Senin, 02 November 2020

Pembelajaran Kombinasi di Tengah Pandemi

 Oleh Zuhri Azis, S.E

Guru SMPN 1 Payung Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Email: zuhri.azis@gmail.com

Siapa sangka, para calon jama’ah haji batal berangkat ke tanah suci pada tahun ini. Siapa sangka, banyak para pejabat harus melakukan rapat secara virtual dengan jajarannya. Siapa sangka, tempat-tempat pariwisata ditutup untuk sementara waktu dikarenakan mengalami kerugian. Siapa sangka, banyak penduduk yang harus tinggal di rumah saja dan menunggu bantuan berupa sembako dari pemerintah atau relawan. Siapa sangka, para pelajar dan mahasiswa harus diliburkan sampai waktu yang ditentukan. Dan banyak lagi yang lainnya itu semua dikarenakan adanya wabah corona virus disease 2019 (Covid-19).

Wabah ini telah melanda hampir di seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2 ini pertama kali di deteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. 

Di Indonesia Bapak Preseden Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai bencana nasional. Pada poin kedua dijelaskan bahwa penanggulangan bencana nasional yang diakibatkan oleh penyebaran Covid-19 dilaksanakan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sesuai melalui sinergi antar-kementrian/lembaga dan pemerintah daerah.

Menjelang pelaksanaan tahun ajaran dan tahun akademik baru 2020/2021 Kemendikbud bersama tiga kementrian lannya, yaitu Kementrian Agama, Kementrian Kesehatan, dan Kementrian Dalam Negeri menyusun panduan terkait pelaksanaan pembelajaran di zona selain merah dan oranye, yakni di zona kuning dan hijau, untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat, sebagaimana dituangkan dalam Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan tahun Akademik 2020/2021 Di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).  

SMP Negeri 1 Payung tempat saya mengajar sejak tahun 1995 dan sempat pindah tugas lalu kembali lagi ke sekolah ini yang beralamat di desa Payung kecamatan Payung kabupaten Bangka Selatan. Kepala sekolah bapak Sidarta, S.Pd dengan dewan guru menyepakati proses pembelajaran selama pamdemi Covid-19 dilakukan dengan tatap muka. Pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan dikarenakan Kabupaten Bangka Selatan sendiri termasuk zona hijau dan mendapat rekomendasi dari Dindikbud kabupaten termasuk sudah disetujui oleh orang tua/wali. 

Sekolah telah menyiapkan sarana prasarana untuk mendukung pelasanaan pembelajaran tatap muka seperti tempat cuci tangan dan sabun di tiap ruangan, thermo gun, hand sanitizer di ruang guru dan ruang administrasi. Penjaga sekolah melakukan penyemprotan disinsfektan dua minggu sekali di tiap ruangan. Satpam melakukan pengecekan suhu tubuh dengan thermo gun terhadap semua orang yang masuk gerbang sekolah. Semua warga sekolah harus mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, cuci tangan pakai sabun dan selalu jaga jarak. Untuk jaga jarak saya lihat susah untuk dilaksanakan karena sering diantara siswa bahkan guru atau pegawai mereka berkumpul berdiri atau duduk berhimpitan.  

Selama pandemi ini rombongan belajar di bagi menjadi dua untuk masing-masing kelas seperti kelas 7A, 7B, dan 7C kelas saya mengajar ada yang sesi satu masuk 07.15 WIB, setelah selesai dilanjutkan sesi dua 10.00 WIB. Alokasi waktu untuk pembelajaran tatap muka dikurangi yang mana biasanya 40 menit satu jam pelajarannya menjadi 15 menit untuk masing-masing sesi. 

Dengan sedikitnya alokasi waktu tatap muka mengakibatkan tidak efektifnya proses pembelajaran di kelas. Saya hanya bisa menjelaskan sedikit materi pelajaran untuk menyesuaikan alokasi waktu yang ada. Kesempatan siswa untuk bertanya tentang materi yang tidak dipahaminya berkurang. Sering pada saat siswa mengerjakan tugas bel sudah berbuyi menandakan jam pelajaran berakhir sedangkan banyak siswa yang belum selesai tugasnya, sehingga tugas tersebut harus diselesaikan di rumah. 

