Kamis, 28 Januari 2021

“Kampanye Rokok” Terselubung Pada Anak Saat Belajar di Rumah



Oleh :

Rizki Mega Saputra,S.Pd

Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan



Rokok tidak bisa terlepas dari lingkungan keluarga, sebagian masyarakat kita rokok sudah menjadi kebutuhan bahkan menjadi gaya hidup.

Masyarakat kita rokok bukan hanya menjadi gaya hidup akan tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya, seperti kita ketahui masyarakat kita sangat lekat sekali dengan sebuah kebudayaan yang terbentuk secara turun temurun. 


Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan tidak efektif karen tidak disosialisasi secara baik oleh para pelaku kebijakan dan masyarakat. Kasus seperti harusnya menjadi bahasan pokok terutama pada anak-anak usia dibawah 17 tahun. 

Usia ini akan lebih rentan mereka mendapat kampanye terselubung dari orang tuanya yang sebagai perokok aktif, apalagi keluarga inti mereka semua sebagai perokok, belum lagi lingkungan sekitar yang perokok meskipun tidak secara langsung mengajak untuk merokok tapi secara sugesti akan terbiasa dengan pemandangan ini. 

Mirisnya lagi iklan rokok semakin banyak di televisi kita sehingga menganggap ketika merokok itu menjadi kuat dan hero meskipun tidak ada aktivitas merokok pada iklan yang disampaikan. Terlebih lagi dalam kondisi pandemi saat ini, anak akan lebih banyak menghabiskan waktu digawai dan televisinya. 

Berbagai studi menunjukkan terpaan iklan, promosi dan sponsor rokok sejak usia dini meningkatkan persepsi positif dan keinginan untuk merokok. Studi Uhamka 2007 menunjukkan, 46,3% remaja mengaku iklan rokok mempengaruhi mereka untuk mulai merokok. Studi Surgeon General menyimpulkan iklan rokok mendorong perokok meningkatkan konsumsinya dan mendorong anak-anak untuk mencoba merokok serta menganggap rokok adalah hal yang wajar (Liputan6.com.09 Okt 2020)


Pengamatan yang selama ini pada masa pandemi terjadi, penulis melihat perubahan dari peserta didiknya. Pembelajaran dalam jaringan (daring) yang seharusnya dilakukan dirumah namun peserta didik ini beralasan mencari jaringan internet di wilayah sekolah. Tujuan baik memang dengan orang tua diperbolehkan akan tetapi yang terjadi sebaliknya anak merokok dengan santainya. Kejadian tersebut berulang-ulang dilakukan, setelah dipanggil orang tua ternyata memang sebagian dari mereka keluarga inti sebagai perokok aktif. Kesimpulannya bahwa anak berkeinginan merokok salah satu faktornya dalam keluarga.


Disadari atau tidak orang tua biasa menyuruh anaknya untuk membelikan sesuatu ke toko atau warung, begitu juga untuk orang tua atau keluarga yang menyuruh anaknya membeli rokok. Secara tidak langsung anak akan terbiasa dan berani membeli rokok sendiri. Peristiwa ini yang Penulis amati di lingkungan sekitar.

Secara bijak kita orang tua atau semua bekerjasama untuk membangun kebaikan, dibeberapa bungkus rokok tertulis hanya untuk usia 18 tahun keatas dan peringatan lainnya namun secara nyata tidak akan berlaku peringatan itu.


Pedagang atau penjual rokok juga tidak akan seleksi menjual karena pada intinya barang dagangan bisa terjual tanpa memikirkan siapa pembelinya. Fenomena ini harus menjadi pekerjaan bersama jika memang kita mau menekan tingkat perokok anak-anak di Indonesia.


Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) menyebut jumlah perokok anak usia 10-18 tahun terus meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% atau sekitar 3,2 juta data Riskesdas 2018 (Liputan6.com.09 Okt 2020). Peningkatan yang sangat luar biasa untuk anak-anak bangsa ini yang harusnya bisa peduli terhadap kesehatan mereka masing-masing.


Beberapa hal yang penulis ingin sampaikan kepada pemerintah berkaitan dengan rokok yang utama adalah adanya undang-undangan yang jelas bukan hanya sekedar peraturan pemerintah (PP) yang penulis rasa sangat tidak efektif. Tujuannya untuk menekan perokok diusia pelajar, sangsi jelas dan ada pelarangan khusus untuk merokok ditempat-tempat umum yang seharusnya kita bebas menghirup udara bersih tanpa asap rokok. 

Izin edar yang diberikan kepada masyarakat harus benar-benar dipatuhi sehingga masyarakat bisa dengan mudah mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh. Berkaitan dengan iklan, promosi dan sosialisasi diperbanyak.

Harapan kita semua bangsa ini bisa mendapatkan generasi yang hebat yang mengangkat negaranya sendiri bukan bangga menjadi bagian pembangun negara lain. 

(RMS-Socius03)