Minggu, 01 November 2020

TANTANGAN DI MASA COVID -19 MENCIPTAKAN SISWA BERKARAKTER CERDAS

 Oleh : Yudi Sawaludin, S.Pd

SMP Negeri 1 Sagalaherang -  Subang



Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020, maka muncul indikasi akan Pembelajaran Jarak Jauh di berbagai tempat. Mulai dari Papua, Maluku Utara, hingga Jakarta. Ini daerah-daerah yang tergolong zona merah dalam penyebaran wabah. 

Dimana hampir semua orangtua di Indonesia pada saat ini,  mempunyai tanggung jawab lebih untuk mendampingi anak belajar dari rumah. banyak orangtua harus mengakui bahwa menjelaskan berbagai mata pelajaran dan menemani anak-anak mengerjakan tugas-tugas sekolah tidak semudah yang dibayangkan. Kerja keras para guru selama ini sungguh patut diapresiasi. Di tengah pembatasan sosial akibat wabah covid-19, kita harus tetap semangat mengejar dan mengajar ilmu pengetahuan. Hampir tidak ada yang menyangka, wajah pendidikan akan berubah drastis akibat pandemi covid19.

Metode Pembelajaran sekolah di rumah (home-schooling) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional. Meski makin populer, penerapan pembelajaran online (online learning) selama ini juga terbatas komunikasi sosial pada siswa siswi . Tapi, kebijakan physical distancing untuk memutus penyebaran wabah, memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan sistem online, dalam skala nasional. Bahkan, ujian nasional tahun ini terpaksa ditiadakan. Dengan  situasi ini yang lebih buruk, yang menjadi orangtua malah bisa berhadapan pada pilihan dilematis: memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak. Ini berpotensi membuat angka putus sekolah meningkat. 

Dimana guru berpikir ekstra bagaimana cara untuk menghadapi siswa tanpa tatap muka biasa disebut dengan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Dengan banyaknya anak yang mengeluh termasuk orangtua. Perwujudan segenap tujuan di atas menghadapi berbagai tantangan yang cukup berarti, seperti orientasi pendidikan yang mengutamakan hasil daripada proses, pembelajaran yang mengutakan kepentingan  nilai-nilai pedagogis, munculnya pemikiran bahwa tindakan mencontek dan plagiarisme adalah hal wajar bagi siswa, serta perhatian yang terlalu besar pada pengembangan kemampuan kognitif siswa dibandingkan dengan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran . Untuk mengantisipasi tantangan tersebut perlu dipersiapkan siswa sebagai generasi pasti akan menghadapi tantangan tersebut melalui mengaktifkan segenap energi mereka melalui pembelajaran. Aktivasi energi belajar siswa menuju arah kegiatan belajar merupakan indikator penting dalam melihat pemenuhan tujuan pembelajaran sehingga muncul berbagai fenomena siswa yang sering terlambat menyerahkan tugas, kalau guru tidak memberi materi atau tugas, siswa lebih suka bermain, tidak suka bertanya ketika mengikuti pembelajaran, ketidakmampuan berpikir kritis, pikiran pragmatis siswa yang berkesimpulan bahwa kegiatan mencontek merupakan hal yang lumrah agar bisa lulus dalam suatu pelajaran . Kondisi energi belajar yang redup tersebut lambat laun akan menciptakan kondisi pencapaian prestasi belajar yang tidak optimal bagi siswa

Memberikan materi yang di sesuaikan dengan kadaan lingkungan sekitar. dan interaktif antara orang tua dengan siswa/anak serta  guru sehingga mengenal keadaan orang tua dalam keseharian dan mengenal perkejaan orang tua. Anak  menjadi tahu apa yang akan lakukan sehingga menjadi berkarakter CERDAS (Creativ, Empathy, Responesible, Discipline, Active, Smart). Dengan berkarakter Cerdas itu mempunya arti.

Crative/Kreatif suatu kemampuan yang ada pada individu atau kelompok yang memungkinkan siswa untuk melakukan terobosan atau pendekatan-pendekatan tertentu dalam memecahkan masalah dengan cara yang berbeda. Bagaimana siswa dapat menciptakan ide pikiran yang baru dalam keadaan pandemik covid-19. Maka guru harus menciptakan belajar dengan ide kreatif menyenangkan contoh memberikan materi yang mudah di pahami oleh siswa atau memberikan materi tentang lingkungan sekitar sesuai dengan materi pelajaran guru tersebut.

Empathy/Emapati  suatu kemampuan untuk merasakan keadaan emosional atau pikiran orang lain yang menciptakan keinginan untuk menyelesaikan masalah dan menolong sesama. Siswa harus mempunyai sipat emapati kesesama teman, orangtua dan semua orang dengan memberikan tugas membantu orang tua di rumah misalnya menyapu cuci piring, cuci pakaian dan sebagainya, dan tidak lupa anak harus tahu apa perkerjaan orang tua, sehingga anak mengetahui begitu sasusahnya mencari uang maka tercipta rasa emapati.

Responesible/Bertanggungjawab, kesadaran diri anak terhadap semua tingkah laku dan perbuatan yang disengaja atau pun tidak di sengaja. Tanggung jawab juga harus berasal dari dalam hati dan kemauan diri sendiri atas kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan, dengan memberikan materi dan tugas yang berkaitan dengan lingkungan keluarga sehingga muncul rasa bertanggungjawab atas apa yang dilakukan anak.


Discipline/ Disiplin suatu sifat atau kemampuan anak dalam mengendalikan diri dan mematuhi aturan atau nilai-nilai yang telah disepakati. Dalam hal ini, sikap disiplin sangat berhubungan dengan norma, prosedur, aturan, dan lain sebagainya yang ada di masyarakat. Dengan teknologi yang mudah sehingga komunikasi antara siswa dan orangtua dengan guru.. dengan menggunakan aplikasi WA , Google Drive, dan Google Class untuk memberikan materi dan penugasan siswa dengan waktu yang singkat maka siswa akan menggunakan waktu dengan baik dan tidak akan menyia-nyiakan waktu.

Active / Aktif  tertera makna aktif itu giat (berkerja, berusaha) dalam hal ini siswa giat belajar dan cepat tanggap dalam pembelajaran jarak jauh, oleh karena itu siswa akan memiliki ilmu atau manfaat untuk masa depannya .

Smart/ Cerdas, anak  memiliki tingkat fokus dan konsentrasi yang tinggi, ketika melakukan sesuatu. Mereka juga biasanya tidak akan mudah terdistraksi dengan hal-hal lain ketika sedang fokus, dan mampu berkonsentrasi secara intens dalam waktu yang cukup lama dari semua karekter Creativ, Empathy, Responesible, Discipline, Active ini sudah di terapkan kepada siswa maka terciptalah karakter cerdas. Dengan sendirinya maka kita sebagai pengajar tercapai untuk mempercerdaskan anak bangsa.

 

Dalam Implementasi karekter cerdas ini dalam substansi pembelajaran secara kental dan konsisten. Melalui pelajaran yang memperhatikan Budi Pekerti yang terintegrasi pada setiap mata pelajaran akan membentuk karakter cerdas yang dimaksudkan. Karakter cerdas masuk dan berada di mana-mana, di segenap dimensi kehidupan. Oleh krenanya, menanamkan karakter cerdas pada setiap pengalaman belajar, berada di dalam semua materi pembelajaran adalah membangun menara pendidikan yang unggul. Dengan demikian, pembentukan karakter cerdas berada di mana-mana, di segenap upaya pendidikan dalam bentuk proses pembelajaran yang solid terintegrasikan