Sabtu, 07 November 2020

Pandemi Covid 19 Musibah Sekaligus Berkah Bagi Dunia Pendidikan

 Oleh :Drs. Hariyanto,

SDN Turi 1 Kota BlitarEmail : Hariyanto.sentul1@gmail.com


    Bicara dampak dari Pandemi covid 19, saat ini adalah berbicara nasib semua orang di seluruh dunia, Bencana kemanusiaan berdifat global ini telah mengakibatkan banyak perubahan dalam berbagai aturan hidup manusia, termasuk di dunia pendidikan. Perubahan yang bersifat hampir menyeluruh maka ada istilah New Normal untuk menggambarkan situasi baru dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

    Bagi penulis sebagai guru menanggapi bencana kemanusiaan ini dengan berusaha berlapang dada. Berusaha berpikir positip, bahwa semua kejadian ini sudah ada yang mengaturnya, Kita harus segera bangkit untuk berbuat sebisa mungkin berbagai kebaikan dalam bidang pendidikan.

    Hasilnya adalah begitu terasa indah semata. Pertama pembelajaran harus dilakukan secara jarak jauh dikenal istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), ini mengharukan banyak penyesuaian baik dari pihak guru, siswa maupun orangtuanya. Semua pihak berangkat dari situasi baru, dan memulainya bersama untuk menyelenggarakan pembelajaran sebaik-baiknya. Sarana internet menjadi sangat dibutuhkan, perangkat gawai dan latop menjadi penting. Dan adanya asupan pulsa internet untuuk menjalankan pembelajaran daring, seperti yang diluncurkan Kemendikbud September 2020 lalu setidaknya membantu meringankan beban siswa dan orangtua.

    Kalau kita berpikir secara jernih, secara global. Bahwa pandemic covid 19 ini telah mengantar sebuah peradaban baru, yakni mempercepat adanya “merdeka belajar” secara sebenar-benarnya. Bukan semata karena program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang mendorong program “ merdeka belajar” diluncurkan akhir desember 2019 atau awal Januari lalu. Tetapi kasus pandemi ini telah benar-benar memberi pelajaran kepada kita semua, tentang pemberian pembelajaran lebih efektif dan efisien lagi. 

    Guru lebih bebas memberi penilaian berupa assessment, yang berstandar nasional. Sekolah bebas menentukan standar yang dipilihnya. Sehingga guru benar-benar enjoy dalam menilai siswanya. Sebaliknya siswa juga dengan senang hati melakukan assessment sesuai dengan materi yang diberikan guru. Dalam kasus saat ini hal ini seharusnya sudah diterapkan oleh semua guru, dengan menekankan penilaian yang senyaman mungkin, bahkan siswa merasa lebih bergairah dengan penilaian, yaitu bersifat santai bisa mengulang, bisa menentukan sendiri, bisa memperdalam materi dalam satu paket, seperti pembelajaran virtual yang dilakukan terhadap guru saat ini dalam Program Kemendikbud “Guru Belajar”.

Sayangnya kadang hal ini sangat sulit dilakukan, mengingat pandangan masa lalu terhadap penilaian selalu mengacu pada tugas yang menumpuk dan soal-soal yang sulit. Buktinya masih banyak beredar LKS-LKS dari berbagai penerbitan untuk memberi latihan bagi siswa. 

Kalau salah memberlakukan assessment, maka penilaian selama ini akan selalu menjadi beban semua pihak baik  guru maupun siswa. Kerapkali ini membuat stress siswa. Mirisnya bila ada kasus siswa “bunuh diri” karena stress tidak bisa mengendalikan diri lagi karena PJJ.

    Beberapa pelatihan virtual telah dilakukan oleh banyak pihak melalui zoom maupun perpaduan video pembelajaran dan kuis. Hal ini terjadi karena situasi Pandemi Covid 19 yang memaksa keadaan untuk menjaga jarak, Pembelajaran Daring menjadi pilihan utama dengan menjunjung tinggi aspek kesehatan. Karena pembelajaran daring bersifat baru bagi pihak; harus ada kerjasama yang baik antara guru dan orangtua, dan siswa. Penggunaan aplikasi maupun cara daring yang baru itu harus dipahami bersama agar tidak menimbulkan banyak kesulitan berikutnya di lapangan.

    Situasi saat ini benar-benar saat belajar berbagai ketrampilan belajar daring dan variasinya, dengan berbagai aplikasi yang mendukung, Materi pun harus ditekankan kepada materi essensial, seperti tuntutan “merdeka belajar”. Materinya harus fokus pada capaian seperti dalam assessment yakni numeralisai (berhitung), literasi dan pendidikan karakter.

