Selasa, 28 Desember 2021

GUNUNG PADANG DAN PERADABAN

 

Sketsa imajiner Gunung Padang karya
Ir. Pon Purajatnika


Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur, Jawa Barat


Situs prasejarah Gunung Padang terletak di Dusun Gunung Padang RT 01/RW 08, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Tulisan ini mencoba memuat hasil penelitian Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang diinisiasi Andi Arief (Staf Khusus Presiden RI Bidang Bantuan Sosial dan Bencana) Tim Terpadu Riset Mandiri diketuai oleh Dr Ali Akbar (Arkeolog UI).


Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998 menetapkan Megalitik Gunung Padang sebagai situs dengan luas bangunan 3.094,59 m persegi dan luas tanah 17.196,52 m persegi. Berikut beberapa hasil penelitian Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri yang melakukan penelitian pada 2011-2013 bersumber dari buku Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi hasil tulisan Dr Ali Akbar.


1. Gunung Padang merupakan bangunan punden berundak yang bentuknya memanjang ke belakang dan semakin kebelakang  makin tinggi letaknya. Punden berundak Gunung Padang terdiri dari 5 teras yakni Teras 1, Teras 2, Teras 3, Teras 4, dan Teras 5. Teras 5 merupakan teras tertinggi dan Teras 1 merupakan teras terendah.

2. Berdasarkan hasil pengeboran yang dipimpin Dr Andang Bachtiar dari dalam tanah Gunung Padang terdapat batu-batu dalam posisi horisontal, tetapi bukan merupakan batu alami, melainkan batu-batu yang telah  disusun manusia (_Man Made_) Andang Bachtiar menyatakan bahwa selain bangunan Gunung Padang yang terlihat di permukaan tanah, terdapat struktur lain di bawah tanah. Hal ini mengindikasikan masyarakat pembuat Gunung Padang telah mengenal teknologi pembuatan bangunan yang tergolong maju, padahal itu dibuat pada periode yang tergolong tua.

3.Tim Katastropik Purba melakukan uji pertanggalan absolut dengan metode carbon dating (C14) yang salah satu hasilnya adalah sekitar 10.000 SM. Usia situs prasejarah Gunung Padang tergolong sangat tua bila dibandingkan dengan situs-situs megalitik di Indonesia yang usianya diperkirakan sekitar 2000 SM.

4. Beberapa keramik  ditemukan oleh seorang petani di lereng barat Gunung  Padang terdiri dari kendi, tempayan, dan mangkuk, dua fragmen keramik berdasarkan motif dan warnanya merupakan keramik asing yaitu keramik dari Eropa dan China. Keramik dari Eropa berasal dari abad ke 19 M. Keramik China berasal dari akhir masa Dinasti Ming berasal dari abad 16 M.

5. Susunan batu columnar joint (Tiang batu besar) di Gunung Padang adalah hasil karya manusia.

6. Ditemukan semacam lapisan diantara batu-batu saat identifikasi dan ekskavasi pada bulan Januari sampai Maret 2013 di lereng timur mulai pada kedalaman 2 sampai 4,2 m. Lapisan tersebut diidentifikasi oleh Dr Andang Bachtiar dan disebut sebagai perekat atau semen purba.

7. Seluruh teknik menyusun batu yang terdapat di Gunung Padang menunjukkan bahwa diantara masyarakat pembuat Gunung Padang terdapat arsitek, ahli teknik sipil, ahli konstruksi bangunan, ahli manajemen pembangunan, ahli lingkungan, ahli metalurgi dsb.

8. Situs Gunung Padang bukan difungsikan untuk kegiatan sehari-hari atau dalam hal ini bukan merupakan aktivitas rumah tangga. Kegiatan ekskavasi di teras-teras sejauh ini tidak menemukan kerangka atau fosil manusia hal ini menunjukkan bahwa situs ini bukan merupakan situs pemakaman atau bukan lokasi penguburan.

9. Religi yang dianut masyarakat Gunung Padang sesuai dengan perkiraan tahun pembuatannya tergolong animisme. Animisme yang dianut adalah pemujaan terhadap roh yang bersemayam di kekuatan alam tertentu (_Natural Spirit Workship_), dalam hal ini di Gunung Gede dan Pangrango. Gunung Gede Pangrango merupakan ekofak yang menjadi sentral pemujaan bagi masyarakat Gunung Padang.

10. Jika mengacu pada hasil penelitian tahun 2012-2013 menunjukkan bahwa bangunan Gunung Padang melingkupi seluruh bukit Gunung Padang, maka Gunung Padang memiliki peluang untuk menjadi bangunan prasejarah terbesar di dunia. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikannya.


Penelitian arkeologi dengan bantuan berbagai ilmu, seperti geologi, hidrologi yang dilakukan oleh Tim Katastropik Purba dan Tim Terpadu Riset Mandiri membuktikan bahwa kebudayaan dan peradaban manusia tidak berjalan linear dari masyarakat sederhana kearah masyarakat yang lebih maju. Melainkan suatu masyarakat yang telah mencapai kebudayaan dan peradaban tinggi kemudian dihancurkan oleh bencana alam, sehingga kebudayaan dan peradaban masyarakat selanjutnya belum tentu bisa mencapai  kemajuan kebudayaan dan peradaban dari masyarakat terdahulu (Teori kehancuran umat).


Sumber bacaan;

Ali Akbar; Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi.Chance Publication 2013.

Foto sketsa imajiner Gunung Padang dibuat Ir Pon S. Purajatnika.


Cipanas, Akhir Desember 2021.

Sabtu, 18 Desember 2021

PROSES PENGANGKATAN PAK DIRMAN SEBAGAI PANGLIMA BESAR


Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas


Kolonel Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat beserta Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo pada 18 Desember 1945, sejak dari 5 Oktober 1945 TKR tidak memiliki sosok seorang panglima, karena Soeprijadi yang diangkat menjadi Panglima TKR berdasarkan Maklumat Presiden pada 5 Oktober 1945 tidak pernah menampakkan diri, tidak diketahui nasib dan kabar beritanya. Jajaran perwira TKR berinisiatif melakukan rapat koordinasi pembentukkan organisasi TKR yang lebih modern dan rasional. Rapat pada  tanggal 12 November 1945 itu dilaksanakan dalam suasana revolusioner hampir seluruh perwira yang hadir membawa senjata, Kolonel Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR  dengan suara penentu dari enam divisi di Sumatera. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo meraih suara terbanyak kedua dengan perolehan suara dari perwira eks Kooninklijke Nederlands Indische  Lager (KNIL) dan menjabat sebagai Kepala Staf Umum TKR. Mengapa Pak Dirman terpilih padahal saat itu usianya baru 29 tahun, penampilannya kurang meyakinkan sebagai perwira militer, melangkahi seorang senior seperti Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Pak Dirman terpilih karena pertama keberhasilan dalam melucuti bala tentara Jepang di Banyumas tanpa pertumpahan darah, kharisma dan kewibawaan Pak Dirman tidak hanya dihormati kawan seperjuangan tetapi juga bala tentara Jepang.

Kedua Pak Dirman adalah sosok perwira religius berlatar belakang guru sekolah menengah Muhammadiyah, kebijakan dan perhatiannya terhadap prajurit sudah tertanam sejak pendidikan PETA di Bogor. 

Ketiga Pak Dirman dengan sukses berhasil menjadikan Banyumas sebagai "Gudang Senjata" bagi TKR dan laskar di Jawa Tengah dan Jawa Barat, TB Simatupang menyatakan dalam Laporan Dari Banaran, Pak Dirman adalah tokoh yang berperan aktif dalam pasokan senjata untuk TKR dan laskar perjuangan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Keempat Pak Dirman dikenal dikalangan alumni Peta dan Heiho sebagai ahli strategi militer, dalam latihan perang Peta Pak Dirman kerap ditunjuk sebagai salah satu Komandan pertempuran oleh jajaran instruktur militer Jepang.


Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo jebolan Akademi Militer Breda, ahli dalam penataan organisasi militer modern dan mahir dalam strategi militer, Pak Oerip adalah arsitek pembentukkan organisasi militer yang solid dan profesional pada masa awal Revolusi Fisik, perkataan, saran, dan nasehatnya kerap menjadi rujukkan para perwira TKR khususnya eks KNIL seperti Alex Kawilarang, TB Simatupang, Nasution, dan Didi Kartasasmita.


