Sabtu, 27 Februari 2021

Guru Wajib Turut Membumikan Literasi Budaya dan Kewargaan

Dedi Supriatna, M.Pd. saat menyampaikan laporan kegiatan seminar (20/2)


Cimahi.Socius (27/2). "Satu hal penting yang wajib dilakukan seorang guru adalah turut serta membumikan literasi budaya dan kewargaan. Ini penting dilakukan di era global sekarang." Demikian disampaikan Dedi Supritana kepada Socius Media sebelum penutupan acara bertajuk Webinar Membumikan Literasai Budaya dan Kewargaaan (27/1).

Lebih lanjut lelaki yang juga menjabat ketua MGMP IPS Kota Cimahi dan juga Pengurus FKGIPS Jabar ini menuturkan, bahwa acara webinar yang dihelat atas kerjasama MGMP IPS Kota Cimahi, FKGIPS Kota Cimahi dan Perpustakaan SMPN 1 Kota Cimahi, dimaksudkan sebagai upaya untuk mengingatkan kembali para guru, terutama guru IPS, tentang pentingnya upaya membumikan literasi budaya dan kewargaan.

Acara webinar sendiri dibuka secara resmi oleh Kadisdik Kota Cimahi, Harjono, S.Pd., MM. Dalam sambutan yang disampaikan pada hari pertama kegiatan, Harjono mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleg guru-guru IPS ini. selain itu ia pun menegaskan pentingnya guru-guru untuk selalu meningkatkan wawasan dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada para peserta didik. Upaya elalu mingingkatkan wawasan penting dilakukan mengingat beratnya beban tugas yang harus dipikul guru, terutama dalam menanamkan nasionalisme pada diri siswa.

Kadisdik Kota Cimahi bersama Nara Sumber hari pertama (20/2)


Tampil sebagai nara sumber dalam kegiatan yang dilaksanakan pada 20 dan 27 Februari 2021 ini antara lain T. Bachtiar anggota riset Cekungan Bandung, Machmud Mubarok dari Tjimahi Heritage, dan Dr. Jajang Hendar Hendrawan, S.Pd., M.Pd.dari 3 STKIP Pasundan Cimahi. Sangat disayangkan satu pemateri yang sangat ditunggu kehadirannya, yaitu H. Dedi Mulyadi, anggota komisi IV DPR RI berhalangan hadir. 

T. Bachtiar sebagai penggiat alam dan riset Cekungan Bandung menekankan pentingnya pemahaman tentang toponimi wilayah, potensi bencana dan mitigasinya. Menurut lulusan geografi IKIP Bandung ini dengan pemahaman yang baik atas toponimi maka potensi kerugian akibat bencana dapat diminimalisir.

Penggiat sejarah Cimahi, Machmud Mubarok, yang tampil bersama T. Bachtiar di hari pertama (20/2) menyampaikan secara rinci mengenai sejarah dan perkembangan Kota Cimahi, dari sejak penjajahan hingga saat ini.

Hari kedua webinar yang digelar pada Sabtu pagi (27/2) yang sejatinya akan menampilkan duet Jajang Hendra dan Dedi Mulyadi urung terlaksana. Ini terkait adanya acara mendadak dari mantan Bupati Purwakarta yang harus meninjau lokasi bencana longsor di Purwakarta. walaupun demikian, Jajang yang juga Ketua 3 STKIP Pasundan mampu memukau peserta lewat paparan seputar etnopedagogik budaya Sunda dalam bingkai literasi budaya dan kewargaan. (EC-Socius 01)