Sabtu, 07 November 2020

SAAT PANDEMI MELANDA KEGIATAN PEMBELAJARAN TETAP TIDAK TERTUNDA

Oleh N.Evi Susantika, MPd.

(SMP N.1 Mangunreja kab. Tasikmalaya)

Seiring waktu menjelang pertengahan semester genap Tahun Pelajaran 2020/2021 tepatnya pada bulan Febuari 2020, melejitnya berita wabah corona dari Negara Wuhan China, begitu menghebohkan, hingga  mewabah ke Negara Indonesia  Tanah Air yang Ku Cinta, tepatnya pada pertengahan bulan Maret pada tanggal 16 Maret 2020.

SAAT wabah COVID-19 ini muncul seluruh aktivitas manusia dibatasi, termasuk kegiatan pembelajaran—baik di jenjang sekolah dasar sampai jenjang perkuliahan mulai menerapkan kegiatan belajar dari rumah. Hal ini dilakukan guna membatasi penyebaran virus yang masif. Kebijakan belajar dari rumah mulai diterapkan pada tanggal 9 Maret 2020 setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 2 tahun 2020 dan nomor 3 tahun 2020  tentang pembelajaran secara Daring (PJJ) dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Ada banyak hikmah dan pembelajaran ketika wabah semakin merajalela di lingkungan dunia Pendidikan, khususnya di Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, dimana sebagian pendidik mampu merubah diri secara proses instan dengan memanfaatkan kondisi melalui kegiatan kajian-kajian webinar ataupun Pendidikan Pelatihan, yang muatan materinya sangat   berhubugan dan menjadi inspirasi untuk pembelajaran, baik untuk pendidiknya yang akan dapat meningkatkan kualitas dalam membelajarkan terhadap peserta didik, begitu pun untuk peserta didik meskipun kegiatan Belajar Dari Rumah tapi tetap berjalan walau ada saja aral lintang  pengahalangnya.

Dalam hal Pembelajaran jarak jauh saat ini yang sebagian berbasis internet, menggunakan media televisi dan radio, serta berbagai modul yang bisa dipelajari secara mandiri. Model pembelajaran jarak jauh memerlukan kolaborasi yang baik antara guru dan orang tua. Aktivitas dan tugas pembelajaran bisa dilakukan bervariasi disesuaikan dengan minat  dan karakter siswa, serta akses atau fasilitas belajar di rumah.

Meski sampai saat ini masih ditemui sejumlah kendala dalam pembelajaran jarak jauh, ada hal positif yang muncul, yakni tumbuhnya kolaborasi orang tua dengan guru. “Pada masa pandemi Covid-19 ini, orang tua mulai melihat dan memahami bahwa tidak mudah menjadi seorang guru. Dimana guru di masa pandemi ini,  mesti mampu menyiasati dan menjawab tantangan seiring dengan respon peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.

Pelaksanaan pendidikan selama masa pandemi Covid-19 seharusnya menjadi momentum untuk melakukan transformasi pendidikan. Bagi guru, situasi saat ini hendaknya menjadi kesempatan untuk melakukan transformasi pendidikan melalui kebiasaan-kebiasaan baru dalam pendidikan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Transformasi pendidikan harus dielaborasi oleh Kemdikbud dan pemerintah daerah terhadap dua hal, yakni tata kelola pendidikan dan transformasi dalam pembelajaran

Sistem pembelajaran jarak jauh yang berlangsung saat ini, lanjut Kak Seto, hendaknya bisa langsung menyentuh kehidupan anak-anak. Tujuannya untuk memberi anak kesempatan mengembangkan kemampuan beradaptasi, bukan sekadar menghafal materi-materi yang diberikan guru. Anak-anak juga harus dilibatkan untuk berdiskusi. Berbagai ide kreatif dari siswa harus terus digali berdasarkan pengalaman masing-masing, sehingga bisa membuat mereka tetap ceria dan bahagia selama belajar di rumah.

