Minggu, 01 November 2020

SENYUMAN COVID 19

Oleh Nani Daryani – SMPN 2 TAMBAKSARI, Ciamis

    Dalam hidup ada saja kejadian yang tak disangka-sangka. Seperti yang saat ini sedang terjadi, Pandemi Covid 19. Entahlah, semua terjadi begitu saja. Mendengar kata itu saja, semua orang merasakan takut tertular virus tersebut. Sejak Maret 2020, banyak yang berubah dalam tatanan kehidupan manusia, mulai dari kebiasaan bersilaturahmi, pengajian, belanja, sampai pada pembelajaran di sekolah. Intinya, banyak yang berubah sejak terjadi Pandemi Covid 19. Mengkhawatirkan sekali, namun kita harus tetap semangat untuk menghadapi situasi sulit di era Pandemi covid 19.

    Yang paling saya rasakan di era Pandemi ini adalah di bidang pendidikan. Bagi seorang guru menghadapi situasi ini memang dirasa banyak tantangannya. Kita dituntut untuk kreatif menyajikan pembelajaran yang menarik bagi peserta didiknya. Tidak sedikit, siswa yang malas untuk mengikuti pembelajaran secara online yang disebabkan hanya karena tampilan pembelajaran tidak menarik. Ada juga siswa yang berkendala di jaringan yang tidak bisa diakses disebabkan karena letak geografis daerah pegunungan. Maka dari itu, yang dapat menyelesaikan pembelajaran secara online paling hanya 50 persen saja. Selebihnya kita menggunakan sistem pembelajaran Guru Keliling (Guling). Namun setelah ada edaran dari Dinas Pendidikan setempat yang tidak memperbolehkan adanya Guling (Guru Keliling), maka kami sebagai pengajar hanya mengandalkan pembelajaran melalui WA Grup dan Google Classroom. Bagi siswa yang dekat dengan teman yang tidak memiliki android mereka wajib menginformasikan materi dan tugas yang kami share melalui fasilitas tersebut.

    Seorang guru di era pandemi covid 19, dituntut mampu menguasai teknologi. Tanpa disadari,  kita dituntun untuk menguasai teknoligi teutama dalam hal mengoperasikan laptop dan HP karena pada kenyataannya di lapangan masih banyak guru yang gagap teknologi.

    Bagi guru dan siswa yang berada di daerah pedesaan, pembelajaran secara online masih berkendala di jaringan. Berbeda dengan mereka yang berada di perkotaan. Fasilitas wifi disini hanya mengandalkan pemancar tanpa telepon. Sehingga apabila cuaca buruk, maka signal akan hilang atau bahkan dimatikan untuk menghindari hal-hal yang membahayakan. 

    Selain permasalahan tadi, orangtua siswa pun merasa berat dengan pembelajaran di masa Pandemi. Mereka mengeluhkan sulit mengarahkan anaknya sendiri. Kemampuan mereka pun dalam membimbing anaknya belajar sangat rendah. Latar belakang pendidikan orangtua hanya sampai tamatan SD atau bahkan ada yang tidak bersekolah. Ketika anaknya meminta bantuan orangtua untuk menyelesaikan tugas, mereka tidak bisa membantu sehingga si anak merasa enggan untuk menyelesaikan tugas. Akhirnya, mereka mengerjakan hanya sekedar mengerjkan, bukan karena mereka memahami materi yang diberikan.

    Kemudian muncul pernyataan pemerintah dengan istilah AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) / New Normal, pasti semua orang suka cita dengan hal itu. Semua orang mengira sekolah akan dibuka kembali di awal tahun pelajaran sekitar Bulan September. Ternyata sekolah belum bisa dibuka. Banyak siswa yang mengirimkan pesan melalui whatsapp, mereka rindu dengan bangku sekolah mereka, rindu teman sebangku, rindu, kakak kelasnya, rindu kegiatan LDKS yang biasa diselenggarakan di Bulan Novemberan, rindu kantin sekolah, rindu perpustakaan, rindu berolahraga di lapangan sekolah, rindu sholat duha bersama-sama, rindu sholat dzuhur berjamaah, rindu pramuka di setiap jumat sore, rindu paskibra,marching band, dan lainnya. Mereka terus saja mengirimkan pesan kepada wali kelasnya masing-masing. Katanya, kapan Pandemi ini berakhr? Saya hanya ingin belajar di sekolah! Begitulah sederet curhatan anak-anakku yang rindu akan berbagai aktifitas di sekolahnya.

    Sekolah bagi mereka adalah tempat sejuta kenangan indah. Arena bermain yang syarat makna, tempat belajar yang memotivasi segala cita-cita luhur untuk mewujudkan mimpinya. Dan intinya, mereka senang berada di sekolah. Pembelajaran daring bagi mereka dirasa tidak asyik. Begitulah kenyataannya. Harapan mereka hanyalah ingin segera bersekolah seperti dulu sebelum masa Pandemi.

    Di sisi lain, Pandemi memberi hikmah yang luar biasa. Ketika semua orang berada di rumah, banyak kreator-kreator hebat bermunculan. Mereka mengembangkan bakatnya masing-masing yang sempat tertunda. Contohnya bagi mereka yang hobi masak. Mereka membuat inovasi masakan yang layak dijual. Mereka memasarkan dengan cara online. Tetapi sayang saya sebagai guru tidak sempat mengembangkan minat saya untuk membuat resep masakan karena guru walaupun di masa Pandemi tetap saja bertugas untuk memberikan pembelajaran secara daring. Sebenarnya saya ingin juga membuka bisnis kuliner. Apalah daya, ada tugas utama yang perlu didahulukan.

    Berbicara Covid 19, semua orang merasakan dampaknya, baik positif maupun negatif. Yang jelas, apapun dampaknya, kita tetap harus tetap semangat menghadapi masa sulit ini. Ambil hikmahnya saja. Jika kita hanya memikirkan dampak negatifnya saja, kita akan merasa semakin terpuruk. Lawanlah, karena dengan begitu kita akan melihat sisi kebaikannya. Contohnya saja, seorang guru gaptek, sekarang banyak yang mau belajar mengoperasikan laptop. Bermunculan kreator-kreator hebat di masa pandemi, yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang seperti pengusaha masker atau APD. Bersemangatlah dan hadapi pandemi dengan senyuman.