku suka terasa sangat sakit jika terkena air hujan. Dan itu bisa berlangsung berhari-hari. Akan sangat mengganggu aktivitasku. Terutama aktivitas untuk merawat Abah yang sedang sakit. Aku menghela napas panjang. Aku memilih pilihan pertama, menunggu hujan reda. Dengan risiko pulang kemalaman dan mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar ongkos ojek.

Jika sudah malam tidak ada angkutan yang sampai ke desaku apa lagi dalam cuaca hujan seperti sekarang. Para supir angkutan umum memilih pulang lebih cepat. Daripada menunggu penumpang yang belum tentu ada. Dan aku terpaksa harus naik ojek dengan risiko basah kuyup dan ongkos lebih mahal. Tapi tidak mengapa. Itu risiko yang paling ringan yang dapat aku ambil saat itu.

Kembali aku memperhatikan teman berteduh di seberang tempatku berdiri. Lelaki itu tampak menyalakan rokok untuk kedua kalinya. Sikapnya masih seperti tadi. Antara menengadahkan kepala ke langit atau memandang ke satu titik sambil menghela napas panjang. Hal itu menarik perhatianku karena tidak ada lagi hal lain yang dapat kulakukan. Sekarang ia tampak jongkok. Aku pun ikut-ikutan jongkok. Kaki sudah terasa pegal karena berdiri terlalu lama. Hal itu tidak lama kulakukan karena dengan berjongkok air hujan mengenai seluruh tubuhku. Kuputuskan untuk segera berdiri lagi.

Pandanganku tidak lepas dari lelaki di seberang jalan itu. Untung ia tidak pernah melihat ke arahku. Jadi aku sangat leluasa memperhatikan dirinya. Postur tubuhnya sedang malah cenderung kurus. Wajahnya cukup tampan, sayang sedang terlihat kusut. Kulitnya bersih. Tidak berkumis seperti kebanyakan laki-laki lain. Rambutnya dipotong pendek terlihat sedikit berantakan. Mengenakan kemeja lengan panjang dari bahan planel yang digulung setengah lengan berwarna biru kotak-kotak. Bercelana dari bahan jeans juga berwarna biru. Mengenakan sepatu kets berwarna abu-abu dengan variasi putih. Ada tas punggung di pundak sebelah kiri. Lelaki yang menarik.  Aku tertawa kecil. Menertawakan pikiranku yang mengembara kemana-mana.

Perempuan di ujung sebelah kiri dariku sudah tidak ada di tempatnya berdiri. Kapan ia pergi aku tidak melihatnya. Aku lebih asyik memperhatikan teman berteduh diseberangku yang hanya terhalang jalan raya kabupaten.

Aku sempat heran mengapa lelaki itu tidak pernah melihat ke arahku padahal waktu menunggu hujan itu cukup lama. Aku berterima kasih untuk hal itu. Kalau saja ia sempat melihat ke arahku maka ia akan tahu ada perempuan tidak tahu diri yang sedang memperhatikan dirinya. Dan sungguh aku akan sangat malu jika hal itu terjadi.

Hujan mulai reda aku putuskan untuk mencari ojek agar dapat segera pulang ke rumah. Sekilas kulihat lelaki itu pun meninggalkan tempatnya berteduh. Aku tidak tahu ke mana perjalanan ia selanjutnya. Setelah memperoleh ojek aku segera naik dan menyebutkan alamat tujuanku. Sebelumnya aku mengenakan jas hujan yang diberikan oleh tukang ojek. Alhamdulllah aku tidak akan basah kuyup.

Untuk sampai ke rumah aku harus menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit. Rumah kami memang jauh dari ibu kota kecamatan. Jika hari sudah malam tidak ada mobil angkutan umum yang lewat ke desaku. Ojek adalah satu-satunya angkutan yang bisa digunakan. 

Pernah suatu ketika ada wacana yang beredar bahwa ke desa kami akan ada angkutan umum sampai malam hari. Waktu itu di desaku sedang didirikan sebuah sekolah menengah atas negeri. Diharapkan dengan diseiakan mobil angkutan umum dapat menarik minat siswa dari daerah lain untuk bersekolah di sekolah tersebut. Karena salah satu keluhan calon siswa adalah biaya transportasi yang mahal karena harus menggunakan ojek.

Wacana itu hilang begitu saja. Di kemudian hari aku baru mengetahui penyebabnya. Berita itu bukan isapan jempol belaka. Wacana itu benar adanya. Tetapi sebelum keputusan dibuat oleh pihak yang berwenang, para tukang ojek sudah melayangkan protes keras. Bahwa keberadaan mobil angkutan umum yang beroperasi sampai malam akan sangat mempengaruhi pendapatan mereka. Hal itu sangat jelas dan sangat bisa dimengerti. Urusan perut selalu saja mengalahkan urusan yang lain.

Jika ada angkutan umum sampai malam ke desaku maka para pengguna ojek akan lebih memilih menggunakan mobil angkutan umum. Ongkos yang lebih murah dan dapat membawa barang lebih banyak alasan utama, selain tidak kehujanan. Tukang ojek sangat mengetahui hal itu. 

Yang menjadi korban dalam permasalahan ini adalah kami masyarakat yang tidak memiliki kendaran pribadi. Kami harus tetap mengeluarkan biaya yang banyak untuk sektor transportasi. Dan tukang ojek tidak mau tahu. Menurut mereka itu bukan urusannya. Yang jadi urusannya adalah bagaimana mereka dapat tetap memperoleh pendapatan untuk menghidupi keluarganya. Sikap egois?!  Atau sikap yang tepaksa mereka ambil karena tidak ada jalan lain?!

Begitu sampai di rumah aku langsung membersihkan diri dan bersegera menunaikan salat Magrib. Baru saja hendak ke luar dari musala, terdengar kumandang azan Isya. Kuurungkan niat untuk ke luar menemui Abah dan masuk kembali ke musala. Aku menyesal, salat Magribku di akhir waktu tetapi juga bersyukur dan bahagia karena salat Isyaku di awal waktu. Aku hanya menunaikan salat saja, tidak dilanjutkan dengan membaca Alquran seperti biasanya. Aku sudah tidak sabar untuk melihat kondisi Abah.

Aku menyimpan mukena di tempatnya. Segera ke luar dari musala untuk menemui Abah yang tengah berbaring di tempat tidurnya. Sepertinya sedang salat juga. Ada rasa haru dan bahagia, dalam keadaan sakit pun beliau tetap menjalankan kewajibannya. Aku tidak berani mengusiknya, menunggu sampai Abah selesai salat. 

