Minggu, 26 September 2021

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK SELAMAT DATANG GURU MASA DEPAN



Oleh Rudianto, M.Pd.

 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2019-2024 salah satu visi Pemerintah Republik Indonesia berfokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta. Berbicara tentang pengembangan SDM melalui peningkatan kualitas pendidikan tidak akan lepas dari guru sebagai ujung tombaknya.

Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta, Kemendikbud mengembangkan rangkaian kebijakan Merdeka Belajar pada tahun 2019. Kebijakan ini dicetuskan sebagai langkah awal melakukan lompatan di bidang pendidikan. Tujuannya adalah mengubah pola pikir publik dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi komunitas penggerak pendidikan. Filosofi “Merdeka Belajar” disarikan dari asas penciptaan manusia yang merdeka memilih jalan hidupnya dengan bekal akal, hati, dan jasad sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, merdeka belajar dimaknai kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan.

Langkah awal merdeka belajar meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional diganti ujian (asesmen), Ujian Nasional tahun 2021 diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang lebih fleksibel.

Keempat kebijakan tersebut tentu saja belum cukup untuk menghasilkan manusia unggul melalui pendidikan. Hal krusial yang mendasar untuk segera dilakukan adalah mewujudkan tersedianya guru Indonesia yang berdaya dan memberdayakan.

Guru Indonesia yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik. Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan.

Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru. 

Program ini bertujuan memberikan bekal kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan pedagogi kepada guru sehingga mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar satuan Pendidikan serta berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan satuan pendidikannya masing-masing. Rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ditunjukkan melalui sikap dan emosi positif terhadap satuan pendidikan, bersikap positif terhadap proses akademik, merasa senang mengikuti kegiatan di satuan pendidikan, terbebas dari perasaan cemas, terbebas dari keluhan kondisi fisik satuan pendidikan, dan tidak memiliki masalah sosial di satuan pendidikannya.

Kemampuan menggerakkan komunitas belajar merupakan kemampuan guru memotivasi dan terlibat aktif bersama anggota komunitasnya untuk bersikap reflektif, kolaboratif serta berbagi pengetahuan yang mereka miliki dan saling belajar dalam rangka mencapai tujuan bersama. Komunitas pembelajar guru di antaranya Pusat Kegiatan Gugus (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) serta komunitas praktis (Community of Practice) lainnya baik di dalam satuan pendidikan atau dalam wilayah yang sama.

PGP didesain untuk mendukung hasil belajar yang implementatif berbasis lapangan dengan menggunakan pendekatan andragogi dan blended learning selama 9 (sembilan) bulan. Kegiatan PGP dilaksanakan menggunakan metode pelatihan dalam jaringan (daring), lokakarya, dan pendampingan individu. PGP menerapkan andragogi, pembelajaran berbasis pengalaman, kolaboratif, dan reflektif.

PGP bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan dan pedagogi guru sehingga dapat menghasilkan profil guru penggerak sebagai berikut:

  1. mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi, dan kolaborasi;

  2. memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik;

  3. merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua;

  4. mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi satuan pendidikan yang mengoptimalkan proses belajar peserta didik yang berpihak pada peserta didik dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar satuan pendidikan; dan

  5. berkolaborasi dengan orang tua peserta didik dan komunitas untuk pengembangan satuan pendidikan dan kepemimpinan pembelajaran.

Terlepas dari berbagai hambatan yang ada mulai dari kuota, jaringan internet, waktu, kesibukan dan yang lainnya, PGP ini memiliki muara yang sangat luarbiasa. Program PGP ini akan menghasilkan guru masa depan dengan mental inovatif, kreatif, peduli, sabar, penyayang, berjiwa kepemimpinan, pancasilais, nasionalisme, dan sebagainya. PGP diharapkan menghasilkan guru yang paripurna.

Pada tahap pertama ini kurang lebih 2.500 orang Calon Guru Penggerak (CGP) sedang mengikuti PGP. Kegiatan yang dimulai pada pertengahan Oktober 2020 ini akan berakhir pada Juli 2021. Pada kegiatan PGP tahap pertama ini melibatkan 500 orang pendamping dan 145 Fasilitator Nasional. 

Kita tunggu perubahan yang luarbiasa pada pendidikan di Indonesia. Semoga!

*Disadur dari Pengantar Program Pendidikan Guru Penggerak Learning Management System untuk Calon Guru Penggerak

**Penulis adalah Pengawas Disdik Kabupaten Cirebon yang bertugas sebagai Fasilitator Nasional Pendidikan Guru Penggerak wilayah Kabupaten Pidie Provinsi Aceh.


Sabtu, 25 September 2021

MUDAHNYA MENGHAKIMI ORANG


Oleh : Yanuar Iwan


Dalam hubungan sosial antar individu dan antar kelompok manusia seringkali seseorang atau kelompok orang dengan mudah menghakimi seseorang hanya karena penampilan fisiknya. Kita menjadi khawatir apabila seorang gelandangan, pengemis, dan anak jalanan  mendekati kita, respon motorik ditubuh kita langsung memberikan peringatan "bahaya" dini ada "kotoran" mendekat. Budaya pergaulan kita mengarahkan pandangan kita kepada kebersihan, kemapanan, dan kerapihan, kita menjadi paranoia dengan lambang-lambang masyarakat marginal, sikap menghakimi mendorong kita untuk berpersepsi ria bahwa gelandangan dan pengemis identik dengan kemalasan struktural. Tanpa ada keinginan untuk mengetahui mengapa makin banyak gelandangan, pengemis, dan anak jalanan di negeri ini.

Budaya sosial kita sudah lama tercemar dengan keinginan untuk menghakimi tanpa disertai keinginan untuk mempelajari latar belakang sosial dan ekonomi mengapa mereka bertindak seperti itu.

Era kemapanan abad 21 dengan segala ukuran keberhasilannya, membuat seseorang yang menggunakan sandal jepit ditempat-tempat resmi terlihat aneh, atas nama aturan kita bersama-sama menghakimi orang yang menggunakan sandal jepit tidak tahu diri, tidak sopan, tidak layak dijadikan contoh. Ada berbagai kemungkinan sosial dan ekonomi seseorang menggunakan sandal jepit, apakah karena faktor ekonomi, ataukah organ kakinya sedang sakit sehingga tidak memungkinkan dia menggunakan sandal dan sepatu yang identik dengan aturan sosial.

Keinginan untuk menghakimi masih kuat tertanam pada budaya sosial masyarakat kita, akibat perbuatan menghakimi banyak kaum miskin, kaum pinggiran, dan orang-orang yang menjadi marginal karena sistem budaya menghakimi, semakin rendah diri bahkan sampai bunuh diri. Semangat menghakimi tidak terbatas kepada orang-orang dewasa dan remaja, kini anak-anakpun sudah menjadi "hakim" yang menghancurkan masa depan kawannya di sekolah atau di lingkungan rumah, dan Tuhan belum tentu satu sikap dengan mereka.


Cipanas, 25 September 2021.

Kamis, 23 September 2021

GURU HONORER: HABIS MANIS SEPAH DIBUANG

 


Oleh Rudianto, M.Pd.

 

Seleksi ASN jalur PPPK Guru honorer tahap 1 sudah dilaksanakan pada 13 – 17 September 2021. Pelaksanaan seleksi berjalan dengan lancar. Namun di balik kesuksesan penyelenggaraan seleksi, ada hal yang sangat menyesakan dada dan menyakitkan hati guru di Indonesia. Betapa tidak, hasil seleksi menunjukkan bahwa tingkat kelulusan atau raihan nilai yang bisa melampaui ambang batas sangat rendah. Ini berarti guru-guru yang sudah mengabdikan dirinya untuk pendidikan di Indonesia tidak diperhitungkan. Ini juga berarti pengorbanan mereka untuk mencerdaskan anak bangsa, anak ibu pertiwi tidak dihargai. 

Mereka telah berbuat yang terbaik untuk negeri dengan mengorbankan diri dan keluarganya. Mereka rela dibayar tak layak yang jauh dari profesional demi memajukan negeri. Mereka berjalan kaki menuju sekolah bukan demi kesehatan, tapi mereka lakukan itu karena tidak punya kendaraan dan tidak punya ongkos. Mereka mengenakan pakaian dan sepatu lusuh bukan untuk mengajarkan kesederhanaan, tapi itu karena mereka memiliki pakaian dan sepatu yang terbatas. Tetapi batapa beratnya ibu pertiwi membalas pengorbanan mereka.

