Sabtu, 07 November 2020

Problematika Pendidikan Intrakurikuler Dengan Ekstrakurikuler

Oleh Yanyan Hardiana, M.Pd.

SMPN 1 Kota Tasikmalaya, Jabar    

Pandemi Covid 19 telah menjadi kejadian besar sepanjang sejarah 2020. Ia tidak hanya menimbulkan banyaknya korban sakit dan meninggal akan tetapi juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Semua negara di belahan bumi ini merasakan akibatnya bahkan tak sedikit negara yang kesulitan menghadapinya. Indonesia merupakan salah satu negara yang kesulitan menangani wabah virus ini.

Bagi Indonesia, wabah virus dari Wuhan ini, telah menunjukkan kondisi sebenarnya dari negeri khatulistiwa ini. Kejadian luar biasa ini membongkar ketidakmampuan negara dan pemerintah Indonesia. Selama 75 tahun kemerdekaan, pemerintah tidak meletakkan fondasi yang kuat di semua sektor kehidupan guna menghadapi situasi terburuk, seperti saat pandemi covid 19 ini. Ketidakmampuan pemerintah tersebut nampak dari kebijakan yang berubah-ubah dan tidak konsisten dalam menangani wabah ini. Ketikdakberanian pemerintah menerapakan lock down dan menanggung semua biaya hidup penduduknya selama karantina wilayah tersebut, merupakan bukti ketidakmampuan pemerintah dan negara. 

Akibat dari hal itu, penanganan virus covid 19 di Indonesia berjalan lamban dan penyebaran virus ini menyebar hampir menyeluruh ke penjuru nusantara. Kondisi ini diperparah oleh ketidakseragaman kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Kemudian, disusul oleh kebijakan-kebijakan aneh, seperti  Presiden Joko Widodo membuat pernyataan menghebohkan, di tengah pandemi covid 19 belum memberikan tanda-tanda penurunan pasca libur lebaran 1440 Hijriyah/2020 Masehi, yakni “kita harus berdamai dengan corona”. Ada nada pesimistis dan pasrah dari orang nomor 1 di negeri berpenduduk hampir 300 jutaan ini. 

Terlepas dari polemik atas kebijakan penanganan pandemi covid 19 di atas, hal menarik adalah kondisi yang ditimbulkan sebagai akibat dari wabah tersebut. Sektor ekonomi, sosial, dan kesehatan, menjadi perhatian utama pemerintah. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menangani wabah ini. Pemberian bantuan uang dan sembako diberikan kepada masyarakat terdampak oleh virus berbahaya yang berasal dari negeri tirai bambu itu. Sementara pada sektor pendidikan,  berdampak luas pada guru, siswa, orang tua, dan kebijakan pendidikan. Masalah apa saja yang muncul ke permukaan di sektor pendidikan selama pandemi covid 19 ? Secara umum masalah yang muncul dalam dunia pendidikan di situasi saat ini adalah masalah pendidikan intrakurikuler dan pendididkan ekstrakurikuler. 


Pendidikan Intrakurikuler

Kendala di dalam pendidikan intrakurikuler terjadi ketika muncul perubahan pola pembelajaran, dari pembelajaraan tata muka (PTM) ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pembelajaran jarak jauh tidak semudah membalikkan tangan, tidak sedikit kendala yang muncul dengan pola ini. Diantaranya, (1) kemampuan menggunakan media digital (baca: HP android, laptop, komputer), (2) kemampuan penguasaan perangkat lunak berupa aplikasi pembelajaran sebagai media transfer ilmu pengetahuan, baik menggunakan aplikasi zoom, met, edmodo, classroom, atau yang lainnya, (3) keterbatasan memiliki perangkat keras digital seperti HP android, laptop, atau komputer. 


Berbagai upaya dilakukan agar proses belajar mengajar selama pandemi covid 19 berjalan secara optimal. Mulai dari Target kurikulum pun dikurangi dengan pengurangan capaian Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang ditetapkan. Pelatihan secara on line bagi guru terkait metode pembelajaran daring dan penilaian daring. Pemberian kuota kepada siswa, mahasiswa, guru, dan dosen. 


