Minggu, 31 Januari 2021

Solidkan organisasi, MGMP IPS kota Depok adakan Rapat Kerja

Raker MGMP IPS Kota Depok di SMPN 22 Kota Depok 


Organisasi yang baik bukan hanya sekedar mampu melakukan banyak kegiatan dan menyedot perhatian kalayak umum. Namun yang tidak kalah penting adalah penguatan internal organisasi. Pengertian internal organisasi mencakup dua  hal yaitu : administrasi dan pengurus organisasi.

Beberapa ciri-ciri organisasi yang baik adalah tertatanya administrasi, berjalanannya tugas fungsi pengurus dan terjalinnya pola komunikasi yang lancar. Maka sebelum jauh melangkah dan melakukan banyak kegiatan, pada masa awal kepemimpinan Erik kurniawan di MGMP IPS kota Depok melakukan hal-hal yang bersifat penguatan internal organisasi.

Bertempat di SMPN 22 Depok, MGMP IPS kota Depok melakukan rapat kerja yang di hadiri para pengurus. Acara dilaksanakan pada kamis (18/1/2021) ini dibuka secara langsung oleh ibu Afrida selaku kepala SMPN 22 Depok.

"Saya atas nama pribadi dan institusi, merasa terhormat sekolah kami dijadikan tempat rapat kerja MGMP IPS kota Depok", pungkas perempuan yang juga menjadi ketua FKG IPS kota Depok tersebut.

Foto bersama pasca raker


Meskipun masih masa pandemik, acara dilaksanakan secara langsung (tatap muka) dengan  menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Menurut Nuraini yang bertindak sebagai ketua panitia rapat kerja : "rapat yang kita laksanakan hari ini membahas AD/ART, tugas dan fungsi bidang-bidang juga koordinator wilayah, serta membahas program kerja bulan januari-juni 2021", pungkasnya.

Rapat kerja ini selesai tepat sesuai jadwal acara yaitu pk 14.00 WIB. Dalam penutupan acara, ketua MGMP IPS kota Depok Erik Kurniawan memberikan kesan dan pesan kepada para pengurus yang hadir. Kesan yang di sampaikannya adalah ucapan terimakasih tidak terhingga kepada hadirin yang meluangkan waktu diantara kesibukannya. Sedangkan pesan yang disampaikannya yaitu bahwa rekan-rekan sebagai pengurus MGMP IPS kota Depok melalukan pekerjaan yang mulia. Apa yang dilakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk kebaikan orang lain. Semoga kebersamaan ini menjadi berkah untuk kita dan bermanfaat untuk sesama.


Kontribor : Gus Er

Kamis, 28 Januari 2021

“Kampanye Rokok” Terselubung Pada Anak Saat Belajar di Rumah



Oleh :

Rizki Mega Saputra,S.Pd

Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan



Rokok tidak bisa terlepas dari lingkungan keluarga, sebagian masyarakat kita rokok sudah menjadi kebutuhan bahkan menjadi gaya hidup.

Masyarakat kita rokok bukan hanya menjadi gaya hidup akan tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya, seperti kita ketahui masyarakat kita sangat lekat sekali dengan sebuah kebudayaan yang terbentuk secara turun temurun. 


Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan tidak efektif karen tidak disosialisasi secara baik oleh para pelaku kebijakan dan masyarakat. Kasus seperti harusnya menjadi bahasan pokok terutama pada anak-anak usia dibawah 17 tahun. 

Usia ini akan lebih rentan mereka mendapat kampanye terselubung dari orang tuanya yang sebagai perokok aktif, apalagi keluarga inti mereka semua sebagai perokok, belum lagi lingkungan sekitar yang perokok meskipun tidak secara langsung mengajak untuk merokok tapi secara sugesti akan terbiasa dengan pemandangan ini. 

Mirisnya lagi iklan rokok semakin banyak di televisi kita sehingga menganggap ketika merokok itu menjadi kuat dan hero meskipun tidak ada aktivitas merokok pada iklan yang disampaikan. Terlebih lagi dalam kondisi pandemi saat ini, anak akan lebih banyak menghabiskan waktu digawai dan televisinya. 

Berbagai studi menunjukkan terpaan iklan, promosi dan sponsor rokok sejak usia dini meningkatkan persepsi positif dan keinginan untuk merokok. Studi Uhamka 2007 menunjukkan, 46,3% remaja mengaku iklan rokok mempengaruhi mereka untuk mulai merokok. Studi Surgeon General menyimpulkan iklan rokok mendorong perokok meningkatkan konsumsinya dan mendorong anak-anak untuk mencoba merokok serta menganggap rokok adalah hal yang wajar (Liputan6.com.09 Okt 2020)


Pengamatan yang selama ini pada masa pandemi terjadi, penulis melihat perubahan dari peserta didiknya. Pembelajaran dalam jaringan (daring) yang seharusnya dilakukan dirumah namun peserta didik ini beralasan mencari jaringan internet di wilayah sekolah. Tujuan baik memang dengan orang tua diperbolehkan akan tetapi yang terjadi sebaliknya anak merokok dengan santainya. Kejadian tersebut berulang-ulang dilakukan, setelah dipanggil orang tua ternyata memang sebagian dari mereka keluarga inti sebagai perokok aktif. Kesimpulannya bahwa anak berkeinginan merokok salah satu faktornya dalam keluarga.


Disadari atau tidak orang tua biasa menyuruh anaknya untuk membelikan sesuatu ke toko atau warung, begitu juga untuk orang tua atau keluarga yang menyuruh anaknya membeli rokok. Secara tidak langsung anak akan terbiasa dan berani membeli rokok sendiri. Peristiwa ini yang Penulis amati di lingkungan sekitar.

Secara bijak kita orang tua atau semua bekerjasama untuk membangun kebaikan, dibeberapa bungkus rokok tertulis hanya untuk usia 18 tahun keatas dan peringatan lainnya namun secara nyata tidak akan berlaku peringatan itu.


Pedagang atau penjual rokok juga tidak akan seleksi menjual karena pada intinya barang dagangan bisa terjual tanpa memikirkan siapa pembelinya. Fenomena ini harus menjadi pekerjaan bersama jika memang kita mau menekan tingkat perokok anak-anak di Indonesia.


Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) menyebut jumlah perokok anak usia 10-18 tahun terus meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% atau sekitar 3,2 juta data Riskesdas 2018 (Liputan6.com.09 Okt 2020). Peningkatan yang sangat luar biasa untuk anak-anak bangsa ini yang harusnya bisa peduli terhadap kesehatan mereka masing-masing.


Beberapa hal yang penulis ingin sampaikan kepada pemerintah berkaitan dengan rokok yang utama adalah adanya undang-undangan yang jelas bukan hanya sekedar peraturan pemerintah (PP) yang penulis rasa sangat tidak efektif. Tujuannya untuk menekan perokok diusia pelajar, sangsi jelas dan ada pelarangan khusus untuk merokok ditempat-tempat umum yang seharusnya kita bebas menghirup udara bersih tanpa asap rokok. 

Izin edar yang diberikan kepada masyarakat harus benar-benar dipatuhi sehingga masyarakat bisa dengan mudah mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh. Berkaitan dengan iklan, promosi dan sosialisasi diperbanyak.