Elit politik berpendidikan barat seperti Sahrir dan Amir Sjaripudin dengan terang-terangan menentang alumni Peta dan Heiho berperan di TKR dengan alasan TKR harus bersih dari pengaruh fasisme Jepang, inilah kiranya hubungan antara Jenderal Soedirman dengan Sahrir dan Amir selalu dilanda ketegangan. Para elit politik didikan barat juga memiliki sikap bahwa proses pengangkatan seorang panglima besar harus memenuhi kriteria konsep supremasi sipil, kenyataannya tentara membentuk dirinya sendiri, sebelum pemerintah membentuknya. Itulah mengapa proses pengangkatan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar memakan tenggat waktu sampai satu bulan dari 12 November sampai dengan 18 Desember 1945. Didalam gejolak revolusi, pertentangan antara  elit politik sipil dan militer selalu terjadi dan itu menjadi dinamika sejarah yang selalu menarik.


Daftar Pustaka;

Seri Buku Tempo; Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir

Sekretariat Negara RI; 30 Tahun Indonesia Merdeka.

Foto; IPPHOS


Cisarua, Bogor, 18 Desember 21.

DUA WAJAH CHINA

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Peristiwa Tiananmen April 1989 menjadi titik balik kebijakan reformasi ekonomi China dibawah Deng Xiaoping, Reformasi yang bertujuan menciptakan sentra-sentra industri yang berorientasi kepada pasar internasional dan penanaman modal asing berdampak kepada keberanian mahasiswa untuk mendorong terjadinya proses perbaikan demokrasi dan kebebasan sipil, angin segar perubahan ekonomi komunis yang serba tertutup kepada ekonomi kapitalis yang berdasar kekuatan pasar dan modal ternyata tidak disertai perubahan politik, kuatnya pengaruh golongan konservatif didalam Partai Komunis China menghancurkan gerakan mahasiswa, politbiro dibawah Deng Xiaoping memutuskan penggunaan kekuatan militer untuk menghadapi gerakan demokrasi. Angin perubahan tidak terjadi, tetapi keyakinan untuk segera melaksanakan "sosialisme ala Tiongkok" semakin membesar, para pembesar Partai komunis China meyakini dogma ekonomi "menetes kebawah" ( trick down economics) dalam arti memberikan peluang kepada beberapa orang untuk menjadi kaya dan sangat kaya akan menguntungkan masyarakat. Dogma ekonomi menetes kebawah adalah ucapan selamat datang kepada kapitalisme, membiarkan orang menjadi sangat kaya mendorong dinamika pasar bebas dan menciptakan golongan pemilik modal yang makin lama makin kaya, Jack Ma pemilik Ali Baba dengan total kekayaan U$ 59 M, Pony Ma raja bisnis internet dengan aset U$ 57,4 M. Sejak 2015 jumlah taipan China adalah yang terbesar di dunia. Pragmatisme  ekonomi China menempatkannya sebagai negara dengan kekuatan ekonomi raksasa yang tangan-tangannya merambah kesegala penjuru dunia. Yang menjadi pertanyaan dalam sistem kapitalisme ekonomi dikendalikan oleh kaum pemilik modal, kaum pemilik modal di China mayoritas menjadi anggota partai komunis, siapakah yang berani menjamin para elit politik PKC tidak dikendalikan oleh para taipan, apakah para elit komunis tersebut masih memelihara idealisme partai sesuai dogma yang diberikan pemimpin Mao ( bersahaja, merakyat, dalam kerangka semangat proletar ) melihat gaya hidup para pemimpin PKC yang cenderung mewah, ada keraguan apakah mereka mengendalikan sepenuhnya wajah ekonomi kapitalis China. Salah satu kenyataan sosial yang terjadi sebagaimana yang terjadi di negara-negara kapitalis liberal adalah kesenjangan yang semakin melebar, walaupun kaum buruh mengalami kenaikan upah karena produktifitas yang meningkat, kekayaan kaum pemilik modal makin menjulang tinggi.


Penguasaan terhadap teknologi informasi, pembangunan infrastruktur dalam negeri, dan kemudahan penanaman modal asing meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tercatat pertumbuhan ekonomi China kuartal 1 2021sebesar 18,3 % salah satu pemikiran Deng Xiaoping agar China memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik dan ekonomi dunia dengan konsisten dijalankan Xi Jinping proyek politik ekonomi One belt one road dalam bentuk penawaran pinjaman jangka panjang kepada negara-negara di kawasan Asia dan Afrika dengan fokus pembangunan infrastruktur perhubungan yang bertujuan menguasai ekonomi  kawasan dan menanamkan pengaruh ekonomi dan politik, bagi China penyebaran ideologi komunis bukanlah prioritas mereka menyadari komunisme sudah kehilangan popularitas, yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana bisa meraih keuntungan sebesar mungkin, memanfaatkan peluang di era globalisasi dengan terus berusaha mencari ruang hidup yang lebih luas kepada warganegaranya. Dampak kesenjangan sosial ekonomi berusaha diatasi pemerintahan Xi Jinping dengan kebijakan "Kemakmuran Bersama" yang kini sedang gencar dipropagandakan salah satu programnya adalah peningkatan pembayaran pajak bagi para pemilik perusahaan, konglomerasi, dan perusahaan besar berskala internasional. Sejauh ini China berhasil memadukan dua wajah ideologi, pragmatisme komunisme dan ekonomi kapitalis dengan orientasi pasar bebas, tetapi tetap konsisten untuk "Katakan tidak bagi demokrasi" dan kebebasan beragama.


Cisarua, Bogor, 18 Desember 2021

Minggu, 12 Desember 2021

RAJA YANG SEDERHANA DAN MERAKYAT

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


Teringat Mbah Maridjan yang wafat  pada 2010, Mbah Maridjan wafat karena kukuh pendirian, sebagai juru kunci Gunung Merapi beliau tidak mau meninggalkan lokasi tempat tinggalnya Dusun Kinahrejo yang berjarak sekira 4 Km dari puncak Merapi. "Yang mengangkat saya sebagai juru kunci Merapi adalah   Ngarso dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX, jadi yang berhak memerintahkan saya untuk turun harus Ngarso dalem". "Ngarso dalem sudah wafat Mbah" balas wartawan. "Pokoknya saya tetap disini menunggu perintah Ngarso dalem". Yang menjadi pertanyaan mengapa seorang Mbah Maridjan bersikukuh bertahan  didaerah bahaya Gunung Merapi dan tetap setia kepada perintah rajanya, sekalipun rajanya telah wafat. Jawabannya sederhana masyarakat Jawa mencintai Sri Sultan HB IX. Seorang pemimpin dicintai, dihormati, sekaligus disegani bahkan disanjung bukan karena Keraton Yogyakarta menjadi pusat kekuasaan feodalis, bukan karena kekuasaan dan tahta, pangkat, jabatan, kedudukan. Tetapi karena sosok dan karakter pemimpin yang merakyat, mencintai rakyatnya, melindungi dan berusaha mensejahterakan rakyatnya dalam hal ini Ngarso dalem adalah seorang pemimpin yang "menghancurkan" batas-batas feodalisme antara seorang raja dan rakyatnya.


