Selasa, 10 November 2020

Penggunaan Media Sosial Masa Covid-19

Oleh: Tresna  Prajadin, M.Pd

SMPN 1 Cimarga, Lebak, Banten


Penggunaan media sosial, seperti WhatsApp dan Instgram mengalami lonjakan 40% selama masa pandemi virus Corona”, demikian diungkapkan Fahmi Ahmad Burhan (2020). Media Sosial menjadi alat komunikasi yang efektif pada saat karantina, baik saat anjuran social distanching maupun saat PSBB. Hal ini dikarenakan manusia sebagai mahluk sosial, perlu komunikasi baik langsung maupun tidak langsung. Selain itu, ketika masa pandemi, kebutuhan  akan barang, baik primer maupun sekunder dilakukan melalui media online. Hal tersebut, dilakukan agar kebutuhan tetap tercukupi.

Pada masa pandemi, hubungan dengan keluarga, kolega dan teman tidak bisa dilaksanakan secara langsung. Masyarakat menggunakan media sosial, seperti Facebook, Instagram, WhasApp, dan sebagainya. Dengan cara seperti itu, hubungan sosial tetap berjalan. Beragam tulisan diungkapkan untuk komunikasi dengan khalayak ramai, baik itu Grup WhatsApp, FB dan sebagainya. Namun, seperti diungkapkan oleh Raka Lestari (2020) bahwa penggunaan media sosial di tengah pandemi Covid-19 memiliki dampak positif sekaligus negatif. Dampak positifnya, bisa saling berkomunikasi dengan orang lain. Dampak negatifnya adalah jika ada kepanikan akibat adanya informasi negatif atau hoax, bahkan bisa terjadi penipuan atau kejahatan di dunia maya.

Penggunaan media sosial seperti diungkapkan diatas, mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan, yaitu dampak positif dan negatif.  Seperti mata uang, ada dua sisi yang saling berhubungan. Dalam dunia pendidikan, kehadiran media sosial, akan membantu dalam kegiatan pembelajaran misalnya. Dalam bidang niaga atau bisnis, akan memudahkan kegiatan transaksi. Akan tetapi, seperti telah dikemukan di atas, sisi satu lagi memungkinkan terjadi hal sebaliknya, yaitu dampak negatif. Kominfo (http://kominfo.go.id.content/detail/8435/menkominfo-gunakan-media-sosial-secara-cerdas/0/berita_satker) mengungkapkan bahwa perihal dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan media sosial diantaranya yang bisa memicu kriminalitas, menghabiskan waktu produktif untuk aktivitas sehari-hari misalnya update status bagi pelajar dapat mengganggu proses belajar.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita berkenalan dengan pemahaman tentang media sosial. Media sosial mempunyai pengertian berbeda dari para pakar komunikasi. McGraw Hill Dictionary, menyatakan bahwa media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinterkasi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi. Dari pendapat pakar di atas dapat kita tarik benang merah, bahwa media sosiala merupakan  sarana untuk bertukar informasi sehingga bisa terjadi interaksi dengan sesama dan khalayak umum.

Media sosial mempunyai kekhususan tersendiri. Adapun karakteristik media sosial (Ruli Nasrullah, 2015: 15), yaitu:

  1. Jaringan (network). 

Media sosial memiliki karakter jaringan sosial. Media sosial terbangun dari struktur sosial yang terbentuk di dalam jaringan atau internet. Jaringan yang terbentuk antar pengguna (users)merupakan jaringan yang secara teknologi dimediasi oleh perangkat teknologi, seperti komputer, telepon genggam atau tablet.Jaringan yang terbentuk antar pengguna ini pada akhirnya membentuk komunitas, contohnya seperti Facebook, twitter dan lain-lain. 


  1. Informasi (information) 

Di media sosial, informasi menjadi komoditas yang dikonsumsi oleh pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan komoditas yang diproduksi dan didistribusikan antar pengguna itu sendiri. Dari kegiatan konsumsi inilah pengguna dan pengguna lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhirnya

secara sadar atau tidak bermuara pada institusi masyarakat berjejaring. 

  1. Arsip (archive) 

Bagi pengguna media sosial, arsip menjadi sebuah karakter yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapan pun dan melalui perangkat apa pun. Setiap informsi apa pun yang diunggah di Facebook informasi itu tidak hilang begitu saja saat pergantian hari, bulan bahkan sampai tahun. 

  1. Interaktif (interactivity) 

Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan antar pengguna. Jaringan ini tidak sekedar memperluas hubungan pertemanan atau pengikut di internet semata, tetapi juga harus dibangun dengan interaksi antar pengguna tersebut.


