Senin, 02 November 2020

MENGGAPAI ASA BERSAMA CORONA BERITA BESAR

OLEH SRI ANDHARIYATI

UPT SMP NEGERI 1 PONGGOK – BLITAR

E-MAIL : sriandhariyati@gmail.com


Di penghujung tahun 2019 dunia digemparkan  adanya berita  tentang datangnya pandemi. Dunia panik. Negara besar, kecil   tidak pandang bulu. Semua dilibas. Virus yang menggemparkan itu dinamakan Corona atau lebih keren disebut Covid-19.Karena lahir tahun 2019.

    Kota Wuhan yang berada jauh di negara Tiongkok, menjadi viral. Karena diperkirakan dari kota Wuhanlah Corona berasal. Di kota Wuhan, menurut berita, terdapat pasar tak lazim. Mengapa dikatakan tak lazim,karena barang yang diperdagangkan merupakan bahan makanan yang tidak lazim dijadikan konsumi. Tikus,anjing,kelelawar dan binatang tak lazim lainnya. Bukan hanya barang dagangannya, cara mengkonsumsipun juga tak lazim. Ada yang dikonsumsi mentah atau bahkan dalam kondisi masih hidup.

    Kita  tidak pernah  membayangkan Corona yang berasal  dari  Tiongkok, ternyata tau-tau sudah berada di  Indonesia. Kita juga lagi-lagi tidak membayangkan bagaimana makhluk ciptaan  Allah tidak kasat mata  itu sudah bersanding dengan kita. Corona  tidak main-main. Korban berjatuhan di seluruh 

  MENOLAK

    Sering kita mendengar ujaran, menolak musibah.Tidak mungkin bencana itu  terjadi di negeri kita dengan berbagai alasan. Begitu juga dengan Corona. Indonesia beriklim tropis dan panas,jadi virus itu tidak mungkin bisa hidup. Ternyata dugaan kita sama sekali tidak benar. Virus Corona sangat adaptif.Bisa menyesuaikan dengan induk semangnya. Mungkin Corona yang berada di Wuhan tidak sama dengan Corona yang berada di benua lain. Sudah bermutasi. 


PERUBAHAN BESAR TIDAK TERENCANA

    Pandemi…kata yang selama ini hanya kita dengar,atau kita baca dari Sosmed. Kita yang hidup di era ini belum pernah melihat langsung bagaimana dahsatnya pandemi. Corona datang tiba-tiba. Bencana atau musibah   sering terjadi  karena  adanya ketidak seimbangan  Manusialah yang sangat berpengaruh dalam merubah keseimbangan . Munculnya Virus Corona bisa jadi  karena terganggunga keseimbangan. Virus yang seharusnya hidup dengan inang binatang, karena manusia mengkonsumsi  inangnya,maka virus berpindah ke manusia.

    Dampak  pandemi Covid-19 menyentuh ke semua lini kehidupan. berbangsa dan bernegara. Pandemi merubah peta dunia.Peta ekonomi,budaya,politik,social  dan tidak ketinggalan dalam bidang pendidikan. Pandemi dikategorikan perubahan besar tidak terencana Semua negara di permukaan bumi merasakan kondisi yang sama.


BERDAMAI DENGAN CORONA. 

    Keterkejutan dunia pendidikan  karena pandemi Covid-19 luar biasa.Kemedikbud mengeluarkan Surat Edaran No 4 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid-19. Yang keberadaannya disusul dengan SE Sesjen no 15 tentang Pedoman  Pelaksaan BDR selama,  Darurat Covid 19.. Tujuan pemerintah mengeluarkan regula-regulasi dalam guna memastikan pemenuhan hak pesertaDidik untuk mendapatkan layanan Kabupaten Blitar Sejak 17 Maret 2020 kegiatan pembelajaran dihentikan. Semua menyambut dengan bingung dan ketidaktahuan bagaimana kelanjutan pembelajaran para siswa.

    Guru tidak membayangkan harus mengajar tanpa siswa. Orang tua yang selama ini nyaman,tidakpernah mengetahui bagaiman buah hatinya belajardi sekolah. Dunia terbalik,dunia pendidikanpun juga ikut terbalik bertukar peran.Orang tua bertambah peran,selaian menjadi orang tua dengan tugas mengawasi ketika dirumah,menyediakan kebutuhan dasar bagi anggota keluarganya, ditambah tugas dan perannya untuk menjadi guru.

    Jadi sangat wajar jika banyak orang tua  menjadi stress karena harus menjadi guru,(utamanya untuk sekolah ditingkat TK ,PAUD). Dan kondisi seperti  itu wajar. Mengapa karena   orang tua tidak dibekali ilmu mendidik. Dalam kondisi nseperti inilah baru disadari bahwa peran guru sebagai agen belajar tidak bisa digantikan.

    Semua  tidak boleh menyerah. Semua harus dilindungi. Pembelajaran harus tetap berjalan.Sementara kesehatan guru,siswa,keluarga juga menjadi prioritas perlindungan. Pandemi Covid-19  ibarat laptop atau kompouter  terkena virus, padahal sedang kita gunakan untuk bekerja. Apakah kita harus menghentikan pekerjaan kita, tentunya tidak. Kitalah yang harus menyesuaikan dengan perangkat kerja kita.

