Minggu, 15 November 2020

TERIMA KASIH UNTUK IBUKU

 Oleh Jaja Sutardja

    Kamis subuh hari sekitar jam 5.00 telah lahir seorang anak laki-laki yang mungil menerima indahnya kebersamaan sebuah keluarga, bayi kecil itu adalah anak  pertama yang kebanggaan dari seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang Pendidik. Namun seiring waktu berjalan ternyata belum genap diri anak lelaki (kita sebut si Bejo) tersebut berusia 14 bulan terlahirlah bayi mungil yang mengakibatkan kurangnya perhatian kepada  anak laki tersebut, sehingga si bejo mengalami sakit panas yang luar biasa yang mengakibatkan kedua telinganya mengeluarkan air nanah.

    Karena keterbatasan kemampuan keuangan kami dibesarkan dalam keluarga yang sederhana, 2 tahun berikutnya lahirlah bayi perempuan yang menambah ramainya kebersamaan keluarga kami. Bejopun merasa terasingkan karenanya, dan 2 tahun berikutnya lahir pula seorang Bayi Perempuan sehingga lengkaplah kebanggaan seorang ayah mempunyai 2 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan dan menjadi penutup kebahagiaan keluarga terlahir pula seorang bayi 5 hari setelah HUT Proklamasi di Tahun 1978.

Bejo pun menjalani kehidupannya dengan mempunyai kekurangan tidak seperti anak yang lainnya yang seusia, jika bermain dengan teman sebayanya selalu saja menjadi bahan olok-olokan temannya karena kekurangan tesebut. Alhamdulillah dengan sabar Ibunya selalu menyemangati Bejo, selalu menjadi sandaran manakala Bejo sedang dirundung oleh teman-temannya. Bangga sekali rasanya Bejo memiliki seorang Ibu yang bijaksana dan selalu menjadi penyemangat bagi anak-anaknya, Ibu Bejo tdak memilah-memilah apakah dia kakak atau adik dalam membesarkan ke lima anaknya.

Saat memasuki usia sekolah dasar bejo pun ikut bersekolah walaupun usianya pada saat itu adalah baru 6 tahun lebih 2 bulan, namun Bejo sangat girang dan senang hatinya bisa bersekolah. Selesai pulang sekolah Bejo membantu Ibu di dapur menyiapkan hidangan makanan untuk sore hari, selepas makan kemudian Bejo pun membantu ibu untuk mencuci priring dan gelas di dapur berserta adiknya yang ke 2 dan ke 3. Selepas Shalat Maghrib Bejo belajar mengaji di Masjid sampai dengan Shalat  Isya dan pulang ke rumah kemudian dilanjutkan dengan kegiatan belajar di temani oleh Ibu dan Bapak sampai dengan jam 9 malam.


    Masa pendidikan Bejo penuh dengan suka duka dalam mengikuti serangkain Kegiatan Belajarnya selama duduk di bangku Sekolah Dasar, Sukanya adalah Bejo selalu banyak yang mau bermain dan belajar dengannya. Bejo adalah seorang anak yang rajin, mau belajar serta cekatan dalam segala hal. Dukanya adalah seringkali Bejo menjadi obyek perundungan karena kekurangan fisik yang  dimiliki namun hal ini tidak membuat Bejo menjadi Sakit Hati atau Malas untuk Belajar. Bejo selalu teringat pesan Ibu bahwa “Jika ada yang mengejekmu jangan dilawan tetapi tetap sabar menghadapinya”, jika ingat pesan ini ingin rasanya Bejo melawan terahadap teman-temanya yang selalu mengejeknya.