Menurut Nasullah (2015) setidaknya ada enam kategori besar untuk melihat pembagian media sosial, yakni:

  1. Media Jejaring Sosial (Social networking) 

Media jejaring sosial merupakan medium yang paling popular. Media ini merupakan sarana yang bias digunakan pengguna unutk melakukan hubungan sosial, termasuk konsekuensi atau efek dari hubungan sosial tersebut di dunia virtual. Karakter utama dari situs jejaring sosial adalah setiap pengguna membentuk jaringan pertemanan, baik terhadap pengguna yang sudah diketahuinya dan kemungkinan saling bertemu di dunia nyata (offline) maupu membentuk jaringan pertemanan baru. Contoh jejaring sosial yang banyak digunakan adalah facebook dan LinkedIn

  1. Jurnal online (blog) 

Blog merupakan media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk mengunggah aktifitas keseharian, saling mengomentari dan berbagi, baik tautan web lain, informasi dan sebagainya. Pada awalnya blog merupakan suatu bentuk situs pribadi yang berisi kumpulan tautan ke situs lain yang dianggap menarik dan diperbarui setiap harinya. Pada perkembangan selanjutnya, blog banyak jurnal (tulisan keseharian pribadi) pemilik media dan terdapat kolom komentar yang bisa diisi oleh pengguna. Secara mekanis, jenis media sosial ini bias dibagi menjadi dua, yaitu kategori personal homepage, yaitu pemilik menggunakan nama domain sendiri seperti .com atau.net dan yang kedua dengan menggunakan failitas penyedia halaman weblog gratis, seperti wordpress atau blogspot. 

  1. Jurnal online sederhana atau microblog (micro-blogging) 

Tidak berbeda dengan jurnal online (blog), microblogging merupakan jenis media sosial yang memfasilitasi pengguna untuk menulis dan memublikasikan aktifitas serta atau pendapatnya. Contoh microblogging yang paling banyak digunakan adalah Twitter

  1. Media berbagi (media sharing) 

Situs berbagi media merupakan jenis media sosial yang memfasilitasi penggunanya untuk berbagi media, mulai dari dokumen (file), video, audio, gambar, dan sebagainya. Contoh media ini adalah: Youtube, Flickr, Photo-bucket, atau snapfish



  1. Penanda sosial (social bookmarking) 

Penanda sosial merupakan media sosial yang bekerja untuk mengorganisasi, menyimpan, mengelola, dan mencari informasi atau berita tertentu secara online. Beberapa situs sosial bookmarking yang popular adalah delicious.com, stumbleUpon.com, Digg.com, Reddit.com, dan untuk di Indonesia ada LintasMe

  1. Media konten bersama atau wiki

Media sosial ini merupakan situs yang kontennya hasil kolaborasi dari para penggunanya. Mirip dengan kamus atau ensiklopedi, wiki menghadirkan kepada pengguna pengertian, sejarah hingga rujukan buku atau tautan tentang satu kata. Dalam prakteknya, penjelasan-penjelasan tersebut dikerjakan oleh pengunjung, artinya ada kolaborasi atau kerja sama dari semua pengunjung untuk mengisi konten dalam situs ini.

Pengunaan media sosial mempunyai berbagai tujuan. Pada masa pandemi Covid-19, tujuan sangat urgen, yaitu membangun komunukasi untuk memenuhi kebutuhan, khusunya kebutuhan dasar. Secara umum, penggunaan media sosial mempunyai 7 tujuan utama. Whiting & Williams, dalam Andi Saputra (2019) mengemukakan bahwa penggunaan media sosial mempunyai beberapa tujuan yaitu: (1) alat komunikasi (telepon/sms/chatting); (2) mencari informasi; (3) interaksi sosial/pertemanan; (4) bisnis online; (5) menyampaikan opini/update status (posting foto/video/informasi); (6) hiburan/relaksasi (mendengarkan musik/menonton video); (7) mengisi waktu luang.

Media sosial dalam pelaksanaannya, mempunyai permasalahan yang melibatkan pelaku dalam ranah hukum. Akar permasalahannya adalah penggunaan media sosial tanpa disertai pemahaman terhadapa etika penggunaannnya. Sudah banyak terjadi, akibat berselayar di dunia maya, melakukan posting, terjerat pada kasus hukum. Untuk itu perlu kecerdasan dalam penggunaannya.

Kasus terjerat  hukum akibat pengunaan media sosial yang tidak tepat, sudah banyak data di media massa. Siti Nurul Intan Sari dan Sylvana Murni D Hutabarat (2020)  mengemukan bahwa seorang ibu rumah tangga terjerat dengan Pasal 45A ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp1 miliar. Banyaknya ibu rumah tangga terjerat UU ITE boleh jadi menggambarkan satu masalah besar: edukasi tentang jelajah internet yang bijak masih sangat rendah. 

Siti Nurul Intan Sari dan Sylvana Murni D Hutabarat (2020)  juga mengemukan bahwa berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik, adanya minimal tiga ancaman yang dapat berpotensi menimpa pengguna media sosial, yaitu: 1. Ancaman pelanggaran kesusilaan (Pasal 27 Ayat 1). 2. Penghinaan dan/atau pencemaran nama baik (Pasal 27 Ayat 3). 3. Penyebaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) (Pasal 28 Ayat 2). Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa adanya ancaman bagi pengguna media sosial, apabila media sosial tidak digunakan secara bijak.

Mengatasi kasus hukum di atas, perlu pemahaman dan penggunaan media sosial yang tepat. Siti Nurul Intan Sari dan Sylvana Murni D Hutabarat (2020)  mengemukan bawa ada beberapa tips dalam penggunaan media sosial yang cerdas dan bijak bagi pengguna media sosial yaitu :

a. Tidak share info pribadi.

b. Jaga inner circle

c. Jaga etika. 

d. No sara, no hoax

e. Cantumkan sumber konten.

 f. Sarana pengembangan diri. 

g. Bangun jaringan.

Penggunaan medsos, masa pandemi ini digunakan secara masif. Masyarakat menggunakannnya sebagai sarana komunikasi. Selain itu, penggunaannya menjadi inti dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dengan adanya pandemi, kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Hal ini memicu peningkatan penggunaan media sosial, khususnya WhatsApp. Masyarakat, khususnya orang tua “dipaksa” untuk memahami penggunaan aplikasi dan paltform teknologi. Kegiatan pembelajaran ini, yang dilakukan secara “daring, luring, dan kombinasi”, dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan agar pembelajaran bisa tetap berjalan.

Masyarakat terutama orang tua di masa pandemi ini, penggunaan media sosial sangat tinggi. Penggunaannya seperti diungkapkan di atas, dilakukan untuk membantu pembelajaran anak, atau untuk kegiatan lainnya, seperti bekerja di rumah atau sekedar hubungan sosial. Pada masa ini, mutlak penggunaan media sosial diperlukan agar kebutuhan terpenuhi. Jika tidak dilakukan, maka kebutuhan khususnya dalam pembelajaran jarak jauh atau kegiatan lainnya tidak bisa terpenuhi. Dengan demikian, media sosial masa ini merupakan “jantung dalam denyut aktivitas kehidupan masyarakat”.

Menutup tulisan ini, bahwa media sosial merupakan hal yang harus dilakukan masa pandemi. Namun di lain pihak, jika tidak hati-hati dalam pengunaannya akan menimbulkan masalah. Hal tersebut bukan hanya kerugian bagi diri sendiri, tetapi menyangkut hak atau privacy orang lain, bahkan  mengarah pada ranah hukum. Oleh karena itu, penggunaan media sosial harus selektif dan sesuai penggunannya. Selain itu, perlu cara pandang baru dalam penggunaannya, karena media sosial mengharuskan “melek teknologi”.


Sumber-Sumber Bacaan:


Andi Saputra. 2019. Survei Penggunaan Media Sosial Di Kalangan Mahasiswa Kota Padang Menggunakan Teori Uses And Gratifications. UPT Perpustakaan Andalas.


Fahmi Ahmad Burhan. 2020. https://katadata.co.id/berita/2020/03/27/penggunaan-whatsapp-dan-instagram-melonjak-40-selama-pandemi-corona Diunduh 02 November 2020.

Kominfo (http://kominfo.go.id.content/detail/8435/menkominfo-gunakan-media-sosial-secara-cerdas/0/berita_satker). Diunduh 02 November 2020.


Nasrullah, Rulli. 2014. Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia). Jakarta : Kencana Prenadamedia Group


Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial; Persfektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.


Raka Lestari. 2020. https://www.msn.com/id-id/gayahidup/hidup-pintar/tips-bermedia-sosial-yang-positif-di-tengah-krisis-covid-19/ar-BB11Rc0V . Diunduh 02 November 2020.


Siti Nurul Intan Sari dan Sylvana Murni D HUTABARAT. 2020. Pendampingan Penggunaan Media Sosial Yang Cerdas Dan Bijak Berdasarkan Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume: 2 No: 1 Tahun 2020. Fakultas Hukum, UPN Veteran Jakarta.