Kesaksian Dokter Abdul Halim di tahun 1946, ketika kereta dari Yogyakarta yang mengangkut sejumlah pejabat republik terhenti di Stasiun Klender Jakarta karena menunggu keluarnya surat izin masuk dari NICA, cuaca panas segera menyergap para penumpang kereta, Dokter Abdul Halim memutuskan keluar untuk mencari minuman, baru saja meloncat keluar, tiba-tiba terdengar suara Sri Sultan HB IX "Hei dok, mau kemana ?" "Saya mau mencari minuman". Jawab Halim. "Ik ga met u mee", jawab Sri Sultan sambil meloncat di ikuti adiknya Pangeran Bintoro. Halim terkejut pikirnya urusan akan runyam, harus mencari restoran atau rumah makan, karena tidak mungkin seorang raja bersedia nongkrong dengannya sambil minum di pinggir jalan, merasa kikuk Halim berjalan terus , langkahnya terhenti ketika Sri Sultan memanggilnya, "Hai dok kenapa berjalan terus ? Ini kan ada es puter, disini saja kita minum". Jadilah  mereka minum es puter, dengan santainya Ngarso dalem menikmati es puter sambil berdiri ditengah lalu lalang aktivitas manusia di Stasiun Klender. "Pandangan saya terhadap Sri Sultan berubah total, ini sosok raja yang bisa dijadikan sahabat, pikir Dokter Halim. Kesaksian Mayor Pranoto Reksosamudro pada 1950. Pulang dari pelosok pedesaan Yogya, mobil jip Sri Sultan dihentikan seorang perempuan penjual beras dan tanpa basa-basi langsung berujar "Niki karung-karung beras di ungghake". Rupanya perempuan tersebut tidak mengenal Sri Sultan, Sri Sultan langsung mengangkat karung-karung tersebut ke bagian belakang jip, sepanjang perjalanan perempuan pedagang beras duduk disamping Sri Sultan sambil mengobrol dengan akrab. Sampai di tempat tujuan dengan lincah Sri Sultan menurunkan karung-karung tersebut, setelah selesai, sang penjual beras merogoh koceknya dengan ramah dan senyuman Raja Jawa tersebut menolaknya "Pun boten sisah, Mbakyu". "E, eeee.......di wenehi duit kok nampik sumengkean temen ta sopir kuwi," sang penjual beras menggerutu, seiring dengan berlalunya mobil jip, ketika kemudian perempuan penjual beras tahu bahwa supir tersebut adalah Ngarso dalem, yang bersangkutan pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda, ketika mendapatkan laporan bahwa sang penjual beras masuk rumah sakit, Sri Sultan langsung menengoknya. 


Kesaksian Brigadir Polisi Royadin, yang pernah menilang Ngarso dalem. "Bapak melanggar verboden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah" kata Royadin kepada Sri Sultan. Jawaban Sri Sultan sama sekali tidak menunjukkan dirinya sebagai Raja Yogyakarta dan orang yang berperan penting dalam sejarah republik. "Ya saya salah. Jadi bagaimana?" tanya Sultan, Sultan melihat wajah Royadin penuh keraguan. "Buatkan saya surat tilang" sambil meminta maaf Royadin berujar "Maaf Sinuwun terpaksa saya tilang,"  "Baik Brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya, saya harus segera ke Tegal," ujar Sultan. Sesaat setelah peristiwa itu Royadin merasa gelisah dan khawatir, esoknya di Markas Kepolisian Pekalongan ia di tegur komandannya. "Royadin ! Apa yang kamu perbuat ? Apa kamu tidak berpikir? Siapa yang kamu tangkap itu ? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa tidak kamu lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?". "Siap Pak. Beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah," jawab Royadin. Jawaban Royadin memicu lagi kemarahan komandannya, "kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara!" Komandan Kepolisian Pekalongan itu pun berusaha mengembalikan SIM Ngarso dalem. Royadin hanya bisa pasrah. Ia siap menerima hukuman atau dimutasi. Ia tetap merasa benar, sampai kemudian Brigadir Royadin diminta mutasi ke Yogyakarta atas permintaan Sri Sultan, bahkan Sri Sultan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat, Ngarso dalem terkesan dengan ketegasan dan sikap berkeadilan Royadin, Royadin memilih untuk tetap bertugas di Pekalongan. Sri Sultan menghormati  pilihan Royadin. Royadin tetap bertugas di Pekalongan sampai ia wafat pada Juli 2010. Meminjam perkataan dari Prof Yudi Latief, banyak suri tauladan dari para pendiri bangsa,    tetapi kita tidak mau  mempelajarinya, sekedar untuk berliterasi sejarah kita enggan, akibatnya pemimpin yang dihasilkan selalu tidak segan untuk mengkhianati rakyat.



Daftar Bacaan;

Yudi Latief; Mata Air Keteladanan

Historia.id Hendi Johari


Cisarua, 12 Desember 2021

Kamis, 09 Desember 2021

KORUPSI

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


Mulai sekarang jangan sebut lagi korupsi sudah menjadi kebudayaan atau bagian dari budaya, karena kebudayaan diciptakan masyarakat manusia dengan tujuan untuk menjamin keteraturan dalam kerangka kemanusiaan. Korupsi bukan bagian dari kebudayaan, korupsi adalah tingkah laku menyimpang dan bentuk kejahatan luar biasa. Tidak satupun  Kebudayaan lokal dan tradisional disegala bangsa mentoleransi korupsi, menyatakan korupsi  sudah menjadi budaya hanya merendahkan budaya yang bersangkutan padahal jelas kebudayaan sudah memproduksi nilai dan norma sekaligus hukuman bagi pelaku korupsi. Jepang dengan budaya Bushido menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan leluhur, keluarga, dan diri pribadi dengan berusaha sekeras mungkin menjauhi tindak korupsi, kebudayaan lokal, kearifan lokal Indonesia tidak kalah dengan Bushido Jepang. Kearifan lokal Indonesia banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur religi dan pengaruh keagamaan. Sistem birokrasi pemerintahan yang feodalistis paternalistis di abad  17 sd 19 telah membuka peluang sebesar-besarnya bagi perilaku korup. Korupsi struktural yang dilakukan birokrat kolonial Eropa menurun secara hierarkhis kepada pejabat pribumi, korupsi terjadi karena kebutuhan kaum bangsawan yang menjadi birokrat kolonial sangat beraneka ragam mulai dari gaji jongos dan babu, istri tua, istri muda, wanita simpanan, sampai dengan para  pengawal dan centeng, belum lagi yang menyangkut gaya hidup Eropa Sentris mulai dari tempat tinggal yang mewah sampai dengan pesta kebun. Gaya hidup hedonis para birokrat kolonial diperoleh dari hasil korupsi pembayaran  pajak rakyat, upeti mulai dari hasil komoditas perkebunan sampai dengan sarana transportasi, pajak tanah, dan proyek infrastruktur. Korupsi struktural yang masif terjadi di zaman kolonial mengakibatkan para  petani kelas bawah, pekerja perkebunan,  dan pekerja kasar harian kehilangan harapan hidup.

Korupsi zaman _Now_ dilatar belakangi oleh pemenuhan gaya hidup, tuntutan keluarga, dan maraknya perilaku serakah. Ketika masyarakat mengalami disorientasi budaya karena gencarnya pengaruh _westernisasi_ ( Materialisme dan individualisme) dimana stratifikasi sosial masyarakat ditentukan oleh status sosial berdasarkan kekayaan, pangkat, jabatan, dan kedudukan disitulah korupsi menemukan  bentuknya. Tuntutan  keluarga (anak dan istri) yang berlangsung secara masif mempengaruhi tindakan para pejabat untuk berperilaku korup dan mencuri uang negara, gaji besar dan berbagai bentuk  tunjangan tidak akan bisa mencegah tindak korupsi apabila dalam diri seorang pejabat bersemayam sifat dan sikap serakah (Mumpungisme) kalau tidak korupsi sekarang, kapan lagi. Korupsi zaman _Now_ adalah korupsi terencana, masif, dan terstruktur berlangsung secara sentralisasi dan desentralisasi (Birokrat pusat dan daerah) mulai kasus  korupsi APBD, DAK, proyek perbaikan jalan, pengadaan buku, sampai dengan dana desa, bahkan pengadaan kitab suci Al Qur'an tidak luput dari perilaku korupsi. Korupsi bukan bagian dari kebudayaan, korupsi adalah tindak kejahatan luarbiasa yang harus dihadapi dengan tindakan hukum luar biasa pula, salah satunya dengan hukuman mati.

Selamat Hari Anti Korupsi, Sedunia Semoga Indonesia segera bebas dari tindak kejahatan luar biasa  bernama Korupsi.


Cipanas, 9 Desember 2021.