Seleksi ASN dilakukan dengan ketat dan berat demi mendapatkan SDM guru yang berkualitas. SDM guru yang berkualitas adalah jaminan untuk menigkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ini semua saya sangat setuju. 

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah untuk mendapatkan SDM guru yang berkualitas hanya bisa dilakukan dengan seleksi yang ketat dan berat? Tentu saja tidak. Seleksi yang ketat dan berat adalah salah satu cara untuk menjaring SDM yang berkualitas. 

Untuk mewujudkan SDM guru yang berkualitas bukan berarti guru yang ada yang dianggap kurang berkualitas harus dienyahkan. Guru-guru honorer yang sudah memiliki masa kerja belasan bahkan puluhan tahun bukan tidak mau meningkatkan berkualitas, tetapi kesempatan mereka untuk meningktakan kualitas yang tidak diberikan. Sebab tidak ada guru yang bodoh atau tidak berkualitas. Yang ada adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kualitas diri guru. 

Mereka juga pasti sangat mau meningkatkan kualitas dirinya. Mengapa mereka tidak memiliki kemampuan dan kesempatan meningkatkan kualitas? Ini karena banyak hal. Pertama, mereka tidak memiliki biaya untuk meninkatkan kualitas dirinya. Pada era 4.0, segala informasi tersaji dengan leluasa di dunia maya. Tetapi apakah mereka mampu menjangkau dunia maya secara leluasa? Perangkat dan kuota akan menjadi penghalang bagi mereka untuk mengakses informasi secara leluasa.

Kedua, mereka tidak memiliki waktu untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Meskipun waktu mereka sama 24 jam dalam sehari, tetapi sebagian besar waktu mereka digunakan untuk bekerja sampingan untuk menopang ekonomi keluarganya. Penulis pernah bertemu denga supir ojol yang ternyata mereka guru honorer di sebuah SMP negeri. Dia menjadi ojol semenjak subuh sampai waktunya mengajar. Setelah mengajar dia kembali menjadi ojol sampai malam. Ketika ditanya kapan merencanakan pembelajaran, dia jawab, RPP cukup dalam ingatan yang disusun sambil menjadi ojol. 

Ketiga, mereka tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Ini lebih tepatnya mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Ketika ada pelatihan atau bimtek yang diselenggarakan oleh disdik atau kementrian, guru honorer jarang sekali dilibatkan. Intinya berikanlah kesempatan yang sama kepada semua guru untuk meningkatkan kualitas! Inilah yang harus dilakukan Pemerintah, organisasi profesi guru, LSM pndidikan, dan semua pihak.

Melihat hal di atas, guru honorer bukan berarti tidak memungkinkan untuk ditingkatkan kompetensinya. Untuk meningkatkan kualitas guru, berikanlah pola pembinaan profesionalisme guru yang benar. Pembinaan guru yang benar harus memperhatikan, kebutuhan, kondisi, situasi, pendampingan, berkelajutan, keberagaman, serta hal lainnya. Pelatihan guru dalam jabatan akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan guru honorer kelak setelah mereka menjadi ASN.

Bahkan guru honorer yang sudah lama mengabdi memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki oleh guru baru. Dalam poses pembelajaran pepatah “pengalaman adalah guru yang baik dan guru yang baik adalag guru yang berpengalaman” selalu akan berguna. Artinya guru honorer yang sudah memiliki masa kerja yang lama adalah guru-guru yang berpengalaman. Sementara pengalaman tidak bisa didapatkan melalui jenjang pendidikan. Harus diingat jam terbang seseorang dalam mengajar akan menjadi bekal bagi guru dalam meningkatkan kompetensinya.

Jadi, apa ruginya bagi pemerintah untuk mengangkat guru honorer menjadi ASN. Justru pemerintah akan menadapatkan guru yang berpengalaman yang berkualitas kalau mampu mengakat guru honor dan mampu membinanya dengan tepat. 

Penulis adalah Ketua APKS PGRI Kabupaten Cirebon.

 


Rabu, 15 September 2021

MENUJU DIGITALISASI PEMBELAJARAN

 


Oleh Rudianto, M.Pd.


Bulan Maret 2020 Pendidikan di Indonesia dihadapkan pada perubahan yang sangat besar. Pandemi Covid 19 yang masuk ke Indonesia pada Maret 2020 sudah mengubah tatanan Pendidikan Indonesia. Pada saat itu Indonsia baru saja memulai perubahan pendidikan dengan digulirkannya Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar sebagai gebrakan baru dalam pendidikan Indonesia yang disampaikan oleh Mas Menteri. “Pokok-pokok kebijakan Kemendikbud RI tertuang dalam paparan Mendikbud RI di hadapan para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, Jakarta, pada 11 Desember 2019”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Merdeka_Belajar  09/09/2021 : 23.01). Ada empat pokok perubahan sebagai langkah awal Merdeka belajar yaitu menghilangkan UN, Menyerahkan USBN kepada sekolah, RRP yang sederhana, dan PPDB berbasis zonasi yang lebih luas. Menyusul kemudian rangkaian penjabaran merdeka belajar yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Organisasi Penggerak, Pendidikan Guru Penggerak, Pendidikan Sekolah Penggerak, dan masih beragam program lainnya.

Sebagian besar proram Merdeka Belajar digulirkan berbasis kecakapan 4.0. Ini berarti guru-guru dituntut untuk menguasai IT. Tuntutan penguasaan IT bagi guru-guru juga dipaksa oleh keadaan Pandemi Covid 19. Pada bulan Maret 2020 pembelajaran nyaris lumpuh ketika diberlakukan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah.

Kebutuhan penguasan IT untuk pembelajaran menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan perkembangan dunia digital. “Berkembangnya dunia digital berpengaruh terhadap cara belajar siswa dengan optimalisasi penggunaan perpustakaan digital dalam memenuhi kebutuhan atas keingintahuannya terhadap materi ajar.” (https://jurnal.uns.ac.id/habitus/article/download/28788/19628  11/09/2021 : 10:21). 

Tuntutan zaman bahkan lebih cepat dan lebih kuat. Optimalisasi perpustakan saja tidak cukup. Lebih jauh dari bahan ajar berbasis digital, pembelajaranpun harus berbasis digital.

Pendidikan sebagai corong utama perubahan penyongsong revolusi industri di abad 21 harus mengalami perubahan. Perubahan ini tidak hanya dalam taraf pemikiran namun juga direalisasikan dalam bentuk pembelajaran dan juga kurikulum. Perubahan dari cara radisional menuju arah modern, dari arah analog menuju ke arah digital. Perubahan tersebut bisa dimulai dengan merevolusi para pengajar yang akan membawa perubahan kepada para siswa. (https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/download/5498/4827  11/09/2021 : 10:10)

Di satu sisi kebutuhan pembelajarn digital sangat mendesak, di sisi lain kemampuan guru masih terbatas. Kecakapan 4.0 yang terus bergulir dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) masa pandemi Covid 19 mengharuskan pembelajara berbasis digital. Guru menjadi penentu perubahan ini.

Kabupaten Cirebon adalah salah satu daerah dengan berbagai permasalahan dalam pelaksanaan PJJ. Perangkat, kuota, jaringan internet adalah permasalahan yang lumrah ditemui dalam PJJ. Namun permasalahan terbesar keterlaksanaan PJJ di Kabupaten Cirebon adalah SDM yang tidak memadai. Kemampuan guru dalam menggunakan perangkat IT untuk pembelajaran masih lemah. “Di SMP Kabupaten Cirebon saat PJJ harus dilaksanakan,  saat itu 90% lebih PJJ berisi intruksi dan pertanyaan yang disampaikan melalui Grup WhatsApp. Tentu saja cara ini tidak mungkin menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tuntunan Kurikulum 2013”. (Rudianto: 2020).