Ketika melihat Abah mengusap wajah dengan telapak tangannya, aku segera menghampirinya. Kemudian mencium telapak tangannya dengan takzim. Telapak tangan itu sangat berjasa dalam mengantarkan aku sampai saat ini. Banyak hal yang telah Abah lakukan dengan telapak tangannya itu.  Aku sangat menghormati dan menyayangi Abah. Dan selalu berterima kasih atas semua yang telah dilakukannya untukku.

Aku duduk di pinggir tempat tidur, memegang kaki Abah yang terasa keras berotot. Kaki itu pun sagat berjasa mengantar Abah berjuang mencari nafkah untuk menghidupi kami sekeluarga. Kaki itu yang telah mendampingi Abah melakukan banyak hal. Menemaninya kemana pun Abah pergi. Mungkin ke tempat yang tidak pernah aku duga.

Perlahan aku memijit kaki itu. Merasakan kulitnya yang mulai keriput, terasa dingin. Aku membetulkan posisi selimut agar menutupi kaki ajaib itu. Abah tersenyum. Dengan pelan lelaki menuju renta itu berkata. Suaranya hampir tidak terdengar. Aku harus mencondongkan badan ke arahnya agar dapat mendengarkan dengan jelas yang mau disampaikan.

“Kamu dari mana saja? Seharian ini Abah tidak melihatmu,” susah payah Abah mengatakan itu. Aku tersenyum sambil terus memijit pelan kaki dingin itu.

“Hari ini Inong pergi ke beberapa tempat. Banyak hal yang harus diurus dan diselesaikan. Doakan sama Abah agar urusan Inong segera selesai,” Abah mengangguk sambil tersenyum.

“Abah harus makan sekarang. Setelah makan Abah juga harus minum obat agar segera pulih dan dapat bekerja lagi seperti yang Abah sukai!” lagi-lagi lelaki pekerja keras itu mengangguk dan tersenyum. 

Aku segera ke dapur mengambil bubur yang sudah disediakan oleh Ema. Sambil mnyuapi Abah aku memperhatikan wajahnya yang sudah mulai keriput. Wajah yang memancarkan semangat. Aku selalu mengagumi sorot mata Abah yang tajam. Kadang suka ngeri jika Abah marah. Mata itu terlihat berkilauan dan menyilaukan. Membuat siapa pun tidak berani menentang tatapan matanya. Aku selalu berusaha untuk tidak membuat Abah marah. Berusaha untuk selalu dapat menyenangkan hatinya.

Setelah Abah selesai makan aku kemudian mengambil obat yang telah diresepkan oleh dokter. Abah menuruti saja yang aku ucapkan. Sewaktu makan Abah mengatakan keinginanya untuk segera sembuh. Abah merasa kasihan jika membiarkan Ema pergi ke sawah atau ke ladang untuk bekerja sendirian. Tersirat kasih sayang yang tulus di dalam ucapan itu.

Aku menyelimuti tubuh yang terbaring lemah itu. Aku pandangi sebentar, kemudian segera menemui Ema. Sebelumnya berpesan agar Abah segera istirahat supaya lekas sembuh. Ketika sampai di dapur Ema sedang duduk di amben. Sendirian. Tersenyum ketika aku menghampirinya. 

“Kita makan, Nong!” ajak Ema. Aku mengangguk. Terdengar bunyi perutku meminta isi. Ema tertawa pelan. Aku baru ingat bahwa seharian ini belum makan. Tadi tidak membawa bekal makan siang dari rumah. Kupikir urusanku bisa cepat selesai. 

Aku menuju ke lemari tempat penyimpanan makanan. Lalu menghidangkan makanan untuk Ema. 

“Wah, bakal nambah ini!” selorohku sambil menata makanan di atas amben. Tidak banyak yang disajikan. Ada nasi merah, sayur oyong, tempe bacem, sambal, dan ikan asin. Menu santap malam yang menggugah seleraku. Dengan semangat empat lima aku melahap semuanya, sampai Ema menepuk tanganku.

“Makan pelan-pelan, Nong! Gak bakal ada yang menghabiskan makananmu. Lagi pula oyong di kebun masih banyak. Pekan depan baru kita petik. Tadi Pak Haji sudah menanyakan kapan oyong kita mau dipanen,” Ema menjelaskan.

Aku bahagia dan bersyukur, meskipun Abah sakit, Ema dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Buktinya sebentar lagi kami akan panen oyong. Kami menyelesaikan santap malam dengan penuh selera, bersyukur masih memperoleh makanan. Di luar sana banyak yang untuk sekadar makan sedehana pun mereka tidak bisa. Aku mendekati Ema kemudian memeluk orang terkasih itu dengan sepenuh hati.

“Terima kasih Ema atas semua yang telah Ema lakukan. Maaf Inong belum bisa membantu banyak dan masih saja merepotkan dan menyusahkan Ema serta Abah!” semakin erat kupeluk Ema. Tidak terasa air mata meleleh. Aku betul-betul bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangiku dan menjagaku sampai saat ini. Ema mengusap lembut punggungku.

“Ema yang berterima kasih kepadamu, Nong. Kamu sudah berkorban banyak untuk keluarga ini. Untuk Ema dan Abah. Untuk adik-adikmu. Kamu telah melakukan banyak hal untuk kami. Berkorban segalanya, bahkan kau rela mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Kau hanya memikirkan kami sampai tidak sempat memikirkan diri sendiri. Maafkan Ema ya, Nong!” pelukan kami semakin erat. Kudengar suara Ema parau, aku pun ikut menangis. 

“Sudahlah, Ma. Inong ikhlas menjalani semua ini. Ema dan Abah telah banyak berkorban untuk kami. Yang Inong lakukan tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang telah Ema dan Abah lakukan!”

Kami meneruskan percakapan ringan sambil merapikan amben dan memberesakan peralatan makan. Kami sudah terbiasa langsung membereskan peralatan jika telah melakukan kegiatan. Aku langsung mencuci peralatan makan meskipun Ema melarang.

Sebelum masuk ke kamar aku sempatkan untuk menengok Abah di kamarnya. Tampak mata Abah tertutup. Wajahnya sudah tidak terlalu pucat. Terlihat damai dan nyaman. Mungkin beliau sudah tidur. Aku gembira melihat kondisi Abah. Dengan langkah yang terasa lebih ringan aku masuk ke kamar. Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan.

Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan. Terasa nyaman. Kuusap seprei yang baru tadi pagi diganti. Kucoba telentang meluruskan punggung. Terasa nikmat sekali setelah seharian kesana kemari. Kamar ini yang dapat memberikan kebahagian dan kenyaman bagiku selain Ema dan Abah.

Mungkin karena kelelahan sampai tidak sempat mengganti baju dan berselimut. Aku tidak tahu tertidur pukul berapa. Alarm tubuhku berbunyi. Aku sudah tidak memerlukan alarm lain. Tubuhku seperti sudah di program untuk bangun pada pukul tiga dini hari dan itu berlangsung hampir setiap hari. 

