Sabtu, 07 November 2020

PANDEMI COVID 19 MEMAKSAKU MENJAWAB TANTANGAN

Oleh: Elih Hendartini

SMP Negeri 4 Rangkasbitung


Pandemi covid 19, seperti wasit bola yang berdisiplin tinggi. Siap memberi peringatan bahkan memaksa untuk berhenti jika ada pemain yang melanggar aturan. Aturannya sudah jelas yaitu protokol kesehatan. Semua orang sudah hatam pada aturan ini. Mulai membiasakan mencuci tangan pakai sabun di bawah air yang mengalir, menjaga jarak atau social distancing, sampai memakai masker.  

Semua harus memperhatikan protokol kesehatan. Tiada batas usia, perbedaan gender, atau perbedaan status sosial. Tanpa terkecuali. Sekali mengabaikan, maka akan membuka lebar resiko. Jika terjadi pelanggaran ringan, maka diberikan “kartu kuning” untuk  isolasi mandiri atau dirawat di RS. Jika terjadi  pelanggaran berat, terjadi komplikasi dengan  penyakit yang memang sudah kronis, tak jarang diberikan “kartu merah”. Ini berarti berhenti perannya  di dalam panggung  kehidupan.  Virus covid 19 menjadi wasit galak yang ditakuti semua orang. Aku, kamu, dan kita semua adalah “pemain” yang  juga  merasakan ketakutan itu.

Menurut data WHO korban pandemi covid 19 dari seluruh dunia per tanggal 3 November adalah 46.591.622 kasus terkonfirmasi positif. Korban meninggal dunia mencapai 1.201.200 jiwa (WHO, 2020). Wabah ini secara masiv merenggut jiwa penduduk bumi tanpa ampun. Menyebar teror, dan menyemai fobia di kalangan masyarakat. Tak jarang, muncul syak wasangka yang menyulut prahara antartetangga. Menguji empati dan toleransi antar manusia sebagai mahluk sosial yang bermartabat. Aku pernah merasakan, bagaimana kami harus menjaga hubungan baik antartetangga agar tetap rukun tanpa mengabaikan kesehatan. Awal bulan September lalu, lingkungan kami menjadi zona merah. Ada 4 orang yang tinggal di 3 rumah  terkonfirmasi positif Covid 19. Dua orang isolasi mandiri dan dua orang lainnya dirawat di RSUD Banten, rumah sakit rujukan Covid 19. 

Dibalik ancamannya, Pandemi Covid 19  dirasakan menjadi anugerah bagi sebagian orang. Aku termasuk orang yang merasakan mendapat anugerah. Mengapa?  Bagaimana aku tidak bersyukur, selama masa pandemi aku memiliki waktu yang lebih banyak untuk keluarga. Di sela BDR dan PJJ, aku bisa mendampingi anakku belajar di rumah. Selain itu, pengetahuanku tentang TIK mengalami perkembangan signifikan. Aplikasi pembelajaran yang sebelumnya sangat asing bagiku, sekarang sudah menjadi kudapan sehari-hari. 

Bermula dipaksa oleh kondisi BDR dan PJJ, aku harus mengembangkan pembelajaran berbasis IT.  Beruntung sekarang ini banyak sekali plat form untuk pembelajaran daring. Aku belajar  banyak aplikasi pembelajaran melalui webinar dan diklat online. Beberapa di antaranya yang sering aku gunakan untuk pembelajaran daring adalah WAG, Zoom cloud meeting, microsoft team, sway, microsoft form, google meet, google form, dan aplikasi edit video seperti kine master.

Pandemi Covid 19 memaksa guru menjadi lebih kreatif menyelenggarakan pembelajaran. Pembelajaran langsung tatap muka hingga kini masih belum memungkinkan. Sejatinya, pembelajaran daring harus tetap bisa interaktif antara guru dan siswa. Diakui banyak pihak video pembelajaran interaktif bisa menjadi solusi efektif permasalahan ini. 

Secara pribadi, aku tak berani bermimpi untuk membuat video pembelajaran sendiri. Ketika melihat video pembelajaran yang dibuat teman-teman, sempat ada keinginan untuk melakukan hal yang sama. Tetapi, keinginan itu selalu dipupus dan dilupakan, mengingat aku tak pernah percaya diri untuk tampil di depan kamera.

Tiba-tiba aku membaca pesan singkat melalui whatsapp yang dikirim langsung oleh kepala sekolah. Angka di sudut kanan bawah pesan itu tertulis 16.15. Aku baru membukanya sejam kemudian. Isi pesan membuatku sangat terkejut sekaligus bingung.harus menjawab apa? Aku ditugaskan untuk membuat video pembelajaran untuk dilombakan pada Hari Guru nanti. Dalam kebingungan, aku menjawab, “Siap pak!” meski masih ragu.

Untuk sebagian orang tugas ini mungkin mudah, tapi untukku menjadi beban yang sangat berat. Difoto sendiri saja aku tak percaya diri, selalu khawatir hasilnya tak indah dipandang. Ini harus berlama-lama berbicara di depan kamera untuk menjelaskan sesuatu. 

Aku tidak termasuk orang yang suka iseng selfie atau difoto sendiri. Koleksi fotoku hampir semuanya bersama orang lain, entah itu keluarga atau rekan. Di media sosial poto profilku lama sekali tak berganti. Sering kali aku kebingungan kalau diminta untuk mengirim foto profil. Biasanya aku ambil dari foto bersama yang kemudian dipotong. Alhasil foto profilku selalu “aneh”.

Tugas ini adalah tantangan yang harus aku jawab. Tak mungkin juga menolak tugas dari atasan. Akupun berusaha berpikir positif. Selain menunjukan dedikasiku, tak ada salahnya keluar dari zona nyaman. Mencoba hal baru yang sama sekali bukan poisoned-ku. Toh, dalam tugasku nanti, akan dibantu oleh rekan guru untuk editing videonya.

Aku mulai menghubungi rekan yang disebutkan akan membantuku melalaui kontak pribadi whatsapp. Responnya sangat positif. Kami melanjutkan diskusi dalam pertemuan langsung untuk menyamakan persepsi dan berkomitmen untuk menyelesaikan tugas ini hingga tuntas.

Perlahan optimisme berkembang dan menjadikanku lebih mantap untuk menentukan langkah-langkah berikutnya. Aku bertekad harus mengikis kekhawatiranku dan menumbuhkan harapan baru untuk sebuah kesuksesan yang harus aku raih. Bukankah sukses itu pilihan? Aku memilih berjuang untuk sukses. Akan aku kerahkan semua kekuatanku dan kemampuanku untuk wujudkan mimpiku ini. 

Dalam video pembelajaran nanti, aku akan mengangkat materi tentang “Bentuk-bentuk Interaksi Sosial”. Materi Sosiologi kelas VII. Untuk melengkapi unsur-unsur dalam video pembelajaran, aku melibatkan 5 orang siswa menjadi model, yaitu Sinta, Devi, Yoana, Fatia, dan Meyta. Aku akan menyelipkan adegan interaksi sosial yang dilakukan siswa di sekolah. 

Lucunya, ketika latihan dialog, akulah yang paling grogi melakukannya. Aku paling sering melakukan kesalahan di banding anak-anak.  Mereka anak-anak hebat yang cepat belajar. Kontribusi mereka akan menjadi cerita indah dalam perjalanan karierku dan hidup mereka. 

Masih 12 hari dari waktu yang ditargetkan. Besar harapanku. kami bisa menyeselaikan tugas ini dengan baik, agar bisa menjadi duta sekolah untuk lomba Video Pembelajaran di Hari Guru nanti. Ada pun hasil lomba nanti, kami sangat percaya Allah punya scenario terindah. 

Pandemi covid 19 memaksaku harus menjawab banyak tantangan. Ketika itu terjawab, ada rasa kepuasaan dan bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tantangan itu menjadikan kita survive.

Tak dapat ditawar lagi, dalam masa pandemi ini, kita harus membuat diri nyaman dalam ketidaknyamanan. Aku percaya dan yakin selalu ada hikmah dibalik kesulitan.  Insyaa Allah… aamiin.


Daftar Pustaka

WHO. (2020, November 3). WHO Corona Virus Disease (COVID) 19 Dashboard. Retrieved from https://covid19.who.int/?gclid=EAIaIQobChMIjMej6bnm7AIVGg4rCh08dQv5EAAYASAAEgIys_D_BwE: https://covid19.who.int/?gclid=EAIaIQobChMIjMej6bnm7AIVGg4rCh08dQv5EAAYASAAEgIys_D_BwE