Senin, 02 November 2020

MAAF, NAK, GURUMU MENDUA SAAT PANDEMI


Oleh: Christina Wulandari, S.S., M.Pd.

Guru SMP Negeri 4 Kota Tangerang


 


Pembelajaran Jarak Jauh telah memasuki bulan keempat dari tahun ajaran baru. Sebetulnya, mencapai kurun sepuluh bulan sejak pandemi covid 19 menjangkit. Surat Edaran Kemdikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, mengatur pembelajaran dilakukan secara jarak jauh, baik daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan). 

Untuk Kota Tangerang, rata-rata sekolah negeri menerapkan pembelajaran daring. Hal ini dimungkinkan karena Kota Tangerang mensupport platform pembelajaran  daring. Mulai dari program Pembuatan Video, RW Net, dan terakhir  1000 Tayo Quiz.  

Pembuatan Video Pembelajaran adalah Program Kota Tangerang untuk pelaksanaan Belajar Dari Rumah. Seluruh guru dihimbau membuat video untuk pembelajaran.  Stok video, secara kontinyu dipantau oleh MGMP untuk disiapkan hingga penutup tahun 2020.  Dan sepertinya, animo dan kemauan keras guru-guru Kota Tangerang untuk sinergi memproduksi video pembelajaran, terjaga stabil. Walhasil, kesediaan stok diperkirakan aman hingga waktu yang tertentukan itu.

RW Net, program keren Kota Tangerang berikutnya. Hampir seluruh RW di Kota Tangerang, dipasangkan wifi gratis. Pemasangan dan penggunaan wifi dibiayai oleh Pemkot Tangerang. Sasarannya adalah untuk para terdampak Covid 19. Otomatis menyasar untuk kalangan pendidikan. Peserta didik yang kerap membeli kuota rutin untuk pembelajaran, tercover secara baik dengan program RW Net.

Program terbaru berikut adalah 1000 Tayo Quiz. Launching hari Senin, tanggal 26 Oktober 2020. Tayo sendiri merupakan akronim dari Tangerang Ayo. Secara lebih jelas, 1000 Tayo Quiz adalah program di mana produk video pembelajar yang dibuat oleh Guru-guru SD dan SMP Kota Tangerang, disisipkan dengan link kuis dan atau game. Tujuannya agar pembelajaran tidak membosan, meyenangkan, dan menghibur bagi peserta didik. Terlebih pada masa pandemi Covid 19, anak-anak cenderung memiliki tingkat stressing yang perlu penghiburan.

Di fase ini, guru-guru mengikuti setiap program. Rekan-rekan guru pun aktif menyelesaikan setiap bagian dari masing-masing bidang mapelnya. Secara berkolaborasi, guru-guru Kota Tangerang, membuatkan dan melengkapi video pembelajarannya. 

Sebelum tayang di Tangerang Live, guru-guru diharuskan mengupload dahulu video buatannya di youtube. Link URL nya disematkan dengan kuis dan game, lalu diunggah ke Tangerang Live.

Rata-rata kuis yang digunakan oleh guru-guru Kota Tangerang, adalah menggunakan Quizizz. Sebagian lainnya menggunakan Kahoot. Kelebihan dua aplikasi kuis tersebut, antara lain adalah dapat memunculkan nilai secara sinkron. Saat peserta didik selesai menjawab soal kuis.

Opsi berikut, adalah game. Melalui kerjasama bersama LPMP Banten, guru guru kota Tangerang mendapatkan pelatihan membuat game dengan aplikasi Nearpod. Ada banyak variasi game teredia di Nearpod. Meskipun pada akhirnya tidak bisa disisipkan dalam portal Tangerang Live, karena aplikasinya berbayar untuk jangka tertentu, namun secara mikro, masih bisa dipakai oleh guru-guru untuk pembelajaran di kelasnya masing-masing. Cukup memberikan link kepada peserta didik. Kelemahannya, salah satunya terbatas untuk pemberian kepada banyaknya peserta didik. Namun hal tersebut bisa disiasati dengan cara membuatkan satu link untuk satu kelas.

Lalu bagaimana saat bertemu dengan permasalahan tidak bisa memanfaatkan Nearpod untuk di Tangerang Live? Padahal itu merupakan hasil diklat dari LPMP?

