Sabtu, 07 November 2020

REFLEKSI TUGAS MULIA GURU DI MASA PANDEMI & OPTIMALISASI PELAYANAN

 Oleh: Sandi Aging Gustiana

Guru IPS SMPN 2 Cikatomas

Kab. Tasikmalaya


Pandemic Vs. Pendidikan

    Survival of the fittest. Sebuah frase yang dikenalkan Herbert Spencer 1864 di bukunya, Principles Biology. Perkataan ini sederhana namun penuh makna. Manusia selalu bertahan hidup sejak awal hingga sekarang. Melalui kerasnya alam, terpaan bencana, ragam penyakit, dan peperangan yang ditimbulkan oleh ras manusia itu sendiri. Kini dunia sedang dilanda pandemic Covid-19. Umat manusia diuji kembali daya tahannya. Seberapa cepat kita beradaptasi di masa pandemic dalam bidang kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, dan juga pendidikan?

    Nadiem Makarim menegaskan arah kebijakan pendidikan nasional pada masa pandemic mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik. Pihak sekolah diberikan keleluasaan untuk menyesuaikan kurikulum. Penggunaan dana BOS menjadi lebih fleksibel. Guru disediakan beragam webinar, diklat, dan bimtek. Peserta didik diberikan kuota belajar. Orang tua diberikan modul pendamping. Bagaimana realitanya di lapangan? Ini menjadi kajian yang sangat menarik bagi guru dengan polemiknya. Benturan antara das sein dan das sollen kebijakan pendidikan.

    Sektor pendidikan berubah terlalu cepat. Terjadi culture shock bagi guru, peserta didik, dan orang tua. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran daring menjadi senjata utama guru dan peserta didik. Kenyataannya teknologi bukanlah segalanya dalam pembelajaran. Peserta didik yang belajar luring pun tetaplah harus diperhatikan.

    Sekolah kami berada di desa namun pinggir jalan raya. Jaringan internet pun tak tersebar secara merata. Dulu saat sekolah dilarang bawa HP karena berbahaya. Sekarang belajar harus selalu di dunia maya. Uang habis untuk beli kuota. Saat ada bantuan internet dari pemerintah membuat kami berbahagia. Hanya saja bingung kuota besar mau dipakai apa. Guru hanya memberi tugas dan tugas saja lewat WA. Selain jenuh kami juga kecewa, karena belajar tak lagi ceria. Orang tua di rumah pun pagi pergi bekerja. Lalu kami belajar harus dengan siapa. Oh Corona… Kau memang mahkluk berbahaya. Mengubah segala tatanan dunia. Tidak hanya di kota tapi juga ke desa. Bukan hanya saja ke orang tua tapi ke semua. Semoga Tuhan mengabulkan segala doa. Dari manusia-manusia yang kini jatuh tak berdaya. 

    Syair di atas hanyalah sebagian celoteh dari sudut pandang peserta didik. Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba membuat sekolah tidak bisa mempersiapkan apa-apa. Sebagian besar guru kurang mahir dalam penggunaan teknologi. Begitu pun peserta didik yang kurang dipersiapkan dalam pemanfaatan smartphone-nya. Terlebih lagi orang tua yang bingung harus jadi guru di rumah. Bagian-bagian yang tidak terkoordinasi hanya akan menghasilkan halusinasi. Karena semua hanya berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan telah kehilangan ruhnya. Pembelajaran telah hilang rasanya. Namun harapan tak boleh sirna hanya karena kita tidak mau berusaha.


Tugas Mulia Guru

    Guru merupakan profesi yang sangat mulia. Rasullullah Shallalahu ‘alihi wasalam bersabda,Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya, para penghuni langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan hiu, mengucapkan doa kepada pengajar kebaikan terhadap manusia.” (HR. Tirmidzi & Darimi). Pengajar kebaikan bisa dari kalangan ulama, kyai, ajengan, ustadz, dosen, guru, dan siapa saja yang mengajarkan ilmu. Setiap ilmu yang bermanfaat akan menjadi pahala yang terus mengalir baik ketika di alam dunia dan akhirat. Sungguh mulia tugas dan profesi seorang guru. Seyogyanya guru bersyukur dengan memberikan layanan pendidikan dan pembelajaran yang terbaik bagi peserta didik. 

    Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penekanan tujuan pendidikan ada pada penanaman nilai-nilai dan karakter. Keteladanan guru sangat penting bagi peserta didik dan masyarakat. Setiap tutur kata guru, sikap yang ditunjukkan, dan tindakan yang diambil menjadi cerminan kepribadian guru tersebut.

    Maka dari itu, guru menjadi pemegang kunci untuk bersama-sama keluar dari cengkeraman pandemic. Guru yang baik akan selalu mendoakan peserta didik dengan tulus. Senyuman dan sapaan hangat di awal pembelajaran akan membangkitkan motivasi dan semangat belajar peserta didik. Selanjutnya bimbingan yang penuh kasih sayang selama pembelajaran akan memunculkan kreatifitas dan kemandirian. Di akhir pembelajaran pemberian umpan balik positif akan menumbuhkan perhatian dan kepercayaan diri. Peserta didik yang berakhlak mulia akan lahir dari guru yang berhati mulia juga.

   

Strategi Guru Masa Kini   

    Di abad ke-21 dan Era Industri 4.0 peran guru dalam pemanfaatan teknologi sangatlah penting. Guru yang profesional tentunya akan menjadikan setiap kesempatan belajar sebagai peluang untuk pengembangan kompetensi. Disini pentingnya peran guru yang kreatif dan inovatif. Pembelajaran berbasis aktivitas, mengadakan permainan, ice breaking, dan kuis tentunya akan membuat aktivitas belajar menjadi menarik, menantang, dan menyenangkan.  

    Program guru kunjung terbukti mendapat respons positif dari peserta didik dan orang tua. Diperlukan kesadaran dan kerjasama semua guru di sekolah untuk mendatangi setiap kelompok belajar. Ada guru yang bersemangat, ada juga yang enggan berkeringat. Jika guru telah tergerak hatinya maka dengan penuh keikhlasan mereka akan memberikan pelayanan yang terbaik bagi peserta didik dimanapun lokasi belajarnya. 

    Sebenarnya faktor kunci keberhasilan pembelajaran di rumah tentunya adalah orang tua. Sekolah yang tidak berkoordinasi dengan orang tua terkait prinsip dan teknis pembelajaran maka tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. Orang tualah yang setiap hari berada di rumah melihat anaknya belajar. Namun mereka juga terkendala untuk bekerja dan tak dibekali strategi membimbing anak di rumah. Kerjasama yang baik antara guru dan orang tua akan memberikan hasil yang terbaik bagi anak-anak. 

    Pendidik hebat tentunya akan membuang pola pikir yang membuat mereka takut mencoba, tidak mau berusaha, dan tak percaya. Perubahan memang penuh dengan kompleksitas, ketidakjelasan, dan ketidakpastian. Maka dari itu guru harus menetapkan target-target bagi dirinya sendiri dan peserta didik. Semua orang sepakat bahwa beradaptasi adalah cara terbaik menghadapi sebuah perubahan. Oleh karena itu, keberanian dalam menghadapi setiap tantangan akan membedakan nilai di antara guru itu sendiri. Pilihan menjadi insan cendekia yang memegang kendali perubahan atau mereka yang tenggelam dalam ketidakberdayaan.

    Maggie Gallagher pernah berkata "Dari semua pekerjaan berat, salah satu yang paling sulit adalah menjadi guru yang baik." Kutipan ini memberikan tantangan dan harapan bagi kita bahwa menjalani profesi sebagai guru memanglah tidak mudah. Namun jika kita bisa menjadi guru yang baik, guru yang menginspirasi, dan guru yang diteladani oleh peserta didik dengan penuh cinta maka itu akan menjadi anugerah terindah dalam kehidupan. Tetap semangat! Tetap sehat! Salam guru hebat Indonesia!