    Tibalah saat Bejo duduk di Kelas 6 SD menjadi saat yang menentukan arah dan langkah ke depannya, dengan kemampuan dan daya ingat yang dimiliki si Bejo akhirnya Bejo menerima Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) dan berhasil lulus dari SD serta melanjutkan ke Sekolah Favorit yang ada di Kabupaten yaitu SMPN 1. Alhamdulillah Bejo diterima di kelas 1 I SMPN 1 Karawang, dengan penuh semangat Bejo pun belajar di sekolah tersebut namun ternyata rupanya kelas tempat belajarnya adalah kelas Favorit sampai dengan kelas 3 menyelesaikan pendidikannya di SMPN 1 karena banyak siswa-siswanya melanjutkan pendidikan ke SMA di luar Kabupaten dengan raihan NEM yang tertinggi untuk tingkat Kabupaten. Selama sekolah Bejo selalu mendapat dukungan penuh dari Ibu untuk tetap semangat terus dalam belajarnya, dan alhamdulillah di tengah persaingan teman-temannya yang di atas rata-rata masuk berarti di Ranking 20 Besar dari 11 Kelas yang ada SMPN 1. Bejo sadar akan kekurangan yang dimiliki tapi tetap semangat untuk terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan SMA.

    Sama seperti remaja lainnya Bejo pun memiliki rasa ingin berbagi kasih sayang dengan lawan jenis namun Ibu Bejo selalu mengingatkan untuk tetap fokus pada belajarnya, ada seseorang yang membuat Bejo selalu teringat akan paras gadis tersebut sambil tersenyum he he he. Terkadang di sela-sela waktunya Bejo diam-diam selalu menulis surat di kolong meja gadis sebagai ungkapan rasa akan suka atau senangnya dengan gadis tersebut. Namun seiring waktu berjalan ternyata hati Bejo serasa bergetar mendapatkan balasan bahwa gadis tersebut ternyata sudah ada yang memilikinya, mengingat hal ini Bejo kembali teringat atas pesan yantg sudah Ibu sampaikan sambil meahan kecewa.

Menjelang Ujian Nasional Ibu selalu menyemangati serta mensupport agar Bejo mendapatkan hasil Ujian dengan nilai yang lebih baik, dan alhamdulillah hasil Ujian cukup memuaskan sehingga Bejo dapat melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 2 yang berjarak 13 Km dari rumahnya. Saat bersekolah jika di siang hari Bejo selalu menyempatkan waktu pagi hari membantu mempersiapkan segala kebutuhan baik kedua orangtuanya maupun adik-adiknya, suatu ketika Bapaknya Bejo sedang membangun rumah. Bejo membantu Tukang untuk sekedar membawakan bata, batu, adukkan pasir dan semen, bahkan Bejo sendiri ikut terjun untuk mencangkul adukkan pasir dan semen tersebut.

Jika kekurangan Besi atau Kayu tak luput Bejo pun ikut membantu membelikannya walau dengan memikul kayu atau besi dari Kios ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 5 Km, bahkan tatkal kedua orang tuanya mengajar Bejo pun mengerjakan pekerjaan di dapur menananak nasi, menggoreng tempe, ikan serta sayuran untuk makan Tukangnya. 

Jika sudah mendekati jam 11.00 WIB Bejo mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke Sekolah  mengikuti KBM s.d selesai pada jam 17.15 WIB, pergi dan pulang sekolah jarang menggunakan Angkutan Umum selalu menggunakan sepeda BMX yang dicintainya.

    Bejo selalu teringat pesan dari Ibu ketika Bejo mempunyai perasaan terhadap seorang gadis yang disukainya, sehingga Bejo pun bisa menyelesaikan studinya di SMAN 2. Bejo mendapatkan Beasiswa dari ISTA (Institut Sekolah Tinggi Al-Kamal), Bejo pun berangkat ke Jakarta namun setiba di sana banyak pertimbangan yang Bejo pikirkan dia tidak ingin memberatkan biaya kedua orangtuanya dan memutuskan untuk tidak mengambil kuliah di ISTA dan memilih kursus komputer yang ada di kota nya.

1990 alhamdulillah Bejo diterima di Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) memilih Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen, alhamdlillah Bejo beruntung bisa kuliah di sini karena bisa membantu Ibu yang mendapat promosi atau karir menjadi Kepala Sekolah di SD Utama dan setiap hari Bejo selalu mengantarkan Ibu berangkat dulu ke Sekolahnya untuk kemudian Bejo berangkat menuju Kampusnya yang tidak jauh dari Sekolah Ibunya.

    Ada sebuah kebanggaan bagi Bejo yang selalu menyertai Ibunya ketika berangkat bersama mengantar Ibunya terlebih dahulu ke sekolah yang dilanjutkan dengan perjalanan Bejo menuju  tempat perkuliahannya, namun Bejo rupanya terbawa pengaruh lingkungan sehingga menjelang akhir perkuliahan terlalu aktif dengan kegiatan Beladiri dan Organisasinya sehingga tahun 1996 Bejo pun menyelesaikan perkuliahannya dan di Wisuda.

Dan di tahun itu pula Bejo berkenalan dengan seorang gadis tetangga lingkungan atau kampung yang berkuliah di UNISBA Bandung, terjadi perselisihan pendapat antara Ibu dan Bapak kandung Bejo, dimana bapaknya menginginkan Bejo untuk bekerja dahulu sementara Ibu membela Bejo. Hal ini membuat Bejo hati menjadi bergejolak dan mengadukan permasalahannya kepada Alloh SWT melalui Sholat Tahajjud dan mengaji entah surat apa yang di bacanya sambil terisak-isak membaca surat dalam Al-Qur’annya. Dan syukur alhamdulillah kedua orangtua Bejo pun merasa kasihan melihat Bejo menjalani kegiatan tersebut dan akhrnya menyetujui Bejo untuk menikah dengan Gadis tetangga kampung tersebut.

Singkat cerita tanggal 14 Oktober 2018 pada jam 04.00 WIB Ibu Bejo mendadak sesak nafas hal ini membuat panik Bapak, adiknya serta Bejo sendiri dengan langkah gugup dan gontai Bejo menelpon adiknya yang bekerja di Rumah Sakit Dewi Sri untuk menyediakan tempat di ruang ICU mengobati sakitnya Ibu Bejo. 4.20 WIB ibu di bawa ke ruang ICU kemudian mendapatkan perawatan dari Dokter Jaga yang ada di ruang ICU, 4.30 dengan menatap langit dan dengan mata yang berkaca-kaca Bejo melihat terakhir kalinya Ibundanya menutup mata untuk selama-lamanya.

Mengetahui bahwa ibunda telah meninggal dunia akhirnya Bejo, Bapak dan adiknya segera membawa jasad kembali ke rumah untuk kemudian segera dikebumikan, dan Bejo pun bersyukur lokasi makam ibunda tercintanya di makamkan tak jauh dari rumah kedua oragtuanya.

Melalui penggalan kisah ini maka Semahal-mahalnya berlian, masih lebih mahal pengorbanan ibu yang sudah melakukan segalanya untuk anaknya. Kamu pasti tahu bahwa bertambahnya usiamu, maka bertambah tua juga usia ibumu.

Dari banyak kesibukan yang kamu punya; sekolah, kuliah, kerja, pacaran, les privat, pergi sama teman-teman sampai jalan-jalan di setiap akhir pekan, jangan pernah lupa bahwa kamu mampu melakukannya sekarang adalah karena apa yang dilakukan ibumu dulu.

 

Jika kamu membaca cerita ini sekarang saat kamu sedang melakukan aktivitasmu, maka hentikan sejenak aktivitasmu untuk berterima kasih pada ibumu. Walau sepele, faktanya masih banyak sekali anak yang tidak berani mengungkapkan rasa terima kasihnya karena merasa malu atau aneh. Padahal, dengan berterima kasih saja, percayalah ibumu akan senang luar biasa!

Kamu mungkin belum pernah mengatakannya tapi ibu memang yang selalu ada saat semuanya pergi. Saat kamu bertengkar dengan teman baikmu, saat pacar kamu memutuskanmu, saat guru di sekolahmu terasa sangat keras, ibu selalu ada memantaumu untuk menjagaimu. Dia selalu ada waktu kamu sedih, dia juga selalu ada saat kamu senang.

mslie on Unsplash

Mandi sendiri, berjalan, memakai sepatu dan baju sendiri, menulis, membaca sampai menghadapi orang lain, semuanya sudah diajarkan untukmu sedari kamu kecil. Ibu tidak pernah bosan mengajarkanmu banyak hal, jadi sudah seharusnya kamu tidak bosan untuk berterima kasih padanya. 