Pembelajaran seperti ini telah membuat guru dan peserta didik menjadi bosan. Pada bulan Mei 2020, tingkat partisipasi guru SMP di Kabupaten Cirebon dalam melaksanakan tugas PJJ sempat turun ke angka 60%. Bahkan tingkat partisipasi peserta didik sempat menyentuh angka 45% (Rudianto:2020). Ini terjadi karena kebosanan dalam melaksanakan pembelajaran berupa instruksi dan pertanyaan yang disampaikan lewat grup WhatsApp. 

Kondisi pembelajaran di atas akan menimbulkan permasalahan. Pencapaian pembelajaran bahkan tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai. Pembentukan karakter peserta didik akan sulit dilakukan. Kalau keadaan seperti ini dibiarkan, kepercayaan peserta ddik terhadap proses pembelajaran akan sangat menurun. Ini akan menimbulkan permasalahn yang lebih rumit ke depan. Tidak menutup kemungkinan akan hilangnya generasi masa yang akan datang.

Melihat kondisi pembelajaran seperti ini, harus segera ada upaya untuk memperbaikinya. Pembenahan yang utama adalah meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan PJJ menggunakan jaringan. Pembelajaran bebasis internet harus dikuasai oleh semua guru. Pembelajaran jarak jauh ini bisa berlangsung lebih lama. Proses pembelajaran tidak boleh menunggu. Proses pembelajaran harus berjalan terus dengan baik seperti apapun kondisi alam ini. Bahkan meskipun kondisi sudah normal, tanpa covid, pembelajaran berbasis internet harus tetap berlanjut. Blended learning akan menjadi pola pembelajaran pilihan untuk menghadapi era 5.0.

Siapkan Kita?


Penulis adalah Pengawas SMP Disdik Kabupaten Cirebon.


LETNAN JENDERAL AHMAD YANI SETIA SAMPAI AKHIR

 Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Adalah sesuatu yang fatal memasuki peperangan tanpa keinginan untuk memenangkannya ( Jenderal Douglas Mac Arthur )


Tentara Nasional Indonesia terbentuk dari rakyat, berjuang bersama rakyat, menderita bersama rakyat dan merdeka bersama rakyat. Sapta Marga dan Sumpah Prajurit adalah ideologi TNI.


Ahmad Yani salah satu sosok prajurit TNI dengan komitmen terhadap Sapta Marga dan Sumpah Prajurit membuktikan integritas prajurit sejati dalam berbagai pertempuran, Pebruari 1958 pecah pemberontakan PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah akibat kesenjangan pembangunan dan hasil-hasilnya, ketidakstabilan politik dan pemerintahan, masalah korupsi, perdebatan-perdebatan dalam konstituante serta polemik dalam masyarakat mengenai konsepsi presiden.


Pada 15 Pebruari 1958 Letnan Kolonel Ahmad Husein menyatakan berdirinya PRRI lengkap dengan kabinetnya, Sjafruddin Prawiranegara menjabat sebagai perdana menteri, pemerintah pusat menyelesaikannya dengan kekuatan militer. Kepala Staf AD Mayor Jenderal AH Nasution memberikan kepercayaan penuh kepada Kolonel Ahmad Yani untuk merencanakan dan melaksanakan tahapan operasi, Yani alumni General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas dan Spesial Warfare Course Inggris adalah perwira menengah dengan kualifikasi dan pengalaman tempur diatas rata-rata, Yani adalah sosok perwira dibalik pembentukkan batalyon dengan kualifikasi Raiders ( Banteng Raiders ) di Kodam Diponegoro Jawa Tengah dengan prestasi dan rekam jejak penumpasan pemberontakkan DI/TII tahun 1952.


Operasi militer dengan sandi Operasi 17 Agustus adalah operasi militer terbesar. Historia.id mengungkap ketiga matra TNI terlibat, AD menyumbang personil terbesar dengan 4 batalion infanteri termasuk RPKAD, AL 1 batalion Korps Komando ( KKO), AU 25 pesawat C47 Dakota, 6 pesawat pemburu P51 Mustang, 8 pembom B-25 Mitchel dan 6 pesawat AT-16 Harvard.


Kelebihan Yani didalam mengorganisir, menyatukan ego para perwira, merancang strategi dan taktik khususnya dalam tahapan pendaratan di Pantai Padang berhasil membuka dominasi keunggulan TNI, militer PRRI dipaksa untuk terus defensif dan berakhir dengan   usaha pelarian kedaerah pedalaman dengan melancarkan perang gerilya, blokade TNI dan dukungan sebagian besar rakyat kepada TNI menyulitkan strategi  perang gerilya PRRI,  TNI berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April, menyusul 4 Mei kota Bukittinggi. Pimpinan PRRI menyerahkan diri satu-persatu 29 Mei 1961 Ahmad Husein     dengan pasukannya menyerahkan diri beserta pimpinan sipil dan militer PRRI.


Bintang Yani bersinar pasca pertempuran menghadapi PRRI, Bung Karno memilih  Yani karena terkesan dengan kinerja militernya, jabatan Menteri Panglima Angkatan Darat menjadi jabatan tertinggi di angkatan darat, sikap "low profile" dan tradisi Jawa ( selalu berusaha menghormati dan menghargai pimpinan dimanapun berada ) menjadikan Yani sebagai jenderal kesayangan Bung Karno. Ditengah fokus kepada tugas dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia, dari dalam negeri Letnan  Jenderal Ahmad Yani menghadapi agresifitas PKI yang aktif melakukan propaganda, aksi-aksi sepihak PKI, fitnah dan kekerasan politik yang tensinya terus meningkat, konflik antara AD dan PKI ( pembentukkan angkatan ke 5 dan bantuan senjata dari RRC ). Isu Dewan jenderal menjadi bola panas yang dari waktu ke waktu terus membesar, walaupun Yani sudah berusaha menjelaskan kepada Bung Karno tetapi tensi politik di Jakarta terus memanas. Puncaknya satu pleton tentara tunggangan PKI  ( Cakrabirawa ) lengkap dengan senapan serbu AK 47 dibawah komando Peltu Mukijan membunuh Letnan Jenderal Ahmad Yani pada malam jahanam 1 Oktober 1965, sebagai seorang prajurit  Yang selalu mengutamakan keselamatan pemimpinnya Yani sempat bertanya "Bagaimana Bapak" ? Sambil menatap kearah anaknya yang ketujuh, Untung.


SMPN 1 Cipanas, 15 September 2021, di lokasi kelas bawah. Dalam rangka mengenang Jenderal Ahmad Yani.⭐⭐⭐🇮🇩🇮🇩

Kamis, 09 September 2021

Australia Tanah Harapan


Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Australia adalah warna, benua yang hanya ditempati oleh satu negara memiliki keanekaragaman iklim dari utara, tengah, dan selatan. Keanekaragaman hayati dari kangguru, koala, dan kasuari, keanekaragaman etnis dari  Aborigin ( ras negroid ), orang-orang Eropa ( ras kaukasoid ) dan orang-orang Asia Timur ( Asiatic Mongoloid ).


Australia adalah tanah harapan bagi masyarakat Inggris abad 18, 19, dan awal abad ke 20, revolusi industri mengakibatkan masalah sosial di kota-kota besar Inggris seperti London, Manchester, dan Shiefield. Meningkatnya angka kejahatan membuat lembaga pemasyarakatan over kapasitas, hilangnya dua koloni Canada dan Amerika Serikat membuat ruang hidup _Britania_ menjadi terbatas, adalah Joseph Banks yang mengusulkan Australia dijadikan tanah "buangan" para kriminal dengan alasan tanah di Bothany Bay potensial dibuka menjadi pemukiman.


Misi Inggris pertama untuk membuka "ruang hidup" dipimpin Kapten Arthur Philip dengan 717 orang, mereka membuka Port Jackson yang kemudian menjadi Sydney dan daerah sekitarnya disebut New South Wales.


Kolonisasi berkembang, orang-orang kriminal segera berubah menjadi para pekerja dengan  tanah sekitar 15 h.a. mereka berubah menjadi petani handal. Pembentukkan New South Wales Corps ( Korps Tentara ) dan Arthur Philip menjadi gubernur pertama New South Wales memperkokoh posisi kelompok elit oligarkhi dengan akses kekuasaan besar, politik, ekonomi dan sosial.