    Untuk progress keberlanjutan pendidikan Pemerintah melalui Menteri Pendidkan mengeluarkan berbagai solusi. Dan daringlah  solusi yang bisa dilaksanakan lepas dari negative dan positifnya.    Daring dilaksanakan bukan tanpa masalah. Ketersediaan  sarana dan prasarana menjadi problema.  HP,jaringan, paket data menjadi menjadi perdebatan. Tidak semua siswa mempunyai HP androit yang bisa digunakan untuk download aplikasi.. Banyak guru kalang kabut. Termasuk saya. Saya adalah guru yang sangat tradisional, selama ini jarang atau bahkan tida kernah mengajar dengan menggunakan media,kecuali media yang sangat standar. Dengan pembelajaran tatap muka saya tidak ribet. Saya hanya menggunakan media seadanya  yang penting bagi saya adalah siswa dapat belajar dengan nyaman.

Karena terpaksa dan dipaksa oleh keadaan, dalam waktu singkat saya harus tetap menyediakan pelayanan pembelajaran untuk  siswa. Maka pilihan pertama jatuh pada watshap. Mengapa watshap. Karena aplikasi ini sudah akrab untuk semua kalangan. Sebagain besar siswa sudah memiliknya, sehingga tinggal mengumpulkan nomor hp siswa  dan membuat  grup mata pelajaran IPS di setiap kelas.Di tengah perjalanan pembelajaran dengan menggunakan watshap muncul masalah. Kapasitas hp androit sangat kecil sehingga sering tidak suport untuk kegiatan belajar.

    Di tengah kepanikan saya belajar bersama teman-teman guru (yang sama-sama gagap teknologi ) melirik Google Class Room (GCR) Google Drive dan perangkat lainnya. Dengan GCR kesulitan  bisa terbantu…menjadi teringankan. Tetapi masalah lain muncul. Siswa mengalami kebosanan jika  belajar hanya dengan membaca. Akhirnya saya harus belajar lagi dan belajar lagi. Untuk mengatasi kebosanan.Akhirnya kegiatan belajar saya  variasi dengan pesan suara, dengan LKS dengan modul dan variasi yang lain. Untuk guru yang sebelumnya sudah akrab dengan pembelajaran inovativ tidak gentar,tinggal memilih memilah mana yang cocok untuk kondisi sekarang ini. Tinggal  edit pasang selesai.

    Dengan GCR…pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Ternyata beberapa siswa  mulai menganggap daring adalah main-main. Hal ini ditunjukkan dengan semakin menyusutnya siswa yang aktif dalam kegiatan daring. Bahkan ada yang tdak pernah hadir sama sekali meski hanya sekedar untuk presensi. Setelah saya telusuri dengan sering mengingatkan di grup kelas dan saya datangi dari rumah ke rumah ternyata terjawab,  tidak semua dari mereka ternganggu perangkatnya, tetap malas,tidak berhp dan ada yang tidakbisa mengoperasikannGCR.

. Dan dari pihak orang tua juga mulai muncul anggapan bahwa belajar dengan daring tidak harus hadir sesuai jadwal tetapi bisa sesuai sempatnya. Terbukti ketika ada siswa yang tidak hadir daring ternyata diajak orang tuanya ke sawah , bahkan dari mereka ada yang sibuk bermain layangan. Ada yang menggantikan ibunya untuk menunggui sekolah adiknya di TK karena dianggap mereka nganggur. Akhirnya belajar Daring menjadi 24 jam. Tidak menjadi masalah saya toleransi asal para siswa tetap bisa aktif belajar. 

Saya memberi motivasi kepada para siswa ibarat mendatanngi istana menara gading. Saya  harus hat-hati dalam berkata-kata agar siswa tidak tersinggung.  Tetap menjaga emosi dan berjuta sabar ketika melihat prosentase kehadiran siswa yang jarang penuh dalam satu kelas. Tetapi harus optimis pasti bisa. Diakui atau tidakpembelajaran dengan daring sangat memudahkan.Guru hanya sibuk di awal karena harus merancang pembelajaran,setelah selesai dinggah dan bisa digandakan sesuai kelas yang diampu.

    Setelah daring berjalan sekian lama, akhirnya semua menjadi biasa.para siswa sudah terbiasa dengan daring. Untuk siswa yang malas itulah tugas kita untuk menjadi guru motivator. Berinovasi meski hanya ala kita. Saya mempunyai grup dengan wali siswa. Dari grup itulah saya jalin kerja sama untuk saling mengingatkan agar kegiatan belajar dapat berjalan dengan baik.Lembaga sebagai agen belajar, keluarga sebagai  penyedia perangkat dan penyedia pengawasan dan bimbingan. 