Harapan kita semua bangsa ini bisa mendapatkan generasi yang hebat yang mengangkat negaranya sendiri bukan bangga menjadi bagian pembangun negara lain. 

(RMS-Socius03)

Rabu, 27 Januari 2021

Anggota Resmi FKGIPS Jabar Mendapat Pelatihan Menyusun Soal Model AKM

Socius Media. Bandung.(27/1). Bukan latah atau terbawa ramainya suasana tapi terdorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus sebagai respon positif pada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Sekira 160 guru IPS Jawa Barat berlatih menyusun soal model AKM dalam kegiatan bertajuk Pelatihan Menyusun Soal Model AKM. 

Kegiatan yang difasilitasi PW FKGIPS Jawa Barat ini dilaksanakan dengan pola virtual meeting memanfaatkan aplikasi Zoom meeting dan kerja mandiri dari 21 sampai 27 Januari 2021.  Dalam kegiatan virtual meeting hari pertama peserta mendapat pembekalan berupa paparan konsep AKM, teknis pelaksanaan AKM, Asesmen literasi membaca dan asesmen numerasi oleh Jajang, M.Pd., Sedangkan pada sesi kedua Sulistyowati, M.Pd. sebagai nara sumber membekali peserta tentang teknik menyusun soal model AKM. Kegiatan hari berikutnya peserta harus melaksanakan kerja mandiri untuk membuat contoh soal literasi dan numerasi. Pada kegiatan terakhir 27 Januari 2021 dilakukan pembahasan atas soal yang sudah dibuat pada sesi kerja mandiri.

Antusiasme peserta pada kegiatan yang hanya diikuti oleh anggota resmi FKGIPS Jabar ini termasuk luar biasa. Dari kegiatan hari pertama, kerja mandiri sampai penutupan sebagian besar peserta masih bertahan secara aktif.

Menurut Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd. kegiatan ini memang hanya dapat diikuti oleh anggota yang sudah resmi bergabung bersama FKGIPS Nasional. "Kami mencoba memberikan pelayanan khusus kepada lebih dari 450 rekan-rekan guru IPS di Jawa Barat yang telah menjadi anggota resmi FKGIPS Nasional. Prasyarat anggota resmi ini tentunya harus sudah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) atau minimal sudah memiliki Nomor Pokok Anggota (NPA) kalau KTA nya belum jadi. Kegiatan berupa layanan khusus ini akan terus diberikan untuk waktu-waktu ke depan." jelas ketua PW FKGIPS Jabar ini. 

Pria yang sehari-hari berdinas di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut ini juga menyampaikan bahwa pada bulan Februari akan kembali ada pelatihan atau kegiatan, baik untuk anggota resmi maupun guru-guru IPS secara umum. "Ini semua untuk menunjukkan eksistensi dan komitmen FKGIPS Nasional, khususnya PW FKGIPS Jabar dalam meningkatkan kompetensi guru-guru IPS", tutur Enang. ( Socius 01)

Seru dan Happy di Game Edukasi

Mr. Opick bersama karya inovasinya


Senin, 26/1/2021 tepat pukul 18.10 WIB pesan masuk di grub WA Forum MGMP IPS Kota Depok. Pesan berasal dari Mister Opik demikian biasa teman-teman sejawatnya memanggil Taufiq Ibrahim, salah satu guru IPS yang telah beberapa kali menyabet penghargaan inobel (inovasi pembelajaran) tingkat nasional. 

Pria yang sehari-hari mengajar di SMPN 14 Depok itu sering membuat suasana "ger-geran" (baca : seru) grub WA. Isi pesan tersebut adalah ajakan kepada anggota grub WA Forum MGMP IPS Kota Depok untuk mengikuti uji coba game pembelajaran. "Game Edukasi Online ini saya beri nama Game Indikasi yang merupakan kepanjangan dari Indonesia di Masa Kemerdekaan sampai Masa Reformasi, pada materi IPS Kls 9 Semester Genap bab 4", terang Taufik Ibrahim. 

Syarat peserta yang ingin mengikuti game tersebut antara lain: 1. Siapkan Smartphone Masing2 2. (Jika sempat) Siapkan Materi IPS "Indonesia di Masa Kemerdekaan sampai Masa Reformasi" 3. Membuka link yang disediakan di grup WA 4. Maksimal peserta 50 Orang (Siswa) 5. Durasi Waktu game ditentukan 60 menit Game edukasi yang dimulai Pk 20.00 WIB tersebut membuat grub WA Forum MGMP IPS kota Depok semakin rame. 

Suasana kompetensi terasa semakin seru ketika Mister opik menjanjikan doorpres untuk 3 orang yang memiliki scor terbaik. Doorprize tersebut antara lain : Juara 1, mendapatkan hadiah buku antologi karya opikibra30 dkk berjudul "Meraih Hidayah Alloh di Masa SMA". Juara 2 mendapatkan Cemilan Opak Opik 2 Bungkus. dan Juara 3 mendapatkan camilan Opak Opik 1 bungkus. 3 (tiga) peserta yang beruntung dengan nilai terbaik yaitu : juara 1 atas nama Bibit Wiyana, juara 2 atas nama Rianti Septiana Dan terakhir juara 3 atas nama Rofiah Rosyid. "Bukan masalah hadiah atau juara. Tapi saya mau share ide aja", pungkas Taufik Ibrahim merendah. 
Skor akhir game edukasi IPS Depok


Dihubungi secara terpisahkan, Evi Jaya selaku Humas dan kerjasama MGMP IPS kota Depok menerangkan :"Saya mewakili ketua MGMP IPS dan teman-teman guru IPS kota Depok mengucapkan terimakasih kepada pak Taufik Ibrahim. Kita tunggu lagi inovasi-inovasi pembelajaran dari pak Taufik dan juga rekan-rekan guru IPS lainnya". 

 Kontribor : Gus Er

Senin, 25 Januari 2021

Sinergi MGMP IPS dengan FKG IPS Kota Depok

 

Ketua MGMP IPS Kota Depok saat berkunjung ke kantor Ketua Pengda FKGIPS Kota Depok beberapa hari yang lalu.

Sejak diberikan mandat menjadi ketua MGMP IPS kota Depok, Erik Kurniawan Gercep (gerak cepat) ke beberapa stakeholders yang terkait untuk menjalin komunikasi dan kerjasama. Kamis, 21/1/201 21 ketua MGMP IPS melakukan pertemuan dengan ketua FKG IPS (Forum Komunikasi Guru Ilmu Pengetahuan Sosial) kota Depok ibu Afrida.

Di dampingi Bidang Humas dan kerjasama  ibu Afriza Dewi, pertemuan berlangung dengan penuh keakraban dan sesekali diselilingi canda.

"Saya senang sekali dengan pertemuan ini. Besar harapan saya kepada ketua MGMP IPS kota Depok untuk sinergi kegiatan dengan FKG IPS kota Depok", terang ibu Afrida yang juga menjabat sebagai kepala SMPN 22 Depok.

Ketua Pengda FKGIPS Kota Depok menyambut hangat keinginan ketua MGMP IPS Kota Depok untuk bersinergi membangun kompetensi guru IPS Kota Depok.