Bangun tidur badan terasa lebih segar. Segera aku merapikan tempat tidur kemudian menuju kamar mandi untuk berwudu, aku ingin menunaikan salat malam. Menumpahkan segala keluh kesah kepada yang menciptakannya mengembalikan semua kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kemuian aku melajutkan membaca Alquran sampai azan subuh berkumandang.

Teringat pada Abah. Beliau tentu ingin salat juga. Segera aku ke kamar Abah. Aku terlambat. Abah sudah berganti pakaian, seprei juga sudah diganti. Tentu Ema yang telah melakukannya. Padahal aku sudah meminta agar Ema tidak melakukan hal itu. Biar aku saja yang mengerjakannya. Tetapi Ema tidak pernah mendengarkan perkataanku.

Bah, sudah salat?” tanyaku. Abah tersenyum dan menganguk.

“Tolong bawakan air putih hangat ya, Nong! Ema mungkin lupa, tadi Abah sudah memintanya. Tapi Ema belum ke sini lagi.” Aku segera memenuhi keinginan Abah. Mengambilkan air putih hangat di dapur. Aku tidak melihat Ema. Kompor sudah menyala. Di atas kompor, dandang juga sudah mengepulkan asap, tanda ada sesuatu di dalamnya. Aku kembali menjumpai Abah. Membantunya minum. Abah menghabiskan isi gelas sampai tandas. Aku gembira, Abah mengikuti saran dokter. 

Aku membuka jendela kamar Abah agar udara bersih masuk menggantikan udara di kamar yang penuh dengan karbondioksida. Abah juga senang jika jendela kamarnya di buka. Beliau bisa melihat pemandangan di luar kamar untuk mengusir rasa bosan. Jika sudah agak siang sinar matahari dapat masuk menerobos jendela kamar. Itu juga hal baik, sinar matahari dapat membunuh kuman dan bakteri mungkin juga virus.

Dari jendela kamar, Abah dapat melihat hijaunya pepohonan. Rumah kami berbatasan langsung dengan kebun yang ditanami aneka macam sayuran dan buah-buahan. Sengaja kami sediakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebun itu sangat membantu. Kami dapat berhemat untuk pengeluaran pos konsumsi.

Kegiatan rutin segera aku lakukan, membuka pintu dan jendela rumah. Meskipun sederhana rumah kami cukup nyaman karena besih dan rapi. Kegiatan dilanjutkan dengan menyapu rumah, mengepel lantai, dan membersihkan halaman, itu kulakukan setiap hari. Kemuian aku akan mencuci pakaian dan membantu Ema memasak.

Kami terbiasa sarapan sebelum melakukan aktifitas di luar rumah. Dan membawa bekal jika melakukan kegiatan di luar rumah. Selain hemat juga lebih sehat. Sudah beberapa hari ini aktifitas di dapur di tambah dengan membuat bubur untuk Abah. Sesuai anjuran dari dokter Abah harus makan makanan yang lembut dan memperbanyak minum.

Pekerjaan yang Abah lakukan sehari-hari kadang membuat beliau tidak dapat mengontrol asupan air ke tubuhnya. Abah orang yang cerdas dan selalu berpikir positif. Beliau mengikuti anjuran dari dokter tanpa membantah. Sebelum meninggalkan Abah, selalu kusiapkan dua botol besar air minum di kamarnya. Ketika malam kuperiksa air minum itu sudah habis, dan subuh diisi dengan yang baru. Oleh sebab itu kesehatan Abah cepat pulih.

Aku juga menyarankan hal itu kepada Ema agar beliau mengikuti anjuran dokter. Ema juga orang cerdas. Aku bahagia mempunyai orang tua yang cerdas dan berpikir jernih. Aku jadi malu terhadap diriku sendiri, kadang suka mengabaikan asupan air putih. Lebih sering minum air beraroma dan beperasa. Sungguh bukan tindakan yang bertanggung jawab. Aku harus segera memperbaiki tindakanku itu. Memperbaiki pola makan dan minumku. Mumpung masih muda, supaya dapat menjalani kehidupan dengan lebih sehat.

***

Satu pekan berlalu. Setelah urusan di rumah selesai, aku dan Ema siap-siap pergi ke kebun untuk memanen oyong. Abah mengizinkan kami pergi karena kondisinya sudah lebih baik. Sudah bisa duduk dan berjalan meskipun masih sangat pelan. Kami gembira dengan perkembangan kesehatan Abah.

Letak kebun tidak terlalu jauh dari rumah, hanya beberapa ratus meter. Kebun itu pun tidak terlalu luas. Dalam waktu singkat kami sudah sampai. Setelah menyimpan peralatan dan bekal, tanpa banyak bicara kami mulai melakukan pekerjaan. Menurut Ema, Pak Haji hendak mengambil oyong sekitar pukul sepuluh pagi.

Sekitar dua jam kami telah menyelesaikan pekerjaan. Semua oyong sudah rapi berbaring di dalam karung dan diikat kuat. Tinggal ditimbang oleh pihak yang mau membeli. Alhamdulillah harga sedang bagus Rp 10.000,-/kg. Ema terlihat bahagia airmukanya terlihat cerah. Ada bekal untuk menghadapi puasa dan mengganti biaya pengobatan Abah.

Pak Haji datang sesuai yang dikatakannya. Aku senang dengan orang yang dapat memenuhi janji dan datang tepat waktu. Jadi waktu tidak terbuang percuma untuk menunggu. Budaya jam karet itu harus segera dibumihanguskan. Sungguh sangat tidak bermanfaat dan tidak berkualitas. Pak Haji menyuruh pegawainya untuk menimbang hasil panen kami. Ia tidak meminta sampel karena beberapi hari yang lalu sudah memeriksa oyong di kebun kami. Jadi ia tahu kualitasnya. 

Ema sangat cerdas dan terampil. Beliau telah memisahkan oyong sesuai ukurannya, mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil. Di setiap karung diberi keterangan. Pak Haji sangat senang dengan hasil kerja Ema. Beliau menghargainya dengan menambah harga. Oyong dengan kualitas super dihargai Rp 12.000, 00/Kg.  Ema bertambah senang dengan hal itu. Pekerjaan kecil dan sederhana yang Ema lakukan ternyata dapat memudahkan pekerjaan orang lain. Pak Haji merasa terbantu sehingga ia berterima kasih dengan membayar lebih mahal. 

Peristiwa tadi menohok kesadaranku. Sekecil apa pun perbuatan baik yang dilakukan dapat menyebabkan datangnya kebaikan. Sesederhana apa pun yang kita lakukan untuk mempermudah pekerjaan orang lain maka pekerjaan kita pun akan dipermudah. 