Sabtu, 04 Desember 2021

MODERNISASI DAN KEBUDAYAAN KETIDAKPUASAN

Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Modernisasi menjadi pola umum yang "mendunia" sesudah Perang Dunia II negara-negara berkembang berlomba-lomba melaksanakan modernisasi ( Proses perubahan kebudayaan dan sosial dimana masyarakat-masyarakat sedang berkembang bertujuan memperoleh sebagian karakteristik dari masyarakat industri barat ). Modernisasi menjadi kriteria kemajuan bersamaan dengan bergeraknya era globalisasi. "Menjadi modern" berarti menjadi seperti orang barat dengan resiko bahwa tidak seperti orang barat berarti ketinggalan jaman dan kuno, cara-cara pandang tersebut menjadi umum dan menguat ketika terjadi pergeseran bahwa masyarakat di luar barat harus diubah sehingga menjadi atau mendekati barat tanpa mempertimbangkan keadaan sosial dan budaya masyarakat setempat. Kita bisa saja terjebak kedalam sikap-sikap  etnosentrisme yang secara sadar atau tidak terjadi ketika fungsi-fungsi dan karakteristik kebudayaan tidak menjadi acuan.


Modernisasi secara umum terdiri dari empat sub proses :

1. Perkembangan teknologi berupa teknik-teknik dan pemahaman tradisional tergantikan oleh penerapan pengetahuan ilmiah dan teknik yang secara umum berasal dari barat

2. Perkembangan pertanian perubahan orientasi dari pertanian untuk keperluan sendiri menjadi pertanian untuk pemasaran ketergantungan terhadap ekonomi uang dan pasar.

3. Industrialisasi yang diiringi dengan eksploitasi besar-besaran bahan bakar fosil dan makin berkurangnya pemanfaatan tenaga manusia dan  hewan.

4. Urbanisasi yang ditandai terutama oleh perpindahan penduduk dari lingkungan pedesaan ke lingkungan perkotaan.

Terjadinya empat sub proses tersebut biasanya diikuti dengan perubahan politik, terbentuknya  partai-partai politik, meningkatnya partisipasi politik dan pelaksanaan demokrasi, meningkatnya partisipasi publik di bidang pendidikan yang bermuara kepada terbentuknya kelas menengah terpelajar, perubahan-perubahan fungsi keluarga, perubahan peranan seorang ayah sebagai kepala keluarga, perubahan  pola perilaku, menurunnya pengaruh kebudayaan tradisional, makin meningkatnya mobilitas sosial sebagai akibat dari perubahan pola stratifikasi sosial, achieved status ( status yang diperoleh dari hasil usaha dan kerja ) lebih dihargai dari ascribed status ( status yang diperoleh dari keturunan ).


Sosiolog Alex Inkeles membahas kepribadian baru dan sikap mental dalam proses modernisasi yang dikenal dengan kepribadian modern antara lain kesediaan menerima pengalaman-pengalaman baru, keterbukaan terhadap inovasi dan perubahan, memiliki keberanian  untuk menyatakan pendapat mengenai peristiwa-peristiwa di masyarakat atau diluar masyarakatnya, menghargai waktu dan berorientasi ke masa depan. Sikap mental dari Inkeles akan selalu berhadapan bahkan berbenturan dengan  "kebiasaan lokal" yang sudah terlanjur  menguat pada masyarakat negara berkembang seperti feodalisme dan sikap anti kritik. Dalam kenyataan sosial modernisasi membawa kepada goncangan budaya dan kesenjangan budaya, sebagian masyarakat menggunakan lambang-lambang modernisasi tetapi sikap mentalnya jauh dari kata modern. Proses modernisasi berdampak kepada kesenjangan sosial ekonomi yang semakin melebar diantara negara maju, negara berkembang, dan negara yang menuju  perkembangan. Negara maju di Eropa dan Amerika menghabiskan lebih dari 50% persediaan minyak dunia dengan segala akibat buruknya berupa kekerasan struktural, konflik, dan peperangan. Antropolog Paul Magnarella menyebutnya sebagai kebudayaan ketidakpuasan yang terjadi akibat kesenjangan dan ketidakadilan. Tingkat keinginan yang jauh melampaui batas-batas sumber-sumber daya lokal yang ada pada seseorang, karena tidak puas dengan nilai-nilai tradisional sebagian  masyarakat dunia berpindah ke kota-kota besar untuk mencari "kehidupan yang lebih baik" dengan terpaksa tinggal di pemukiman kumuh yang miskin, padat berjubel, akrab dengan ancaman penyakit dan mengakibatkan masalah-masalah sosial dan kriminalitas yang justru menjadi beban modernisasi. Persoalan mendasar adalah modernisasi yang makin menguat di era globalisasi terjadi begitu cepat, sehingga masyarakat tradisional sulit menyesuaikan diri, perubahan yang bertahap, lama, dan berkesinambungan di Eropa dan Amerika Utara, di terapkan secara masif dan cepat di negara-negara berkembang.


Daftar Bacaan;

William A. Havillland; Antropologi jilid I dan II

D. Paul Johnsons; Teori Sosiologi I


Cisarua, Bogor 4 Desember 2021

Minggu, 28 November 2021

REVOLUSI DAN GERAKAN KEBANGKITAN

Oleh: Yanuar Iwan. 

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Kontak awal bangsa-bangsa Eropa dengan penduduk pribumi diakhiri dengan tindak kekerasan, pemaksaan kehendak, kerusakan kehidupan tradisional, ketidak serasian sosial yang  seluruhnya mengarah kepada "kerusakan kebudayaan" ( Cultural Crash ) terjadinya perubahan-perubahan paksa dan biasanya terjadi dengan kekuatan militer membatasi bahkan menindas kebebasan. Contoh nyata dalam hal ini bisa kita lihat dalam penerapan Tanam Paksa di Hindia Belanda pada 1830 dan perbudakan di wilayah selatan Amerika Serikat 1800. Kolonialisme tidak saja mengakibatkan akulturasi ( Perubahan-perubahan besar dalam kebudayaan yang terjadi sebagai akibat dari kontak antar kebudayaan yang berlangsung lama ). Pemberontakan dan revolusi akan terjadi apabila akulturasi yang dipaksakan mencapai puncaknya, seperti yang terjadi dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia dan Revolusi Cina. Sikap tidak peka kaum kolonial Eropa menimbulkan kebencian yang mendalam terhadap penguasa-penguasa asing, pemberontakan dan revolusi menjadi pilihan terbaik bagi bangsa yang tertindas.


Kondisi berikut bisa menjadi syarat dan pencetus revolusi :

1. Hilangnya kewibawaan pemerintahan karena korupsi yang terjadi secara masif, penyalahgunaan kekuasaan, pembunuhan terhadap seorang tokoh politik populer

2. Hancurnya ekonomi golongan menengah karena krisis ekonomi, dan meningkatnya angka pengangguran

3. Ketidak tegasan pemerintah, seperti kebijakan yang tidak konsisten, pemerintah yang demikian itu kelihatannya seperti dikendalikan dan tidak mengendalikan peristiwa

4. Hilangnya dukungan dari kelas  cendekiawan seperti terjadi pada pemerintah pra revolusi di Perancis dan Rusia.

5. Pemimpin atau kelompok pemimpin, yang memiliki kharisma yang cukup besar untuk menggerakan sebagian besar rakyat, melawan pemerintah.


Tidak hanya bentuk revolusi dari dalam masyarakat seperti Revolusi Perancis dan Revolusi Merah di Rusia. Revolusi yang terjadi karena pengaruh dan bantuan kekuatan dari luar masyarakat seperti Revolusi "Arab Spring" yang terjadi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada abad 21.


Gerakan kebangkitan menjadi pencetus revolusi, karena adanya harapan-harapan baru dari unsur-unsur budaya lokal dan kepercayaan masyarakat setempat seperti kepercayaan terhadap datangnya Ratu Adil atau Imam Mahdi. Kebangkitan dapat didefinisikan sebagai usaha yang disengaja oleh beberapa anggota masyarakat untuk membentuk kebudayaan yang lebih memuaskan dengan secara cepat menerima suatu pola susunan dari banyak inovasi. Gerakan kebangkitan dan revolusi menemui bentuknya dalam pemberontakan petani di Banten pada 1888 dan Revolusi Iran dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini pada akhir dekade 70an.


