Sabtu, 07 November 2020

MERAIH MIMPI DI ERA PANDEMI

Oleh  Sri Andhariyati

UPT SMP Negeri 1 Ponggok

Email : sriandhariyati@gmail.com


    UPT SMP Negeri 1 Ponggok tempat saya mengabdi berada di Kecamatan Ponggok,Kabupaten Blitar. Jarak tempuh dengan pusat kota kabupaten sangat jauh. Tetapi dengan pusat pemerintahan kota Blitar sekira 18km. Berada di ring 3 apabila Gunung Kelud meletus.

    Saya mengabdi  kurang lebih 35 tahun. Mulai SK penempatan pertama, semoga sampai nanti purna tugas. Jumlah siswa sekira 860, guru dan karyawan  63orang

    Bulan Desember 2019 terdengar berita dari tanah seberang tentang  pandemi yang luar biasa ganasnya. Pandemi virus corona atau terkenal disebut  Covid-19. Saya berfikir negara Indonesia jauh dari negeri Tiongkok, negara tropis rasanya tidak mungkin Corona sampai ke Indonesia.

    Perkiraan saya  ternyata meleset sejauh-jauhnya. Karena pada bulan Maret 2020  dua Pegawai Depag Kota dan Kabupaten  Blitar terpapar dan yang satu orang meninggal. Menurut berita yang saya dengar ke dua pegawai Depag tersebut baru saja  mengikuti pelatihan haji di Surabaya.

    Dengan peristiwa meninggalnya Kepala Depag Kota Blitar, Pemerintah Kabupaten Blitar mengambil langkah. 17 Maret 2020,kegiatan belajar tatap muka dihentikan. Semua kalang kabut.Bagaimana tidak, hari itu bertepatan dengan kegiatan ujian praktik untuk kelas 9. Dan akan memasuki hari ke dua. Semua harus dihentikan. UNBK yang sudah dipersiapkan dengan matang,simulasi,pendalaman,sewa computer semua dibatalkan.

    Semua guru bingung bukan buatan. Episode pendidikan di kabupaten Blitar khususnya dan Indonesia pada umumnya,harus menggunakan belajar jarak jauh. Bekerja dan belajar dari rumah, Semua bingung kalau belajar dari rumah bagaimana caranya.

    Anak-anak benar-benar tidak boleh ke sekolah.Guru ke sekolah hanya presensi, hanya satu kali sehari, pagi saja. Ketika diketahu korban akibat Covid-19 semakin banyak,ibu kota dilockdown  gurur total  tidak pernah lagi berada di sekolah.

    Pada bulan Mei 2020, mulai ada kelonggaran, diatur guru piket,akhirnya diijinkan  masuk bergantin dan benar-benar protocol kesehatan sangat ketat. Sehari hanya dijinkan di sekolah sampai jam 11.00 WIB. Padahal sekolah harus menyiapkan untuk kelulusan. Dan akhirnya dengan kerja sama semua bisa diselesaikan tanpa kendala yang bearti.

    Bagimana untuk kelas 7 dan 8. Pembicaraan panjang dilakukan oleh semua guru. Saya sudah nyaman-senyaman-nyamannya mengajar dengan tatap muka. Kala itu banyak yang setres sangat wajar. Guru yang sangat awam dengan IT  luar biasa peningnya. Karena belajar dengan murid tidak ada ditempat.Tak terbayangkan 

    Alhamdulillah sedikit bisa tersenyum. Whatsapp memberi angin segar. Akhirnya kami mengajar dengan menggunakan perantara whatsapp,Karea semua sudah akrab dengan wa. Hp androit banyak yang punya. Untuk kelancaran PJJ sekolah mengundang orang tua/wali siswa. Dengan agenda khusus membiacarakan PJJ. Karena orang tua sebagai penyedia sarana dan pengawasan . Dengan kerja sama yang baik antara sekolah dan orang tua PJJ daring dapat terlaksana. Untuk siswa yang tidak memiliki hp android pembelajaran dilaksankan dengan antar ambil tugas ke sekolah oleh orang tua

    Seiring berjalannya waktu,Covid-19 belum menujukkan gejala berakhir. Dan Alhamdulillah Kabupaten Blitar tetap pada psosisi aman di zona merah.Sehingga PJJ jalan terus sampai sekarang.