Semua hasil panen sudah ditimbang. Ema telah menerima pembayaran secara kontan langsung di kebun. Setelah Pak Haji dan pegawainya pulang sambil mengangkut hasil panen dari kebun kami, Ema mengajakku ke dangau. Aku mengikutinya. 

Disaat cuaca terik, sungguh nikmat berteduh di dangau. Semilir angin membelai tubuh. Mengeringkan keringat yang tadi bercucuran. Menimbulkan rasa sejuk. Mata juga dimanjakan oleh kehijauan yang terhampar dihadapan. Hampir semua kebun sedang musim panen. Jadi tumbuhan terlihat masih hijau menyejukkan. Sungguh memesona. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?!

Kami membuka bekal yang tadi dibawa dari rumah. Ada air teh dengan campuran gula aren dan perasan jeruk nipis. Semua di petik dari kebun belakang rumah. Di minum saat panas terik sungguh sangat menyegarkan. Ema juga ternyata membawa pisang kukus. Pisang lilin yang juga diambil dari kebun belakang rumah. Kami menikamati bekal sederhana itu dengan hati penuh syukur.

“Nong, usiamu sudah cukup untuk membina rumah tangga. Teman-teman SD-mu sudah menikah semua dan mempunyai anak. Kamu sudah cukup membantu Ema dan Abah. Sudah waktunya memikirkan kehidupanmu sendiri!” itu perkataan Ema entah untuk yang keberapa kali. Dan seperti biasa aku hanya menjawab dengan senyuman. Jika sudah begitu, Ema tidak akan melanjutkan perkataannya.

“Kita pulang, Nong! Sebentar lagi waktu salat Zuhur tiba.” Ucap Ema sambil membereskan perlalatan. Aku mengiyakan. Kemudian kami meninggalkan dangau. Ema juga menyisakan bebarapa buah oyong untuk dimasak di rumah.

Sinar mentari terasa membakar kulit, panasnya menyengat ubun-ubun. Ema berjalan agak tergesa mungkin karena panas yang terik ini. Aku pun jadi ikut tergesa menyelaraskan dengan langkah beliau. Beberapa orang yang juga hendak pulang melakukan hal yang sama. Bersegera untuk sampai di rumah.

Ketika sampai di halaman aku terkejut bercampur bahagia, Abah sedang duduk di kursi yang ada di teras. Menikmati suasana, terlihat sudah semakin baik. Ada mug besar di atas meja juga sepiring pisang kukus. Abah sedang menikmati itu semua sendirian di teras di tengah suaca terik. Rumah kami yang rimbun oleh pepohonan menyebabkan cuaca panas itu hampir tidak terasa. Rumah kami sangat sejuk. Abah terlihat nyaman. 

Abah tersenyum menyambut kedatangan kami, “Kalian sudah pulang? Bagaimana hasil panen kita? Pak Haji jadi datang?’ pertanyaan Abah bertubi-tubi.

“Alhamdulillah panen kita sesuai harapan. Malah Pak Haji memberikan harga lebih karena tadi Inong memisah-misahkan oyong sesuai ukurannya. Pak Haji senang dengan yang Inong lakukan makanya ia mau membayar lebih!” panjang lebar Ema menjelaskan. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya. Emaku orang yang tidak pernah membanggakan diri sendiri. Sudah jelas yang memilah itu Ema bukan aku. Satu lagi pembelajaran tentang kehidupan. Rasa bangga terhadap mereka semakin mengakar.

Aku pamit untuk membersihkan diri. Ema masih duduk di teras menemani Abah. Selesai menunaikan salat Zuhur aku pamit kepada Ema dan Abah untuk pergi ke suatu tempat. Ada hal yang harus diurus. Ema berpesan untuk hati-hati dan jangan pulang terlalu malam. Aku mengiyakan.

***

Dua pekan berlalu. Siang yang terik menyebabkan orang-orang malas ke luar rumah. Mereka lebih nyaman tinggal di dalam rumah. Suasana jalan raya sangat lengang. Aku berdiri sudah cukup lama di pinggir jalan, tetapi belum juga ada mobil angkutan umum yang lewat. Harus sabar jika ingin menggunakan angkutan umum. Aku sudah sangat paham. Aku pengguna angkutan umum paling setia. Karena tidak dapat mengendari sendiri sepeda motor apalagi mobil.

Akhirnya yang ditunggu datang. Setelah melambaikan tangan, mobil angkutan itu berhenti di depanku. Aku pun naik. Hanya ada seorang perempuan setengah baya di dalam angkutan itu. Aku menganggukan kepala dan memberikan sebuah senyuman sebagai pengganti percakapan basa-basi. Ibu dengan kerudung berwana mencolok itu membalas senyumanku.

Tak lama kemuian ibu itu turun. Tinggal aku sendirian di dalam mobil. Dan harus berela hati untuk mendengar keluh kesah supir tentang sepinya penumpang. Tentang mahalnya setoran kepada pemilik mobil. Tentang mahalnya harga suku cadang kendaraan. Tentang mahalnya BBM dan keluhan-keluhan lainnya. Kadang sesekali kupingku harus rela mendengarkan sumpah serapahnya ketika ada angkutan lain yang menyalib. 

Sampai di terminal aku harus berganti kendaraan lagi. Mobil angkutan umum memiliki warna yang berbeda-beda. Setiap jurusan/trayek berbeda warnanya. Hai ini memudahkan orang untuk memilih kendaraan sesuai tujuan perjalanannya. Aku memilih mobil dengan warna hijau dan jingga. Ketika masuk sudah ada beberapa orang yang duduk di dalamnya. Tak lama kemudian mobil yang aku tumpangi bergerak perlahan. Aku senang karena tidak harus menunggu terlalu lama di terminal tersebut.

Mobil hanya berisi beberapa orang, sehingga bebas memilih tempat untuk duduk.  Aku memilih tempat di ujung paling belakang agar lebih tenang. Tempat yang hendak dituju berada di ujung trayek mobil ini. Jadi tidak takut terlewat. Aku sudah merapikan tas, memastikan semua resleting sudah terpasang. Aku memang berencana tidur. Badan terasa pegal-pegal setelah tadi membantu Ema memanen oyong. 

Suara orang memukul-mukul badan mobil membuatku terbangun. Rupanya sudah sampai di tujuan akhir trayek mobil tersebut. Tinggal aku sendiri di dalam mobil. Setelah membayar ongkos aku pun turun. Dari tempat pemberhentian mobil itu aku hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter untuk sampai pada alamat yang dituju. Kalau mau ada becak atau ojek yang bisa dipergunakan. Aku lebih memilih jalan kaki, lebih hemat dan sehat.

Matahari masih mempertontonkan kuasanya, panas terasa membakar kulit. Aku mempercepat langkah agar bisa segera sampai ke alamat yang dituju. Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika aku sampai. Tampak orang yang hendak ditemui sudah menunggu di teras. Memang sebelumnya kami sudah melakukan perjanjian.

