Rabu, 04 November 2020

Etika Bermedsos

 


Oleh Sulistyowati 

SMPN 1 Pujon – Kab. Malang  


    Kata media sosial seolah tak terpisahkan dari para warga yang hidup di era milenial ini. Media sosial (medsos) adalah sebuah media daring. Para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Pesatnya perkembangan medsos menyebabkanb semua orang seperti bisa memiliki dunia sendiri. Lain halnya dengan media konvensional seperti televisi, radio atau koran yang membutuhkan modal yang besar dan padat tenaga kerja. Ini berbeda dengan medsos. 

Seorang pengguna medsos bisa mengakses atau menggunakan medsos dengan jaringan internet. Pengguna medsos bisa seenaknya mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model konten lainnya untuk dibagikan di medsos.

Saat ini, medsos sangat mempengaruhi perilaku dan keseharian kita. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, kebanyakan dari kita selalu meng-update medsos. Bahkan, tidak jarang mereka yang kecanduan atau berlebihan menggunakan medsos, justru mengabaikan tugas utama seperti pekerjaan atau belajar. Diharapkan, para pengguna medsos menjadi lebih bijaksana dalam bermedsos.

Kementerian Komunikasi dan Informatika akan merilis panduan pemakaian media sosial secara bijak. Panduan dalam beretika di medsos diperlukan karena tak cukup hanya diawasi dengan sejumlah regulasi. 

Menteri Komunikasi dan Informatika menilai harus ada upaya penyelesaian sosial untuk mengimbangi penggunaan medsos.

Pemblokiran ratusan konten di Internet tidak cukup. "Konten hoax, negatif, hingga penghasutan di media sosial tidak cukup hanya diselesaikan dengan pendekatan regulasi, tapi harus ada upaya pendekatan sosial," ucap Rudiantara di Jakarta, Selasa, 29 November 2016. 

Perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat, banyak orang yang memiliki akses untuk menuangkan inspirasinya pada produk teknologi. 

Dengan pemberlakuan revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Kemenkominfo berharap agar setiap orang yang mendapatkan akses perlu bersikap dewasa ketika sedang ber-Internet.  Termasuk ketika ia berucap dalam tulisan di Internet. Sebab, saja apa yang dia unggah di media sosial bisa memberi dampak luar biasa, dan bila menyentuh ranah privasi orang lain, bisa menimbulkan permasalahan. Dengan demikian, siapa pun yang sedang mengakses Internet, apabila menerima atau mengirim informasi, perlu cek and ricek, perlu waspada. 

Kalau ingin meneruskan pesan ke orang lain, jangan sampai terjadi kesalahan atau melanggar ketentuan yang dilarang dalam UU ITE. 

Rudiantara menambahkan, panduan etika di media sosial ini tidak hanya berupa anjuran. Pemerintah ke depan juga akan berfokus pada aspek hulu, tidak hanya hilir. "Jadi tidak hanya di hilir dengan main tangkap dan blokir, tapi aspek hulu lebih penting dengan memberikan literasi dan sosialisasi kepada masyarakat." 

Menanggapi rencana Kemenkominfo merilis panduan etika bermedia sosial, sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, mengatakan pemerintah perlu mengatur penggunaan media sosial. Selain melalui aturan, pendidikan mengenai penggunaan media sosial juga dirasa perlu. Menurut Sunyoto, langkah pertama yang harus ditempuh pemerintah ialah memahami aturan mengenai penggunaan media sosial. “Jadi, kalau ada yang meresahkan, pemerintah bisa segera merujuk pada aturan tersebut,” katanya kepada Tempo, Selasa, 29 November 2016. 

Penegak hukum harus berpegang pada aturan tersebut dan menghindari spekulasi. Selain itu, diperlukan pendidikan mengenai tata cara penggunaan media sosial melalui keluarga, sekolah, hingga komunitas yang lebih luas. “Masyarakat perlu diberikan perbendaharaan yang cukup bahwa media sosial berbeda dengan media lainnya,” ujar Sunyoto. Sunyoto menambahkan, media sosial memfasilitasi pembicaraan orang banyak dengan orang banyak. Berbeda dengan telepon atau surat yang dilakukan dalam forum yang lebih terbatas.

Tokoh masyarakat juga harus turut andil dalam pendidikan penggunaan media sosial. “Mereka harus memberi tahu bahwa informasi yang tidak dikonfirmasi bisa menyebabkan malapetaka. Di zaman kekinian, kita tidak bisa lepas dengan yang namanya media sosial. Terutama bagi kaum milenia. Makanya tak mengherankan tren  freelance yang berhubungan dengan  media sosial inipun semakin merajai di jagat raya. Orang berbondong-bondong ingin menjadi youtuber, influencer, conten creator, programer, dan lainnya termasuk juga blogger. Tidak ada yang salah sebenarnya menjalankan pekerjaan tersebut selagi halal dan mampu menebar kebaikan. Selagi bisa bijak bermedia sosial.

Seperti halnya sebuah pisau yang mempunyai sisi tajam dan sisi tumpul. Begitupun dengan media sosial mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Tinggal bagaimana kita beretika agar bisa bermedia sosial dengan bijak. Karena tidak jarang media sosial digunakan untuk jalan kejahatan seperti penipuan, penculikan, pansos (panjat sosial istilah kekinian buat yang mau cepat terkenal dengan memanfaatkan orang atau moment tertentu), penghasutan, penyebaran berita bohong, dan aksi kejahatan lainnya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam bermedsos, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai pegangan agar menjadi bijak dalam menggunakan medsos, serta media sosial bermanfaat bagi kita dan juga mampu memberi manfaat bagi orang lain. Karena jika dulu ada istilah “mulutmu, harimaumu”. Namun, kini istilah itu telah berevolusi menjadi ” jarimu, singamu”.     

Maklum kadang kita suka hanyut dalam situasi yang sedang booming di media sosial dan sengaja atau tanpa sengaja telah salah dalam mengunakan jari jemari kita  dalam bermedia sosial tersebut.

Dalam penggunaannya, tentu kita di berikan kebebasan agar bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Namun yang sering di salah artikan disini adalah, bebas bukan berarti tanpa etika. 

Alangkah baiknya apabila kita mengetahui etika apa saja yang harus di perhatikan pada saat menggunakan jejaring sosial. Tidak sedikit permasalahan sosial yang terjadi akibat kurangnya kesadaran masyarakat dalam beretika dalam sosial media. Justru para pengguna terkadang dibutakan oleh berita yang tidak benar akibat dari hasutan yang beredar pada media sosial. Berikut beberapa hal penting mengenai etika dalam menggunakan media sosial.

1. Etika dalam Berkomunikasi
      Pada saat melakukan komunikasi dengan memanfaatkan media sosial, biasanya banyak yang cenderung melupakan etika dalam berkomunikasi. Hal ini di buktikan dengan banyaknya kata-kata kasar yang kerap kali muncul pada saat melakukan percakapan melalui jejaring sosial, baik yang sengaja dan tidak sengaja. Alangkah baiknya apabila sedang melakukan komunikasi pada jaringan internet, anda menggunakan bahasa yang sopan dan layak. Biasakanlah untuk menggunakan bahasa yang tepat dan santun  dengan siapapun pada saat kita berinteraksi, termasuk saat berinteraksi melalui media sosial.

2. Hindari Penyebaran SARA, Pornografi dan Aksi Kekerasan
      Alangkah baiknya apabila kita tidak menyebarkan informasi yang mengandung unsur SARA (Suku, Agama dan Ras) serta pornografi pada jejaring sosial. Biasakan untuk menyebarkan hal-hal yang berguna dan tidak menimbulkan konflik antar sesama. Hindari juga mengupload foto kekerasan seperti foto korban kekerasan, foto kecelakaan lalu lintas maupun foto kekerasan dalam bentuk lainnya. Jangan menambah kesedihan para keluarga korban dengan menyebarluaskan foto kekerasan karena mungkin saja salah satu dari keluarganya. Jangan mengajarkan generasi muda mengenai hal kekerasan, melalui foto kekerasan yang di upload secara terang-terangan pada media sosial.

3. Kroscek Kebenaran Berita
      Saat ini, tentu tidak jarang kalau kita menemukan berita yang menjelekan salah satu pihak di media sosial. Hal inilah yang terkadang bertujuan demi menjatuhkan nama pesaing dengan menyebarkan berita yang hasil rekayasa. Maka dari itu, pengguna media sosial dituntut agar lebih cerdas lagi saat menangkap sebuah informasi, apabila Anda ingin menyebarkan informasi tersebut, alangkah bijaknya jika Anda melakukan kroscek terlebih dahulu atas kebenaran informasi tersebut.

4. Menghargai Hasil Karya Orang Lain
      Pada saat menyebarka informasi baik dalam bentuk foto, tulisan maupun video milik orang lain maka biasakan untuk mencantumkan sumber informasi sebagai salah satu bentuk penghargaan atas hasil karya seseorang. Jangan membiasakan diri untuk serta merta mengcopy-paste tanpa mencantumkan sumber informasi tersebut.

5. Jangan Terlalu Mengumbar Informasi Pribadi
    Ada baiknya anda harus bersikap bijak dalam menyebarkan informasi mengenai  kehidupan pribadi (privasi) anda saat sedang menggunakan media sosial. Janganlah terlalu mengumbar informasi pribadi anda terlebih lagi informasi mengenai nomor telepon atau alamat rumah. Hal tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh pihak lain yang ingin melakukan tindak kejahatan kepada diri anda.

Jadi, pergunakanlah media sosial sebaik dan sebijak mungkin, terlebih lagi dalam hal penyebaran informasi. Biasakan untuk selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.

Ketika  kita bijak dalam menggunakan media sosial, In Syaa Alloh kita akan terhindar dari efek negatif dan keburukan media sosial,  yang sama besarnya dengan sisi positifnya.  Jangan sampai kita menjadi jalan keburukan, fitnah serta kehancuran seseorang. Hal ini akan terus mengalirkan dosa pada diri kita di dunia maupun akherat kelak, pastinya ngeri ??? 

Jadi, pergunakanlah media sosial sebaik dan sebijak mungkin, terlebih lagi dalam hal penyebaran informasi. Biasakan untuk selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.  Jangan pernah  putus untuk selalu berdoa memohon pertolongan Alloh Azza Wajalla, agar senantiasa  dibimbing dalam kebenaran ketika menggunakan media sosial dan bernilai ibadah, Aamiin!!!





                                       


                                                   DAFTAR PUSTAKA 

Harjasuganda, D. (2008). Pengembangan Konsep Diri yang Positif. Jurnal. Pendidikan Dasar. Nomor, 9. 

https://commnication.binus.ac.id/category/articles 

https://roemahura.com/stop-bahaya-dari-cyber-bullying 

Tempo.co Selasa, 29 November 2016 20:44