    Sehingga seharusnya situasi saat ini benar-benar arah pendidikan dengan perangkat daring (dalam jaringan) internet, mampu membentuk karakter banyak pihak untuk terlibat gotong royong ke arah yang sama : dunia literasi. Dunia literasi ini seperti minat baca, lalu minat menulis, dan akhirnya mampu mengungkapkan dan menjelaskan baik secara lessan maupun tulisan, itulah sebenarnya langklah strategis saat ini untuk mencapai tujuan pendidikan sejati: Mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Tetapi sekali lagi, dengan banyaknya keterbatasan, sebagian besar guru saat ini masih banyak berkutat pada pencapaian materi. Sehingga bab demi bab dikebutnya agar selekasnya dipahami siswa. Langkah itu bisa saja betul jika siswa sadar. Jika literasinya belum ada bagaimana siswa mau sadar belajar. Sebaliknya jika jiwa literasi saudah tertana di siswa dan semua pihak termasuk orangtua, maka kesadaran membaca buku, akan mempercepat pemahaman atas materi guru sebeerapa banyak pun. Karena siswa akan membacanya  seberapa banyak pun materi pembelajaran.  Karena siswa akan membacanya dengan senang hati.  Pendidikan Literasi telah lama dicanangkan Pemerintah ; namun gerakannya masih tertatih-tatih jalan di tempat. Program ini seolah hanya menjadi program sampingan, bukan sebuiah prioritas.

    Hal baru dalam kebijakan “Merdeka Belajar” adalah pembuatan RPP 1 lembar. Jika hal ini disikapi secara professional,, pastilah akan membawa langkah positip yaitu efektif dan efisien. Tetapi lagi-lagi langkah di lapangan sering berbeda dengan maksud di atas. Terjadi pengulangan ketidak efektifan lagi, yang mana RPP 1 lembar dibumbui dengan lampiran yang jumlahnya puluhan lagi. Ini tentu beban administrasi yang berat kembali muncul bagi guru. Konsentrasi pembelajaran menjadi tidak ke arah pengembangaan siswa, tetapi kembali memenuhi tugas administrasi.

    Secara umum ‘Merdeka Belajar” harusnya menjadi slogan penyemangat semua pihak. Yaitu gerakan belajar sepanjang hayat, dengan berbagai metode dan cara, dan tidak terikat dengan waktu dan tempat. Situasi Pendemi ini benar-benar sebagai pijakan untuk langkah itu ke depan, yaitu menyiapkan seluruh perangkat media dan jaringan internet ke seluruh wilayah Indonesia, lalu bersama menggunakannya untuk pembelajaran dimaksud.

    Pemerintah terus membekali guru menghadapi situasi PJJ ini antara lain dengan program “guru Belajar”. Salah satu materi untuk mempersiapakan PJJ secara efektif  dengan langkah 5 M yaitu :

  1. Memanusiakan hubungan, yaitu praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, siswa dan orang tua.

  2. Memahami konsep. Praktik pembelajaran dan memandu siswa bukanlah sekadar menguasai konten. Tetapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang diterapkan di beragam konteks. Kemdikbud menganjurkan cara prioritas dan menantang pada cara ini.

  3. Membangun keberlanjutan. Praktik pembelajaran yang memandu siswa mengalami perjalanan pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan berbagi praktik baik.

  4. Memilih tantangan. Praktik pembelajaran yang memandu siswa menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna.

  5. Memberdayakan konteks. Praktik pembelajaran yang memandu siswa melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas.

Di forum luar, seorang guru juga bisa belajar dari chanel You Tube mengenai cara efektif mempersiapkan PJJ salah satunya adalah dari Prof. Eko Indrajit, yang sedang menyelesaikan program doktoralnya di bidang Tehnlologi pendidikan di UNJ Jakarta. 

    Dalam merancang PJJ yang baik, Prof Eko Indrajit memberikan beberapa tips dalam selembar slide di youtube ekoji yaitu:

1. Menentukan Tujuan Pembelajaran yang ditetapkan
2. Mengidentifikasi indikator kinerja dan metode evaluasi
3. Melakukan Analisis instruksional atau petakan peserta didik
4  Identifikasi Perilaku siswa dan karakteristik peserta didik
5. Mengembangkan tujuan pembelajaran dan strategi pembelajrannya
6. Mampu memilih bahan ajar, baik yang sudah didisain ataupun yang belum atau bikin sendiri
7. Mengkaji efektivitas strategi dan pendekatan (refleksi diri) atau Review

Kesimpulan bahasan ini adalah: kita bisa memetik dari sisi positip adanya Pandemi Covid 19 ini dengan cara merdeka belajar. Guru merdeka menuntut ilmu pembajaran daring secara efektif, demi siswanya dan keilmuannya. Siswa juga belajar mempergunakan alat tehnologi untuk keperluan belajar dan mengembangkan pengetahuannya, untuk bekal hidupnya di masa depan. 

    Semoga bermanfaat. Aamiin.


Blitar, 3 November 2020