Minggu, 01 November 2020

TANTANGAN PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI COVID-19

Oleh: Fitriani

SMP Negeri 2 Sambas 


WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa darurat dunia atas penyebaran virus corona  yang muncul akhir tahun 2019.  Penyebarannya yang begitu cepat seluruh pihak harus ikut berpartisipasi meningkatkan pengawasannya terhadap kesehatan masyarakat. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan, terutama sekali bidang Pendidikan. Sekolah terpaksa harus membuat kebijakan baru tentang pembelajaran tatap muka menjadi tatap maya.  Tantangan pertama bagi saya dan rekan guru juga harus belajar tentang yang namanya media sosial minimal WA  dan facebook. Secepatnya sekolah kami mengambil tindakan untuk membuat facebook khusus sekolah dan memberi bimbingan kepada teman sejawat yang belum pernah menggunakannya. 

Aplikasi ini dipilih agar siswa dapat mengakses di mana saja dan kapan saja, dan datanya tidak berat di gawai siswa terutama kuotanya. Guru yang mengajar bisa live streaming dari rumah maupun sekolah dengan kreatifitas masing-masing. Jumlah anggotanya juga bisa lebih banyak di bandingkan WAG. Satu grup facebook  untuk satu jenjang kelas, jadi ada grup kelas VII, kelas VIII dan Kelas IX, termasuk orang tua siswa juga bisa bergabung untuk melihat secara langsung kegiatan pembelajaran di sekolah. Aplikasi ini dipilih mengingat tidak semua siswa memiliki gawai dan terjangkau jaringan Internet. Minggu pertama sejak ditetapknnya Kabupaten  Sambas termasuk wilayah zona kuning, sekolah membuat jadwal khusus untuk menyusun kelompok belajar berdasarkan domisili siswa terdekat. Satu kelompok 2 sampai 6 orang. Semoga dengan adanya kelompok belajar dapat memotivasi siswa untuk terus semangat menuntut ilmu.

Proses pembelajaran daring sebenarnya tidak mudah diberlakukan. Dalam proses pelaksanaannya, banyak keterbatasan dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Disekolah kami, tidak semua guru punya kemampuan untuk mengoperasikan dan memanfaatkan gawai canggihnya. Bagi guru yang melek teknologi, tentu hal ini tidak menjadi masalah. Selain itu, kemandirian belajar siswa di rumah tidak dapat sepenuhnya terlaksana dengan baik.  Dalam beberapa bulan perserta terus bertambah. Namun satu bulan terakhir ini, jumlah siswa yang mengikuti secara langsung sudah mulai berkurang. Mungkin karena mulai ada kejenuhan dengan kondisi sekarang. Padahal setiap hari efektif hanya ada dua mata pelajaran  yang disampaikan.  Setiap guru yang live streaming  cukup dengan durasi waktu 20 sampai 30 menit saja. Kenyataannya, kemandirian belajar menjadi tuntutan yang harus dipenuhi dalam pembelajaran daring. 

Dalam memahami materi dan mengerjakan tugas tersebut, tentu proses aktivitas belajar siswa tidak semulus dan semudah yang dibayangkan.  Di sekolah  kami SMP Negeri 2 Sambas Kalimantan Barat, membuat jadwal khusus pengumpulan tugas siswa dalam dua  buku latihan Jika satu buku dikumpulkan satu buku yang lainnya masih ada pada siswa. Setiap hari Jumat sore adalah jadwal pengumpulan tugas kelas IX. Sedangkan hari Sabtu adalah jadwal siswa kelas VII dan Kelas VIII dengan waktu yang berbeda untuk menghindari kerumunan di sekolah. Sekolah juga menyiapkan tempat cuci tangan dengan air mengalir, menyiapkan Infrared Thermometer Gun (pengukur suhu tubuh tembak), masker dan hand sanitizer serta sabun cuci tangan. 