Sosok Erik Kurniawan dimata ibu Afrida bukan seperti orang lain, tapi lebih seperti anaknya sendiri. Hubungan yang harmonis secara pribadi, diberharapkan akan memiliki pengaruh pada hubungan MGMP IPS kota Depok dengan FKG IPS kota Depok. 

Pada kesempatan pertemuan tersebut, di sepakati terkait beberapa hal seperti:

- pola komunikasi, terkait dengan kedinasan dengan pemerintah merupakan ranah MGMP IPS kota Depok. Sedang pada tataran jejaring forum guru IPS tingkat provinsi dan nasional merupakan ranah FKG IPS kota Depok.

- Saling bekerja sama terkait program diklat (pendidikan dan pelatihan), penghimpuman dana sosial (seperti sumbangan untuk korban bencana) dll


Di tempat yang sama, Erik kurniawan menuturkan: "Sinergi MGMP IPS kota Depok dengan FKG IPS kota Depok merupakan keniscayaan. Kita sama-sama berjuang meningkatkan dan mengembangkan kompetensi guru-guru IPS".

hubungan yang sudah terjalin selama ini perlu ditingkatkan agar semakin erat, khususnya hal-hal yang bersifat teknis.


Di hubungi secara terpisahkan, bidang Humas dan kerjasama MGMP IPS kota Depok menjelaskan : "MGMP IPS dan FKG IPS itu organisasi saling beririsan. Anggotanya juga sama guru-guru IPS, maka perlu ada hubungan saling mengisi dan saling memberi manfaat". terang Afriza Dewi.


kontribor : Gus Er

Minggu, 24 Januari 2021

CATATAN KECIL PENGDA FKGIPS KABUPATEN BOGOR

oleh
Kiswan Nurbiantoro, M.Pd.

Pada kesempatan ini saya memberanikan diri untuk membuat catatan kecil. Ini semata karena termotivasi dari kegiatan “PELATIHAN MENULIS DAN AKM” yang diselenggarakan Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor pada Sabtu, 23 Januari 2021 secara virtual/zoom meeting.

Dalam pelatihan tersebut Kang Catur Nurrochman Octavian, M.Pd. sebagai nara sumber ke-1 menyampaikan materi tentang dasar dan teknik menulis. Ia mengungkapkan melalui motivasinya bahwa  MENULIS  ITU MUDAH, maka yang harus kita lakukan adalah 3M, tentunya bukan protokol kesehatan, tetapi menulis, menulis, dan menulis.

Kang Enang Cuhendi, S.Pd., M.M.Pd.sebagai nara sumber ke-2 menyampaikan materi  motivasi untuk menulis,  dengan judul besarnya MENULIS, YUK!  Dalam sesi tersebut ketua PW FKGIPS Jawa Barat ini selain memberikan motivasi secara lisan juga memberikan sebuah ilustrasi atau contoh tentang seorang penulis hebat, seperti  Nick Vujovic. Nick dengan segala keterbatasannya tidak memiliki tanpa kedua buah tangan dan kaki begitu gigih dan semangat untuk menghasilkan karya berupa buku yang luar biasa banyak. Dalam pandangan daya Nick sungguh keren..

Sesuai judul, maka catatan yang akan saya kemukakan terkait dengan perjalanan FKGIPS Kabupaten Bogor. Sebuah catatan ringan bernuansa historis. Pertama, Pengurus Daerah FKGIPS Kabupaten Bogor dibentuk pada tahun 2017 dan dikukuhkan dengan menerima SK dari PW FKGIPS Jawa Barat bertempat di Bandung.

Pada Pebruari 2018 Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor mengalami restrukturisasi organisasi. Pada awalnya FKGIPS Kabupaten Bogor, di ketuai oleh bapak Drs. Totok Marwanto, M.Pd., sedangkan saya sebagai wakil ketua pada saat itu. Dikarenakan kesibukan beliau sebagai pengawas yang hebat, sering melakukan kunjungan ke daerah daerah di pelosok tanah air, seperti memberikan pelatihan, TOT dan lain lain, sehingga karena kesibukannya pada bulan tersebut saya, Kiswan Nurbiantoro, melalui rapat pengurus menggantikan beliau menjadi Ketua. Sedangkan beliau dalam kepengurusan yang baru menjadi pembina atau pengarah.

Dalam melaksanakan kegiatan Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor selalu bekerja sama dengan MGMP IPS Kabupaten Bogor. Ini dikarenakan  FKGiPS merupakan mitra yang strategis dari MGMP IPS. Hadirnya FKGIPS bukan merupakan pesaing MGMP IPS, tetapi sebagai mitra, sekaligus rumah besar kedua bagi guru-guru IPS. Untuk itulah dalam aktivitasnya bisa bersinergi dan saling mengisi guna mewadahi guru-guru hebat mata pelajaran IPS. 

Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan FKGIPS Kabupaten Bogor antara lain :

  1. Pelatihan membuat perangkat soal USBN tahun 2018.

  2. Pelatihan penggunaan IT dalam pembelajaran tahun 2018.

  3. Terciptanya kegiatan yang selaras dan harmonis dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran /PKP tahun 2019.

  4. Pelatihan Menulis dan Assesmen Kompetensi Minimum bagi guru guru hebat di Kabupaten Bogor, khususnya guru IPS. Walaupun pelatihan ini sempat tertunda sebanyak dua kali, tetapi akhirnya bisa terlaksana.

  • Pertama,  pelaksanaan pelatihan secara tatap muka direncanakan akan dilaksanakan pada Nopember 2019, dikarenakan disibukkan oleh kegiatan PKP, karena banyak guru guru hebat yang menjadi guru inti dan guru sasaran, sehingga pelaksanaannya ditunda

  • Kedua, direncanakan akan dilaksanakan secara tatap muka pada 21 Maret 2020. Padahal panitia sudah mempersiapkan sedemikian rupa, dari tempat kegiatan, spanduk, ATK, undangan  dan sertifikat sudah di cetak dan ditandangani tinggal menunggu tanda tangan Kepala Dinas. Ternyata menjelang pelaksanaan terbitlah  surat edaran dari Pemerintah Daerah/Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, yang melarang semua kegiatan seperti; seminar, workshop,simposium, pelatihan pelatihan atau sejenisnya yang melibatkan   orang banyak untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid 19. Sempat kesal juga sih dengan keadaan tersebut, tetapi Allah SWT berkehendak untuk yang terbaik.

  • Ketiga, Alhamdulillah pada Sabtu, 23 Januari 2021 dapat terlaksana kegiatan Pelatihan Menulis dan AKM tersebut, walaupun dilkasanakan secara virtual atau zoom meeting.Dengan terlaksananya kegiatan pelatihan tersebut, kami selaku ketua Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor dan seluruh panitia serta  guru guru hebat di Kabupaten Bogor, bahkan ada ibu Surya Ira dari Riau yang ikut serta dalam kegiatan ini, mengucapkan terimakasih yang setinggi tingginya kepada;

1) Kang Enang Cuhendi, M.M.Pd. selaku ketua PW FKGIPS Jawa Barat, yang telah memfasilitasi kegiatan zoom meeting tersebut, dikarenakan PW sudah memiliki akun zoom room yang bisa dipakai untuk kepentingan bersama. Dan terimakasih pula kepada beliau yang telah berkenan menjadi nara sumber dan berdiskusi dengan guru guru hebat di Kabupaten Bogor

2) Kang Catur Nurrochman Octavian, M.Pd. dengan kondisi kesehatan yang sedang kurang fit dikarenakan sedang melakukan isolasi mandiri, tetapi dengan semangat yang tinggi beliau siap menjadi nara sumber guna berdiskusi dengan guru guru hebat.