Beliau menjawab salam yang aku ucapkan dan mempersilakan duduk. Kami memulai pembicaraan, “Bagaimana kabar di desa, Nong?” Tuan rumah memulai percakapan. Aku tidak ingin terlalu bertela-tele dan membuang waktu. Aku langsung menjawab pertanyan tersebut secara panjang lebar.

“Abah sudah mulai pulih tadi sebelum saya ke sini beliau sudah bisa duduk di teras. Saya ingin menyambung percakapan kita waktu itu. Bagaimana apakah proposal saya disetujui? Maaf to the point. Saya ingin urusan ini cepat selesai. Pulang dari sini saya sudah membawa keputusan!” aku mengakhiri jawaban disertai tertawa kecil. Karena aku tahu itu adalah pernyataan memaksa yang belum tentu disetuji oleh lawan bicara.

“Baiklah saya senang dengan kabar yang kamu bawa, juga senang dengan semangtmu. Saya sangat mengapresiasi orang-orang yang memiliki semangat untuk maju. Mampu keluar dari status quo. Jika saja di desa lebih banyak orang seperti kamu maka tidak akan ada lagi desa dengan kategori miskin dan terbelakang apa lagi sampai tertinggal!” beliau juga menjawab panjang lebar. 

“Saya menyetujui proposalmu. Selamat, ya! Laporkan setiap hal yang terjadi. Saya meminta laporan resmi dilakukan tiap awal bulan. Setelah kerja sama ini dilakukan saya berharap ada perubahan yang signifikan di desa. Saya berdoa untuk kelancaran dan kesuksesan program yang telah kamu ajukan. Sebagai sarana untuk mempermudah komunikasi saya mengahadiahkan kamu sebuah gawai baru. Ini barang inventaris, kamu harus menjaganya baik-baik!” lanjutnya. Setelah mengucapkan itu beliau memberikan bungkusan kecil. Benar-benar sebuah gawai baru dari merk terkenal. Aku menerimanya dengan senang hati.

Setelah semua hal selesai dibicarakan aku pamit pulang. Pribumi menahanku agar bisa tinggal lebih lama. Aku menolak permintaan itu dengan halus dan segera beranjak dari tempat itu. Kumandang azan asar terdengar dari sebuah masjid di pinggir jalan yang sedang dilewati. Aku mampir untuk menunaikan salat Asar. Tenang rasanya melanjutkan perjalanan setelah kewajiban terpenuhi.

Ketika ke luar dari masjid, gerimis mulai turun. Aku bergegas menuju terminal angkutan umum. Hujan tambah deras. Aku tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Aku sedikit bermasalah dengan air hujan jika air itu mengenai tubuhku. Akhirnya kuputuskan untuk berteduh di emper sebuah toko. Suasana masih ramai. Banyak juga yang berteduh sepertiku. 

Untuk mengisi bosan aku memperhatikan sekeliling. Aku mengedarkan pandangan sambil menahan dingin yang menggigit. Tak ada penghalang yang mampu menahan dinginnya suhu di tubuhku. Tak ada jaket sebagai pelindung tubuhku. Aku harus menikmati semua ini dengan ikhlas dan sabar.

Pandanganku tertumbuk pada sosok yang sepertinya aku kenal. Mengenakan pakaian yang sama seperti ketika tempo hari aku memperhatikannya. Itulah mengapa aku seperti mengenalnya. Aku jadi semakin tertarik. Terus saja aku memperhatikan tingkah polahnya. Sekarang ia tidak menyalakan rokok seperti waktu itu. Ia bersandar pada dinding toko. Mengangkat satu kakinya yang ditempelkannya pada dinding itu. Pemandangan yang indah. Aku tertawa sendiri. Menertawakan kelakukan sendiri.

Hujan reda. Aku segera menuju mobil angkutan yang sedang teronggok menunggu penumpang. Belum ada siapa-siapa di dalam mobil itu. Aku harus rela menunggu. Pekerjaan yang sangat tidak aku sukai. Supir sudah mengatakan bahwa masih harus menunggu beberapa penumpang lagi baru mobil itu bisa berangkat ke tempat tujuan. 

Akhirnya ada juga penumpang yang naik. Aku bersyukur bisa pulang ke rumah tidak terlalu malam. Aku bersandar pada sandaran jok mobil. Mencari posisi yang nyaman. Tapi kemudian menegakkan kembali badanku. Bayangan lelaki bersandar di dinding toko mengusik ketenanganku. Sudah dua kali aku melihatnya secara tidak sengaja. Ia hadir begitu saja di hadapanku. Mewarnai pandanganku saat menanti hujan reda.

Sampai di rumah menjelang magrib. Perasaanku gembira. Pertama karena melihat Abah sudah siap pergi ke masjid, artinya Abah sudah benar-benar sehat. Kedua karena kumelihat Ema juga sudah berada di musala sedang khusyuk membaca Alquran. Ketiga karena proposalku diterima. Keempat karena ada gawai baru ditanganku yang lebih canggih dari yang sebelumnya. Sebuah smartphone berbasis android, semoga dapat memudahkan urusanku. Kelima karena aku melihat lagi lelaki dengan tampilan memesona. Yang kelima segera kucoret dari daftar. Entah karena apa tadi aku memasukkannya ke dalam alasan kegembiraanku hari ini.

Guyuran air menyegarkan tubuhku. Segera aku bergabung dengan Ema untuk menunaikan salat Magrib. Kami berjamaah. Betapa damai hidup kami. Begitu banyak nikmat yang telah kami terima dan tidak kami syukuri. Betapa kami hamba yang tidak pernah bersyukur, selalu merasa kekurangan. Terlalu banyak meminta sementara terlalu banyak kewajiban yang kami ingkari. Air mata mengalir bersama penyerahan diri yang penuh kepasrahan.

***

Satu bulan berlalu. Aku harus menyerahkan laporan kepada yang telah menyetujui proposalku. Berdasarkan kesepakatan aku harus langsung menyampaikan laporan resmi kepada beliau. Aku sedikit merasa kesal dengan keinginannya itu. Untuk apa beliau memberikan gawai kepadaku kalau laporan harus disampaikan secara langsung. Jarak tempuh yang terlalu jauh, hujan yang masih sering turun adalah hal-hal yang membuatku kesal. Seharusnya aku tidak kesal. Aku berada di pihak yang membutuhkan dan beliau berada di pihak yang dibutuhkan.

Dengan berat hati aku pergi untuk menyerahkan laporan perkembangan kegiatan yang dilakukan. Perjalanan terasa angat membosankan sampai terjadi peristiwa yang sangat tidak terduga. Di depan sebuah gang, mobil angkutan dihentikan oleh seseorang. Aku tidak memperhatikan siapa yang naik sampai orang tersebut duduk persis di depanku. Aku sangat terkejut karena laki-laki itu adalah sosok yang sering aku perhatikan ketika berteduh menanti hujan reda.