Apabila sistem nilai tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya akan terjadi suatu kondisi krisis kebudayaan yang dapat membentuk gerakan reaksi. Masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat melakukan gerakan emansipasi dibawah pimpinan Martin Luther King dan gerakan Muslim  kulit hitam dibawah Malcolm X pada dekade 60an gerakan ini bisa dikategorikan sebagai Milenarisme ( Gerakan kebangkitan yang berusaha mengangkat golongan paria yang tertindas, yang telah lama menderita dalam kedudukan sosial yang rendah, dan yang memiliki ideologi sub kultural sendiri.


Daftar bacaan ;

William A. Haviland; Antropologi jilid I dan II, Erlangga 1988.


Cisarua, Bogor, 28 November 2021.

Sabtu, 27 November 2021

Selamat Jalan, Pak Ben, Sahabat Penggerak Sejati!


Oleh Enang Cuhendi

Jelang maghrib hari ini hujan turun deras sekali. Belum satu jam saya sampai di rumah setelah perjalanan dari Jatinangor, Sumedang untuk menjilid laporan OJT diklat calon pengawas sekolah. Sambil menunggu Maghrib mencoba berbaring sekedar melepas lelah sambil menghangatkan badan yang tadi basah kuyup. 

Tiba-tiba HP menyala. Sahabat saya, Asep Taufik yang ketua Pengda FKGIPS Garut memberi kabar duka. Sahabat, kakak dan sekaligus teman seperjuangan di Garut dan Jabar telah meninggalkan kami. Hampir saja tetes bening keluar di pelupuk mata. "Ini mungkin jawaban atas ingatan saya yang dalam dua hari terakhir selalu ingat dia." pikirku.

Drs. Beni Kustiana, atau kami biasa menyapanya Pak Ben, telah meninggal dunia sore ini. Setelah sempat dua hari dirawat di RS Guntur Garut akhirnya Allah berkehendak lain. Almarhum memang punya riwayat jantung, tapi menurut Bu Erin, adik almarhum, bukan jantung pemnyebabnya, Ketika dibawa ke RS almarhum diduga terserang stroke. Ah, apapun jenis penyebabnya, tapi itulah keputusan terbaik Allah SWT untuk sahabatku ini.

Untuk guru-guru IPS, khususnya di Kabupaten Garut, Pak Ben sangat dikenal. Ia aktif untuk menggerakan guru-guru IPS dalam pengembangan diri dan peningkatan kompetensi.. Kepada yang lebih muda ia selalu memberi ruang untuk bergerak. Tak ada dalam dirinya perasaan merasa terlangkah apalagi tersaingi. Setiap yang punya potensi selalu didorongnya untuk maju. Penulis sangat meraskan ini. Salah satunya berkat andil beliaulah penulis bisa berkiprah sampai sejauh ini.

Guru IPS SMPN 1 Garut ini terkenal sebagai sosok yang jarang bicara. Walau begitu, ia seorang aktivis yang tangguh dan penggerak sejati. Hampir sepuluh tahun saya mendampingi beliau di kepengurusan MGMP IPS Kab. Garut. Berbagai tantangan dan rintangan pernah kami rasakan, pun begitu rasa suka dan duka.

Saat penulis sebagai IP mendampingi Pak Beni dkk dari Garut di Cirebon

Almarhum tercatat juga pernah menjadi anggota Tim Pengembang Kurikulum provinsi Jawa Barat. Saat ramai-ramai kurikulum 2013 bergulir beliau pun pernah menjadi Instruktur Nasional dan Instruktur Kabupaten. 

Kiprah Pak Ben sebagai guru, khususnya di dunia IPS memang tidak diragukan lagi. Selain dicintai para muridnya, ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan  pengembangan diri, Begitu juga pulang dari kegiatan ketika ada sesuatu yang baru selalu rela untuk berbagi. 

Kenangan yang tak terlupakan ketika ketika kami ke Surabaya pada 2019 lalu, sebelum merebak Covid-19. Saat itu kami menghadiri pertemuan FKGIPS Nasional. Beliau terlihat sangat antusias mengikuti setiap sesi yang disiapkan panitia, termasuk jalan-jalan ke Bangkalan, Madura. Kami (Penulis, Asep Taufik, Karnata dan Hilman) baru tahu beliau sedang merasakan sakit jantung saat jalan dari Jembatan Merah ke Makam Sunan Ampel.  

Taman Monumen Kapal selam Pasoepati, Surabaya


Di Jembatan Merah, Surabaya


Di Gerbang Tugu Pahlawan Surabaya

Tepat pukul 22.00 penulis baru pulang takziah ke rumah duka di sekitaran Leuwidaun Garut Kota. Alhamdulillah masih sempat menyolatkan jenazah dan sekedar mengangkat keranda hingga ke jalan raya. Karena sudah larut malam dan harus pulang ke Nagreg dan Cicalengka, kami memutuskan tidak ikut ke pemakaman yang dilaksanakan malam ini juga di bawah rintik hujan.

Saat tulisan ini diketik, Pak Ben mungkin sedang merasakan kesendirian dalam gelap dan sempitnya alam kubur. Namun, penulis percaya, kondisi itu tidak akan lama. segala kebaikan yang pernah ditebar dan amaliah Pak Ben sebagai umat yang shaleh  akan langsung menerangi dan memperluas alam kubur. Bahkan segala petanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir pun akan bisa dijawab dengan lancar. Insyaa Allah.

Selamat jalan Pak Beni sang penggerak sejati. Setelah beberapa hari yang lalu kami ditinggal Bu Evi Julaeha yang juga guru IPS hebat, kini engkau yang pergi meninggalkan kami. Kemarin Bu Evi, kini Pak Beni. Esok atau lusa mungkin giliran kami yang masih ada sekarang. Inginnya kita selalu bersama, tapi Allah SWT  sudah punya ketentuan hidup kita masing-masing, Kapan pun kita harus ikhlas, yang penting kita wafat ada dalam rida Illahi, Aamiin

Mulianya Peran dan Kedudukan Guru

   

OLEH

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


“Teacher laying The Foundation Of Science And Education” 


Selamat Hari Guru Semoga makin hebat & menghebatkan anak-anak bangsa. Pastinya setiap tanggal 25 November menjadi hari peringatan bagi Guru se Nusantara. Guru merupakan tonggak peradaban. Guru adalah seorang pendidik, lisannya adalah mutiara dan tingkah lakunya adalah panutan serta tuntunan. Darinyalah dilahirkan generasi harapan bangsa. GURU identik dengan ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa, namun kenyataannya gurulah yang paling banyak memberi jasa dalam kehidupan manusia. Karena jasa guru, banyak manusia menjadi orang mulia dan terhormat. Itulah kenapa Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia. Guru memiliki makna universal, tidak sebatas yang ada di sekolah formal tetapi guru bermakna seseorang yang mengajarkan ilmu dan menuntun kepada kebaikan seperti guru ngaji, guru les, guru silat, ustadz, dosen, kiai/ulama dan sebagainya.

Setiap manusia memiliki cita-cita dan pilihan  untuk masa depannya agar lebih baik dan sukses, sesuai kodrat manusia di muka bumi segala yang dilakukan untuk kenyamanan,  kemapanan dan kebahagiaan. Sedangkan untuk menjadi guru bukan suatu cita-cita atau pilihan tetapi merupakan panggilan, karena tidak sembarang orang, artinya menjadi guru tidak mudah karena membimbing manusia untuk berubah kearah yang lebih baik dalam menggapai cita-cita. Seorang guru punya tugas mulia dan peran penting mempersiapkan generasi bangsa yang diawali dengan pembelajaran di dalam kelas. Dengan kata lain guru memiliki kekuatan membuat anak bersemangat untuk selalu belajar dan berbuat apapun dan kapanpun. Guru memiliki posisi yang sangat kuat memberi  teladan, memiliki potensi menginspirasi murid melakukan sesuatu secara kreatif, inovatif dan santun.