3) Ketua Forum MGMP IPS Kabupaten Bogor, ibu Hj.Neneng Solihat, M.M.Pd. dan teman teman ketua MGMP IPS di 5 wilayah, yang telah membantu kami, baik materi maupun non materi sehingga pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

4) Teman teman, sahabat dan guru guru hebat Kabupaten Bogor yang berkenan menjadi peserta dalam  pelatihan tersebut.


Akhirnya dengan terlaksananya kegiatan pelatihan tersebut, kami  memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang kita rencanakan dengan kematangan berfikir dan meminta pendapat atau masukan  dari berbagai pihak, maka akan dapat terlaksana dengan baik. Repetitions is the mother of skills. Pengulangan adalah merupakan ibu dari kemahiran. Untuk menJadi orang yang mahir harus dilakukan secara berulang ulang.  


Sebagai penutup, sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada guru guru hebat, handai taulan, ataupun semua pihak yang berkenan untuk membaca catatan kecil ini.


Tim sukses dibalik kegiatan FKGIPS Kab. Bogor


COMING SOON “ BAGAIMANA MENGGUNAKAN  IT DI ERA KINI UNTUK MENJADI GURU HEBAT “



KISWAN NURBIANTORO, M.Pd.

Kiswannurbiantorog



c@gmail.com

KETUA PENGDA FKGIPS KABUPATEN BOGOR


Sabtu, 23 Januari 2021

Menulis Itu Mudah

 

Sebagian peserta di layar Pelatihan Menulis dan AKM FKGIPS Kab. Bogor (23/1)

Sociusmedia. Depok (23/1). "Menulis itu mudah." Itulah kalimat yang meluncur dari Catur Nurochman Oktavian mengawali sesi awal Pelatihan Menulis dan AKM melalui zoom meeting hari ini. 

Lebih lanjut Kang Catur, demikian narasumber ini biasa disapa, menyampaikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menulis. Menulis merupakan suatu keterampilan yang tidak membutuhkan bakat khusus, tetapi memerlukan proses latihan yang berkelanjutan. 

"Lebih baik membuat tulisan yang buruk sehingga dapat diperbaiki, daripada tidak menghasilkan sebuah tulisan." tandas  redaktur pelaksana majalah Suaraguru  PGRI ini. 

Pada kegiatan yang digagas Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor ini selain Catur juga hadir pemateri lain. Enang Cuhendi menjadi pemateri kedua. 

Pada kesempatan yang diikuti 93 guru IPS Kabupaten Bogor dari 145 pendaftar ini Enang yang juga Ketua PW FKIPS PGRI Jawa Barat mengajak peserta untuk berani mulai menulis.

"Menulis, yuk!'' demikian ajakan narasumber yang juga koordinator Socius Writer Club ini. Menurut Enang kalau ingin bisa menulis peserta harus berani membuang semua alasan dan mulai menulis dari sekarang. "Sehebat apapun trainer pelatihan menulis itu tidak ada artinya kalau peserta tidak mau mencoba untuk mulai menulis. Mulailah untuk menulis!" ujarnya.

Selain memberikan motivasi untuk menulis, sesuai permintaan panitia Enang Cuhendi juga sekilas mengenalkan tentang Assesmen Nasional (AN). Menurutnya AN tidak perlu ditakuti karena tidak menentukan kelulusan, justru harus direspon secara positif agar titik lemah satuan pendidikan bisa terpotret dan jadi modal perbaikan pasca AN sehingga melahirkan mutu pendidikan yang lebih baik.

Kiswan Nurbiantoro, M.Pd., Ketua Pengda FKGIPS Kab. Bogor


Pelatihan Menulis dan AKM ini selain untuk menguatkan jalinan kebersamaan di antara guru-guru IPS di Kabupaten Bogor, menurut Kiswan Nurbiantoro selaku ketua panitia juga  untuk meningkatkan pemahaman akan kompetensi menulis. 

"Melalui pelatihan ini diharapkan akan memunculkan lebih banyak lagi karya-karya yang inovatif." tutur Kiswan yang juga ketua Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor menutup pembicaraan dengan Socius., (Socius 01) 


Pisah Sambut Ketua, MGMP IPS Kota Depok adakan Seminar PTK

Seminar PTK MGMP IPS Kota Depok

Sociusmedia. Depok (23/1) Sebagai organisasi profesi yang dinamis, perubahan pengurus MGMP IPS Kota Depok merupakan sesuatu yang lumrah. Lolosnya Hj. Afifah menjadi penilik, yang notabennya adalah ketua MGMP IPS Kota Depok membuat kekosongan posisi Ketua. Maka pada Senin, 18/1/2021 MGMP IPS Kota Depok mengadakan pengukuhan Ketua baru.

Berbeda pada umumnya acara pisah sambut pergantian pimpinan. MGMP IPS kota Depok juga sekalian mengadakan seminar PTK sebagai bentuk pengembangan kompetensi guru-guru dalam berorganisasi.

Acara dibuka oleh Bapak Yusuf selaku Kasi kurikulum. Pada sambutannya, Bapak yusuf menyampaikan 2 hal terkait kebijakan Dinas pendidikan kota Depok.

"Sebagai wujud kesiapan pembelajaran BDR, dinas pendidikan Kota Depok me-launcing YouTube channel untuk sumber pembelajaran daring" terang Bapak yusuf dalam acara zoom meeting tersebut.

Selain itu, dinas Pendidikan Kota Depok bekerjasama dengan Dinas Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok membuat Ruang Konsul. “Sebenarnya di sekolah-sekolah sudah ada Klinik Belajar yang ditangani oleh guru Bimbingan Konseling dan juga guru mata pelajaran tertentu. Tetapi, ini dibuat lebih luas lagi dengan nama Ruang Konsul,” tuturnya

Acara dilanjut dengan seminar Penelitian Tindakan Kelas (PTK)  yang disampaikan oleh 4 (empat) orang guru mata pelajaran IPS. Ke-4 guru tersebut yaitu : pertama, Ibu  Poppy Zulhana, M.Pd dari SMPN 19 Depok. Ke-dua, Dra. Sri Subekti M.Pd dari  SMPN 26 Depok. Ke-tiga, Martini M.Pd dari SMPN 9 Depok. Dan ke-empat, Suhandini, MM dari SMPN 9 Depok.

Nur Dewi Afifah, Ketua MGMP IPS Kota Depok yang lama

Setelah seminar  berakhir, acara dilanjutakan dengan pisah sambut ketua lama ke Ketua yang baru. Hj. Afifah selaku ketua demisioner menyampaikan : "saya mohon maaf jika selama menjabat ketua ada salah dan khilaf. Do'akan saya, semoga lancar dalam mengemban tugas sebagai penilik".

Setelah sambutan dari Hj. Afifah, ketua MGMP IPS yang baru Erik Kurniawan di daulat untuk memberikan sambutan perdananya.

