Sabtu, 07 November 2020

MEMBANGUN KOMUNIKASI DENGAN SISWA SELAMA PANDEMI

 Oleh: Pujiatun, S.Pd

MTs Negeri 4 Bogor


Saya adalah seorang guru IPS di MTs Negeri 4 Bogor. Bulan Agustus 2020 terhitung satu tahun sudah saya menjadi bagian di sekolah ini. Belum dapat menikmati sepenuhnya mengajar karena terpotong tiga bulan mengikuti pelatihan dasar PNS lalu dilanjutkan tiga bulan harus cuti melahirkan. Baru mengajar lagi Januari tahun 2020. Sayang, baru saja menikmati dan menemukan ritme mangajar dan berkomunikasi dengan peserta didik, kegiatan harus terhenti kembali karena sebuah pandemi.

Tidak akan pernah terbesit di bayangan saya akan ada pandemi yang membawa dampak besar di Indonesia. Di awal kehadirannya di Indonesia, saya banyak mencari dari berbagai sumber di internet mengenai Covid 19. Saya termasuk orang yang kurang begitu terbuka dengan informasi tentang kehadiran virus ini. Apalagi pencegahan yang harus dilakukan terbilang cukup mudah dan biasa kita lakukan. Yaitu dengan membiasakan diri mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Intinya meminimalisir komunikasi dengan orang lain, dan selalu menjaga diri untuk tetap di dalam rumah.

Di awal pandemi, mungkin saya salah satu orang yang bersyukur. Karena dengan pandemi ini saya kembali kepada profesi saya sebelum mengajar di MTs N 4 Bogor yaitu sebagai ibu tangga. Saya bisa mengasuh putra ketiga saya yang masih berusia 6 bulan dan sebagai seorang ibu akan merasa sempurna rasanya jika bisa memberikan ASI eksklusif untuknya. Akan tetapi peran saya sebagai seorang guru tidak bisa dinomer duakan dan tetap menjadi tugas utama bagi saya.

Di awal masa pandemi Covid-19, saya mengajar dari rumah memanfaatkan teknologi yang ada. Saya menggunakan whatsapp grup sebagai media saya berkomunikasi dengan peserta didik. Mengkomunikasikan materi menggunakan bahasa tulis tentunya tidak mudah. Peserta didik bisa saja salah menerjemahkan bahasa tulis saya.  Akhirnya saya mencoba membuat sebuah video pembelajaran berbekal guru Youtube. Saya mengumpulkan alat seadanya. HP disangga dengan tripod murahan yang juga harus disangga dengan tumpukan buku, serta memanfaatkan handuk sebagai latar saya sebagai green screen. Dengan begitu saya bisa membuat menambahkan animasi agar video menjadi menarik. 

Saya sangat bersemangat membuat video dan mengunggahnya di Youtube. Beberapa video sudah saya buat. Tujuannya tidak lain adalah agar siswa memahami materi yang saya sampaikan. Akan tetapi, peserta didik ternyata menemukan beberapa kendala. Saya baru sadar bahwa belajar daring tidak semudah bayangan saya. Ada beberapa anak yang tidak memiliki HP, ada juga anak yang tidak selalu bisa membeli kuota, ada juga diantara mereka yang ponselnya belum mendukung sinyal 4G. Selain itu, tinggal di perbatasan Bogor Karawang Bekasi juga menyebabkan kendala sinyal pada sebagian besar siswa.

Akhirnya semester dua tahun ajaran 2019/2020 berakhir. Anak-anak naik kelas dengan pemahaman materi yang entah seperti apa. Memandang lesu kelas 9 yang lulus tanpa euforia. Hal ini menyayat hati rasanya. Foto bersama dibatasi, pesta kelulusan batal, senyum para peserta didik baru, OSIS yang sibuk dengan kegiatan MATSAMA yang selalu unik sudah tidak ada lagi. Anak-anak sedih, kami sebagi guru pun sebenarnya tidak kalah sedih.