Di dalam Islam, guru memiliki banyak keutamaan seperti menurut sebuah hadis yang menyebutkan, “Sesungguhnya Allah, para malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).
    Mengapa guru diposisikan sebagai profesi yang begitu mulia? Karena guru adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt dan dengan ilmunya itu dia menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh serta menuju kebaikan baik di dunia ataupun di akhirat. Selain itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga mendidik muridnya untuk menjadi manusia beradab. Sebagai orang yang mengemban tugas mulia tentunya guru harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, tidak serta merta mengajar seadanya, apalagi menjadi guru hanya untuk tujuan karier. Profesi guru bukanlah profesi main-main, artinya sekali seseorang memilih profesi guru maka ia harus bertanggung jawab untuk mendidik muridnya dengan baik. Karena itu guru harus profesional atau mengupayakan diri menjadi profesional.
    Profesionalisme guru telah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasa pasal 1 ayat 1 dinyatakan, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Istilah profesional dalam definisi guru menunjuk pada pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan memenuhi standar mutu dan norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No. 14 Tahun 2005, dalam Kosim, 2008).
Dengan demikian, untuk menjadi seorang guru tidak mudah. Perlu keahlian, jiwa, keilmuan, ketelatenan dan yang pasti kualifikasi pendidikan profesi yang sesuai. Imam Ghazali menyebutkan beberapa syarat menjadi guru yaitu kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa, jujur dan terpercaya bagi murid-muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan kemarahan, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, memperhatikan perbedaan individu (Kosim, 2008).
    Syarat-syarat seperti disebut di atas memang tidak mudah dipenuhi oleh setiap orang karena “mendidik” tidak hanya butuh keluasan ilmu, tetapi juga memiliki titik tekan pada jiwa. Artinya, seseorang yang akan memilih profesi guru harus berangkat dari jiwanya, bukan karena keterpaksaan apalagi pelarian karier.
Islam menempatkan guru pada posisi sangat mulia karena pada sisi yang berbeda Islam juga menyuruh umatnya menuntut ilmu sejak dalam buaian sampai pada liang lahat, sehingga logikanya jika tidak ada peran guru harus ke mana umat Islam menuntut ilmu. Itulah sebabnya setiap guru harus amanah, apalagi saat ini pemerintah telah mengangkat kesejahteraan guru dengan adanya tunjangan profesi guru. Guru seharusnya mampu mencontoh metode Rasulullah Saw dalam memberikan pengajaran dan pendidikan, yaitu dengan keteladanan. Tentunya hal ini menunjukkan betapa besar dan mulianya.  Kedudukan Guru di Dalam Islam sebagaimana terangkum dalam 5 poin berikut ini.

1. Mendapat Derajat yang Tinggi

     Sebagaimana menuntut ilmu, seorang guru atau pengajar juga akan dinaikkan derajatnya. Sebab seorang guru yang baik dan berlandaskan pada nilai pengajaran islam akan selalu mengajarkan ilmu yang bernilai kebaikan dan bermanfaat sebagaimana cara berdakwah yang baik menurut Islam. Sehingga kemudian hasilnya tidak hanya bernilai kebaikan bagi yang menerima tapi juga berbuah kebaikan bagi yang mengajarkan. Sebagaimana dalam Firman Allah SWT, “Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “ Luaskanlah tempat duduk “ di dalam Majlis-majlis maka luaskanlah untuk orang lain), Maka Allah SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-Mujadilah: 11 berikut)

2. Memiliki Ilmu yang Bermanfaat

Seorang guru dalam islam tentunya memiliki kedudukan dimana ia mengerti dan memahami secara detail mengenai bidang pengajaran yang ia ajarkan. Oleh sebab itu, maka seorang guru akan senantiasa memiliki ilmu yang bermanfaat yang akan disebarluaskan kepada para umat. Sehingga bukan gelar ahli yang mereka utamakan namun, lebih kepada dampak sosial bagaimana ilmuyang diajarkan akan dapat merubah pola dan perilaku umat menuju jalan kebaikan.

3. Menjaga Diri

     Ilmu yang dimiliki oleh seorang guru merupakan benteng dalam menjaga diri. Dengan memiliki ilmu tentunya seorang guru akan mampu membedakan antara hal yang baik dan buruk. Sehingga hal ini dapat menjaga diri dan pribadi seseorang untuk berbuat kejahatan atau kemaksiatan. Islam memandang bahwa seorang guru memiliki nilai yang penting bahkan ketika dibandingkan dengan mereka yang harus pergi berjihad kemedan perang.

Sebagaimana dalam hadist riwayat berikut: 

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

4. Memperoleh Kebaikan yang Berlimpah

     Hadits dari Sahl bin Sa’id ra, “Demi Allah, jika Allah SWT memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaramu maka hal itu jauh lebih baik dari pada kekayaan yang sangat berharga.” (HR Bukhori dan Muslim)

Dalam Hadist tersebut dijelaskan bahwa seorang guru derajatnyanleni baik dari pada harta kekayaan yang malimpah. Tentunya hal ini semakin menegaskan bahwa kedudukan seorang guru memiliki posisi yang amat penting. Bukan hanya perkara mengenai ilmu yang diberikan. Namun, seorang guru juga memberi pesan pengajaran yang nilainya bahkan lebih baik dari harta kekayaan yang berlimpah. Sebab ilmu yang diberikan tersebut merupakan sebuah petunjuk yang akan digunakan sebagai pedoman dalam meraih dan menempuh kebaikan selama hidup di dunia.

5. Sama Dengan Pahala Amalan Sedekah

     Memlihara ilmu yang nilainya lebih mulia dan lebih baik dari harta kekayaan tentunya juga memberikan nilai pahala yang berlimpah. Bahkan ilmu yang terpelihara amalan atau nilainya sama dengan pahala atau amalan dari sedekah. Ketika tidak memilili harta untuk disedekahkan, maka menyedekahkan ilmu akan sama nilainya dan pahalanya dengan bersedekah harta. 

Pendidikan merupakan eskalator kemajuan sosial ekonomi sebuah bangsa, dan yang menjadi motor dari pendidikan adalah guru, maka kemudian ada tiga kunci yang menjadi penentu kesuksesan guru dalam mengimplementasikan setiap regulasi pendidikan, tiga kunci yang menjadikan anak-anak bangsa yang hari ini sedang berkembang, yang suatu saat nanti menggantikan generasi-generasi yang undur dimakan usia. Ketiga kunci itu tentunya dimiliki oleh guru, yaitu:

Ing ngarso Sung Tulodo, artinya bahwa pendidik hendaknya menjadi teladan bagi anak didiknya. Ini pun sejalan dengan peribahasa jawa, bahwa guru itu adalah singkatan dari orang yang Digugu dan Ditiru. Ing madyo Mangun Karsa, maksudnya pendidik hendaknya berperan untuk membangun kemauan belajar pada diri anak didik. Tut Wuri Handayani, maksdunya bahwa pendidik hendaknya berperan sebagai pembimbing anak dalam belajar, mengembangkan bakatnya serta membantu memandirikan peserta didik.

Dalam lingkup keilmuan, guru hendaknya juga selalu rajin menimba ilmu dari berbagai forum ilmiah dan berbagai media serta dibiasakan untuk mendengar dan membaca buku dan berbagai fenomena untuk menambah iman serta pengetahuan. Kemudian, menstranfer kebiasaan tersebut kepada muridnya, memotivasi murid untuk rajin membaca dan mendengar agar bertambah iman dan ilmunya, hingga murid memahami betul arti penting untuk belajar sepanjang hayat mereka.  Guru hendaknya mengajar dengan hati dan jiwa yang tulus, mengajak muridnya untuk selalu menerapkan serta menyebarkan ilmu atau menyampaikan kebaikan kepada orang lain, sehingga mereka memahami arti penting menegakkan kebenaran dan kebaikan pada saat dewasa nanti. 

    Memberi motivasi, keteladanan dan inspirasi sepatutnya dilakukan secara istiqamah, terus menerus, diulang-ulang tanpa mengenal bosan dan putus asa dengan tujuan mencari pahala bukan piala. Keistiqamahan itu In Syaa Allah akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala jika diiringi dengan upaya untuk selalu mempertautkan hati dan pikiran kepada Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pertautan itu hadir manakala kejernihan pikiran terbina dengan bingkai pikiran positip kerelaan atas ketetapan Allah Ta’ala, kesucian hati terawat dengan bacaan dzikir, dan lagi jika kesucian fisik juga terjaga dengan basuhan air wudhu. In Syaa Allah guru akan siap menjadi guru profesional berkarakter yang dimudahkan dan dilancarkan untuk menghasilkan generasi emas yang luar biasa. Wallahu A’lam Bish Shawab. 




