Jumat, 13 November 2020

Serasa Menjadi "Delegasi KAA" di Savoy Homan

Oleh Enang Cuhendi

Selama hampir dua puluh empat tahun menjadi guru, penulis barangkali termasuk yang cukup beruntung. Sejak 2005 punya kesempatan menginap di berbagai hotel dari kelas bawah sampai bintang lima. Semua tentunya dijalani secara gratis alias tidak pernah mengeluarkan uang, bahkan menghasilkan uang.  Untuk ukuran gaji guru sering menginap di hotel apalagi bintang lima bukan hal yang ramah saku, walau petugas hotel rata-rata ramah. 

Penugasan sebagai fasilitator atau instruktur tingkat Provinsi dan nasional yang membawa penulis menjadi "lelaki panggilan yang sering keluar masuk hotel". Aneka kegiatan yang diadakan baik oleh Disdik Provinsi Jawa Barat maupun Kemendikbud RI menjadi jalan menginap di hotel secara gratis. Bahkan pada 2013 yang lalu perjalanan ke luar negeri pun pernah juga dijalani pada 2013. Tentunya tetap dengan judul "masuk  gratis, pulang dibayar. Alhamdulillah nasib "lelaki panggilan".

Walau demikian rasanya pengalaman menginap pada kegiatan Kamis sampai Jumat, 12-13 November 2020 ini menjadi sangat spesial. Kegiatan bersama BKKBN Jawa Barat mengantarkan penulis bisa menginap di salah satu hotel paling bersejarah di Kota Kembang, Bandung. Memang bintangnya hanya empat, tetapi Savoy Homman merupakan hotel pertama di kota tempat kelahiran penulis ini. Berlokasi di Jalan Asia Afrika salah satu jalan yang juga bersejarah karena bagian dari Post weg atau jalan raya Pos yang dibangun Herman William Deandles dari Anyer sampai Panarukan, juga tidak jauh dari Gedung Merdeka yang menjadi pusat kegiatan Konferensi Asia Afrika dan Alun-alun Bandung.

Nama Savoy Homman berasal dari dua kata, yaitu Savoy dan Homman. Savoy berarti megah,  dan Homann diambil dari nama keluarga. Jadi Savoy Homman itu artinya hotel megah milik keluarga Homann. 

Homman, Pemilik pertama Savoy Homman
Foto diambil tahun 1919. (http://hdl.handle.net/1887.1/item:839320)

Dalam Boekoe Penoendjoek djalan boeat plesiran di kota Bandoeng dan daerahnja karya Kwee Khay Khee (penerbit N. V. Handel Mij. & Drukkerij, Malang) yang diperkirakan terbit setelah tahun 1907.   hotel yang dikenal dengan arsitektur gaya art-deco dan nuansa warna biru putihnya tersebut pertama kali dibangun sebagai rumah tinggal keluaraga Homman, pendatang keturunan Jerman, pada 1871. Bangunannya tentu saja belum semegah sekarang. Kemudian dari rumah tinggal sejak 1880 menjadi hotel kecil dengan nama Hotel Homman yang namanya semula adalah Hotel Post Road, yang katanya milik sebuah yayasan. Letaknya memang di tepi Jalan Raya Pos buatan Daendels.

Perkembangan Savoy Homman Hotel menggeliat bersamaan dengan menggeliatnya perekonomian Kota Bandung (Gemmente Bandoeng). Sejak dibangunnya jalur kereta api dari Batavia ke Bandung melalui Bogor dan Cianjur pada 1884 perekonomian Kota Bandung tumbuh pesatBandung menjadi salah satu kota yang banyak disinggahi pengusaha, termasuk para pengusaha perkebunan gula (Suiker Planters) dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain jalur kereta Batavia ke Bandung merupakan jalur yang banyak dimanfaatkan para pemilik perkebunan teh (Preanger Planters) untuk mengirim hasil perkebunannya ke Batavia.

Barulah pada 1939, arsitek kenamaan berkebangsaan Belanda, A.F Aalbers mendesain hotel tersebut menjadi bangunan tiga lantai bertema hyper-modern Artdeco Streamline yang masih dipertahankan hingga saat ini. Gaya arsitektur tersebut terinspirasi dari bentuk kapal laut dan ombak. Kemegahan bangunan inilah yang kemudian melahirkan nama Savoy Homman.

Di Hotel ini banyak catatan sejarah tergores. Savoy Homman menjadi tempat menginap orang-orang penting dunia yang datang ke Bandung. Tercatat pada 1927 artis Charlie Chaplin dari USA dan aktris asal Kanada, Mary Pickford yang hendak berlibur ke Garut mereka memilih untuk menginap di Hotel Homann. Selama  masa penjajahan Jepang (1942-1945), hotel ini dijadikan barak mewah oleh prajurit Jepang. Kemudian saat Konferensi Asia Afrika 18–24 April 1955, sejumlah tamu penting menginap di sini, seperti: Bung Karno, Ho Chi Minh (Vietnam) Joseph Broz Tito (Yugoslavia), Pandit jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), dan Cho En Lai (Perdana Menteri Cina).

Salah satu rombongan delegasi KAA 1955 baru keluar dari Homman

"Delegasi KKA KW" keluar dari Homman
bada Shubuh 13 Nov 20202

Saat ini, dari sekian kamar yang ada di tiga lantai Hotel Savoy Homann ada satu kamar yang spesial Kamar tersebut adalah kamar 144, 244, dan 344. Fasilitas dan harga kamar tersebut memang tertinggi di hotel ini. Selain itu ketiga kamar tersebut memiliki nilai sejarah luar biasa karena pernah dipergunakan para petinggi negara untuk menginap pada saat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka pada 14-24  April 1955. Kamar 144 ditempati Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, kamar 244 ditempati Presiden RI, Ir. Soekarno, sementara kamar 344 ditempati Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Zhou Enlai. Sayang penulis hanya kebagian kamar 354 lebih 10 kamar dari kamar Zhou En Lai. Emang siapa juga yang mau membayarkan penulis untuk kamar seharga hampir 5,5 juta rupiah per malam

Hotel Savoy Homman, Jumat pagi 13 Nov. 2020

Hotel Savoy Homman 1971, saat penulis dilahirkan

Satu momen berharga telah dilewati. Berada di hotel bersejarah yang sangat menginspirasi. Rindu yang lama terpatri di hati akhirnya terobati. Semoga suatu hari bisa kembali. Kamar 144, 244 atau 344 bisa dikunjungi. Terimakasih BKKBN Jawa Barat.

Workshop Finalisasi RPP, LKPD dan Instrumen Penilaian SSK
Hotel Savoy Homman, 12-13 Nov. 2020

Di sini hanya ada Ketua PW FKGIPS Jabar, 2 wakil ketua,
 wakil sekeretaris dan wakil bendahara, minus ibu sekretaris dan ibu bendahara.
Cinta Jabar untuk semua