Gawai merupakan alat utama yang digunakan untuk pembelajaran daring. Tetapi, tidak semua siswa mempunyai alat komunikasi ini. Mungkin, bisa saja gawai menjadi barang mewah bagi siswa dari kalangan ekonomi tidak mampu. Oleh karena itu pihak sekolah menyarankan agar anak bisa belajar berkelompok sesuai domisili terdekat. Pembelajaan daring juga terkendala dengan signal internet yang tidak stabil dan pulsa (kuota data) yang mahal.

Banyak kendala yang dihadapi guru, orang tua, dan anak selama pembelajaran  daring antara lain: Guru kesulitan mengelola PJJ  dan cenderung fokus pada  penuntasan kurikulum, waktu pembelajaran berkurang  yaitu dalam satu minggu, hanya  kebagian jadwal 1 kali pertemuan daring untuk setiap matapelajaran. Selain kendala di atas, guru juga kesulitan komunikasi  dengan orang tua, tidak semua orang tua mampu  mendampingi anak belajar di  rumah karena ada tanggung  jawab lainnya seperti urusan rumah tangga dan pekerjaan di luar rumah, beberapa siswa juga kesulitan konsentrasi  belajar dari rumah dan  mengeluhkan beratnya  penugasan soal dari guru.

Selain sebagai tenaga pengajar, saat ini saya juga sedang mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan.  Muncul dilema baru antara pengaturan waktu mengoreksi tugas siswa dengan tugas sebagai mahasiswa PPG Dalam Jabatan. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud berdasarkan surat nomor 1845/B.B2/GT/2020 pada tanggal 15 Juni 2020 telah menyampaikan informasi pelaksanaan PPG Dalam Jabatan Tahun 2020. Sesuai isi lampiran surat tersebut, yang memiliki kesempatan untuk mengikuti PPG Dalam Jabatan tahun 2020 adalah guru yang telah dinyatakan memenuhi syarat sebagai calon mahasiswa PPG Dalam Jabatan melalui seleksi akademik dan administrasi.  Hal ini merupakan tantangan kedua bagi saya untuk melaksanakan pembelajaran Daring. Selain sebagai guru kembali lagi saya dan teman-teman seperjuangan menjadi mahasiswa. PPG dilaksanakan meliputi 5 tahapan kegiatan yaitu : Pendalam materi, Pengembangan perangkat pembelajaran, reviu perangkat pembelajaran dan refleksi, PPL dan reviu PPL, Uji Komprehensif, UKin  dan UP ( UKMPPG) di perguruan tinggi yang ditetapkan. 

Pada saat pendalaman materi, kami harus menyelesaikan satu modul dalam waktu 3 hari lengkap dengan menjawab soal Formatif, Sumatif dan diskusi. Selama satu bulan menghabiskan 10 modul yang terdiri dari 4 modul Pedagogik dan 6 modul Profesional. Alhamdulillah bisa terlewati. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan perangkat  pembelajaran  dan PPL 1 dalam rentang waktu 34 hari. Sekarang 4 hari kedepan kami mereviu PPL 1 dan masih banyak lagi tahapan berikutnya yang harus diselesaikan. Pada pembelajaran daring PPG, Dosen  dan mahasiswa pada waktu yang sama berada dalam aplikasi atau platform internet yang sama dan dapat berinteraksi satu sama lain layaknya pembelajaran konvensional yang dilakukan selama ini. 

Tidak ada yang bisa menyangka kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Namun demikian, pasca pandemi nantinya, new normal pendidikan yang telah dimulai seharusnya diteruskan dan disempurnakan hingga konsep pendidikan yang mengkombinasikan metode sekolah tatap muka di ruang kelas dengan tatap maya atau e-learning pada gilirannya, dunia pendidikan akan benar-benar berada dalam era education 4.0.












PROFIL PENULIS



Fitriani, lahir di Sebadi 37 tahun silam. Tinggal di Desa Dalam Kaum Sambas, Kalimantan Barat. Bekerja sebagai guru mata pelajaran IPS di SMPN 2 Sambas.