"saya sampaikan selamat kepada Hj. Afifah dan sukses di tempat yang baru." terang pria yang biasa di panggil Gus Er tersebut.

Selanjutnya, harapan ketua yang baru adalah adanya soliditas dan sinergitas antar pengurus dan anggota sehingga MGMP IPS kota Depok semakin berjaya. 

Erik Kurniawan, Ketua MGMP IPS Kota Depok yang baru.

"Kita dalam berorganisasi harus mampu menumbuhkan semangat memperbaiki diri sehingga bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain khususnya untuk murid-murid yang kita didik", pungkas Erik Kurniawan.

Acara diakhiri dengan do'a yang dipimpin oleh Hj. Afifah dan ditutup tepat pk 15.00 WIB

Penulis : Erik Kurniawan

Kamis, 21 Januari 2021

FKGIPS NASIONAL PEDULI BENCANA

 

Penyerahan donasi untuk korban bencana longsor di Cimanggung, Sumedang, Jabar
oleh Ketua PW FKGIPS Jabar (21/1)

 
Sociusmedia. Bandung (21/1). Nusantara sedang berduka. Aneka bencana terjadi di berbagai tempat di tanah air. Longsor, banjir, gempa, gunung meletus berturut-turut terjadi. Korban banyak berjatuhan. Harta yang hancur pun tidak terhitung. Tangis pilu dan rasa sedih korban menggugah nurani sesama anak bangsa.

Merespon terjadinya bencana ini dan sebagai bentuk empati kemanusiaan, FKGIPS Nasional selama seminggu ini menggalang donasi untuk korban bencana. Setidaknya untuk saat ini ada beberapa titik bencana yang direspon. Gempa di Majene-Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, Banjir di Kalimantan Selatan, Longsor di Cimanggung, Sumedang Jawa Barat dan Banjir di Kawasan Gunung Mas, Puncak Kabupaten Bogor, Jawa Barat merupakan titik-titik bencana yang menjadi fokus perhatian.

Donasi untuk Majene dan Kalsel dilakukan secara nasional masing-masing dikoordinir oleh Pengurus Wilayah FKGIPS Sulawesi Selatan untuk bencana gempa Majene dan FKGIPS Kalimantan Selatan bekerjasama dengan MGMP IPS Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan menggalang donasi untuk banjir di Kalsel.

Khusus untuk bencana di Jabar penggalangan donasi hanya dilakukan secara lokal di wilayah Jabar saja. Pelaksanaan penggalangan dana untuk bencana longsor Cimanggung yang menewaskan 45 orang dikoordinir oleh PW FKGIPS Jabar. Sedangkan untuk banjir di Gunung Mas titik koordinasi ada di Pengda FKGIPS Kabupaten Bogor.

Donasi untuk bencana Cimanggung sudah diserahkan langsung oleh Ketua PW FKGIPS Jawa Barat, Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd. didampingi oleh beberapa pengurus wilayah dan daerah pada Kamis ini (21/1). Penyerahan donasi dilakukan bekerjasama dengan Relawan Kemanusian Aksi Cepat Tanggap (ACT) Foundation yang sudah memiliki cabang tersebar di 30 provinsi dan 100 kabupaten/kota di Indonesia.

Penyerahan piagam kemanusiaan dari ACT untuk FKGIPS Jawa Barat

"Upaya yang kami lakukan hanya sebuah langkah kecil. Donasi yang diberikan juga nilainya tidak seberapa. Walau begitu semoga semua ini bernilai guna untuk sedikit meringankan penderitaan sesama dan menjadi wujud solidaritas kemanusiaan. In sya Allah, FKGIPS Nasional akan selalu responsif terhadap bencana yang terjadi di sekitar kita." papar Enang Cuhendi kepada Socius Media.

Pada kesempatan tersebut juga tercapai kesepakatan antara PW FKGIPS Jawa Barat dengan ACT Foundation untuk bekerjasama melakukan penggalangan donasi bencana secara bersama dan melakukan kegiatan edukasi kebencanaan untuk guru-guru IPS di Jawa Barat. (Socius 01).


Minggu, 17 Januari 2021

Memaknai Arti Kehilangan

                            

Oleh
Sulistyowati
SMPN 1 Pujon– Kab. Malang 

"Losing Is The Best Way To Learn  Sincerity Without Limits”

Begitu uniknya hidup ini, ada yang datang ada yang menghilang. Setiap peristiwa adalah suatu kenangan yang senantiasa mewarnai setiap langkah. Tempat setiap orang memutar kembali ingatan masa lalunya, baik atau burunya, gagal atau sukses, biasa atau istimewa. Tempat kita menyimpan kisi-kisi catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kehidupan kita hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan. Tempat kita memutar ingatan, dengan segenap rasa dan emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup selama ini. 

Setiap kali kenangan yang lalu terekam berputar kembali, berjuta rasa berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, lara, luka, bahagia, atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Kenyataan ini menjelaskan salah satu catatan  penting, bahawa garis-garis kehidupan ternyata tidak selalu datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja seseorang berubah menjadi sosok yang lain dari kemarin kemarin. Dengan kata lain  kemarin bertabur permata, ternyata esok hari berlinang air mata. 

       Kehilangan merupakan bagian dari fitrah manusia yang bisa membuat perubahan dalam kehidupan kita. Arti kehilangan bisa berupa kesedihan dan penderitaan atau tempaan atas kualitas ketabahan dan kesiapan diri. Rasa kehilangan merupakan bagian dari rasa memiliki karena adanya keterikatan atas sesuatu atau seseorang. Kehilangan menunjukkan rasa yang tidak sepenuhnya utuh, merasa kurang tanpa hadirnya sesuatu atau seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bersentuhan dengan rasa kehilangan. Kehilangan akan benda, jiwa, perasaan, harga diri dan suasana, kehilangan sosok seseorang, kehilangan kesempatan atau peluang bahkan takut kehilangan.

Kehilangan pernah dialami siapa saja, terlepas dari perbedaan hal yang hilang, reaksi atas kehilangan, cara menyikapi, mengatasi dan mengartikan kehilangan, serta dampak yang ditimbulkannya. Kehilangan sebuah benda yang berharga bisa berarti petaka bagi sebagian orang, dan kehilangan sosok seseorang bisa berarti derita bagi kita. Di atas semua itu, kehilangan sesuatu atau seseorang bisa menyebabkan kehilangan harapan dan kesadaran akan conscience (suara hati), sehingga arti kehilangan bisa mengubah persepsi seseorang atas kehidupan. Tidak sedikit orang yang membentuk arti dan persepsi kehilangan sebagai penderitaan dan larut di dalamnya, menjadi kehilangan kepercayaan dan kebermaknaan hidup.  Mengapa kita merasa kehilangan?

