Senin, 02 November 2020

Luka Liku Belajar di Masa Pandemi

 Oleh Djadja Sutardja


19 Maret 2020 adalah masa di mana semua siswa siswi sedang disibukkan dengan kegiatan mempersiapkan diri menjelang kegiatan UNBK & UAMBN BK, Proktor pun sudah mempersiapkan Laboratorium Komputer dengan sebak-baiknya. Namun apa hendak di kata ternyata pada bulan April 2920 Pihak Madrasah mendapatkan SK dari Bupati yang mengharuskan para Guru dan Siswa untuk Belajar Dari Rumah (BDR).

Apa hendak di kata manusia hanya bisa berencana, semuanya sudah menjadi ketetapan Alloh SWT. Akhirnya semua pelaksanaan kegiatan pembelajaran di Madrasah terutama pelaksanaan UJian Madrasah terpaksa menggunakan Aplikasi Google Form, kami bersyukur selaku Guru karena sebelumnya sudah mempelajari aplikasi ini di setiap pertemuan MGMP IPS MTs Kabupaten.  Alhamdulillah pelaksanaan Kegiatan Ujian Madrasah berjalan dengan lancar dan tertib, sebagai pendidik ada beberapa tuntutan yang harus dipenuhi yakni bagaimana mensiasati Pembelajaran agar sampai kepada peserta didiknya. 

Masa pandemi kami kira hanya berlaku pada saat PSBB atau setengah lock down bahasanya he he, ternyata malah berkepanjangan hingga saat artikel ini kami buat. Tiba pada masa awal-awal setelah Lebaran selesai kami disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam rangka kegiatan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) dimana semua dikerjakan serba online juga masa MATSAMA (Masa Ta’aruf Siswa Madrasah) di sini di tuntut pula agar bagaimana Madrasah bisa bertahan dalam penerimaan siswa baru, sedih rasanya teringat akan hal ini.

Alhamdulillah kami beruntung selalu mengikuti kegiatan *WEBINAR* bagaimana mensiasati Pembelajaran Jarak Jauh (BDR) pada masa Pandemi Covid 19 ini tanpa tahu kapan akan berakhir,  begitu padatnya beberapa Administrasi Perangkat Pembelajaran yang harus sudah tersusun mnejalang KBM Tahun Pelajaran 2020/2021. Pada awal pertemuan dalam kegiatan rapat awal tahun pelajaran kami dihubungi oleh Kepala Madrasah agar memberikan Materi tentang Pembelajaran Jarak Jauh (BDR) melalui penguasaaan TIK dan menyerahkan sepenuhnya tentang hal ini, dengan senang hati melalui kesempatan ini semua Aplikasi yang sudah dapat dikuasai akhirnya berbagi atau sharing dengan teman sejawat mulai dari Aplikasi ZOOM, Googele Meet, Google Form, Google Document juga Microsoft Office 365.

Permasalahan yang terjadi bukan hanya terdapat pada sistem media pembelajaran akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara orangtua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Hal ini pun menjadi permasalahan yang sangat penting bagi siswa, jam berapa mereka harus belajar dan bagaimana data (kuota) yang mereka miliki, sedangkan orangtua mereka yang berpenghasilan rendah atau dari kalangan menengah kebawah (kurang mampu). Hingga akhirnya hal seperti ini dibebankan kepada orangtua siswa yang ingin anaknya tetap mengikuti pembelajaran daring.

Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet, apalagi siswa tersebut tempat tinggalnya di daerah pedesaan, terpencil dan tertinggal. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil, karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini juga menjadi permasalahan yang banyak terjadi pada siswa yang mengikuti pembelajaran daring sehingga kurang optimal pelaksanaannya.

Ramai diberbagai media sosial yang menceritakan pengalaman orangtua siswa selama mendampingi anak-anaknya belajar baik positif maupun negatif. Seperti misalnya ternyata ada orangtua yang sering marah-marah karena mendapatkan anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah. Kejadian ini memberikan kesadaran kepada orangtua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah, diperlukan ilmu dan kesabaran yang sangat besar. Sehingga dengan kejadian ini orangtua harus menyadari dan mengetahui bagaimana cara membimbing anak-anak mereka dalam belajar. Setelah mendapat pengalaman ini diharapkan para orangtua mau belajar bagaimana cara mendidik anak-anak mereka di rumah.

Yang terpenting bagi kita selaku Pendidik adalah bagaimana para Siswa-siswinya bisa belajar dengan baik walaupun dengan banyak keterbatasan, tinggal selanjutnya kita serahkan kepada Pengambil kebijakan dan keputusan dalam permasalah Pembelajaran Jarak Jauh (BDR) ini. Sambil tetap berdo’a memohon kepada Alloh SWT agar Pandemi Covid 19 cepat berlalu serta kembali siswa-siswi belajar secara Tatap Muka tanpa ada emebel embel New Normal dan Protokol Kesehatan.. Aamiin