Upaya tersebut secara ilmiah hasilnya belum terlihat secara nyata. Namun, dari pengamatan penulis dan yang dialami oleh beberapa rekan guru serta dialog dengan orang tua siswa secara virtual, pendidikan intrakurikuler yang terjadi hanya proses transformasi ilmu pengetahuan. Proses pendidikan karakter, yang menekankan pada pengembangan sikap spiritual dan sosial peserta, sulit dipantau dan diberdayakan guru. Pendidikan karakter, di masa pandemi covid 19 ini, sangat bergantung pada kepiawaian orang tua di rumah. 


Pengembangan pendidikan karakter berbasis keluarga tersebut, tidak luput dari kendala. Salah satu kendala yang umum terjadi adalah anak-anak di rumah banyak “terlantar” akibat banyak orang tua bekerja. Tidak adanya pengawasan yang optimal, menjadi penyebab utamanya. Akibat dari hal itu, alih-alih ingin membangun kemandirian siswa malah yang terjadi anak malas, tidak disiplin, dan bebas yang tidak terarah.  


Pendidikan Ekstrakurikuler

Keterbatasan dan kendala dalam pendidikan intrakurikuler, tidak separah, dengan pendidikan ekstrakurikuler (ekskul). Karena, di masa pandemi covid 19 ini, pendidikan ekstrakurikuler secara total sama sekali tidak dilakukan dan dirasakan oleh peserta didik. Alasan utama jelas, menghindari dan mengurangi penyebaran virus covid 19. Pendidikan ekskul, memang tidak bisa dilakukan secara daring, karena lebih mengembangkan aspek psikomotor dan keterampilan peserta didik. 


Pendidikan Ekskul meliputi berbagai kegiatan peserta didik yang lebih mengembangkan leadership (kepemimpinan), bakat, dan minat. Pendidikan ekskul yang bernuasa leadership diantaranya OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), Pramuka (Praja Muda Karana), Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera), PKS (Patroli Kemanan Sekolah), PMR (Palang Merah Remaja), dan Gema (Gerakan Remaja Masjid). Sementara, pendidikan ekskul yang bernuasa pengembangan minat dan bakat, diantaranya KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), jurnalistik, fotografi, bola basket, bola volley, futsal, catur, dan lain-lain.


Pengembangan ekskul, lebih mengandalkan pada praktik daripada teori. Inilah urgensi dari pendidikan ekskul, yang menyebabkan peserta didik lebih suka dengan pendidikan ekskul dibandingkan pendidikan intrakurikuler. Di dalamnya ada pengembangan karakter peserta didik: disiplin, keceriaan, kebersamaan, kreatifitas, solidaritas, kebebasan berekspresi, dan aktualisasi diri. Sosialisasi yang bermuatan enkulturasi (proses pembudayaan nilai norma) dalam pendidikan ekskul sangat kental dan berpengaruh kepada kepribadian peserta didik.


Lantas, pertanyaannya adalah apakah pendidikan ekstrakurikuler dapat dilakukan oleh orangtua? Hal itu tergantung dari kemampuan orangtua itu sendiri. Pada hakikatnya, pendidikan yang dilakukan pada lembaga sosial bernama keluarga, lebih menekankan pada pendidikan dasar (basic education), seperti internalisasi dan enkulturasi nilai dan norma. Namun, pada tataran sosialisasi yang menekankan peserta didik mampu beradaptasi dengan lingkungan di luar rumah, diperlukan kerjasama dengan lembaga sosial lainnya, diantaranya sekolah. 


Pada kondisi seperti itulah, pendidikan ekstrakurikuler sangat berperan dalam pembentukan karakter peserta didik. Karena itu, jika proses pembelajaran daring masih menjadi solusi utama selama pandemi covid 19 ini, maka dalam satu kurun waktu tertentu kita akan menemukan “the lost generation” yang karakternya diragukan. Untuk itu, perlu segera dilakukan langkah-langkah sistematis, tegas, dan terukur, dalam menentukan pembelajaran tatap muka sehingga proses pendidikan antara intrakuikuler dengan ekstrakurikuler, akan kembali bersinergis.