    Dan tibalah saatnya program Penilaian Tengah Semester (PTS) dilaksanakan. Sekolah membentuk kepanitiaan. Saya sebagai panitia PTS mendata adakah dari sekian siswa yang tidak bisa daring dalam PTS. Wali kekas yang mencari informasi dari masing-masing kelas. Data sudah terkumpul, soal PTS digandakan sesuai jumlah peserta yang sudah didata. Setelah tiba hari H PTS dilaksanakan dengan menggunakan E-learning masalah muncul, siswa yang semula tidak terdaftar daring,dengan berbagai alasan datang ke sekolah menyatakan ikut PTS luring. Ketika saya Tanya “ kenapa ikut Luring “ ada salah satu siswa saya menjawab “ Saya pingin ke sekolah Bu…” Dan ketika siswa yang ikut luring ke sekolah (ada yang diantar orang tua), pemandangan ganjil saya saksikan dan kepala saya jadi terasa hilang. Banyak rambut anak laki-laki yang dicat. Saya agak emosi,terpaksa,mereka  saya dudukkan, saya tanya kenapa rambutnya diwarna seperti itu..mereka menjawab “ kan tidak sekolah Bu..” jadi belajar dengan daring dianggap tidak sekolah. 

 Adanya Pandemi Covid-19  secercah harapan  muncul. Kita terpicu untuk belajar.Berbagai kegiatan seminar web saya ikuti agar tak tertinggal informasi. Menambah pengalaman. Karena dengan webinar saya bisa bertemu dengan sesama guru di seantero nusantara.Di situlah saya belajar.Jika kita hanya menuruti ketidakmapuan  tidak menyelesaikan masalah. Inilah perubahan luar biasa dalam bidang pendidikan. Saya  yang semula nyaman dengan mengajar tatap muka harus berbenah.Menyesuaikan diri dengan menggunakan teknologi pembelajaran jarak jauh. Jika tidak  belajar saya  akan tertinggal dan dampaknya adalah  siswa. Mereka tidak terlayani dengan baik. 

Terkait dengan pendidikan karakter menjadi masalah tersendiri.  Ketika dengan daring. Guru tidak bisa membimbing karakter secara maksmal. Tetapi bukan berarti guru tidak bisa memberikan sentuhan karater.Meski tidak bisa maksimal, pendidikan karakter harus tetap dilaksankan. Tetap disampaikan. Saya menyapa  anak-anak di waktu pagi, mengingatkan untuk ibadah,untuk berbakti mengingatkan jadwal daring untuk hari ini. Begitu dengan orang tua. Saya membentuk grup khusus orang tua siswa (karena saya wali kelas) Agar membantu mengingatkan untuk putra-putrinya. Saya senantiasa memantau untuk siswa tertentu yang sering berkomentar atau berstatus,jika yang diunggah tidak pantas saya tegur.Dan jika diulang “ saya ancam untuk keluar dari grup “

Jika kita hanya bicara masalah tidak akan ada habisnya.Yang lebih penting dari Pandemi adalah kita tidak boleh menjauhi pandemi.Karena kapan berakhirnya pandemi  Covid-19  belum terjawab sampai hari ini.Jika kita terus menghindar dari pandemi. Kita malah semakin terbelenggu dengan kondisi.Ibarat gurita semakin kita jauhi,semakin melilit. Kita  hanya bisa beku dengan tidak menghasilkan sesuatu.   Kita harus bisa berdamai dengan Corona,Belajar dari Corona.Dalam hal ini bukan berarti kita menyerah. Pandemi harus dihadapi. Kita diberi kelebihan akal dan nurani untuk bisa bertahan hidup. Bergotong royong.Patuh Protokol kesehatan, protokol beragama. Tetap kita pegang teguh. Kadang kita juga bosan setiap hari harus menjawab pertanyaan yang sama dari siswa maupun orang tua “ kapan sekolah lagi “ Dan kita sama-sama tidak mengetahui jawabnya.

Di sekolah tempat saya mengabdi sudah menyiapkan segala pernik yang diperlukan ketika belajar tatap muka dimulai lagi, sesuai protocol kesehatan. Orang tua wali siswa didatangkan untuk membuat surat pernyataan setuju atau tidak jika sekolah tatap muka dimulai. Dan jawabnya 99% dari orang tua menyatakan setuju. Dan alasan dari mereka bukan karena terkait ketertinggalan pelajaran.Kalau terkait pulsa,paket data sudah sejak awal PJJ  menjadi masalah. Malasah yang lain adalah orang tua risih melihat anaknya hanya rebahan,ber HP dan semakin sulit dikendalikan. Dan pada akhirnya kita hanya memohon dan berharap semoga pandemi segera berakhir. Agar anak-anak generasi emas ini tidak larut dalam ketidakpastian. Semoga.


PENUTUP

    Pandemi  bukan berarti kiamat.Bukan berati tanpa prestasi. Guru tidak boleh berhenti berkarya,bekerja, meski harus bersanding dengan penyakit. Kita harus patuh pada protocol yang sudah diputuskan oleh para ahli.Kita tidak boleh membuat aturan sendiri. Guru harus tetap berdedikasi. Bersinergi dengan teman sejawat,dengan orang tua, Dan dengan siapapun pemangku kepentingan dimana kita bekerja. Salam sehat.

   



   

   

   

   



   




TUGAS WEBINAR

LoVi FKGJATIM


MENGGAPAI ASA BERSAMA CORONA