Kaum pendatang warga Inggris yang ingin mengadu nasib di tanah harapan baru ( _ The  Free Settlers_) harus menyewa tanah-tanah yang sudah dikuasai tentara dan para oligarkhi sipil, oligarkhi sipil menjelma menjadi orang-orang kaya dengan pengaruh sangat kuat dan mereka memperoleh legalisasi karena menjadi wakil Pemerintah Inggris di Australia.


Model oligarkhi yang dibangun John  MacArthur menjadi rujukkan koloni-koloni lain seperti Tasmania ( 1803 ), Queensland ( 1824 ), Victoria ( 1824 ), Australia Barat ( 1829 ), Australia Selatan ( 1826 ).


Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang  absolut cenderung korup secara absolut. Quotes dari Lord Acton ( Sejarawan Inggris ) terbukti terjadi di New South Wales, perdagangan  rum ( sejenis minuman keras ) yang didatangkan dari Inggris benar-benar merusak kondisi mental tentara, sementara oligarkhi sipil yang dipimpin John Macarthur banyak terlibat skandal korupsi, pemerintahan di New South Wales dilanda ketidakpastian dan gangguan keamanan terjadi secara masif.


Pemerintah Inggris "gerah" dan segera mengangkat gubernur baru Lachlan Macquarie 1809 dengan pasukan _Scotland Highlanders_, Inggris berhasil menghancurkan kekuasaan Macarthur sekaligus  membubarkan New South Wales Corps.


Australia menjadi tanah harapan yang sungguh menjanjikan, kedatangan domba merino ( populer dengan wol dan dagingnya ) dari Afrika, hampir bersamaan dengan masuknya mesin-mesin industri produk revolusi industri, mesin wol dan mesin pendingin daging dengan cepat menjadikan peternakan domba menjadi primadona ekonomi di daratan Australia.


Hasrat kapitalisme mengakibatkan nafsu manusia tidak terkendali, perluasan peternakan domba ke daerah pedalaman membawa pertentangan, konflik, dan dendam antara para _Squatter_( orang yang melakukan ekspansi ke daerah pedalaman ) dengan  para petani terlebih dengan orang-orang Aborigin. Nafsu kapitalis mengakibatkan pertumpahan darah dan pembunuhan, prasangka yang diwarnai diskriminasi rasial membawa kerusakkan dan krisis kemanusiaan bagi masyarakat Aborigin, mereka menjadi kelas marginal di tanah airnya sendiri.


Sejarah pemerintahan Australia kuat dipengaruhi kemerdekaan Amerika Serikat 1776, demokrasi, kebebasan, dan persamaan menjadi rujukkan dan tujuan bersama walaupun secara ironis menjadi perlakuan standar ganda bagi penduduk asli.


Konvensi federal di Hobart 1897 memutuskan :

1. Negara-negara bagian ( daerah-daerah otonom ) akan digabungkan menjadi suatu federasi negara-negara seperti di Amerika Serikat.

2. Susunan pemerintahan Australia meniru sistem Inggris

3. Federasi negara-negara ini disebut _Commonwealth of Australia_

4. Status _Commonwealth of Australia_adalah dominion dalam British Commonwealth ( Januari 1901 Common wealth of Australia mulai diberlakukan )


Pemerintahan pusat  yang berkedudukan di Canberra memegang kekuasaan atas urusan luarnegeri, pertahanan dan keamanan, pajak dan imigrasi. Pada tahun 1867 orang-orang Freesettlers ( orang-orang yang datang dari Inggris untuk mengadu nasib ) mendorong proses penutupan deportasi para pelaku kriminal. Hingga kini Australia masih tetap menjadi bagian dari _British Commonwealth_ dan menjadi salah satu mitra terpenting Indonesia di kawasan Asia Pasifik.


Cipanas, 9 September, 2021 di perpustakaan.


Daftar bacaan : Soebantardjo, Ikhtisar Sejarah Asia  dan Australia, 1956.

Sabtu, 04 September 2021

BUNG KARNO DAN PERISTIWA 17 OKTOBER 1952

 Oleh : Yanuar Iwan


"Kepemimpinan sejati berasal dari individualitas yang diekspresikan secara jujur dan kadang-kadang secara tidak sempurna... para pemimpin harus berjuang untuk ketulusan daripada kesempurnaan ( Sheryl Sandberg )

Quotes dari Sheryl Sandberg ( CEO FB ) dan mantan Kepala Staf Departemen Keuangan AS, kiranya pas untuk menggambarkan seorang Soekarno sebagai presiden sekaligus pemimpin dari bangsa besar bernama Indonesia.

Bung Karno adalah pemimpin yang dipuja sekaligus dibenci, pemimpin Indonesia paling populer sekaligus kontroversial, cinta dan ketulusan adalah dua kata kunci untuk memahami Bung Karno, cinta terhadap yang maha pencipta, cinta terhadap tanah airnya, cinta terhadap keindahan,  cinta terhadap wanita dan cinta dan ketulusannya kepada rakyat Indonesia.

Dengan cinta dan ketulusannya Bung Karno bersama Indonesia menjalani masa-masa sulit seperti yang terjadi pada dekade 50an, dekade penuh gejolak dan demokrasi parlementer menjadi biang kekisruhan politik. Kabinet jatuh bangun silih berganti, pemimpin partai politik sibuk mengutamakan ego sektoral.

Tentara gerah dengan situasi ini, rivalitas tentara dan parlemen diperkeruh dengan isu rasionalisasi dan  restrukturisasi dari dua orang perwira tinggi TNI, Nasution dan TB Simatupang perwira pemikir ini menginginkan agar proses re-ra dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan Belanda MMB ( Misi militer Belanda ) dalam hal teknis tidak dalam hal ideologis tentara. Usulan ini memicu konflik dan perpecahan para perwira yang mendapatkan dukungan dari parlemen seperti Kolonel Bambang Sugeng dan Kolonel  Bambang Supeno segera menjadi kelompok penentang Nasution. Re-ra segera mempertajam rivalitas didalam tubuh TNI AD dan meningkatkan konflik antara TNI AD versus parlemen.

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah ujian bagi seorang Soekarno, istana dikepung, artileri-artileri berat dikerahkan langsung menghadap keistana. Nasution ( KSAD ) dengan bahasa halus tetapi menekan berujar "ini tidak ditujukan kepada Bung Karno pribadi, melainkan untuk menentang sistem pemerintahan. Bung Karno harus segera membubarkan parlemen".

Mataku memerah karena marah, "Engkau benar dalam tuntutanmu, tetapi salah dalam caranya. Soekarno tidak akan menyerah menghadapi paksaan. Tidak pernah kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional Indonesia.

"Bila ada kekacauan  di negara kita, setiap orang berpaling kepada tentara", balas Nasution. "Tokoh-tokoh politik membikin perang, tetapi si prajurit yang harus mati. Wajar bila kami turut berbicara tentang apa yang sedang berlangsung."

"Mengemukakan apa yang terasa dihatimu kepada Bung Karno- YA. Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia - TIDAK JANGAN SEKALI-KALI".

( kutipan percakapan Soekarno - AH Nasution di istana negara 17 Oktober 1952. (Cindy Adams "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia")

Peristiwa bernuansa  "kup" ini dengan sukses berhasil diselesaikan Bung Karno dengan kharisma, kejujuran, dan ketulusannya. Presiden RI pertama  tersebut langsung mendatangi para prajurit yang mengepung istana, membuka komunikasi dan dialog dengan para prajurit bersenjata lengkap dan berakhir dengan teriakan "Hidup Bung Karno"

Si Bung tidak pernah melarikan diri dari masalah, ia memiliki kharisma dan aura seorang pemimpin, dengan sorot matanya satu batalyon infanteri dan batalyon artileri "luluh lantah". Pemimpin berkualitas banyak jumlahnya, tetapi pemimpin yang memiliki kharisma hanya bisa dihitung dengan jari, Si Bung memiliki ketulusan untuk dekat dengan rakyat, pemimpin paling berani dimasanya, pemimpin yang jauh  dari korupsi ( Bung Karno meninggalkan istana hanya menggunakan kaus oblong dan piyama, Gus Dur mengenakan celana pendek saat meninggalkan istana ) dua presiden ini hendak memberikan gambaran bahwa istana jauh dari nuansa borjuis dan feodal. Tidak ada pemimpin yang sempurna, tetapi Bung Karno sudah memberikan segalanya bagi Indonesia dengan segala kejujuran, ketulusan, dan rasa cintanya yang besar kepada republik bernama Indonesia.


