Minggu, 17 Januari 2021

Memaknai Arti Kehilangan

                            

Oleh
Sulistyowati
SMPN 1 Pujon– Kab. Malang 

"Losing Is The Best Way To Learn  Sincerity Without Limits”

Begitu uniknya hidup ini, ada yang datang ada yang menghilang. Setiap peristiwa adalah suatu kenangan yang senantiasa mewarnai setiap langkah. Tempat setiap orang memutar kembali ingatan masa lalunya, baik atau burunya, gagal atau sukses, biasa atau istimewa. Tempat kita menyimpan kisi-kisi catatan tentang apa yang datang dan hilang dari kehidupan kita hari kemarin. Setiap peristiwa adalah sumbu-sumbu bagi kantong-kantong kenangan. Tempat kita memutar ingatan, dengan segenap rasa dan emosi kita, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup selama ini. 

Setiap kali kenangan yang lalu terekam berputar kembali, berjuta rasa berkecamuk dalam jiwa kita. Sedih, lara, luka, bahagia, atau bahkan rasa kehilangan yang sangat mendalam. Kenyataan ini menjelaskan salah satu catatan  penting, bahawa garis-garis kehidupan ternyata tidak selalu datar. Tiba-tiba saja seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin pagi. Tiba-tiba saja seseorang berubah menjadi sosok yang lain dari kemarin kemarin. Dengan kata lain  kemarin bertabur permata, ternyata esok hari berlinang air mata. 

       Kehilangan merupakan bagian dari fitrah manusia yang bisa membuat perubahan dalam kehidupan kita. Arti kehilangan bisa berupa kesedihan dan penderitaan atau tempaan atas kualitas ketabahan dan kesiapan diri. Rasa kehilangan merupakan bagian dari rasa memiliki karena adanya keterikatan atas sesuatu atau seseorang. Kehilangan menunjukkan rasa yang tidak sepenuhnya utuh, merasa kurang tanpa hadirnya sesuatu atau seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bersentuhan dengan rasa kehilangan. Kehilangan akan benda, jiwa, perasaan, harga diri dan suasana, kehilangan sosok seseorang, kehilangan kesempatan atau peluang bahkan takut kehilangan.

Kehilangan pernah dialami siapa saja, terlepas dari perbedaan hal yang hilang, reaksi atas kehilangan, cara menyikapi, mengatasi dan mengartikan kehilangan, serta dampak yang ditimbulkannya. Kehilangan sebuah benda yang berharga bisa berarti petaka bagi sebagian orang, dan kehilangan sosok seseorang bisa berarti derita bagi kita. Di atas semua itu, kehilangan sesuatu atau seseorang bisa menyebabkan kehilangan harapan dan kesadaran akan conscience (suara hati), sehingga arti kehilangan bisa mengubah persepsi seseorang atas kehidupan. Tidak sedikit orang yang membentuk arti dan persepsi kehilangan sebagai penderitaan dan larut di dalamnya, menjadi kehilangan kepercayaan dan kebermaknaan hidup.  Mengapa kita merasa kehilangan?

Kehilangan tumbuh dalam benak dan perasaan kita karena adanya arti berikut ini, yang seringkali kita sadari setelah kehilangan itu terjadi.
Pertama, kita merasa kehilangan karena sesuatu atau seseorang yang hilang itu sangat berharga dan berarti untuk kita. Kita seringkali merasa terlambat menyadari atau bahkan baru menyadari betapa berharganya sesuatu dan betapa berartinya seseorang untuk kita setelah semua itu hilang, sehingga kita merasa kehilangan dan merasakan arti kehilangan sebagai adanya kekurangan, kekosongan, atau kehampaan tanpa kehadiran yang hilang tersebut.
Kedua, kita merasa kehilangan karena kita menyadari bahwa kita membutuhkan yang hilang itu. Intensitas kebersamaan dan kedekatan membuat kita terbiasa dan merasa biasa. Namun, ketika yang terbiasa dan biasa itu tak ada, kita merasa ada yang kurang dan hilang dari kebiasaan dan keterbiasaan itu. Ini menunjukkan bahwa kita membutuhkan kehadirannya, keberadaannya, perannya, fungsinya dan kebermanfaatannya untuk kita, sehingga rasa membutuhkan itu bisa berkembang menjadi mengharapkan yang hilang.
Ketiga, kita merasa kehilangan karena kita merasa mencintai dan menyayangi yang hilang. Bagaimanapun berharganya sesuatu bagi orang lain, dan bagaimanapun berartinya seseorang bagi orang lain, tak akan membuat kita merasa kehilangan ketika kita tak mencintainya dan menyayanginya atau paling tidak ada empati yang bisa membuat kita merasa kehilangan. Kehilangan sahabat, teman, keluarga atau orang terkasih merupakan bentuk kehilangan karena cinta kita kepada mereka. Kedalaman rasa bisa mengukuhkan arti kehilangan dalam diri dan hati kita, sehingga kehilangan itu bisa berdampak tidak biasa dan luar biasa bagi hidup, hati serta jiwa seseorang.