    Belajar dengan whatsapp sebagain sudah tinggalkan. GCR membantu meringankan beban. Adik-adik muda banyak yang mahir IT menjadi penggerak, yang tua-tua belajar. Jika hanya berpikir tidak bisa, saya tetap tidak bisa. Sekarang sudah banyak yang menggunakan aplikasi sebisanya.Yang penting siswa tetap terlayani.Baik yang daring maupun yang luring.

Pembelajaran dengan daring  berjalan dengan aman.Keluhan paketan dan Hp sudah tidak terdengar. Tetapi beberapa siswa  mulai menganggap daring adalah main-main. Hal ini ditunjukkan dengan semakin menyusutnya siswa yang aktif dalam kegiatan . Bahkan ada yang tidak pernah hadir sama sekali meski hanya sekedar  presensi.   Setelah didatangi ternyata terjawab,  tidak semua dari mereka ternganggu perangkatnya, tetapi malas,dan hanya sibuk ngegame.

Dan dari pihak orang tua juga mulai muncul anggapan bahwa belajar dengan daring tidak harus hadir sesuai jadwal, tetapi bisa sesuai sempatnya. Terbukti ketika ada siswa yang tidak hadir daring ternyata diajak orang tuanya ke sawah , ada yang sibuk bermain layangan. Ada yang menggantikan ibunya untuk menunggui  adiknya di TK karena dianggap mereka nganggur. Akhirnya belajar  daring menjadi 24 jam

Diakui atau tidak pembelajaran dengan daring sebenarnya sangat memudahkan.Setelah daring berjalan beberapa bulan semua menjadi menjadi terbiasa Untuk siswa yang malas itulah tugas kita untuk menjadi guru motivator. Tetap bersinergi dengan semua pihak. 

    Dan tibalah saatnya  PTS. Sekolah membentuk kepanitiaan. Panitia mendata berapa siswa yang daring dan luring. Pada hari H PTS masalah muncul. Siswa yang semula tidak terdaftar daring,dengan berbagai alasan datang ke sekolah menyatakan ikut luring. Ketika di tanya “ kenapa ikut Luring “ ada salah satu siswa  menjawab “ Saya pingin ke sekolah Bu…” Dan ketika siswa yang  luring ke sekolah (ada yang diantar orang tua), pemandangan ganjil muncul.  Kepala ini  terasa hilang. Banyak rambut anak laki-laki yang dicat. Panitia terpaksa mendudukkan,  ditanya kenapa rambutnya diwarna seperti itu..mereka menjawab “ kan tidak sekolah Bu..” jadi belajar dengan daring dianggap tidak sekolah. 

 Pandemi Covid-19 membawa  secercah harapan. Kita terpicu untuk belajar.Berbagai kegiatan webinar diikuti agar tak tertinggal informasi. Saking banyaknyan webinar sampai bingung.Sering lupa jadwal. Piagam webinar menggunung .

Terkait dengan pendidikan karakter menjadi masalah tersendiri. Karena saya secara pribadi  tidak bisa melihat lanngsung bagaimana perilaku siswa. Tetapi banyakcara yang bisa dilaksankan.Dengan kuisionar atau dilihat cara bertutur lewat social meida sedikit ada tolok ukur.

 Kadang kita juga bosan setiap hari harus menjawab pertanyaan yang sama dari siswa maupun orang tua “ kapan sekolah lagi “ Dan kita sama-sama tidak mengetahui jawabnya.

 Sat ini semua satuan pendidikan di Kabupaten Blitar . Wajib  menyiagakn diri untuk persiapan masuk sekolah di era new normal, sarana cuci tangan,banner himbaun jaga sehat sudah di pasang. Orang tua/wali siswa didatangkan untuk menandatangani  surat pernyataan setuju atau tidak jika sekolah tatap muka dimulai. Dan jawabnya 99% dari orang tua menyatakan setuju.. Dan akhirnya kita hanya memohon dan berdo’a

Pandemi bukan berati kiamat atau hilang harapan.Banyak yang bisa lakukan dalam kondisi pandemi.Jika semua hanya merenung ketakutan,saling menyalahkan  tidak menyelesaikan masalah. Yang terbaik adalah, patuh protokol kesehatan,berdoa semoga pandemi segera pergi dari bumi.