Kehilangan tumbuh dalam benak dan perasaan kita karena adanya arti berikut ini, yang seringkali kita sadari setelah kehilangan itu terjadi.
Pertama, kita merasa kehilangan karena sesuatu atau seseorang yang hilang itu sangat berharga dan berarti untuk kita. Kita seringkali merasa terlambat menyadari atau bahkan baru menyadari betapa berharganya sesuatu dan betapa berartinya seseorang untuk kita setelah semua itu hilang, sehingga kita merasa kehilangan dan merasakan arti kehilangan sebagai adanya kekurangan, kekosongan, atau kehampaan tanpa kehadiran yang hilang tersebut.
Kedua, kita merasa kehilangan karena kita menyadari bahwa kita membutuhkan yang hilang itu. Intensitas kebersamaan dan kedekatan membuat kita terbiasa dan merasa biasa. Namun, ketika yang terbiasa dan biasa itu tak ada, kita merasa ada yang kurang dan hilang dari kebiasaan dan keterbiasaan itu. Ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan kehadirannya, keberadaannya, perannya, fungsinya dan kebermanfaatannya untuk kita, sehingga rasa membutuhkan itu bisa berkembang menjadi mengharapkan yang hilang.
Ketiga, kita merasa kehilangan karena kita merasa mencintai dan menyayangi yang hilang. Bagaimanapun berharganya sesuatu bagi orang lain, dan bagaimanapun berartinya seseorang bagi orang lain, tak akan membuat kita merasa kehilangan ketika kita tak mencintainya dan menyayanginya atau paling tidak ada empati yang bisa membuat kita merasa kehilangan. Kehilangan sahabat, teman, keluarga atau orang terkasih merupakan bentuk kehilangan karena cinta kita kepada mereka. Kedalaman rasa bisa mengukuhkan arti kehilangan dalam diri dan hati kita, sehingga kehilangan itu bisa berdampak tidak biasa dan luar biasa bagi hidup, hati serta jiwa seseorang.

Biasanya reaksi awal karena kehilangan ditunjukkan dengan bersedih, menangis, kesal, marah atau menyalahkan diri karena merasa menyia-nyiakan yang hilang tersebut. Reaksi ini bisa berlanjut hingga membuat kita larut, terbenam dan karam dalam rasa kehilangan itu. Bila ini reaksi kita, maka boleh jadi kita akan kehilangan kebermaknaan dan kepercayaan diri, hidup dan Pemilik Kehidupan. Ada pula orang yang mampu mengatasinya dengan menunjukkan reaksi yang wajar karena ia meyakini kekuatan Alloh SWT. Arti kehilangan bagi orang-orang seperti ini adalah ujian sekaligus perubahan dalam kehidupan, bukan kesedihan semata. Orang-orang seperti inilah yang dikategorikan sebagai pembelajar kehidupan, memiliki kemampuan untuk melihat dan memahami hikmah di balik masalah, melihat sisi kemudahan dalam kesulitan dan menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih hebat dan bermakna. Sungguh tidak mudah, namun bukan berati tidak bisa dilakukan, asal kita terus memompa semangat serta jiwa untuk terus berusaha dan pasrah pada Takdir serta kasih sayang Illahi. 

Ketika yang satu pergi, maka yang lain berdatangan. Terus seperti itu. Karena Allah SWT tak pernah membiarkan hamba-Nya sendiri. Jadi, jangan pernah merasa takut kehilangan sebab sesungguhnya kita memang tak pernah punya apa-apa. Allah SWT yang Maha Kaya, Maha Memiliki segala.

Sepasang suami-istri yang sudah diikat dengan Mitsaqan Ghaliza pun sebenarnya tak pernah saling memiliki. Karena Allah SWT bisa dengan mudah mengambilnya kembali kapan saja. “Why am I so afraid to lose you, when you’re not even mine?”- nah ada yang bisa kasih komentar tentang kalimat ini?

Intinya ketika kita menyadari bahwa segala yang Allah SWT berikan itu hanya sebuah amanah yang nantinya akan kembali lagi ke Pemiliknya, maka sebanyak dan seberat apapun yang hilang dari kita, kita tak akan mengutuki diri dan sedih berlarut-larut.

Sabar itu pahit, ikhlas itu pahit, perjuangan itu pahit, dan dunia ini memang penuh dengan kepahitan. Namun, sesungguhnya Allah SWT menciptakan surga dengan begitu manisnya. Selalu sertakan Allah SWT di setiap kedipan mata, di setiap dentuman detak jantung, di setiap hembusan nafas, dan di setiap langkah kaki. Semoga Allah SWT senantiasa Meridhoi dan Memampukan kita dalam segala urusan. Aamiin Allahuma Aamiin. 




 


                                        DAFTAR PUSTAKA 


M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Majalah. 2009  Al-Haromain . Surabaya: laziz Al-Haromain 

Suhardi. 2010. Cara Pintar Menyikapi kehilangan. -https://goo.gl/Ia9Enq

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati.2020.  Indahnya Berkarya Untuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara 


                                                   

Sabtu, 09 Januari 2021

MENGGUGAT KEBERADAAN TV SWASTA SAAT BELAJAR DARI RUMAH DI MASA PANDEMI COVID-19

 


Oleh:

Rizki Mega Saputra,S.Pd

Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan


Pandemi Covid-19 kurang lebih sudah memasuki bulan ke sepuluh mewabah di negara kita. Kondisi seperti ini sangat menyulitkan kita semua, apalagi perubahan-perubahan aturan yang terkadang belum melihat berbagai sisi untuk diterapkan kepada masyarakat banyak. Sisi yang penulis lihat dari segi pendidikan. 

Kondisi pendidikan kita juga tidak pasti dengan pandemi ini. Perubahan media pembelajaran dari konvensional ke metode daring membuat guru dan siswa mengalami kesulitan.

Kemdikbud sudah banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan hebat untuk mengatasi pendidikan yang sedang melanda negara saat pandemi seperti ini, meskipun tidak semua guru siap dengan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah secara mendadak. 

Salah satu kebijakan yang penulis rasa tepat yaitu pembelajaran melalui televisi nasional yang disiarkan oleh TVRI. TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang menayangkan edukasi secara terjadwal bagi para siswa di tengah kendala pembelajaran secara daring. Hanya saja, tayangan itu belum bisa diakses seluruh masyarakat.

Pemerintah berjuang keras untuk menayangkan pembelajaran dari rumah melalui televisi dengan berbagai materi yang disampaikan perjenjang meskipun masih perlu pengembangan untuk konten materi yang disampaikan dan dikemas dengan baik sehingga siswa yang mendapatkan akses sinyal bisa lebih senang mempelajarinya.

Pemerintah dengan begitu gencarnya memberikan pelayanan pembelajaran untuk mengatasi kesulitan pembelajaran saat pandemi, lalu bagaimana dengan televisi swasta kita? Apakah tidak mendapatkan keuntungan dari sisi ekonomi mereka.

Kritik yang penulis sampaikan adalah apakah permasalahan pendidikan kita ini hanya milik pemerintah saja, padahal yang kita tahu tidak semua masyarakat kita mendapatkan sinyal chanel TVRI di rumah masing-masing terlebih lagi daerah-daerah terdalam. Masyarakat hanya bisa menikmati program televisi yang berisi chanel gosip. Kondisi siswa berada dirumah akan lebih banyak didepan televisi maka sudah pasti semua yang ada dalam program televisi akan dikonsumsi siswa. Biasanya siswa akan banyak duduk depan televisi saat pagi hari. 