Bulan berlalu, ditugaskan menjadi wali di kelas 7. Bertemu sekali dengan mereka anggota baru keluarga MTs. Saya bertanya dalam hati bagaimana nanti membangun keakraban dengan mereka. Karena penting bagi saya membangun ikatan antara saya sebagai wali dengan peserta didik. Melalui WA grup saya intensifkan berkomunikasi dengan siswa perwalian saya. Saya bertanya berbagai hal, kadang mengajak mereka bersenda gurau dengan main tebak-tebakan di kala senggang, membahas isu hangat di masyarakat, terkadang menuruti keinginan mereka menjadi bucin. Bahasa saya sebagai guru saya turunkan demi membangun sebuah chemistry agar mereka tidak membangun jarak dengan saya. 

Hal tersebut saya lakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam menerima bahasa tulis yang memiliki banyak persepsi. Dampak yang bisa saya rasakan adalah, saya menerima report yang cukup memuaskan dari guru mata pelajaran lain. Tingkat keikutsertaan siswa dalam pembelajaran daring cukup baik di kelas perwalian saya. Dari 30 siswa rata-rata 22-25 siswa yang mengikuti. 

Dari peristiwa tersebut saya belajar bahwa, tehnik komunikasi dan pemilihan bahasa ternyata teramat penting dan turut mengambil bagian dalam Pembelajaan Jarak Jauh selama masa pandemi ini. Komunikasi sendiri menurut KBBI adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Melalui bahasa tulisan, pesan yang dimaksud oleh pengirim pesan tidak selalu dapat dengan seketika dipahami. Apalagi pengirim dan penerima pesan memiliki tingkat usia yang berbeda. Oleh karena itu, penggunaan bahasa dalam berkomunikasi melalui tulisan harus menjadi perhatian penting.

Berdasarkan pengalam pribadi, dalam berkomunikasi melalui tulisan, seorang guru hendaknya :

  1. Tidak menyingkat tulisan. Seingkali saya menemui pesan whatsap yang disingkat. ‘Yang’ menjadi ‘yg’, ‘setelah’ menjadi ‘stlh’, dan sebagainya. Hal tersebt dapat mengurangi efektifitas dalam berkomunikasi.

  2. Memperhatikan betul tanda baca. Tanda baca yang salah akan membuat pesan yang disampaikan juga tidak tepat. Sehingga seorang guru harus memperhatikan betul tanda baca dan peletakannya saat mengirim pesan kepada peserta didik.

  3. Menggunakan emoticon dan sticker. Aplikasi Whatsapp yang sering kita gunakan memiliki ratusan emoticon yang sangat beragam. Bagi saya penggunaan emoticon sangat membantu sebagai pengganti isyarat nonverbal. Emoticon juga membantu memberikan kesan ramah dan dekat. Sticker juga membantu untuk mencairkan suasana. Akan tetapi perlu diperhatikan dan menjadi pehatian bagi peserta didik agar menghindari emoticon dan sticker yang kurang sopan. 

  4. Menggunakan bahasa daerah setempat. Khasanah budaya yang harus dilestarikan adalah bahasa. Menjadi guru IPS juga bisa sambil mebudayakan penggunaan bahasa daerah yang telah luntur. Selain itu juga dapat membuat siswa lebih leluasa menyampaikan pesan mereka. 

  5. Tidak selalu menggunakan bahasa formal. Ketika seorang guru menggunakan bahasa formal, terkadang mencerminkan guru yang kaku dan galak di mata siswa. Oleh karenanya, tidak menjadi masalah ketika guru di dalam bahasa percakapan tulis di media Whatsapp menggunakan bahasa pasar yang terkesan lebih santai.

  6. Komunikasikan pesan di luar mata pelajaran. Bisa saja sekali waktu mengomentari story para peserta didik, menanyakan kabar dan kegiatan, bermain kuis singkat, bersenda gurau lewat Whatsapp sebaiknya intens dilakukan sekali lagi untuk membangun kedekatan dengan peserta didik. Hal ini juga diharapkan dapat mengurangi tingkat kepenatan peserta didik dalam menghadapi PJJ di masa pandemi ini.

Demikian pengalaman saya sebagai seorang guru baru di sekolah baru di masa pandemi Covid 19. Semangat dan sukses selalu guru IPS di Indonesia.