Melihat kondisi tersebut saya harus memutar otak supaya pembelajaran bisa efektif, pembelajaran yang menghargai siswa sebagai makhluk individu dan makluk soaial yang sedang tumbuh kembang. Pembelajaran yang saya terapkan diharapkan dapat menyesuaikan dengan kondisi yang sedang kita alami sekarang. Pembelajaran dengan media yang dapat memanfaatkan bantuan kuota gratis yang diberikan pihak kementrian. Kuota gratis berupa paket belajar untuk siswa SMP yaitu 30 GB dan 5 GB kuota umum yang mulai diberikan pada bulan September dan akan diberikan selama empat bulan.

Untuk pelajaran saya siswa yang memiliki telepon pintar atau HP android, disarankan untuk mengikuti kelas yang ada di google classroom. Masing-masing kelas dibuatkan nama kelasnya “PJJ IPS Kelas 7A”, “PJJ IPS Kelas 7B”, dan “PJJ IPS Kelas 7C”. Siswa disuruh untuk memasang aplikasi tersebut di HP masing-masing. Bagi yang tidak memiliki HP pribadi dapat memasang aplikasi tersebut pada HP milik keluarganya yang punya. 

Pada awal penggunaan aplikasi ini ada beberapa siswa yang punya kendala untuk menggunakannya. Mereka tidak bisa login dikarenakan akun yang mereka miliki tidak singkron dengan akun google. Ada juga yang punya email tapi lupa passwordnya. Saya harus membantu mereka dengan cara menjelaskan cara-caranya baik pada saat di kelas pada saat tatap muka maupun siswa yang bertanya langsung melalui whatsapp. Ada dua anak yang sampai datang ke rumah yaitu Nayya Aminudin dan Anggun Triana Dewi. Mereka berdua punya kendala seperti temannya yang lain, alhamdulillah semuanya bisa diatasi.

Mereka sudah mengetahui fitur-fitur yang ada di google classroom.  Menariknya ada satu anak yaitu Tari Anjasmawati yang sering bertanya soal aplikasi ini dan juga sering memberi gagasan/komentar di classroomnya. Dia adalah siswa yang berasal dari desa Nadung yang seharusnya masuk zona sekolah tetangga, dikarenakan keluarganya tergolong kurang mampu dan memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) dapat masuk melalui jalur afirmasi pada saat penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Dari tugas-tugas yang diberikan melalui aplikasi tersebut, banyak siswa yang menyelesaikan tugasnya. Terlihat satu anak yang setiap tugas yang diberikan mendapat nilai tertinggi. Dia adalah Devina Andaresta yang berasal dari SD Negeri 2 Payung. Nilainya tertinggi diantara 140 pendaftar yang diterima. Anaknya pendiam tetapi pada saat belajar serius memperhatikan guru dan tiap-tiap tugas selalu dikerjakannya dengan baik. 

Untuk menambah ketrampilan siswa terhadap dunia digital dan ingin menyampaikan beberapa materi pelajaran, dilakukanlah beberapa kali  zoom meeting kepada mereka. Pada pertemuan tertentu ada beberapa siswa yang tidak ikut dengan alasannya masing, tetapi sebagian besar mengikutinya sesuai jadwal yang ditentukan. Untuk aplikasi zoom ini seluruh siswa tidak punya kendala menggunakannya. 

Menurut pendapat saya selaku guru yang menggunakan media di atas terlihat adanya motivasi belajar pada siswa terutama penggunaan aplikasi google classroom. Proses pembelajaran dapat diefektifkan. Bantuan kuota gratis dari kementrian dapat dimanfaatkan sesuai yang diinginkan.