Biasanya reaksi awal karena kehilangan ditunjukkan dengan bersedih, menangis, kesal, marah atau menyalahkan diri karena merasa menyia-nyiakan yang hilang tersebut. Reaksi ini bisa berlanjut hingga membuat kita larut, terbenam dan karam dalam rasa kehilangan itu. Bila ini reaksi kita, maka boleh jadi kita akan kehilangan kebermaknaan dan kepercayaan diri, hidup dan Pemilik Kehidupan. Ada pula orang yang mampu mengatasinya dengan menunjukkan reaksi yang wajar karena ia meyakini kekuatan Alloh SWT. Arti kehilangan bagi orang-orang seperti ini adalah ujian sekaligus perubahan dalam kehidupan, bukan kesedihan semata. Orang-orang seperti inilah yang dikategorikan sebagai pembelajar kehidupan, memiliki kemampuan untuk melihat dan memahami hikmah di balik masalah, melihat sisi kemudahan dalam kesulitan dan menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih hebat dan bermakna. Sungguh tidak mudah, namun bukan berati tidak bisa dilakukan, asal kita terus memompa semangat serta jiwa untuk terus berusaha dan pasrah pada Takdir serta kasih sayang Illahi. 

Ketika yang satu pergi, maka yang lain berdatangan. Terus seperti itu. Karena Allah SWT tak pernah membiarkan hamba-Nya sendiri. Jadi, jangan pernah merasa takut kehilangan sebab sesungguhnya kita memang tak pernah punya apa-apa. Allah SWT yang Maha Kaya, Maha Memiliki segala.

Sepasang suami-istri yang sudah diikat dengan Mitsaqan Ghaliza pun sebenarnya tak pernah saling memiliki. Karena Allah SWT bisa dengan mudah mengambilnya kembali kapan saja. “Why am I so afraid to lose you, when you’re not even mine?”- nah ada yang bisa kasih komentar tentang kalimat ini?

Intinya ketika kita menyadari bahwa segala yang Allah SWT berikan itu hanya sebuah amanah yang nantinya akan kembali lagi ke Pemiliknya, maka sebanyak dan seberat apapun yang hilang dari kita, kita tak akan mengutuki diri dan sedih berlarut-larut.

Sabar itu pahit, ikhlas itu pahit, perjuangan itu pahit, dan dunia ini memang penuh dengan kepahitan. Namun, sesungguhnya Allah SWT menciptakan surga dengan begitu manisnya. Selalu sertakan Allah SWT di setiap kedipan mata, di setiap dentuman detak jantung, di setiap hembusan nafas, dan di setiap langkah kaki. Semoga Allah SWT senantiasa Meridhoi dan Memampukan kita dalam segala urusan. Aamiin Allahuma Aamiin. 




 


                                        DAFTAR PUSTAKA 


M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Majalah. 2009  Al-Haromain . Surabaya: laziz Al-Haromain 

Suhardi. 2010. Cara Pintar Menyikapi kehilangan. -https://goo.gl/Ia9Enq

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati.2020.  Indahnya Berkarya Untuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara