Senin, 02 November 2020

PERAN LITERASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH PADA MASA PANDEMI COVID 19

Oleh: Parulian Irwansyah, S.Pd

SMP Negeri 2 Badau

parulianirwansyah93@gmail.com


Pembelajaran jarak jauh mengantarkan generasi saat ini menjadi lebih cepat dalam memasuki era digitalisasi. Dalam masyarakat yang telah menjadi digital tuntutan akan kompeten secara digital juga berkembang. Berkaitan dengan peran pendidikan tentu saja sekolah tidak dapat mengubah lingkungan rumah. Sehingga praktik pedagogik di kelas menjadi penting untuk memberikan kesempatan bagi semua siswa. Untuk mengurangi kesenjangan antara siswa sebagai pribumi digital yang literat dan yang belum. 

Fenomena digital memunculkan efek domino terhadap perubahan diberbagai bidang kehidupan atau digitalisasi. Konsep baru Industri 4.0 diperkenalkan di Jerman dalam Honnaver Fair di tahun 2011. Ketika negara-negara di Eropa menghadapi banyak permasalah seperti populasi menua dan persaingan dari negara-negara berkembang. Masalah-masalah ini mendorong perkembangan teknologi industri untuk mengurangi tenaga kerja, mempersingkat waktu mengembangkan produk, menggunakan sumber daya yang efisien. 

Pengguna internet baik pribumi digital maupun migran digital menggunakannya secara rutin. Tetapi anak-anak dan remaja memainkan peranan utama dalam kehidupan sehari-hari baik menjadi keluarga, teman sebaya, dan sekolah. Istilah pribumi digital dan migran digital yang semata-mata mengarah pada keterampilan alami digital tanpa didukung pendidikan ialah mitos. Generasi ini hanya mengalami dunia digital tetapi tidak mampu menangani teknologi digital secara efektif dan efisien. Untuk kebutuhan pendidikan menunjukkan para siswa kesulitan menemukan konten yang relevan dan mengevaluasi konten digital. Pembelajaran digital yang diberikan kepada para migran atau yang lahir sebelum era digital dapat mengembangkan literasi digital. Untuk menjadi pribumi digital faktor bawaan seperti usia tidak menjadi penentu akan tetapi keterampilan. 

Dalam masyarakat yang telah menjadi digital tuntutan akan kompeten secara digital juga berkembang. Kehidupan abad 21 mengalami perubahan dibandingan abad 20 terutama pada teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terutama internet memunculkan pola baru kehidupan masyarakat jejaring. Komunikasi yang kompleks menyediakan banyak pertukaran arus informasi secara online. Memerlukan kemampuan untuk menggali dan menyaring informasi berharga secara cepat untuk mengambil keputusan. Ketidakmampuan mengelola kecepatan komunikasi informasi menyebabkan bias. Keadaan diatas menampilkan adanya kebutuhan pada keterampilan literasi digital. Generasi “pribumi digital” dihadapkan pada peranan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari baik mencari dan membuat informasi digital. Adanya tsunami informasi  keterampilan mengelola informasi menjadi persoalan serius.



Istilah berkaitan dengan kompetensi digital menghasilkan “jargon jungle” dengan menuebutnya sebagai literasi digital, e-skills, literasi informasi, dan literasi media. Kompetensi literasi digital dibangun dari dibangun dari pengetahuan, keterampilan dan sikap. Literasi digital digunakan sebagai sinonim untuk kompetensi atau bahkan keterampilan. Terutama berkaitan dengan apa yang disebut keterampilan bertahan hidup bagi pengguna untuk mencari sumber-sumber di internet terverifikasi Literasi digital dalam layanan publik yang memberikan pengatahuan intensif seperti pendidikan, kesehatan dan e-goverment dapat mengurangi kesenjangan digital atau peluang digital menuju pembanguan berkelanjutan. Keterampilan belajar dan berinovasi dapat dicapai dengan proses belajar TIK. Perubahan sistem pendidikan dilakukan untuk membekali siswa dengan kerampilan sebagai kunci menggeser status ekonomi. Termasuk persoalan serius yang sekarang ini banyak dihadapi di media sosial berupa persoalan misinformasi di media sosial. 

Industri 4.0 memunculkan internet di era digital dan masyarakat jejaring yang memiliki akses terhadap informasi. Akan tetapi, kesenjangan literasi digital terjadi baik dalam infrastruktur digital, budaya, ekonomi, terutama pendidikan. Pribumi digital sebagai faktor bawaan atau alami (umur) tidak sertamerta, tetapi keterampilan literasi digital menjadikan predikat tersebut melekat. Peran intervensi pendidikan menjadi penting untuk menjawab persoalan “pribumi digital”. Terlebih fenomena digitalisasi dalam berbagai bidang kehidupan seperti komunitas belanja online yang memungkinkan membuat dan bertukar informasi; akses masyarakat miskin terhadap program sosial digital; peran media sosial dan aplikasi dalam komunikasi menghadapi bencana yang efektif dan efisein; pembelajaran e-learning; misinformasi di media sosial serta kurangnya skeptisme dalam menerima informasi membuat pribumi digital dihadapkan pada kebutuhan literasi digital. Komunikasi yang kompleks memerlukan keterampilan menggali, menyaring informasi berharga secara cepat untuk mengambil keputusan. Keterampilan kuncil abad 21 pada dimensi keterampilan literasi digital adalah mengevaluasi informasi untuk menghindari bias. Untuk itu dalam keterampilan berpikir kritis diperlukan sebagai mekanisme kontrol. Selain itu tauladan, norma dan kebutuhan bagi setiap siswa juga menjadi perhatian terdiri. 

Literasi digital dapat dipelajari dalam pendidikan formal maupun non formal salah satunya melalui pendidikan IPS. Untuk itu peran guru yang representatif dengan keterampilan literasi digital diperlukan untuk mengoptimalkan pembelajaran. Guru tidak berperan membentuk tetapi membantu siswa mengembangkan keterampilan literasi digital melalui strategi pembelajaran dan mengelola gangguan belajar.  Pembelajaran keterampilan literasi digital dapat dikembangkan berfokus melalui standar konten teknologi digital dalam mata pelajaran utama. Terdapat beberapa stategi pembelajaran yang berdampak positif terhadap keterampilan literasi digital yang ditawarkan seperti Reflective Design based Learning (RDBL) berupa membuat peralatan digital untuk mengajarkan literasi digital di sekolah dasar dan menengah; pedagogi designing netotiated learning (desain pembelajaran negosiasi) para guru menguhubungkan persepktif berbeda dari pembelajaran sekolah dengan literasi digital yang diperoleh di luar sekolah; model pembelajaran pemrosesan informasi dan pendekatan digital storytelling melalui praktek dan ekperimen otentik  mengembangkan alur cerita dari sudut berbeda untuk berkomunikasi dengan peneonton menggunakan perangkat digital.