Cipanas, 4 September 2021.

Jumat, 03 September 2021

"Jadilah Guru yang Dirindukan, Bukan Dipinggirkan"

 

Muhammad Yusuf, M.Pd. saat membuka kehiatan
webinar seni Komunikasi Mengajar yang dirindukan Siswa di Kota Depok (3/9)

Depok. Socius.(3/9). "Jadilah guru yang dicintai, bukan dibenci. Jadilah guru dinantikan bukan dinapikan, Jadilah guru yang dirindukan bukan dipinggirkan dan Jadilah guru yang digugu dan ditiru" demikian pesan Muhammad Yusuf. M.Pd. ketika memberikan sambutan saat membuka kegiatan Webinar Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan Siswa (3/9).

Sebelumnya, Kasi Kurikulum dan Penilaian Disdik Kota Depok ini yang hadir mewakili Kadisdik Kota Depok meminta peserta agar menggunakan materi yang diterima dalam kegiatan ini sebagai senjata untuk bertempur di medan pembelajaran.  Menurutnya, secanggih apapun senjata kembali pada man behind the gun-nya. Sehebat apapun materi yang diberikan tidak akan berarti jika tidak dimanfaatkan dengan baik dalam pembelajaran.

Sementara itu Erik Kurniawan, M.Pd. selaku ketua panitia kegiatan melaporkan bahwa kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Pengda FKGIPS Kota Depok dengan MGMP IPS Kota Depok. Diikuti tidak hanya oleh guru IPS Kota Depok, tetapi guru mapel lain dari berbagai jenjang dan guru dari luar Depok. Tercatat ada peserta dari Padangsidempuan, Tegal, Blitar, Tulungagung, Bandung, Bogor dan Bekasi.

Lelaki yang akrab disapa Gus Erik ini  berharap dalam kegiatan ini peserta webinar bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang baru, sehingga apa yang didapat dari webinar ini bisa disampaikan ke rekan-rekan guru di sekolahnya masing-masing. 

Selain itu menurut Ketua MGMP IPS Kota Depok  ini yang lebih penting materi ini dipraktekkan ke dalam kegiatan belajar mengajar di depan anak-anak, baik luring maupun daring.

Erik Kurniawan (Ketua Panitia), Iwa Koswara (Nara Sumber)
dan Enang Cuhendi (Moderator)

Kegiatan di Kota Depok ini merupakan rangkaian roadshow kegiatan Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan Siswa sebagai program besar FKGIPS Nasional menyongsong pembelajaran tatap muka. 

Seperti di daerah-daerah sebelumnya antusiasme peserta nampak terlihat. Tampil sebagai nara sumber kegiatan adalah Drs. Iwa Koswara, M.Pd. dengan moderator Enang Cuhendi, S.Pd. MM.Pd. (EC-Socius 01)




Rabu, 01 September 2021

MENGAPA DIBUAT STRATA ?

 Oleh: Yanuar Iwan


Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian ( Gus Dur )


Kehidupan sosial terkadang aneh, aturan-aturan sosial dan budaya justru mengarahkan manusia untuk mempertegas perbedaan-perbedaan, semakin tinggi status sosial yang dimiliki seseorang maka akan semakin tinggi pula perlakuan dan penghormatan masyarakat kepadanya. Dalam proses sosial hal tersebut tidaklah salah, yang menjadi masalah adalah apabila seseorang atau kelompok yang memiliki kewenangan "elit" tersebut terus memperkuat strata sosialnya dengan "segala cara" guna mendapatkan penghargaan-penghargaan tertentu bahkan menikmati perlakuan penghargaan dari strata sosial dibawahnya.


Masyarakat tunduk dan patuh kepada kelompok elit tanpa syarat, sementara kelompok elit menikmatinya, kekuasaan dan jabatan memang memabukkan. Kita menggunakan lambang-lambang pergaulan modern untuk mempertegas  dan menyatakan status kita dari pakaian, kendaraan, gaya bicara sampai dengan mode rambut, mungkin saja ada sebagian penghuni strata elit yang "bahagia" ketika mereka melihat orang-orang  dengan strata dibawahnya menundukkan kepala dan tubuhnya, sambil mengucapkan salam " hangat" dan senyum "perihnya". Dan kitapun bangga dengan lambang-lambang modern yang kita kenakan tetapi terkadang kita lupa ada perbedaan mendasar antara "ketaatan" dan "kultus" individu dan  secara tidak sadar kita dengan sengaja atau tidak turut menguatkan kembalinya feodalisme zaman kolonial dengan segala pernak-perniknya.


Cipanas, akhir Agustus 2021.

Minggu, 29 Agustus 2021

TALIBAN DAN MASA DEPAN AFGANISTAN

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jabar

Kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan. Kehidupan manusia sekarang digerogoti dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan.


Ketakutan akan hari depan

Ketakutan akan bom hidrogen

Ketakutan akan ideologi-ideologi

( Bung Karno )


Afganistan negeri 1001 konflik kembali dikuasai Taliban 15 Agustus 2021. Sejarah mencatat Taliban pernah berkuasa di Afganistan masa 1996-2001 sebelum digulingkan Amerika  Serikat.


Menjadi ironi politik "lelahnya" Amerika Serikat di Afganistan dihantam pula dengan merajalelanya korupsi di departemen pertahanan dan dinas ketentaraan nasional Afganistan. Tidak adanya ideologi tentara mempercepat kehancuran rezim Ashraf Gani.


Taliban yang sejak awal Juni melakukan operasi militer pengepungan jalur logistik militer pemerintah, dengan mudah menguasai kota Kabul sekaligus mendapatkan senjata-senjata modern buatan Amerika Serikat yang sengaja dijual oleh Tentara Nasional Afganistan.


Kepanikan dan ketakutan melanda penjuru negeri, individu, keluarga, sebagian masyarakat yang selama ini mendukung AS dan sekutunya segera memadati bandara Kabul, tragedi kemanusiaan terjadi, puluhan orang tewas terinjak-injak, anak terpisah dari orang tuanya, beberapa jatuh dari pesawat. Inggris, Perancis, Jerman, Canada dan Amerika Serikat seakan berlomba menjadi "pahlawan" bagi bangsa yang tercabik-cabik oleh perang saudara. Trauma dan luka sejarah yang demikian dalam, memory penindasan terhadap perempuan, eksekusi tanpa proses peradilan, dan monopoli kebenaran sepihak menjadi "ketakutan" kolektif bagi sebagian masyarakat yang ingin melarikan diri.


Pertanyaannya adalah apakah Taliban kekinian sama dengan Taliban era 1996 ? Melihat dinamika geopolitik global tidak ada bangsa yang mampu membangun dirinya sendiri tanpa membuka hubungan dengan negara lain khususnya dibidang ekonomi dan perdagangan. Kesediaan Taliban untuk berkomunikasi dan melakukan kontak dengan negara lain seperti Qatar dan Indonesia bahkan dengan AS membuktikan bahwa mereka berniat untuk melakukan perubahan khususnya pada pembangunan ekonomi, Taliban berusaha mencari solusi-solusi terbaru diluar solusi yang dilakukan Cina dan Rusia.


Taliban akan segera menghadapi problematika besar yang pertama adalah pembentukkan pemerintahan yang inklusif dan demokratis mengingat penduduk Afganistan terdiri dari beragam etnis, pemerintahan inklusif ini diharapkan mampu memenuhi aspirasi berbagai kelompok etnis. Yang kedua adalah penegakkan hukum dan mendisiplinkan kelompok-kelompok  milisi, karena sampai detik ini penculikkan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang dianggap pro AS masih terus terjadi di Kabul dan Jalallabad. Taliban menolak bertanggungjawab atas pembunuhan tersebut, lantas siapakah pelakunya ?


Perdana Menteri Inggris Boris Johnsons telah menegaskan Taliban harus terus berkomitmen dan membuktikan janjinya bukan hanya sekedar ucapan-ucapan untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Salah satu ancaman serius bagi stabilitas perdamaian di Afganistan adalah kelompok-kelompok milisi dari dalam Taliban sendiri yang sering terlibat konflik kekerasan.