                                           DAFTAR PUSTAKA 


Yulhasni. 2010. Refleksi 65 Tahun Hari Guru. [Online]. Tersedia di 

http://www.waspada.co.id. 27 Oktober 2011.

https://www.islampos.com

http://pena.belajar.kemendikbud.go.id

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 



                                                   







Selasa, 23 November 2021

Sebuah Refleksi Nilai dan Peran Guru Penggerak: Mungkinkah Kita sebagai Guru Ikut Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas bagi Indonesia 2045”


Oleh: Sandi Aging Gustiana

(Guru IPS SMPN 2 Cikatomas – Kab. Tasikmalaya)


  1. PEMAHAMAN mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak

    Sebelum menulis mengenai pemahaman materi mengenai nilai dan peran guru penggerak, pikiran saya terbersit mengenai satu hal. Apa yang akan kita wariskan sebagai guru kelak kepada anak didik kita di masa depan? Apa warisan kita sesungguhnya? Menjadi guru penggerak tentunya membuat saya menjadi lebih sadar mengenai tugas mulia dan kewajiban sebagai guru. Pewaris peradaban. Melihat diagram trapesium usia manusia yang pendek tentunya jatah umur kita semakin berkurang setiap waktunya. Merenungi garis sejarah bangsa kita yang panjang dari zaman animisme dinamisme, kerajaan-kerajaan, kolonialisme, kemerdekaan, intrik politik, zaman sekarang, hingga entah berapa ratus tahun lagi lamanya. Menyambut usia emas 100 tahun negara Indonesia merdeka yang sekitar 24 tahun lagi. Namun apakah memang negara kita sudah “merdeka” secara substansi kemasyarakatan atau kemanusiaan? Banyak pertanyaan yang muncul bukan untuk dijawab, namun untuk saya refleksikan sendiri seperti patung “The Thinker” karya Auguste Rodin di Paris, Prancis. Apa makna kita hidup? Apa makna hidup kita sebagai seorang guru?

    Dari sinilah sangat vital bagi seorang guru untuk memiliki sebuah visi bagi hidupnya, bagi murid-muridnya, bagi bangsanya kelak di masa depan. Saat usia tak lagi muda, saat kita menutup mata, namun apakah yang masih tersisa dari kita, apakah kelak yang masih hidup dari bagian diri kita? Pemikiran. Visi. Impian. Kebaikan yang terwariskan, seperti benih padi yang melintasi masa ke masa dan menyebar berbagai tempat. Sudah saatnya kita mewujudkan visi kita sendiri, visi pada anak didik kita, dan pada bangsa kita. Sebuah visi perubahan progresif bagi kebaikan umat manusia dimulai dari anak didik kita terdekat di dalam kelas. Sebuah visi universal, membangun kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dari Tuhan.

    Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan perjuangan awal membangun mental dan karakter guru sebelum membangun anak didik. Terlebih dahulu kita meresapi lagi nilai-nilai filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara kemudian diadaptasi pada nilai dan peran guru penggerak. Sebuah nilai adalah keyakinan standar yang mengarahkan perbuatan dan pengambilan keputusan terhadap situasi. Nilai-nilai yang diyakini sebagai guru penggerak diantaranya adalah berpihak pada murid, mandiri, inovatif, kolaboratif, dan reflektif. 

    Berpihak pada murid artinya “berhamba pada murid”, mengutamakan kepentingan murid di atas diri dan keluarganya sendiri. Guru memperjuangkan hak-hak murid di sekolah untuk mendapatkan pelayanan terbaik dalam bidang pendidikan. Mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain, namun tidak menggantungkan sesuatu pada orang lain. Kemandirian akan lebih bermakna saat kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Inovatif yaitu pembaharuan, pemanfaatan, kemudahan, dan penyelesaian masalah. Kolaboratif adalah kerjasama yang tulus antar pihak terkait untuk memudahkan dalam mencapai tujuan yang sama. Reflektif adalah memaknai apa yang telah dialami mengenai keberhasilan, kekurangan, dan rencana perbaikan.

    Selanjutnya guru penggerak memiliki beberapa peranan diantaranya: (1) menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid; (2) menggerakkan komunitas praktik guru di sekolah dan wilayah; (3) menjadi coach atau mentor bagi rekan guru lain; (4) mendorong kolaborasi antara guru dengan berbagai pemangku kepentingan; (5) mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Jika kelima peran ini bisa dilaksanakan dengan baik maka akan terjadi perubahan besar kemajuan di bidang pendidikan. Menurut saya peran guru yang paling penting adalah menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik. Guru yang menjadi kebanggaan muridnya. Guru yang selalu memberikan solusi kreatif atau inovatif terhadap setiap permasalahan pembelajaran. Guru yang senantiasa peka dan peduli terhadap peserta didik dan lingkungannya. Mendidik dengan penuh cinta dan kasih sayang, pada semua.


  1. KETERKAITAN Nilai dan Peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

    Hal yang paling mendasar mengenai nilai dan peran guru penggerak adalah filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar menjadi manusia dan anggota masyarakat sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Guru menjadi tukang kebun atau petani kehidupan, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri murid-muridnya. Guru tidak bisa memaksakan sesuatu yang bukan kehendak dan kodrat sang anak.  Guru hanya bisa memperbaiki laku sang anak. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut misal dengan melaksanakan konsep merdeka belajar pada peserta didik.

    Pada masa sekarang dibutuhkan kesabaran dan strategi jitu dalam mendidik anak. Maka dari itu guru perlu menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman sang anak. Kebijakan pendidikan sekarang berfokus pada mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah gambaran karakter ideal seorang pelajar yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Karakter tersebut diantaranya beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; mandiri; bernalar kritis; kreatif; gotong royong; dan berkebhinekaan global. Pada hakikatnya adalah intisari nilai-nilai Pancasila dari sila ke-1 sampai ke-5.  

    Kaitannya antara filosofis Ki Hajar Dewantara dan nilai dan peran Guru Penggerak adalah koheren karena filosofis mendasari nilai dan nilai menggerakkan peranan seorang guru. Nilai-nilai guru penggerak yang terkait langsung dengan filosofis Ki Hadjar Dewantara adalah berpihak pada murid, inovatif, dan kolaboratif. Berpihak pada murid sama dengan berhamba pada murid dimana murid menjadi pusat dari segala usaha pendidikan dan pembelajaran. Guru yang inovatif pun akan menghasilkan banyak keputusan dan program yang bermanfaat besar bagi murid dan guru lain. Selanjutnya upaya kolaboratif antara guru dan murid langsung dalam kegiatan pembelajaran dan program lain. 

    Filosofis Ki Hajar Dewantara juga mendasari peranan guru penggerak. Peran yang terkait langsung diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, mendorong kolaborasi antara guru dengan berbagai pemangku kepentingan, serta mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan murid di sekolah. Pada intinya pembelajaran yang berpihak pada murid berasal dari filosofis Ki Hajar Dewantara. Kegiatan kolaborasi dengan semua pihak terkait termasuk orang tua dan masyarakat juga masih dalam filosofis pendidikan Tri Pusat Pendidikan. Lalu di akhir peran guru dalam mewujudkan kemandirian dan kepemimpinan siswa sesuai cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara. Anak menjadi manusia paripurna sebagai anggota masyarakat mendapat keselamatan dalam hidup dan kebahagiaan lahir dan batin.