Bisa jadi televisi swasta memang tidak mendapatkan timbal balik yang secara dari sisi ekonomi pemasukan yang banyak dibandingkan program gosip dan lawakan apalagi program-program baru yang televisi swasta sangat banyak dengan program yang tidak memberikan pengetahuan dan wawasan Indonesia. Penulis amati hampir televisi swasta memilik program gosip, terlebih lagi sedang ramai perbincangan arti GA dan MYD terkait dengan video yang tersebar. Berita itu berulang kali disiarkan sehingga masyarakat kita akan tanpa disadari mengkonsumsi terus. 

Saran penulis pemerintah mulai menggandeng televisi swasta dengan tujuan membantu untuk pembelajaran siswa, karena ini merupakan tanggungjawab bersama bukan hanya pemerintah atau guru sebagai pendidik yang bertanggungjawab penuh dalam kondisi seperti ini.  

Harapan penulis ini dapat meringankan beban guru yang gagap teknologi dan tidak bisa membuat video pembelajaran yang kreatif. 

Semua berharapa pandemi ini segera berlalu, agar semua kita bisa berjalan seperti biasa normal kembali. 

Mari kita saling bergotong royong agar menjadi Indonesia hebat. 








Minggu, 03 Januari 2021

Perpisahan Yang Membahagiakan


Oleh Sulistyowati 

SMPN 1 PUJON – Kab. Malang 


Farewell Is a Rainbow Of life, Accept It Without Tears of Pain.”

Planet bumi yang kita huni penuh keunikan dan ragam lakon serta cerita yang tiada akhir. Silih berganti datang dalam kehidupan para penghuni di hamparan muka bumi ini. Ada yang datang ada yang undur diri dengan segala alasan maupun tujuan. Dua sisi keunikan dan saling berlawanan, diantaranya sedih – bahagia, tangis – tawa, gagal – sukses serta pertemuan  dan perpisahan. Perpisahan, rasanya banyak tidak sanggup menerimanya.  Kata orang perpisahan itu menyedihkan. Lebih lebih perpisahan dengan orang yang kita cintai. Tapi bagi orang yang tidak kita cintai atau kita suka, perpisahan itu adalah harapan yang diinginkan untuk segera terwujud. Artinya ada perpisahan yang sekaligus membahagiakan dan menyedihkan. Bingung kan? Ada perpisahan sementara, ada juga perpisahan selamanya.

Berbagai macam cara orang merayakan perpisahan. Ada yang mengadakan pesta, ada yang mengadakan acara ceremonial, ada  juga mengadakan acara makan maupun saling berbagi untuk momen yang akan menjadi kenangan dalam kehidupan. Perlu dimaknai dengan bijak setiap lakon yang terjadi dalam langkah-langkah kehidupan terutama perpisahan agar semuanya membawa makna keindahan.  Juga perlu ditinjau secara proporsional dalam berbagai kisi-kisi kehidupan. Karena semuanya tidak bisa kita tolak kehadirannya ataupun kita hadirkan dalam kehidupan kita. 

Ketika Rasulullah kehilangan putranya yang bernama Ibrahim, beliau menangis. Memang kehilangan seringkali meninggalkan rasa pedih dalam hati. Kehilangan acapkali menggumpalkan mendung serta duka kesedihan di ufuk hati dan kemudian melelehkan butiran-butiran air mata yang terus membasahi pipi. 

Tetapi, ternyata tidak setiap kehilangan selalu menghadirkan kesedihan dan kepedihan. Tidak setiap kepergian harus ditangisi dan mengoyak rajutan kebahagiaan dalam hati. Bahkan ada sesuatu yang bukan saja tidak usah ditangisi jika ia pergi, namun memang harus pergi dari kehidupan kita. Harus hilang  tanpa bekas dan tidak pernah kembali lagi, ibarat hanyut terbawa air yang tidak bisa dilihat jejaknya.  Apa itu?

Kemaksiatan,  dosa serta berbagai kotoran jiwa dan Qolbu.  Itulah sesuatu yang memang harus pergi dan kita usir dari hidup kita. Agar tidak kembali lagi untuk selamanya. Ucapkan selamat tinggal dan perpisahan abadi terhadap dosa. Cerminan dari do’a yang sering dibaca Nabi dalam do’a iftifah sholat, “Ya Allah jauhkanlah antara aku dan antara dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah sucikanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana disucikannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah cucilah aku dari dosa-dosaku dengan air, salju dan embun.”

Dosa sering kali dibalut oleh kesan kenikmatan. Kesan kesenangan. Walau sesaat. Bak fatamorgana dan air di lautan yang diminum tetapi tidak pernah mampu menghilangkan rasa haus. Hanya menambah rasa penasaran dan makin terasa haus. Dari itulah tidak banyak yang mampu mengangkat dirinya dari arus dosa karena kenikmatan dan  karena kesenangan itu. Orang yang telah kernbali, berarti harus kehilangan kenikmatan fatamorgana. Memang terkadang ada rasa kehilangan. Juga  ada rasa ingin kembali ketika berjumpa dengan teman masa lalu yang masih asyik berenang di keruhnya dosa. Padahal hanya waktu saja yang kita butuhkan serta tekad yang kuat. 

Untuk berpindah dari kenikmatan sesaat yang menyesatkan pada ke-nikmatan hakiki yang abadi. Dosa dan kotoran jiwa  harus hilang dari kita. Kita harus ikhlas kehilangan dosa dan kotoran jiwa. Kita harus bahagia karena telah mampu menyapih diri ini dari candu dosa. Walau berpisah dengan dosa dan kotoran jiwa bukan hal yang mudah. Kita sendiri mungkin telah merasakan tawaran manis dosa akan segala hal yang tampaknya nikmat. Dan kita pun telah banyak mengorbankan segalanya untuk dosa itu. Tetapi ternyata ia telah menjerumuskan kita dan siapa saja yang mendekatinya. Kemudian ia pergi meninggalkan kita dalam kesendirian menyesalinya. Sampai kita lupa akan peristiwa ini, dan dosa datang kembali membawa tawaran yang terkesan lebih manis. Mengapa ingatan kita begitu lemah akan hari-hari suram yang pernah kita lalui bersama dosa. 

Anak muda yang berurai air mata di suatu malam sambil berdo’a semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita. Mansur bin Ammar mengira hari telah pagi, dia pun keluar dan ternyata hari masih gelap. Di tengah keheningan malam dia mendengar rintihan do’a di sela isakan tangis anak muda yang tak pernah dikenalnya. “Tuhanku ketika aku bermasiat kepada-Mu aku tidak bermaksud mendurhakai-Mu. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa adzabnya sangat pedih. Ketika aku melakukan dosa bukannya aku tidak tahu bahwa aku tidak pernah bisa lepas dari penglihatan-Mu. Tetapi jika bukan Engkau siapakah yang akan menolongku. Kalau Engkau putus-kan tali ini siapakah yang akan sanggup menyambungnya kembali. Tuhanku, setiap usia-ku bertambah, bertambah pula dosa-dosaku. Setiap aku bertaubat setiap itu pula aku kernbali kepada dosa dan tidak malu kepada-Mu.”