Yang ketiga adalah kemampuan Taliban dalam mengatasi serangan-serangan teror, peristiwa bom bunuh diri diluar bandara Kabul yang menewaskan ratusan penduduk sipil dan tiga belas tentara Amerika Serikat pada 26 Agustus 2021. Kelompok ISIS-K menyatakan bertanggungjawab atas peristiwa berdarah ini. Antisipasi keamanan Taliban terhadap serangan-serangan teror yang dilakukan kelompok ISIS dan Al Qaeda menjadi pekerjaan rumah yang rumit dan berat, karena stabilitas keamanan  adalah prasyarat bagi terwujudnya pembangunan ekonomi.


ISIS dan organisasi sempalannya seperti ISIS-K sudah memproklamasikan akan terus menyerang pemerintahan Taliban yang dianggap berkhianat  karena sudah membuka komunikasi dengan AS. Pada akhirnya Taliban sendirilah yang menentukan bagaimana wajah Afganistan dimasa depan. Semoga terjadi perdamaian di Afganistan.


Bogor, 28 Agustus 2021

Sabtu, 28 Agustus 2021

Antusiasme Guru Sulsel Mengikuti Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar

Sulsel.Socius.(28/8). Sambutan luarbiasa ditunjukkan guru-guru peserta kegiatan Pelatihan Seni Komunikasi yang Dirindukan. Mereka sangat antusias mengikuti sesi demi sesi kegiatan yang berlangsung melalui zoom meeting pada Sabtu (28/8). 

Setiap moderator meminta peserta untuk berinteraksi secara langsung selalu disambut dengan gercep (gerak cepat) oleh peserta. Peserta tidak merasa malu untuk mencoba mempraktekan setiap bagian dari seni komunikasi mengajar yang disampaikan nara sumber. 

Hal ini mengulang apa yang sudah dilakukan peserta yang hadir dalam kegiatan serupa di Jabar dan Jambi. Iwa Koswara sebagai nara sumber dibantu oleh Enang Cuhendi sebagai moderator selalu mampu menghidupkan ruang zoom dengan penyampaiannya yang sangat antusias, segar dan tidak membuat peserta jenuh.

Wijaya, M.Pd. selaku Ketua Umum PP FKGIPS dalam sambutannya sangat menyambut gembira roadshow kegiatan Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan ini. Ia berharap kegiatan serupa akan terus berlanjut di wilayah dan daerah yang lain. 

Pada kesempatan itu Wijaya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang luar biasa kepada duet  narasumber  moderator yang selalu ikhlas berbagi untuk kemajuan pendidikan.

Drs. Iwa Koswara, M.Pd., nara sumber kegiatan
Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan


Sementara itu Dr. Syamsul Bahri, S.Pd. MM sebagai ketua PW FKGIPS Sulsel menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini agar guru mampu memahami dan menerapkan seni komunikasi mengajar yg efektif dlm kegiatan pembelajaran tatap muka dan daring/online. Ia pun berharap kegiatan pengembangan kompetensi guru seperti ini akan terus bisa dilaksanakan di waktu ke depan. (Socius 01)
 

Kamis, 26 Agustus 2021

Menyambut Pembelajaran Tatap Muka FKGIPS Roadshow Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar

Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan Siswa FKGIPS Nasional

Bandung. Socius (26/8). Seiring dengan munculnya harapan untuk bisa melaksanakan kembali proses pembelajaran tatap muka, Forum Komunikasi Guru IPS (FKGIPS) Nasional bekerjasama dengan Lembaga Konsultan Pendidikan, Trainer dan Motivator Iwa K melakukan roadshow kegiatan "Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan Siswa".

Kegiatan yang dimaksud sebagai penyegaran dan sekaligus membekali guru-guru tentang seni komunikasi mengajar ini dilaksanakan secara maraton di beberapa daerah. Pertama kali diselenggarakan di Jawa Barat pada 13 Agustus 2021. PW FKGIPS Jawa Barat sukses menyedot 559 orang pendaftar dari berbagai mapel dan jenjang. 

Kemudian pada Kamis pagi (26/8) kegiatan berlanjut di Provinsi Jambi. Kegiatan yang diprakarsai PW FKGIPS Jambi ini menghadirkan lebih dari 275 pendaftar. Siang sampai sore harinya lebih dari 200 guru hadir dalam kegiatan serupa yang diselenggarakan Pengurus Daerah FKGIPS Kab. Tasikmalaya , Jawa Barat.

 Rencananya pada Sabtu (28/8) giliran PW FKGIPS Sulsel akan menjadi penyelenggara. Menyusul kemudian Jawa Timur sedang mengagendakan waktu penyelenggaraan. (Socius01)

Dalam kegiatan ini tampil sebagai pemateri Drs. Iwa Koswara, M.Pd. dari Lembaga Konsultan Pendidikan, Trainer dan Motivator "Iwa K". Didampingi oleh moderator Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd.

Enang Cuhendi dan Iwa K saat mengisi acara
Pelatihan seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan untuk daeraj Jambi (26/8) 


Kamis, 19 Agustus 2021

Catatan Mata Najwa Untuk Guru

Nazwa Shihab

 


Tugas guru bukan menjejalkan pelajaran.

Guru harus menghidupkan pengetahuan.

Kebenaran guru bukan hal yang absolut, karena murid bukan kerbau yang harus serba menurut

Kelas bukan menyucikan diktat penuh angka.

Pengetahuan bukan ayat-ayat penuh dogma.

Ilmu jangan hanya objek hapalan.

Ilmu untuk memahami dan menuntaskan persoalan.

Sekolah perlu terus membuka diri pada perubahan.

Guru jangan segan beradaftasi dengan kebaruan agar belajar menjadi proses yang menyenangkan, agar kreatifitas terus ditumbuh kembangkan.

Siswa niscaya akan haus pengetahuan.

Ijazah takan mengakhiri proses pembelajaran

Inilah pengajaran yang memanusiakan manusia, bukan pendidikan yang mengkerdilkan siswa

Tinggal tunggu waktu lahirnya generasi pencipta, mereka yang akan mengharumkan Indonesia dengan karya.

Hanya pendidikan yang dapat menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan.


Kalimat disadur oleh Enang Cuhendi dari closssing statement Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa



Senin, 16 Agustus 2021

Kemerdekaan Guru Honorer Bagai Pungguk Merindukan Bulan

Oleh Suliyanti


    Menjadi guru di bumi pertiwi bak sosok pemeran utama dalam sebuah film dengan akhir sedih penuh harapan, terutama jika ternyata guru tersebut berstatus honorer. Status yang tidak tercatat dalam undang-undang guru namun hidup nyata penuh keprihatinan. Tugas sama berat dengan yang berstatus PNS dan guru Yayasan jika di sekolah swasta, namun penghargaan jauh dari kata cukup bahkan bisa dikata minus. Tentu nyinyiran netizen julid tetap saja bersuara sumbang kenapa mau jadi guru, kenapa mau jadi guru honorer sudah tahu tidak akan jadi milyoner, kenapa mau jadi guru honorer kalo tahu keadaannya di batas atas luar biasa. Guru honorer bak kekasih tak dianggap, sangat diperlukan namun keberadaannya terabaikan.


Guru honorer dalam lintas sejarah

    Sejak 1912 para guru pribumi mencoba untuk memperjuangkan persamaan hak dan posisi terhadap Belanda, dalam wadah PGHB Persatuan Guru Hindia Belanda berupaya agar posisi guru pribumi mendapatkan tempat sesuai kemampuan, setara dengan guru Belanda, bukan lagi guru kelas tiga yang tidak mendapatkan jabatan apapun termasuk kepala sekolah, karena semua dijabat oleh guru Belanda. Guru pribumi pada saat itu tak jauh berbeda dengan guru honorer saat ini yang tidak bisa menempati posisi stategis, karena hanya guru pribumi, hanya inlander bukan guru Belanda. Jika dikaitkan saat ini sama saja guru honorer tidak bisa menempati posisi stategis karena hanya guru honorer. Maka pertanyaannya adalah sudahkah merdeka guru honorer jika keadaannya sama dengan masa penjajahan Belanda, kemampuannya tidak dilirik hanya karena honorer?.


Strata guru honorer

    Guru dalam Undang-undang Guru dan dosen tidak terdapat istilah guru PNS, guru honorer, guru yayasan apalagi guru jadi-jadian bin abal-abal. Hanya terdapat satu kata guru. Namun dalam dunia nyata guru memiliki klasifikasi tertentu dari mulai guru PNS, guru honorer negeri, guru honorer swasta bahkan bisa jadi ada klasifikasi lainnya. Bagaimana dengan strata sosial  tingkatan guru, seolah guru honorer  merupakan golongan tingkat dua bahkan tingkat tiga. Sebagai contoh jika guru yang menghonor di swasta ada golongan pertama adalah jajaran pemilik Yayasan, golongan selanjutnya adalah managemen dan staff atau guru yayasan dan golongan terakhir adalah guru honorer. Bagaimana dengan yang menghonor di sekolah negeri? Starta tetap ada dari ring pertama adalah kepala sekolah dan para waka selanjutnya ring ke dua para guru berstatus PNS dan terakhir para guru honorer. Maka sebuah pertanyaan terlontar sudahkah merdeka jika guru honorer masih dipandang golongan kelas tiga?.


Guru honorer sosok yang dituntut ideal dengan keadaan hidup jauh dari ideal

    Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru, penggalan lagu himne guru karya Sartono ini menggambarkan bahwa guru sangatlah terpuji, penggalan selanjutnya adalah Sebagai prasasti terima kasihku Tuk pengabdianmu, betapa guru merupakan sosok pengabdi, pelukis kanvas bagi peserta didik generasi penerus bangsa. 

    Engkau bagai pelita dalam kegelapan, sosok guru termasuk honorer merupakan sosok pembawa cahaya berupa ilmu meskipun guru honorer tak sedikit yang berada dalam kegelapan gaji yang tak kunjung sesuai undang-undang guru yang menyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Betapa guru honorer harus rela di gaji alakadarnya. Jika upah buruh merujuk pada Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota (UMK) maka guru honorer tidak merujuk pada minimum upah manapun karena masih banyak guru honorer yang bergaji tigaratus ribu bahkan kurang dari itu, dan itupun masih juga terlambat dibayarkan, sungguh dalam kegelapan yang hakiki. Guru honorer adalah sosok yang wajib survive dengan berbagai keadaan yang tak menguntungkan itu berjuang menambah penghasilan, banyak guru honorer multi status dan multi peran demi keberlangsungan ekonomi.  Selain itu wajib berwajah bak artis papan atas, di panggung kelas mendidik dengan sepenuh hati meski kantong bolong dan dapur tak ngebul. 

    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, guru adalah mata air ilmu, penyejuk peserta didik, meski guru honorer kering mendapatkan hak promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja, lagi-lagi sesuai undang-undang guru dan dosen. Honorer juga haus dalam memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, memperoleh perlindungan dan berbagai kesempatan lainnya yang seringkali terpasung karena berstatus honorer. Tak sedikit guru honorer dengan kemampuan dana terbatas berupaya meningkatkan kompetensi diri dengan ikut berbagai pelatihan dengan kocek mandiri.

    Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa, pahlawan menurut kbbi adalah sosok orang yang berjuang, gagah berani dalam membela kebenaran, pahlawan asal kata phala dalam Bahasa sansekerta berarti buah, juga berarti orang yang mendapatkan pahala karena perjuangannya. Maka guru honorer adalah sosok pahlawan yang terkhianati keadaan, lone ranger juga lone wolf seolah berjuang sendiri, buahnya tak kunjung dirasakan sedangkan perjuangan sudah pada titik darah kepasrahan. Problematika guru honorer tak kunjung usai, berbagai kebijakan dilaksanakan, meski berusaha untuk menyelesaikan masalah namun masih jauh dari harapan. Uforia perbaikan nasib guru honorer sering digaungkan namun tak sekali tiga kali berujung pada kecewa hal ini biasa didapat jika suara honorer diperlukan jangka lima tahunan pergantian kepemimpinan baik daerah maupun pusat dilaksanakan. 

    Maka sudahkah guru honorer merdeka?, sedangkan gagasan kemerdekaan guru pribumi (honorer) sudah bertunas lebih dari seratus tahun namun bak pinang dibelah lima keadaan mirip tak jauh berbeda. Kebijakan pemerintah jangan setengah hati, Jangan sampai kemerdekaan guru honorer bagai pungguk merindukan bulan. 


Memaknai Kemerdekaan

 


Oleh

Sulistyowati

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang


Long Live My Indonesia For All Time, Freedom”

Tanpa terasa sudah bulan Agustus, tinggal menghitung hari lagi tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang akan diperingati oleh seluruh Rakyat Indonesia, tapi suasana persiapannya sudah terasa. Ada beragam kegiatan yang dilakukan untuk menyongsong Hari Kemerdekaan Indonesia ini. Ada kegiatan diskon selama bulan agustus, ada juga perlombaan -- perlombaan yang dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia dan itu semua dilakukan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Tentunya yang tidak kalah sibuknya adalah para penjahit yang memproduksi bendera Merah Putih dalam berbagai ukuran di banjiri pesanan dan sekaligus merupakan hujan rejeki bagi mereka.  Pagar -- pagar mulai ditata dan dicat dengan rapi dan dihiasi dengan berbagai umbul -- umbul, di kampung - kampung, pohon - pohon pinang sudah mulai ditebang dan dipersiapkan untuk dijadikan ajang lomba panjat pohon pinang berhadiah. Kantor-kantor juga mulai mempersiapkan kendaraan hias untuk melakukan pawai untuk menyambut perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sebelum pandemi covid. Para pejabat diberbagai sektor, sudah mulai berlatih diri untuk berpidato dalam acara menaikkan bendara Sang Saka Merah Putih pada tanggal 17 Agustus. Pokoknya ramai dan meriah.…! Tentu saja hal ini sangat positif, karena mencerminkan bahwa bangsa Indonesia, menghargai dan peduli akan hari yang bahagia ini.

Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan Indonesia yang dideklarasikan pada tahun 1945 lampau. Dalam sejarahnya, kemerdekaan itu dicapai sebagai bentuk kemenangan dari segala penindasan yang dilakukan penjajah sehingga merdeka yang dilandasi dengan cita-cita berdaulat, damai, bersatu dan sejahtera. Kemerdekaan merupakan puncak segala perjuangan bangsa Indonesia.   Setiap memasuki bulan Agustus, selalu diiringi dengan penyambutan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang bertepatan pada tanggal 17. Semarak menyambutnya telah terlihat dari jauh-jauh hari. Itu dapat terlihat dengan adanya spanduk, bendera, umbul-umbul, dan baliho-baliho yang bertuliskan “Dirgahayu 

Kemerdekaan” menghiasi jalanan dan sudut-sudut kota maupun desa. 

Namun, dalam kesemarakannya, terdepat beberapa pertanyaan yang terbesit dalam benak kita, apakah arti kemerdekaan itu? Bagaimana seharusnya kita menyikapi makna kemerdekaan yang sebenarnya? 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi merdeka berarti bebas. Kemerdekaan artinya kebebasan. Sedangkan secara terminologi, merdeka dapat diartikan dengan bebas dari segala penjajah dan penjajahan.

Kemerdekaan juga dapat dimaknai sebagai keadaan rohani yang tidak terpaut oleh segala sesuatu yang berkenaan dengan rasa tertindas, yang menindih, sehingga dapat mempengaruhi jiwa, pikiran dan perilaku seseorang. Dilain sisi, kemerdekaan diartikan dengan keadaan hati yang tentram.

Menurut Islam, manusia adalah mahluk yang bebas/merdeka sejak ia dilahirkan. Dalam lain paradigma, manusia adalah mahluk merdeka ketika ia berhadapan dengan sesamanya. Karena manusia diciptkan oleh Alloh SWT maka manusia akan menjadi hamba ketika ia berhadapan dengan Tuhannya. Dengan begitu dapat dipahami bahwa, manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi budak orang lain. Perbudakan antar manusia sama artinya dengan melanggar hak Tuhan

Kemerdekaan manusia dalam Islam sudah diperoleh semenjak ia dilahirkan dari rahim seorang ibu. Maka dari itu tidak dibenarkan seseorang memperbudak sesamanya atas dasar kekuasaan apapun. Pendapat inipun diimplementasikan oleh para Nabi utusan Allah melalui perintah-perintahnya kepada manusia untuk membebaskan sistim perbudakan dengan berbagai cara.

Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa Islam memandang kemerdekaan tidak dari satu sisi saja, melainkan dari beberapa sisi yang mencangkup lahiriyah maupun batiniyah. Sehingga makna kemerdekaan yang sesungguhnya ialah ketika seseorang mampu berada dalam fitrahnya (Islam dan tauhid). Maka dari itu, setiap individu seoserang muslim kiranya dapat memaknai arti kemerdekaan sebagai bentuk melepaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan kesyirikan. Lalu, perlu dipahami juga adalah kemerdekaan seorang muslim ketika terbebasnya hamba dari segala dinamika kehidupan yang tidak berlandaskan atas aturan yang sudah ditentukan oleh Islam.

Islam juga memandang kemerdekaan dengan tunduk atas kuasa Tuhan dan melepaskan diri dari jeratan nafsu. Seorang hamba dapat menemukan arti kemerdekaan yang sebenarnya, jika ia mampu terbebas dari semua belenggu yang berasal dari godaan setan dan hawa nafsu, dan mengembalikan segala sesuatu kembali kepada aturan Allah.  Orang yang terjerat oleh nafsu dipastikan sudah menyimpang dari jalan yang telah diberikan oleh Allah, karena ia sudah menjadi budak nafsu. Maka dari itu, memerdekakan diri sendiri dari belenggu nafsu merupakan kemenangan dan kebebasan terbesar. 

Sedangkan makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, bahwa kita harus bebas dari segala macam bentuk penindasan dan penguasaan asing. yang berarti bahwa bangsa Indonesia bebas untuk menentukan nasibnya sendiri, berdaulat dan bertanggung jawab.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah suatu hadiah dari bangsa lain, namun merupakan hasil perjuangan rakyat Indonesia yang rela berkorban dengan satu tujuan yaitu Kemerdekaan. 

Namun, proklamasi kemerdekaan itu bukan akhir dari perjuangan kita bagi bangsa ini. Masih banyak yang perlu dilakukan agar Indonesia dapat makmur pada segala aspek. Proklamasi dan kemerdekaan yang telah terwujud semestinya mendorong kita dalam mencapai kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur sesuai Pancasila. Namun, sebenarnya apa saja arti atau makna dari kemerdekaan bagi bangsa Indonesia itu?

Berikut penjelasannya, seperti dirangkum dari IDN Times, Selasa (2/6/2020), lima makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia

1. Bukan Akhir Perjuangan

Perjuangan panjang yang dilakukan para pahlwan bangsa selama kurang lebih 300 tahun untuk memerdekakan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata.

Mereka rela meninggalkan keluarga dan mempertaruhkan nyawa dalam melawan penjajahan untuk mewujudkan kemerdekaan bagi nusantara. Namun, yang perlu kita ketahui, khususnya bagi generasi muda, adalah kita tidak dapat duduk santai di rumah tanpa melakukan hal apapun. Seperti dalam sejarah, banyak generasi muda yang membantu dalam melawan penjajahan, kita sebagai generasi muda saat ini juga harus terus berjuang demi terwujudnya kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur. Kita harus menjaga apa yang telah ditinggalkan oleh para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan. Perlu juga kita renungkan setiap saat, sebenarnya sudah seberapa besar energi yang telah kita berikan bagi bangsa ini.

2. Sebagai Pemersatu Bangsa

Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang telah diusahakan oleh pahlawan kita terdahulu, dapat dijadikan sebagi momen untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, orang-orang yang merasa memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi akan selalu berteriak 'Aku Indonesia!'.

Dengan hal itu dapat kita lihat bahwa kemerdekan bangsa ini dapat dijadikan sebagai momen pemersatu bangsa, yang dapat menyingkirkan perselisihan dan perbedaan untuk kepentingan NKRI. Dalam segala kepentingan negara, kita harus selalu dapat melupakan perbedaan dan pandangan yang kita miliki sehingga dapat bersama bahu-membahu memajukan bangsa ini. 

3. Menumbuhkan Rasa Saling Menghargai dan Menghormati

Kemerdekaan memiliki beberapa makna mendalam, satu di antaranya dapat menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati. Dengan kemerdekaan yang kita dapatkan, kita harus selalu menghargai jasa pahlawan yang telah berjuang meraih kemerdekaan dan menjaga negeri ini dengan jiwa nasionalisme yang tinggi. Makna dari menghargai dan menghormati juga dapat diartikan sebagai, tidak membeda-bedakan agama, ras, dan suku dalam bermasyarakat dan kehidupan sosial.

4. Bukti Bangsa Indonesia Memiliki Kekuatan dan Tidak Bisa Dipandang Remeh

Pada masa saat ini, masih banyak masyarakat yang pesimistis dan memandang remeh Indonesia dalam berkompetisi dengan negara lain dalam segala aspek. Mereka tidak percaya diri bahwa bangsa Indonesia dapat bersaing dalam banyak hal dengan negara lain. Hal itulah yang membuat negara ini terkadang sulit untuk berubah menjadi lebih baik. Namun yang perlu diketahui, dengan melihat kemerdekaan yang telah kita miliki dan mengusir para penjajah dari negara ini, dapat membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan dan tidak bisa dipandang remeh. Terlepas dari berbagai masalah yang terjadi pada bangsa ini, kita sebagai masyarakat Indonesia harus selalu optimistis dan terus berjuang untuk memajukan dan mengharumkan nama bangsa di dunia Internasional.

5. Menandakan Perjuangan yang Kita Lakukan Akan Lebih Berat

Banyak hal yang masih perlu kita perjuangkan dalam menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan cita-cita bangsa yang dapat memberikan kehidupan makmur dan adil bagi setiap warga. Di era saat ini juga banyak masyarakat yang lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bangsa. Hal semacam itu yang harus selalu kita hindari.

Kalau kita berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, tentu tidaklah lengkap bila tidak menyebut nama "Bung Karno" yang didampingi Bung Hatta, menjadi tokoh Proklamator. Bahkan Bung Karno mengatakan "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".  Sama sama kita saksikan, bahwa di zaman merdeka, orang tidak lagi berperang melawan penjajah, melainkan berperang melawan bangsa sendiri. Salah satu bukti yang tak terbantahkan adalah peristiwa Mei 1998. Yang tidak perlu diuraikan secara rinci, karena hanya akan membuat luka lama yang sudah mengering, berdarah darah kembali. Namun suka ataupun tidak suka, kejadian tersebut dan masih banyak kejadian-kejadian yang ada di negeri ini yang sama-sama kita lihat, saksikan dan rasakan, itu semua merupakan sepotong sejarah kelam bangsa Indonesia. Yang masih merupakan misteri abadi. Tapi sejarah tidak boleh dilupakan agar menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda, untuk tidak lagi terjadi dimasa yang akan datang. Agar generasi muda jangan sampai melupakan sejarah, karena sejarah dapat membangkitkan semangat juang generasi muda untuk berjuang demi mencapai kemerdekaan yang sebenarnya sesuai dengan harapan dan impian para pejuang bangsa Indonesia. 

Sebagai generasi muda maknailah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini dengan penuh penghayatan serta ingatlah banyak Jasa yang telah berkorban dimedan perang, berjuta nyawa melayang, karena itu isi kemerdekaan itu dengan hal -- hal yang membawa perubahan demi untuk generasi berikutnya. Hal tersebut menandakan, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Saat ini kita harus tetap berjuang melawan segala hal yang dapat menghambat bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju dan makmur. Berdaulat penuh dalam berbagai sektor serta menjadi bangsa tegak berdiri yang disegani oleh bangsa dan negara di dunia. 

Salam satu jiwa NKRI  satu nusa satu bangsa yaitu bangsa Indonesia, Merdeka!!!

 

 

 

 

                                      DAFTAR PUSTAKA 


M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Majalah. 2009  Al-Haromain . Surabaya: laziz Al-Haromain 

https://apple.co/3hXWJ0L

https://www.kompasiana.com/tag

https://www.bola.com/tag/indonesia