Rabu, 11 November 2020

Sepenggal Cerita di Kota Pahlawan Untuk Pewaris Negeri

 Oleh : Dewi Ratna KS

Kepala SMPN 15 Kota Cimahi

 

Surabaya adalah sebuah kota yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa. Sebutan Kota pahlawan  menggambarkan  sebuah  jejak sejarah di mana peristiwa heroik pernah berkobar. Perjuangan arek  Suroboyo di bawah pimpinan Bung Tomo telah membuktikan betapa  rasa cinta terhadap negeri ini yang begitu besar, sehingga dengan semboyan “Hidup atau Mati“, harta, benda dan nyawa sekalipun rela dikorbankan demi satu kata yang mereka pertahankan yaitu “Merdeka”.

Salah satu saksi  dari perjuangan arek arek Suroboyo yang masih berdiri tegak sampai saat ini adalah Hotel Majapahit yang terletak di Jalan Tunjungan Surabaya, hotel yang dibangun tahun 1910 oleh Sarkies Bersaudara dari Armenia semula bernama Hotel Oranje, yang merupakan tempat menginapnya para elite Belanda pada kala itu dan tamu  asing yang berkunjung ke kota ini.  Pada tahun 1942 setelah Jepang menaklukan Belanda yang berkuasa di Indonesia maka penguasaan hotel inipun berpindah tangan pada pemerintah Jepang yang kemudian  Hotel Oranje berganti nama menjadi Hotel Yamato atau Yamato Hoteru.

Cerita ini dimulai pada tanggal 19 september 1945, satu bulan setelah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Saat itu Sekutu datang ke Indonesia dengan dalih untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan para tawanan.  Pada kenyataannya mereka datang dengan membonceng  tentara NICA yang masih ingin menguasai negara Indonesia. Hotel Yamato saat itu berhasil diduduki dan dijadikan sebagai markas mereka.  Atas perintah dari Mr.Ploegman pemimpin Indo Europesche Vereniging yang diangkat oleh NICA untuk menjadi gubernur Surabaya, tentara Sekutu mengibarkan  bendera merah putih biru ( bendera Belanda) pada bagian paling atas dari Hotel Yamato, sebagai tanda berkuasanya kembali Belanda di Indonesia. 

Pengibaran bendera Belanda ini memicu kemarahan arek Suroboyo. Walaupun dianggap sebagai penghinaan terhadap negara yang baru saja merdeka ini. Residen Surabaya Soetomo berupaya melakukan perundingan dengan pihak Sekutu. Dalam perundingan ini Mr. Ploegman tidak bersedia mengakui kedaulatan RI sampai akhirnya  Plogeman terbunuh karena diserang oleh salah seorang arek Suraboyo yang ikut mendampingi Residen Sutomo. Di dalam hotel terjadi baku tembak yang juga menewaskan penyerang Ploegman . Di sisi lain arek suroboyo menyadari bahwa perundingan tidak berjalan lancar sehingga beberapa pemuda berusaha memanjat puncak hotel dan salah seorang arek bernama Kusno berhasil mencapai bagian hotel tempat berkibarnya bendera Belanda. Dengan kekuatan giginya dia berhasil merobek warna biru dan tinggalah warna merah dan putih kemudian  kembali dikibarkannya sang merah putih, walaupun pada akhirnya Kusno terkena tembakan salah satu tantara sekutu yang membuat dia gugur. 

Setelah peristiwa ini pertempuran demi pertempuran terus terjadi di beberapa wilayah di Surabaya, sampai pada saatnya Jendral Mansergh memberikan ultimatum kepada Rakyat Surabaya untuk menyerah kepada Sekutu. Hal ini membuat kemarahan warga Surabaya semakin memuncak. Seorang pemuda bernama Soetomo atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Tomo  dengan gencar membakar semangat perjuangan Arek-arek Suroboyo dengan semboyan "Merdeka atau Mati” membuat seluruh lapisan rakyat di Surabaya terlibat secara langsung maupun tidak lansung dalam pertempuran ini.  

Puncak perjuangan terjadi pada 10 Nopember pertempuran hebat terjadi setelah terbunuhnya Jendral terbaik Inggris WS Mallaby, pertempuran yang melibatkan ribuan tentara sekutu menggempur kota Surabaya. Dengan semangat perjuangan dan keikhlasan yang tinggi, Arek Suroboyo bertahan demi satu kata merdeka.


 Dari pertempuran hebat ini tak terhitung banyaknya tentara dan rakyat Surabaya yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan. Untuk mengenang perjuangan Rakyat Surabaya maka setiap  tanggal 10 Nopember diperingati sebagai hari Pahlawan.

Cerita yang terjadi di Surabaya ini adalah cerita nyata yang seharusnya tidak dilupakan oleh generasi yang hidup pada masa kini, namun sayangnya peristiwa besar ini seolah teralihkan oleh kehebatan Super hero fiktif  dengan fantasi kehebatannya sehingga generasi muda sekarang lebih bangga akan keberadaan dan sepak terjang super hero tersebut.

Sebagai orang tua dan juga pendidik kita memiliki kewajiban membagi cerita heroik ini kepada anak anak sejak dini, agar para pewaris bangsa kita memahami bahwa kehebatan super hero yang sebenarnya ada di negeri sendiri. Merekalah yang telah membuat negara kita berdiri sampai saat ini. Kita bisa banggakan pada generasi muda bagaimana hebatnya Bung Tomo, tak kalah dengan Captain America, beliau mampu memimpin pertempuran dengan senjata seadanya selama berbulan bulan. Kekuatan sakti Thor, ternyata lebih kuat keberanian Kusno yang tanpa senjata mampu merobek Bendera Belanda hingga merah putih tetap berkibar, selain itu masih di garis depan bagaimana beraninya para wanita yang tergabung dalam Pasukan Palang Merah, mereka dengan berani berjibaku menolong para korban perang di tengah desiran peluru dan dentuman mortir, inilah Wonder Women yang sesungguhnya. 

Di samping itu, dari cerita di Kota Pahlawan ini bukan hanya peristiwa perang saja, tetapi banyak keteladanan dan hikmah yang dapat diambil oleh kita. Dari sana diajarkan tentang kewajiban, keikhlasan, pengorbanan, serta semangat yang ada pada jiwa para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan kita. Hingga semua itu dapat menggugah rasa dan jiwa generasi muda untuk memahami bahwa mereka dibutuhkan demi terjaganya bangsa dan negara kita. Pun demikian untuk kita sebagai orang tua juga pendidik sejauh mana semua itu dapat kita lakukan. Si jaman yang sudah berpuluh puluh tahun merdeka, apa sumbangsih kita dalam memberikan pemahaman perjuangan pada generasi pewaris peradaban bangsa? Mari kita tanya hati kita!