Suara itu putus. Isakan terhenti. Mansur bin Ammar tidak mendengar apa-apa lagi. Hanya taawwudz yang keluar dari mulut Mansur. Esok harinya dia melihat ada jenazah di rumah itu dan seorang ibu tua yang menangis. “Ini anakku. Yang ketika malam telah larut dia selalu sholat di mihrobnya menangisi dosa-dosanya. Dia bekerja di siang hari dan selalu membagi hasilnya menjadi tiga. Sepertiga untukku, sepertiga untuk orang-orang miskin dan sepertiga lagi untuk dia berbuka puasa,” jelas ibu tua itu.

Malam itu telah menjadi saksi untuk sebuah ucapan selamat tinggal. Selamat tinggal dan selamat tinggal  yang diucapkan oleh anak muda kepada semua dosanya. Benar-benar dia telah meninggalkan dosa-dosanya. Bahkan meninggalkan dunia untuk selamanya menuju Tuhannya.

Kini kita harus lebih banyak menangis. Bukan untuk dosa yang akan meninggalkan kita. Tetapi mengapa kita tak sanggup mengucap selamat tinggal kepada dosa-dosa itu. Kehilangan dosa adalah anugerah. Kehilangan yang akan mendatangkan kebahagiaan. Itulah kisah perpisahan yang membahagiakan.

Agar Kita Bisa Tersenyum nanti serta bahagia atas perjuangan dan Rahmat Illahi. 

Kehilangan yang juga tidak perlu ditangisi adalah kehilangan sesuatu yang memang tidak mungkin kita cegah. Masa tua. Tidak satu pun yang sanggup menghentikan lajunya perputaran bumi. Agar usia tidak bergeser, semuanya pasti menuju kepada masa tua. Telah banyak yang hilang ketika kita sampai pada usia itu. Hari-hari masa muda yang penuh dengan dinamika telah lenyap. Tulang-tulang juga mulai rapuh. Terasa cepat lelah, penyakit datang silih berganti, rambut tidak hitam lagi. Yang pasti banyak yang tidak seperti dulu lagi dan mulai berkurang fungsi dan kenikmatannya.  “Tua dan kematian adalah penyakit yang tidak ada obatnya,” Sabda  Nabi SAW. Pergeseran hari menuju masa tua tidak perlu ditangisi, tidak perlu disesali, dan tidak perlu ditakuti. Karena semua perasaan itu hanya akan menambah tugas hati untuk menanggung beban dan masalah baru.

Jangan terlalu dipusingkan bagaimana meremajakan kulit. Tetapi sibukkan diri dengan aktifitas yang akan membuat kita tersenyum ketika masa tua tiba. Karena sinar aktifitas yang pangkalnya ada di usia muda memancar hingga usia tua. Suatu hari Jabir bin Zaid yang usianya sudah berkepala enam datang ke masjid dengan memakai sepasang sandal usang. Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Telah berlalu dari usiaku enam puluh tahun. Dua sandalku yang usang ini lebih aku cintai dari seluruh usiaku yang telah berlalu, kecuali hari-hariku yang aku hiasi dengan kebaikan.”

Karena hanya hari-hari bersama kebaikan itulah yang akan abadi. Sementara hari-hari lain yang dikotori dengan dosa tak akan meninggalkan kesan. Bahkan hanya menjadi beban. Orang seperti Jabir mungkin bisa banyak tersenyum karena hari-hari lalunya penuh dengan kebaikan. Tetapi kita, akankah bisa tersenyum ketika menengok kembali ke belakang. 

Berapa pun usia yang telah berlalu dari kita, tidak terlalu penting. Apa saja kenikmatan masa muda yang telah hilang juga tidak penting. Usaha maksimal agar kita bahagia dan tersenyum bangga di usia tua itulah yang jauh lebih penting. Rasanya kita perlu meniru do’a Ibnu Abi Lubabah setiap sore hari menjelang, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan siang dan mendatangkan malam sebagai ketenangan, nikmat dan keutamaan. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kenikmatan hari ini. Bisa jadi banyak dosa yang aku lakukan pada hari-hari usiaku yang telah lalu. Ya Allah ampunilah aku pada sisa usiaku dan jagalah aku dari api neraka.”

Masih ada lagi kehilangan yang tidak perlu kita tangisi. Apalagi kalau itu adalah ibarat harga yang harus kita bayar untuk kesuksesan. Mengorbankan salah satu pilihan hidup untuk fokus pada satu pilihan hidup yang prioritas. Bentangan pilihan hidup di hadapan kita begitu luas. Banyak yang bisa kita pilih. Tetapi tentu saja tidak semuanya bisa kita raih. Walau-pun keinginan terkadang lebih besar dari kemampuan diri. Mungkin kita ingin menggabungkan beberapa keahlian dalam hidup kita. Mungkin kita ingin menangani banyak pekerjaan dalam satu waktu. Mungkin kita berharap bisa membaca beberapa buku dalam kesempatan yang sempit. Sebenarnya tidak ada cacat dari keinginan besar itu. Tetapi yang harus diwaspadai adalah tidak terkonsentrasinya pemikiran dan usaha, sehingga tidak ada hasil maksimal. Apalagi kalau kemampuan diri terhitung pas-pasan. Bukankah lebih baik satu tapi istimewa dan berprestasi daripada banyak tapi tidak karuan hasilnya.

Berarti ada yang harus kita buang, harus ada yang kita pangkas dari keinginan yang menggebu itu. Imam Ibnu Madini rela kehilangan banyak ilmu. Tetapi beliau terfokus pada satu bidang ilmu. Awalnya, protes datang dari teman karibnya Yahya bin Said Al Qotton, “Jangan kau habiskan waktumu untuk mempelajari hadits. Karena kamu akan kehilangan banyak ilmu.” Ibnu Madini ulama yang memiliki prinsip hidup yang kokoh. Dia tetap pada jalur hadits saja. Memang dia akhirnya harus kehilangan banyak ilmu. Tetapi dia adalah lautan dan rujukan utama dalam masalah ilmu hadits, tiada tanding tiada banding. Sebagaimana kesaksian Sholeh bin Muhammad, “Aku tidak mengetahui orang yang lebih pakar di bidang hadits dan ilalnya kecuali Ibnu Madini.”

Begitulah, ternyata kehilangan dan perpisahan tidak semuanya menyimpulkan kesedihan dan tetesan air mata. Ada bagian hidup ini yang hilang dan ternyata itu adalah modal untuk kita tersenyum di kemudian hari.  Terpenting semuanya harus dimaknai secara bijak dengan  tuntunan  Agama agar tidak salah dan membawa bencana di kemudian hari. Di Era millenial ini banyak manusia melepaskan dan kehilangan pegangan hidup,  demi gengsi dan prestise duniawi semata. Gaya hidup boleh modern, tapi pegangan hidup harus tetap mengacu pada Agama. Tidak mudah semua itu, senantiasa  ikhtiar dan terus memohon kepada yang memiliki kehidupan yaitu Allah Azza Wajalla agar selamat dunia Akherat.  Wallahu’alam.-

 

DAFTAR PUSTAKA 

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Majalah. 2009  Al-Haromain . Surabaya: laziz Al-Haromain 

Suhardi. 2009. Cara Pintar Menghadapi Kegagalan. -https://goo.gl/Ia8ENq

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati.2020.  Indahnya Berkarya Untuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara