Rabu, 04 November 2020

PEMBIMBINGAN GURU ”KESEL” DENGAN ”NGASO” DALAM MENSUKSESKAN PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 UNTUK MEWUJUDKAN GENERASI EMAS 2045

 Oleh Widodo Indriyanto


Menjadi kepala sekolah profesional memerlukan daya adaptasi terhadap perubahan dengan menjadi kepala sekolah pembelajar, sehingga memandang perubahan kurikulum sebagai sesuatu yang seharusnya. Setiap lembaga pendidikan menginginkan produk-produk yang berkualitas, dengan adanya kedisiplinan yang ditetapkan disuatu sekolah sehingga komponen sekolah (Kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa) diharapkan mampu berperan sesuai dengan tugasnya.

Seorang guru harus mempunyai moral yang baik, bersih dan rapi dari segi berpakaian, sehingga dalam gerak tingkah lakunya selalu dapat menjadi suri teladan bagi anak didik sehingga benar-benar dapat digugu dan ditiru.  Berkaitan dengan Rumusan masalah di depan, yaitu adanya guru “Kesel” maka penulis akan memberikan sebuah terapi dengan “Ngaso”  yang akan penulis bahas satu persatu:

  1. Guru “Kesel”

1.  ”Kesel” (bahasa Jawa) artinya capai/lelah/lesi/letih. Jadi guru yang ”kesel” akan berperilaku seolah-olah telah capai sehingga untuk melaksanakan tugas sebagai guru mereka kurang bersemangat.

2. ”Kesel” (bahasa Indonesia) artinya kesal/kecewa/suasana hati tidak enak (mangkel). Jadi guru yang suasana hati tidak mengenakkan untuk melaksanakan tugas mengajar, maka dalam melaksanakan tugaspun tidak bersemangat

  1. “Ngaso”

    1. N: Negosiasi (Pembicaraan/perjanjian)

Negosiasi merupakan suatu proses saat dua pihak mencapai perjanjian yang dapat memenuhi kepuasan semua pihak yang berkepentingan dengan elemen-elemen kerjasama dan kompetisi. Termasuk di dalamnya, tindakan yang dilakukan ketika berkomunikasi, kerjasama atau memengaruhi orang lain dengan tujuan tertentu. Contoh kasus mengenai negosiasi, seperti Christopher Columbus  meyakinkan  Ratu Elizabeth untuk membiayai ekspedisinya saat Inggris dalam perang besar yang memakan banyak biaya atau sengketa Pulau Sipadan-Ligitan  pulau yang berada di perbatasan Indonesia dengan Malaysia antara  Indonesia dengan Malaysia. Faktor yang paling berpengaruh dalam negosiasi adalah filosofi yang menginformasikan bahwa masing-masing pihak yang terlibat. Ini adalah kesepakatan dasar kita bahwa "semua orang menang", filsafat ini menjadi dasar setiap negosiasi. Kunci untuk mengembangkan filsafat supaya "semua orang menang" adalah dengan mempertimbangkan setiap aspek negosiasi dari sudut pandang pada pihak lain dan pihak negosiator. 

2.  G: Guiden  (Bimbingan)

Guiden/Bimbingan: adalah Proses pemberian bantuan (process of helping) kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan (agama dan budaya) sehingga mencapai kehidupan yang bermakna (berbahagia, baik secara personal maupun sosial)” 

3.  A:  Assurance (Percaya Diri) 

Assurance yaitu berhubungan dengan sikap percaya diri, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil, Keller (dalam Kiranawati, 2007). Seseorang yang memiliki sikap percaya diri tinggi cenderung akan berhasil. Sikap merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi dalam bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Harapan untuk berhasil biasanya dipengaruhi oleh pengalaman sukses di masa lalu, sehingga pengalaman sukses tersebut akan memotivasi seseorang untuk mengerjakan tugas berikutnya. Sikap percaya diri perlu ditanamkan kepada  untuk mendorong  agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, percaya diri dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, seseorang akan terdorong untuk melakukan suatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya. 

  1. S:  Satisfaction:  (Kepuasan) 

Satisfaction berhubungan dengan rasa bangga dan puas atas hasil yang telah dicapai. Chairani (2005:13) menyatakan, “keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan memberikan kepuasan tersendiri bagi seseorang, dan akan berupaya untuk mencapai tujuan yang lainnya dengan berhasil pula”. Keberhasilan dan kebanggaan ini akan menjadi penguat. Menurut Keller (dalam Kiranawati, 2007) berdasarkan teori kebanggaan, rasa puas dapat timbul dari dalam diri individu sendiri yang disebut kebanggaan intrinsik, dimana individu merasa puas dan bangga telah berhasil mengerjakan, mencapai atau mendapat sesuatu. Kebanggaan ekstrinsik merupakan rasa puas yang timbul karena pengaruh dari luar idividu. Kepuasan ini sangat dipengaruhi oleh konsekuensi yang diperoleh. Konsekuensi ini dapat berupa penghargaan atau reward atas keberhasilan yang diperoleh. Penghargaan tersebut dapat bersifat verbal maupun nonverbal. Rasa puas dan bangga perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri agar mampu memperoleh hasil belajar yang baik.

  1. O:  Objektif  (Tepat Sasaran)

Menurut KBBI objektif artinya mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Objektivitas: sikap yang tidak dipengaruhi oleh pendapat pribadi atau golongan dalam mengambil keputusan. Jadi pada makalah ini yang dimaksud objektif adalah tepat sasaran kepada siapa bimbingan itu diberikan, tidak mengada ada, dan tidak ditujukan kepada orang yang tidak bermasalah. 

Sikap objektif dapat membawa perubahan yang nyata dalam kehidupan ini. Seseorang yang bersikap objektif akan berusaha menempatkan diri dalam posisi yang netral tak berpihak. Dari situ, seseorang dapat memberikan sumbangsih dan solusi positif bagi pergumulan orang-orang di sekitarnya. (Renungan Harian Kristen Diterbitkan hari Kamis, 13 Oktober 2011 Ditulis oleh Olivia Elena)

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa objektivitas dalam pembimbingan akan mempengaruhi kinerja dari seseorang yang dibimbingnya, karena tidak menyangkut orang lain sehingga tingkat kepercayaan orang dalam hal ini guru yang dibimbing menjadi tinggi yang pada akhirnya membawa kepada perubahan yang lebih baik dalam bekerja.