Beberapa guru yang memiliki kemampuan IT lumayan tinggi, dan biasanya diangkat sebagai “admin” Tangerang Live, mencarikan solusi. Bagaimana kalau untuk gantinya Nearpod, digunakan aplikasi game pembelajaran gratis Educandy?  Tidak perlu download. Cukup browsing.  Selanjutnya Guru bisa memanfaatkan berbagai game yang tersedia pada aplikasi tersebut.

Mampu menjadi alternatif solusi. Educandy akhirnya digunakan oleh sebagian besar guru untuk penambahan konten game dalam video pembelajaran. Meski memiliki satu kelemahan tertentu. Educandy tidak bisa merekam nilai yang terkolek, seperti yang ada pada Quizizz dan Kahoot

Bisa dikata, guru-guru Kota Tangerang, terbangun kreativitas dan inovasinya karena Pandemi Covid 19. Tidak hanya batas penggunaan Google Class Room, atau link, Drive, Google Form, dan sebagainya. Bahkan teman-teman guru, sudah lihai menggunakan dan memanfaatkan aplikasi kuis dan game. Termasuk juga mendadak menjadi youtuber untuk kategori video pembelajaran. Banyak teman guru yang sudah memiliki akun Youtube dengan jumlah subscriber lumayan banyak, hanya dalam jangka waktu 10 bulan belakangan. Video buatan rekan-rekan guru kota Tangerang banyak digunakan oleh mereka yang membutuhkan. Tidak hanya oleh peserta didik di sekolahnya, namun juga oleh peserta didik di dalam kota Tangerang. Bukan tidak mungkin juga oleh mereka dari luar kota Tangerang.

Semua itu, dilakukan dengan sepenuh dedikasi. Bukan untuk apa dan siapa. Tapi lebih menuju untuk kepentingan peserta didik, di instansi pendidikan dasar di kota Tangerang, secara khusudzon.

Kondisi ini tidak beda dengan pernyataan Nadiem Makarim. Dalam salah satu berita online, Mendikbud mengatakan ”…dengan adanya pandemic Covid 19 ini guru-guru menjadi kreatif, dengan menggunakan berbagai platform dan mencari yang cocok dengan mereka. Di fase inilah guru disebut sebagai memiliki partisipasi sebagai guru penggerak.”

Bisa dikata, pada masa pandemik, justru banyak guru-guru telah menduakan hati. Mereka tidak melulu terpaku menjadi guru dalam kelas. Namun guru-guru telah menjelma dan memegang dua atau beberapa kerja dan peran sekaligus.  Mereka bisa membagi hati dan pikiran untuk sesuatu yang lain. Menjadi youtuber, produsen video, satgas Covid 19, atau pun terlibat dalam gerak giat dalam asosiasinya, adalah contoh menduanya para guru pada dunia yang lebih luas. 

Banyak webinar atau pelatihan online, terjadi dan terlaksana karena peran guru dan asosasi guru. Di mana guru menjadi panitia, moderator, host, mencari narasumber, atau bahkan menjadikan dirinya sendiri sebagai narasumber. Mereka memperkuat jejaring dengan masif. Guru-guru sudah lihai menggunakan platfporm video conference. Guru, dari berbagai wilayah, tersatu dalam forum kerja daring,  saling kolabarosi , bersinergi, mengisi, dan menginspirasi.

Rekan-rekan guru, khususnya Guru di kota Tangerang, telah maksimal menunaikan tupoksi. Meskipun ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki dalam berbagai sisi, terutama dalam hal koordinasi. Antara pihak dinas, MKKS dan MGMP seharusnya lebih selaras. Jangan terjadi sumbatan komunikasi dan koordinasi dari tingkat atas ke bawah.

Program selayaknya disampaikan dan disosialisasi jauh-jauh hari. Agar tidak terjadi grasa grusu pengerjaan. Terlebih muncul reaktif dan emosi, dari pemangku jabatan, karena target jelang deadline masih jauh dari ketentuan. Setidaknya, berikan waktu satu bulan sebelumnya. Bukan hanya jeda kurang seminggu untuk diinfokan kepada guru-guru mengenai program tertentu. Sebab, dengan penataan dan pemetaan program secara terarah, maka hasil akan maksimal. Bukankah gebyar hebat program pendidikan kota Tangerang, sejatinya  linear dengan kualitas kerja guru? Mengingat bahwa guru adalah penerjemah dan operator di lapangan untuk pelaksanaan program-program pendidikan, guna mencapai visi dan misi Kota Tangerang.