Phoo by Tanaphong Toochinda on Unsplash

Walau lelah karena bekerja, ibu bahkan masih bisa menyiapkan segala keperluanmu. Belum lagi segala macam pesan yang diberikannya agar kamu tetap baik-baik saja. Ibu sama sekali tidak merasa membuang waktunya jika sedang bersamamu, jadi masa kamu lebih memilih menghabiskan banyak waktu dengan smartphone kamu daripada ngobrol dengan ibumu?

Saat kamu takut gagal, saat kamu merasa ragu-ragu, saat kamu merasa kamu tidak bisa, ibu yang ada di sampingmu untuk memberimu semangat.

Ibu yang mendorongmu menemukan kepercayaan dirimu dan ibu juga yang selalu mendorongmu melakukan yang terbaik. Ibu tidak pernah lelah melakukannya, dia bahkan tidak pernah bosan mengingatkanmu bahwa kamu berharga.

Saat kamu berbuat salah, pernahkah ibu menghukummu secara tidak masuk akal sehingga kamu merasa menderita?

Sebaliknya, ibu memberimu pengertian bahwa dengan bersalah kamu bisa belajar. Ibu bahkan sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf. Mengomel karena guru yang galak, marah karena dikhianati teman, kecewa karena mendapat nilai buruk, semuanya didengarkan ibu tanpa pernah menyuruhmu berhenti bicara.

 

Faktanya, semakin dewasa kamu malah semakin jarang bicara dengan ibumu. Padahal ibumu ingin mendengarkan semua hal tentang harimu dan teman-temanmu, seperti saat kamu kecil dulu. Banyaknya pengaruh dari luar yang menyuruhmu untuk ini dan itu, hanya ibu yang mengingatkanmu untuk tetap menjadi dirimu sendiri.

Orang lain yang tidak mengenalmu tidak akan mengambil tanggung jawab apapun jika terjadi sesuatu denganmu, sedangkan ibumu pasti hanya menginginkan segala yang terbaik untukmu.

Photo by Roberto Nickson (@g) on Unsplash

Bukan mimpi saudara ataupun orang lain, melainkan mimpimu sendiri. Berterima kasihlah karena ibu selalu mendorongmu untuk meraih mimpi. Untuk tidak memaksamu memiliki mimpi yang tidak kamu suka, untuk membuatmu tetap yakin akan mimpimu sendiri, berterima kasihlah untuk semua itu. Sesulit apapun hidup yang dijalani ibumu, tanpa kamu tahu dia sangat berusaha agar kamu tetap mendapatkan asupan gizi yang baik. Ibu bangun jauh lebih pagi dari yang lain untuk menyiapkan makanan.

 

Ibu tidak pernah mengeluh walaupun mungkin dia lelah. Pernahkah kamu memuji masakannya? Atau berterima kasih karena masih selalu disiapkan makanan? Jika belum, mulai sekarang berterima kasihlah.

Ibu bahkan dengan sabar menerima keluh kesahmu. Semakin dewasa, ingatlah untuk semakin mengurangi sikap menyebalkanmu, ya.

Kamu bisa berterima kasih untuk banyak hal lain yang belum dituliskan di atas. Kamu bisa berterima kasih tanpa alasan pada ibumu.

Intinya adalah kamu sebagai anak setidaknya mengucapkan ungkapan terima kasih atas banyak hal yang sudah kamu terima dengan cuma-cuma.

Untuk kamu yang sudah tidak bisa bertemu lagi dengan ibu karena usia, kamu masih bisa mengungkapkan terima kasihmu lewat doa. Percayalah, ibumu pasti mendengarnya.

Terima kasih Ibuku yang telah membesarkanku, mendidikku, mendukungku serta mendo’akanku..

Semoga Ibu bahagia di Surga ... Aamiin


Biografi Penulis :

N a m a         : Djadja Sutardja, SE

A l a m a t        : Kp. Pakuncen No. 6 RT 01 RW  07 Desa Sukaharja Kecamatan        

                                           Telukjambe  Timur Kabupaten Karawang 41361

P e k e r j a a n    :  Guru Honorer

I n s t a n s i         : MTs Al-Hikmah Karawang

No. Handphone    : 0856 8960 003