  1. STRATEGI untuk Mencapai Nilai dan Peran Guru Penggerak

    Terdapat 6 (enam) strategi untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak yaitu motivasi, organisasi, komunikasi, partisipasi, kolaborasi, dan refleksi. Pertama, membangun motivasi intrinsik yang kuat agar dapat mengikuti PPGP dengan semangat. Kedua, organisasi kegiatan dan waktu dengan baik. Banyaknya kegiatan yang diikuti tidak menjadi alasan untuk mengeluh. Kuncinya adalah pengaturan waktu yang baik, penyesuaian ritme kerja tubuh, dan memperhatikan masukan gizi yang baik. Ketiga, membangun komunikasi efektif berlandaskan kekeluargaan antar sesama rekan kerja, kepala sekolah, orang tua, siswa, pemangku kepentingan, dan masyarakat. Komunikasi akan menjadi jalan utama untuk memulai program pengembangan pembelajaran dan pengembangan sekolah. 

    Keempat, meningkatkan partisipasi semua rekan kerja guru. Partisipasi dapat dimulai dari rekan kerja terdekat. Jika sudah ada beberapa orang yang aktif ikut berpartisipasi, maka akan lebih mudah merangkul yang lainnya. Kelima, berkolaborasi untuk merumuskan dan melaksanakan visi, misi, dan program pendidikan dan pembelajaran yang berpihak pada murid. Ketika semua pihak terlibat di dalam program maka akan lebih mudah dan lancar dalam pelaksanaannya. Jika ada permasalahan, tantangan, atau hambatan maka akan dimusyawarahkan bersama jalan keluarnya. Keenam, refleksi dan evaluasi setiap progress kegiatan. Seperti yang telah diutarakan dengan adanya refleksi maka kekurangan setiap kegiatan akan diperbaiki sehingga kualitas setiap kegiatan ke depan akan meningkat. 


  1. PIHAK yang Terlibat dan Peranannya

    Hampir semua pihak terkait dengan perubahan dalam pendidikan. Pertama, kepala sekolah, wakasek, dan komite sekolah. Peranan pemangku jabatan adalah membuat program, peraturan, dan kesepakatan dengan guru, orang tua, murid, dan masyarakat. Guru penggerak wajib melakukan komunikasi efektif agar program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kedua, rekan kerja guru dan staf TU. Rekan guru dan TU adalah mitra untuk bekerjasama dan berkolaborasi melaksanakan program perubahan untuk peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Ketiga, peserta didik. Anak didik adalah sasaran program sehingga membangun kepercayaan dan hubungan yang baik sangat dibutuhkan. 

    Keempat, orang tua dan masyarakat. Warga masyarakat termasuk orang tua di dalamnya termasuk dalam tri pusat pendidikan. Kerjasama yang harmonis akan menguatkan nilai dan peran guru penggerak. Kelima, keluarga besar di PPGP mulai dari panitia pelaksana P4TK, dinas pendidikan dan kebudayaan, instruktur, fasilitator, pengajar praktik, dan calon guru penggerak. Semua pihak berjuang dan berpikir untuk melakukan perubahan pendidikan di Indonesia. Keenam, keluarga CGP sendiri mulai dari orang tua, saudara, istri, dan anak. Doa, dukungan, dan bantuan secara tulus dari keluarga menjadi bahan bakar motivasi tiada henti. Berkat orang tua kita bisa menjadi seperti sekarang dan untuk keluarga jugalah kita berpeluh keringat berdedikasi dalam profesi. 

    Akhir kata sebagai penutup biarlah judul pertanyaan “Mungkinkah Kita sebagai Guru Ikut Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas bagi Indonesia 2045” menjadi pertanyaan yang tak perlu dijawab secara lisan atau tulisan. Pertanyaan yang hanya akan menjadi sebuah renungan motivasi pembuktian. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan apa yang kelak akan kita wariskan pada anak didik dan bangsa kita di masa depan. Melewati batas usia kita sendiri, melintasi berbagai masa, menjamah berbagai tempat, dan menyentuh hati banyak orang. Hidupkan visi kita di hati anak didik kita. Nikmatilah setiap detik waktu kebersamaan kita dengan anak didik. Inilah momen kita untuk menyalakan inspirasi, mewujudkan setiap mimpi, mencapai kebahagiaan yang hakiki. Bagi anak didik kita tersayang, bagi bangsa kita yang besar, dan negara Indonesia kita tercinta. Selamat Hari Guru Nasional!

                           

-  Cikatomas, 23 November 2021 03.00 WIB -




Sabtu, 20 November 2021

JEJAK BERDARAH WESTERLING DI CIANJUR SELATAN

 Oleh: Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat

Raymond Piere Paul Westerling bisa dikategorikan sebagai penjahat perang sama halnya  dengan tokoh Nazi Klaus Barbie dan Himmler, Westerling  menjadi mesin pembunuh mengerikan di indonesia pada 1946-1950. Westerling yang berpangkat kapten membawahi pasukan baret hijau _Depot Speciale Troepen_(DST) yang berganti nama menjadi _Korps Speciale Tropen_(KST) pada 1948 sebuah unit pasukan komando yang ditujukan untuk melakukan aksi teror, penculikan, dan pembunuhan terhadap pendukung, simpatisan, dan kelompok-kelompok  milisi pendukung republik. Wewenang untuk membunuh _License to kill_ yang diberikan Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Letnan Jenderal S.H. Spoor dimanfaatkan benar  oleh _de Turk_ Si Turki julukan Westerling untuk mempraktekan ucapannya dalam operasi-operasi pembersihan yang dilakukan KST "Dalam perang sikap sadis manusia   akan menemukan bentuknya" di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.


Westerling dan KSTnya adalah bagian strategi Pemerintah Belanda  untuk melemahkan dan menghancurkan perlawanan rakyat dan TNI melalui metode kekerasan, menurut Sejarawan Belanda J.A. de Moor dalam Westerling Oorlog, cara yang digunakan Westerling dalam melancarkan aksinya nyaris selalu sama : mengepung dan mengunci area operasi, menggiring penduduk ke satu titik pusat, menggeledah, mengeksekusi dan terakhir membumi hanguskan kampung-kampung yang dianggap ekstremis ( Fazil Pamungkas ; Historia ) 


Pasca peristiwa pembantaian di Sulawesi Selatan, Westerling di tugaskan di Jawa Barat. Daerah Bandung Barat, Sukabumi, dan Cianjur Selatan, di Cianjur Selatan pasukan baret hijau Westerling bermarkas di Nyalindung ( sekira 15 Km dari Takokak ) pada 1947. Di Bandung Barat Westerling menargetkan pembunuhan terhadap Kapten Soegih Arto Komandan Pasukan Djaja Pangrerot bagian dari Divisi Siliwangi yang tetap  berada di Jawa Barat tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Berdasarkan kesaksian dari Soegih Arto pasukan baret hijau Westerling banyak melakukan pembunuhan masal,  pelecehan dan perkosaan terhadap para perempuan desa di kawasan Gunung Halu Bandung Barat, "Rasanya masih terdengar jelas jeritan dari para perempuan yang diperkosa itu...." ungkap Soegih Arto ( Hendi Johari Historia ). Di daerah Cianjur Selatan Kecamatan Takokak terdapat Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri sebagai saksi bisu kebrutalan Westerling, 68 makam yang terdapat disana hanya merupakan puncak gunung es diduga masih banyak korban-korban Westerling yang belum ditemukan. Sejak 1947 Takokak dijadikan tempat eksekusi orang-orang sipil pro republik yang berasal dari Sukabumi dan Cianjur. Tindak pembantaian semakin meningkat seiring dengan proses hijrah Divisi Siliwangi, Takokak dijadikan lokasi akhir "pengadilan" Westerling untuk menimbulkan ketakutan dan trauma. Rata-rata korban pembantaian mengalami luka tembak di leher dan belakang kepala. Sampai Westerling dibebas tugaskan pada November 1948 dan kemudian terlibat pemberontakan APRA di Bandung pada 1950, Westerling tidak pernah tertangkap, diekstradisi, ataupun diadili karena kedekatan dan dukungan rahasia Pangeran Bernhard ( suami Ratu Juliana ), para pengusaha besar, kaum pemilik modal   dari perusahaan-perusahaan besar Belanda. Westerling tidak pernah menjadi pesakitan di kursi pengadilan karena kesaksiannya bisa membahayakan kedudukan orang-orang penting  di negeri Belanda.


Daftar Bacaan ;

Historia 

M.C. Riclefs; Sejarah Indonesia Modern 1200-2004


Cisarua, 19 November 2021.