Ini kali ketiga aku melihatnya. Tiga kali pertemuan aku pikir bukan kebetulan lagi namanya. Sekarang lebih dekat dan jelas. Aku sesekali mencuri pandang ke arahnya. Ia asyik memainkan gawai yang dipegangnya. Tidak memperhatikan sekeliling. Dasar manusia zaman now. Phubing di mana-mana. Melanda siapa saja. 

Tiba-tiba saja pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan, “Apakah mungkin ia mengikutiku?” kugelengkan kepala, “Aku bukan orang penting jadi untuk apa ia mengikutiku. Kepedean kalau aku sampai berpikir ia mengikutiku!” kumencoba relaksasi agar pikiran dan perasaanku lebih tenang, tidak berisik seperti ini. Aku tidak suka jika banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Seperti jadi pecundang. 

Beberapa kali aku menggeleng-gelengkan kepala agar semua pertanyaan yang sedang berkecamuk segera enyah dari kepalaku. Tanpa sadar aku melihat ke arahnya. Dan ia pun sedang melihat ke arahku. Terjadi tumbukan di zona tunjaman, subduction zone. Antara lempeng samudra dengan lempeng benua menyebakan terjadinya gempa tektonik dengan kekuatan 8 skala Richter. Gempa yang sangat dahsyat. Aku tidak dapat bergerak dan mati kutu. 

Gempa itu terjadi dalam ukuran detik, tetapi dampaknya sungguh luar biasa. Kami sama-sama terdiam dalam posisi saling pandang. Lebih tepatnya memandang dengan mata sedikit melotot karena kaget kepergok sedang sama-sama mencuri pandang. Menyadari hal itu dengan refleks kami sama-sama melengoskan wajah. Aku segera menata kembali pikiran dan perasaan agar tidak terbawa suasana.

Mobil angkutan sampai di terminal. Laki-laki itu sudah bersiap-siap untuk turun. Aku sengaja turun paling akhir. Mengantisipasi kemungkinan terjadi peristiwa yang tidak aku inginkan. Ternyata arah perjalanan kami berlawanan. Rasa syukur terucap dari bibirku dengan sepenuh jiwa. Aku telah terbebas dari perangkap yang terpasang.

Aku segera berganti mobil agar bisa cepat sampai ke tempat yang dituju. Sepanjang perjalanan hati dan pikiranku tambah berisik. Sampai mau meledak rasanya. Beribu mengapa kembali memenuhi kepalaku. Dan tak satu pun yang terjawab. Lelah rasanya. Ingin berteriak agar suara berisik di kepalaku segera enyah. Aku ingin sekali mengembalikan ketenangan yang selama ini dimiliki. 

Setelah urusan selesai, segera aku pamit pulang. Beliau tetap menginginkan laporan disampaikan setiap bulan secara langsung. Aku menyetujuinya. Mau bagaimana lagi?! gumamku dalam hati.  Hari masih siang dan cuaca cerah. Aku tidak perlu tergesa-gesa pulang. Ada bebarapa kebutuhan bulanan yang perlu dibeli. Ema juga berpesan untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang sudah habis. 

Sambil berjalan pelan aku memasuki pasar dan berbelanja sesuai daftar yang sudah dibuat. Aku terbiasa membuat daftar belanja agar ketika berada di pasar tidak lapar mata. Daftar belanjaanku sudah selesai di ceklis, artinya semua yang dibutuhkan sudah terpenuhi. Aku memutuskan untuk segera ke luar dari pasar. Belanjaanku cukup banyak sehingga terasa berat. Dua kantung plastik berukuran besar. Ditenteng kanan kiri, membawanya pun susah payah. Aku berjalan agak menunduk untuk melihat kantung belanjaan, takutnya ada barang yang tercecer. Karena kantung plastik berisi barang belanjaan penuh sampai menyembul ke luar.

Ketika ke luar dari lorong pasar, aku bertabrakan dengan seseorang. Saking kaget sampai-sampai kantong plastik jatuh dan isinya berserakan di tanah. Terdengar ucapan permintaan maaf. Ternyata seorang laki-laki. Aku menengadahkan kepala untuk membalas permohonan maafnya. Aku juga bersalah dalam hal ini. Berjalan tidak memperhatikan langkah, lebih memperhatikan kantong plastik yang berisi barang belanjaan.

Ini kebetulan yang keempat. Aku tidak bisa menunggu sampai terjadi kebetulan yang kelima. Ini sudah sangat mengganggu. Aku harus mendapatkan jawaban dari ribuan pertanyaan yang sudah ada sejak kebetulan yang pertama.  

Acara memunguti barang belanjaan yang berserakan di tanah selesai sudah. Laki-laki itu mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya, “Maaf, saya Iwan. Bisakah saya membawakan tas belanjaan ini sebagai tanda permohonan maaf?”  aku gamang, tidak sanggup berkata apa-apa. Sebelum aku memutuskan, Iwan sudah membawa dua kantong belanjaanku ke suatu tempat. Seperti kerbau dicucuk hidung aku mengikuti langkah Iwan. Ia memasuki sebuah gerai makan yang cukup cozy. Aku tidak pernah tahu kalau di tempat tersebut ada tempat senyaman itu untuk sekadar melepas penat. Dalam hati aku memuji kepiawaian Iwan dalam memilih tempat untuk saat seperti itu.

Kami duduk berhadapan. Aku masih sangat merasa canggung duduk di hadapan laki-laki asing di tempat senyaman ini. Aku lebih banyak menundukan kepala atau memandang ke arah lain. Iwan yang lebih banyak berinisiatif memimpin percakapan. 

“Saya Iwan!” sekali lagi ia menyebutkan namanya. Tidak diulang pun aku sudah tahu kalau ia seorang laki-kali bernama Iwan. 

“Kamu belum menyebutkan namamu!” ia mengingatkan.

“Saya Inong.” Jawabku pelan tapi cukup jelas untuk di dengar oleh orang yang duduk hanya dipisahkan meja sempit.

“Wow ...! Dua nama dengan awalan huruf yang sama. Dipertemukan beberapa kali secara kebetulan. Saya hitung ini pertemuan kita yang kelima.” Aku terkejut mendengar penjelasan Iwan yang panjang lebar. Ternyata ia juga menghitungnya. Jadi selama ini aku salah!

Seorang pelayan membawa dua gelas minuman ke meja kami. Aku tidak tahu kapan Iwan memesannya. Iwan membantu menyimpan gelas minuman yang disodorkan pelayan ke arahku. Kemudian ia berkata, “Maaf ...! Saya tadi memesan minuman tanpa persetujuan Inong. Saya rasa dalam cuaca panas begini cocok dengan segelas es jeruk!” sambil tertawa ia melihat ke arahku.

“Kita pesan makanan, ya! Inong mau makan apa?” aku menjawab terserah Iwan saja. Aku terlalu canggung.

Ia kemudian memesan dua porsi ramen. Lagi-lagi dalam hati aku memuji kepiawaian Iwan dalam memilih makanan. Kami menyantap makanan dalam diam. Lebih sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebelum pulang Iwan sempat meminta nomor teleponku. Aku pikir Iwan orang yang cukup baik sehingga aku putuskan untuk memberikan nomor teleponku. Iwan tampak gembira. Iwan mengantarkanku sampai ke mobil angkutan umum yang menuju ke desaku. Aku berterima kasih atas kebaikannya. 

***

Kutunaiakan salat Asar dengan tergesa. Aku langsung masuk ke kamar. Pikiran dan perasaanku yang terlalu berantakan ini harus segera dibereskan. Baru saja hendak merebahkan tubuh di kasur, gawaiku bergetar. Aku bukan orang yang memiki banyak penggemar. Gawai yang kumiliki jarang berbunyi. Urusanku hanya keluarga dan pekerjaan, jadi aku yakin pesan yang masuk berasal dari orang yang berhubungan dengan dua hal tersebut. Aku membuka pesan yang masuk, dari nomor yang tidak dikenal.

“Sudah sampai di rumah?” keningku berkerut. Berpikir siapa gerangan yang mengirim pesan itu. Siapa pun ia pasti adalah orang yang tahu aku pergi dan baru pulang. Aku terus mengira-ngira.

“Ini Iwan?” balasan pesanku.

“Ya, ini Iwan!” balasnya lagi.

Iwan sangat pandai memancing percakapan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mau tidak mau harus dijawab. Kami terus bercakap-cakap untuk jangka waktu yang cukup lama. Tidak terasa aku telah menghabiskan banyak waktu dengan Iwan sore itu, aku sendiri bukan orang yang pandai basa-basi. Lawan bicara yang pandai memimpinlah penyebab kami bisa berbincang lama.

***

Dua bulan berlalu. Hampir setiap hari Iwan menghubungiku. Selalu saja ada hal yang bisa menjadi topik pembicaraan. Iwan sungguh seorang ahli berkomunikasi. Pertemanan kami semakin akrab. Iwan sudah berani menelepon beberapa kali. Aku menerima teleponnya dengan senang hati. Sungguh menyenangkan berbincang dengan orang yang pandai berkomunikasi. Pembicaraan jadi tidak pernah membosankan.

Entah sejak kapan aku dan Iwan tidak lagi ber-saya. Berganti menjadi aku dan kamu. Percakapan kami tidak ada yang serius hanya seputar hal yang remeh temeh. Dan setelah aku ingat-ingat ternyata aku yang lebih sering menceritakan tentang diriku. Itu karena aku menjawab pertanyaan Iwan. Dan Iwan yang selalu memimpin percakapan.

Sampai suatu hari Iwan menelepon mengabarkan ia akan datang ke rumahku. Hampir saja gawaiku terjatuh. Aku kaget setengah mati, “Iwan mau ke rumah, ngapain?” batinku. Sejak menerima telpon dari Iwan pikiranku tidak pernah tenang selalu saja berisik. Apalagi tadi malam aku tidak bisa memejamkan mata.  Hatiku gelisah. Iwan akan datang hari ini.

Sudah aku sampaikan hal itu kepada Ema dan Abah, bahwa akan kedatangan tamu seorang laki-laki. Ema dan Abah tampak gembira. Hal itu justru membuatku tambah tidak nyaman. Tidak pernah ada laki-laki yang bertamu ke rumahku selain urusan pekerjaan dan urusan keluarga.

Pagi itu, Ema dan Abah malah pamit pergi. Tinggallah aku bersama gelisah jiwaku. Aku memeriksa kembali semua persiapan. Rumah kami yang sederhana sudah sangat bersih dan rapi. Ema juga telah menyeiakan makanan kecil. Aku sudah membuat jus jambu dan jus alpukat yang diambil dari kebun. Ada pisang juga. Aku pikir lengkaplah sudah jamuan untuk seorang tamu. Entah mengapa aku melakukan semua itu, memeriksa berulang kali persiapan untuk menyambut kedatangan Iwan.  

Sekitar pukul sepuluh Iwan datang, tampak lebih berseri. Setelah mengetahui kalau Abah dan Ema tidak ada di rumah, ia tidak mau masuk ke rumah. Lelaki tampan itu lebih memilih duduk di teras belakang. Aku menghargai keputusannya. Aku senang dengan orang yang tahu diri dan dapat memposisikan diri. Tidak merepotkan!

Jelang tengah hari Abah dan Ema pulang. Mereka menyambut gembira kedatangan Iwan. Setelah membersihkan diri Abah langsung bergabung dengan Iwan. Lagi-lagi kepiawaian Iwan dalam berkomunikasi membuat percakapan mereka tidak ada hentinya. Kumandang azan zuhur memotong pembicaraan mereka.

Setelah menunaikan salat Zuhur Iwan hendak pamit pulang, tetapi Ema menahannya. Iwan akhirnya menerima tawaran Ema. Duduk di amben bersama kami untuk menikmati makan siang yang sederhana. Iwan tampak sangat menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh kami. Makannya sangat lahap, Ema tentu saja merasa senang.

Abah dan Ema tidak bisa lagi menahan Iwan untuk tetap berada di rumah. Iwan memaksa pulang alasannya sudah terlalu lama bertamu. Tidak enak dilihat tetangga. Nanti bisa menimbulkan pergunjinagan. Aku menyetujui pendapat Iwan. Ketika berpamitan Iwan mengatakan suatu saat akan datang bertamu lagi. Aku hanya menjawab dengan senyum. Iwan pulang dengan membawa oleh-oleh hasil kebun yang ternyata sudah disiapkan oleh Abah dan Ema. Aku semakin tidak enak hati dengan hal itu. 

“Ema suka dengan anak itu. Sikapnya baik, tutur katanya terjaga. Orang yang enak untuk iajak bicara. Sepertinya ia juga seorang pekerja keras. Ia bisa mengerjakan apapun. Buktinya ia mau bersusah payah membawa oleh-oleh hasil kebun. Tidak semua anak muda mau melakukan itu. Sebagian besar malah malu melakukannya. Tetapi ia tidak. Dengan senang hati ia membawanya!” perkataan Ema justru menambah rasa tidak enak di hatiku. Aku teringat percakapan dengan Ema di dangau ketika memanen oyong. Hanya tarikan napas sebagai bukti kegelisahan hatiku. 

Pesan dan telepon dari Iwan semakin sering mampir ke gawaiku. Aku akan merasa kehilangan jika tidak ada kabar darinya. Aku tidak mengerti dengan yang terjadi. Mungkinkah aku mulai suka dengan kehadiran Iwan. Entah! Aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Terlalu aneh. Terlalu asing. Aku jadi tidak mengenal siapa diriku.

***

Setiap bulan aku masih terus melaporkan perkembangan pekerjaanku. Bedanya, sekarang ada Iwan yang menemaniku, meskipun tidak sampai ke rumah orang yang menyetujui proposalku. Iwan selalu menunggu di tempat pertama kali aku melihatnya. Setelah selesai urusanku biasanya kami mampir di kedai yang menjual ramen.

Tidak terasa aku mengenal Iwan sudah hampir enam bulan lamanya. Hubungan kami hanya sebatas percakapan di dunia maya. Aku mulai menikmati jalannya cerita. Sekarang aku sudah lebih santai ketika ngobrol dengan Iwan. Ema tentu saja gembira dengan yang aku alami. Beliau sangat mendukung hubunganku dengan Iwan. Meskipun sudah dijelaskan bahwa hubungan kami hanya pertemanan biasa. “Benarkah?!” Ada suara pelan dari nurani yang paling dalam, “Kamu telah berbohong, Inong!”

“Tidak apa-apa, Nong. Ema senang Inong punya teman laki-laki yang baik. Bukan hanya baik sama kamu tetapi juga baik sama kami.” Kalau sudah begitu aku tidak bisa membantah lagi.

***

Bulan puasa lewat setengahnya. Suatu malam selepas taraweh Iwan meneleponku. Telepon yang takkan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Telepon yang dapat mengubah hidupku. Iwan mengabarkan setelah lebaran ia akan datang bersama orang tuanya untuk melamarku. Tentu saja aku sangat terkejut. Tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba ada terdengar suara petir yang menggelegar. Membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Suara Iwan menyadarkanku. Ia menanyakan apakah aku baik-baik saja. Beberapa kali dipanggil aku tidak menyahut katanya.

Sejak kedatangan telepon itu hidupku benar-benar tak karuan. Ema tentu yang paling tahu perubahan sikapku. Suatu malam selepas taraweh Ema mengajakku duduk di teras, “Nong, mau cerita?” Tanya Ema. Jika Ema sudah bertanya seperti itu maka artinya Ema sebenarnya sudah tahu yang terjadi, jadi tidak ada gunanya aku berbohong dan memang tidak sepantasnya aku berbohong untuk hal sepenting itu.

“Setelah lebaran Iwan akan datang bersama orang tuanya untuk melamar Inong, Ma!” tidak tampak keterkejutan di wajah Ema, beliau malah tersenyum kemudian lebih merapatkan duduknya. Sambil memegang tanganku Ema berkata, “Ema menyetujui apa pun keputusanmu. Ema sangat menyukai Iwan!” itu adalah isyarat untukku. Jika tidak ingin menyakiti perasaan Ema maka aku harus menerima lamaran Iwan. Jika Ema sudah berpendapat demikian maka Abah pun demikian. Mereka satu paket. Selalu saling mendukung. 

***

Delapan hari setelah lebaran adalah waktu yang telah disepakati. Dan itu adalah hari ini. Kami telah menyiapkan segala sesuatunya sesuai kemampuan kami. Rumah sudah ditata sedemikian rupa. Karpet-karpet sudah digelar. Hidangan pun sudah disiapkan. Teras belakang yang sejuk juga sudah disiapkan untuk mengantisipasi jumlah tamu yang datang. Ini peristiwa besar untuk keluarga kami. Ema telah menyiapkan semua itu dibantu oleh para tetangga dan saudara. Sayang adik-adikku yang sedang mondok tidak dapat datang. Mereka hanya mengucapkan selamat dan rasa bahagianya lewat sambungan telepon. 

Yang datang tenyata banyak juga. Dihitung ada sekitar lima mobil.  Bukan hanya orang tua Iwan yang datang, tetapi juga saudara-saudara yang lainnya. Untung saja Ema telah menyiapkan semuanya. Aku bangga dengan kesigapan Ema yang selalu mengantisipasi setiap kejadian. Semua tamu ditempatkan di tempat yang sudah kami sediakan. Halaman rumah kami yang luas dan teduh cukup menampung tamu yang datang.

Karena belum penah berkunjung ke rumah Iwan jadi aku tidak tahu yang mana orang tuanya. Iwan mengatakan mereka mampir dulu ke suatu tempat untuk membeli sesuatu. Oh, ternyata beliau tidak ada dalam rombongan tersebut. 

Sambil menunggu kedatangan orang tua Iwan, para tamu yang sudah datang dipersilakan untuk mencicipi hidangan. Tak lama kemuian datanglah mobil bercat putih berhenti persis dibelakang mobil rombongan yang tadi. 

Kami menyambut kedatangan mereka di teras depan. Aku terkejut karena yang datang adalah orang yang menyetujui proposalku. Lebih terkejut lagi setelah Iwan mengatakan itu adalah orang tuanya. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Terlau banyak keterkejutan dalam hidupku selama kurun waktu enam bulan ini. Entahlah … apakah aku masih sanggup menghahadapi kejutan lain jika masih ada.

Acara lamaran segera dimulai. Acara disusun sangat sederhana tetapi tepat sasaran. Semua yang hadir mengikuti acara dengan khidmat. Sampai pada puncak acara aku menerima lamaran Iwan. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tanda pengikat. 

“Ibu saja yang memasangkan, jangan Iwan. Mereka bukan mahram!” terdengar suara lantang bapak Iwan. Yang hadir tentu saja terkejut, tetapi mereka sepakat.

“Sabar ya, Wan! Sampai nanti tiba giliranmu,” satu suara menyambung. Disambut tepuk tangan riuh dan tawa mengejek yang ditujukan kepada Iwan. Aku melirik ke arah Iwan, ia tampak senyum-senyum. 

Iwan mendampingi ibunya menuju ke arahku. Bapaknya mengikuti dari belakang. Ema dan Abah juga berdiri mendampingiku. Iwan membantu ibunya memasangkan cincin dan gelang ditanganku. Kini resmi sudah aku diikat oleh seseorang. Aku menerima lamaran itu bukan untuk menyenangkan hati Ema dan Abah. Tetapi memang karena aku menyukai Iwan dan mulai menciantainya. 

Di akhir acara ayah Iwan mengatakan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam peristiwa itu. Ada yang telah menggariskan takdir untuk kita dan kita hanya mengikuti garis itu dalam menjalaninya.  Aku menyetujui pendapat itu.*)


Penulis adalah guru SMP Negeri 2 Tanjungsiang Kabupaten Subang.