Proses belajar selama masa pandemi ini memang membutuhkan kesiapan mental dari guru, siswa, dan orang tua. Banyak tantangan yang dihadapi selama masa pandemi, tetapi setiap manusia yang dianugerahi daya adaptasi justru dengan kondisi ini digiring untuk melakukan pembelajaran yang baru. Pendidikan tidak semata harus berada di sekolah, tetapi di mana saja

Dalam program Belajar dari Covid-19 pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2020, Jakarta, Sabtu (2/5)  yang ditayangkan di TVRI dan Youtube Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim memberikan Tujuh Tips untuk para pendidik serta orang tua  dalam menjalankan kegiatan pembelajaran jarak jauh.(PJJ). Adapun Tips yang disampaikan antaralain : 

  1. Hindari stres. Situasi saat ini memang baru terjadi dan baru dialami, maka perlu proses adaptasi.  "Ini adalah masa adaptasi. Namun dia berpesan situasi saat ini akan memberikan pelajaran yang baik dalam kehidupan kita semua. Yakni menjadi media untuk memperbaiki diri.  "Tetapi yakini bahwa cara terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah keluar dari zona nyaman tersebut.

  2. Menyarankan para guru membagi kelas menjadi kelompok yang lebih kecil. "Tidak semua peserta didik punya level kompetensi yang sama, yang unggul di satu bidang belum tentu unggul di bidang yang lain.  Cobalah  membagi  kelompok belajar berdasarkan  kompetensi yang sama," katanya.    Sehingga akan   memudahkan Guru Kunjung dalam melakukan kegiatan monitoring.

  3. Menyarankan agar para guru dapat mencoba project based learning. Belajar dari rumah bukan berarti harus belajar sendiri. Ajak peserta didik untuk belajar berkolaborasi dengan teman-temannya di dalam suatu grup. "Ini melatih empati mereka dan juga kemampuan mereka untuk mendorong satu sama lain.   Dan secara otomatis, azas gotong royong mereka terbentuk, "ujarnya.
    "Tidak akan langsung lancar, tetapi harus mulai dicoba. Jangan meremehkan kemampuan anak untuk mengatur dirinya jika mereka saling tergantung dengan peserta didik lainnya," pesannya.

  4. Mengalokasikan lebih banyak waktu bagi yang tertinggal. Momen belajar dari rumah merupakan kesempatan untuk memberikan fokus yang lebih banyak kepada peserta didik-peserta didik yang tertinggal dalam pembelajaran saat di kelas. "Sehingga mereka bisa lebih percaya diri ketika mereka bergabung lagi di kelas saat Covid-19 ini berakhir sehingga bisa mengejar dalam waktu ini,” tutur Mendikbud.
    “Momen belajar dari rumah ini mungkin menjadi waktu yang tepat bagi orang tua untuk lebih memahami dan membantu tantangan belajar anak-anak mereka,” imbuh Nadiem.

  5. Fokus kepada yang terpenting. Karena pembelajaran di masa darurat ini tidak ada keharusan untuk mengejar ketuntasan kurikulum, maka inilah saat yang tepat untuk bereksperimen dengan alokasi waktu. "Daripada kejar tayang semua topik, mungkin ini kesempatan emas untuk menguatkan konsep-konsep fundamental yang mendasari kemampuan peserta didik-peserta didik untuk bisa sukses di mata pelajaran apapun. Contohnya seperti di literasi, numerasi, dan pendidikan karakter," jelasnya.

  6. Meningkatkan semangat guru, sama halnya dengan peserta didik, kemampuan guru juga berbeda-beda. Ada guru yang lebih cepat beradapfasi dengan teknologi, tetapi ada juga guru yang lebih lambat. 

  7. Mendikbud mengatakan kondisi krisis ini memang tidak mudah. Namun, ia mengingatkan agar guru tetap menjalankan perannya sebagai pendidik dengan hati yang senang. Mengajar memang tidak mudah, tapi tidak harus membosankan. "Walaupun kita dalam krisis, ini saatnya kita mencoba hal-hal yang dari dulu mungkin kita masih ragu, tapi di dalam hati kita merasa bahwa ini yang terbaik untuk para peserta didik kita.

 Meskipun Pandemi melanda tapi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak tertunda, dimana mesti tetep belajar di rumah dengan menggunakan teknologi informasi. Padahal tidak semua guru dan siswa memiliki kemampuan yang memadai untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Bukan hanya persoalan kemampuan finansial dan kepemilikan alat IT, namun juga masalah kemampuan dalam mengoperasikan aplikasi-aplikasi untuk proses pembelajaran virtual. Pembelajaran jarak jauh telah memaksa dunia pendidikan beradaptasi dengan teknologi informasi serta berbagai platform digital untuk mendukung proses pembelajaran. terutama masalah sarana dan prasarana serta kualitas SDM.