Minggu, 14 Februari 2021

Mitigasi Bencana dan Aksi Kemanusiaan FKGIPS

Nara Sumber Workshop Mitigasi Bencana (11-12/2)

Sociusmedia. (13/4) Secara umum Indonesia merupakan negara dengan potensi bencana yang tinggi dan sangat variatif. Hal ini berlaku juga untuk Jawa Barat sebagai daerah yang masuk katagori rawan bencana. Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Dani Ramdan, berdasarkan data 2018 Jabar berada pada posisi ke-12 dari 34 provinsi yang memiliki Indeks Resiko Bencana tertingi. Adapun selama periode 2014-2019 capaian tahun 2019 merupakan tertinggi dengan lebih dari 2000 kali terjadi bencana di Jabar 

Lebih lanjut doktor Ilmu Administrasi lulusan Universitas Padjadjaran 2012 ini menjelaskan bahwa jenis kerawanan bencana di Jawa Barat juga sangat variatif. Tercatat bencana-bencana yang telah dan mungkin terjadi di Jawa Barat meliputi: erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir, pergerakan tanah skala tinggi dan menengah, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, angin puting beliung, kebakaran pemukiman, kegagalan teknologi dan aneka kejadian luar biasa, seperti halnya antrax, flu burung dan pandemi covid-19 seperti saat ini. 

"Kabupaten Garut, Cianjur dan Kabupaten Tasikmalaya merupakan tiga daerah yang memiliki indeks resiko bencana tertinggi di Jawa Barat." papar pria yang sebagian besar karir kepegawaiannya dihabiskan di lingkungan pemprov Jabar ini.

"Salah satu upaya mitigasi bencana  di satuan pendidikan adalah dengan pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana, SPAB, terutama di daerah rawan bencana." lanjut mantan Kabiro pemerintahan dan kerjasama Setdaprov Jabar ini.

Paparan tentang mitigasi bencana ini  disampaikan Dani Ramdan di hadapan sekitar 200 guru IPS anggota FKGIPS Nasional pada kegiatan bertajuk "Workshop Mitigasi Bencana Sebagai Bahan Pembelajaran IPS". Kegiatan yang berlangsung  selama dua hari (11-12 Februari) digagas PW FKGIPS Jawa Barat dengan menggandeng Aksi Cepat Tanggap (ACT) KBB sebagai mitra kegiatan. 

Dalam sambutannya Ketua PW FKGIPS Jawa Barat, Enang Cuhendi, menyampaikan bahwa pada awalnya kegiatan ini diperuntukkan bagi para anggota FKGIPS Jawa Barat, tetapi karena banyak peminat dari luar Jabar maka akhirnya melibatkan guru-guru IPS anggota FKGIPS dari luar Jabar. Selain dari Jabar, tercatat peserta yang hadir ada yang berasal dari Makasar, Kupang, Pangkal Pinang, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten. Para peserta ini tidak hanya datang dari satuan SMP, tetapi juga MTs, MA dan pengawas SMP dan MTs. 

Lebih lanjut lelaki yang akrab disapa Kang Enang ini menyampaikan rasa terima kasih kepada ACT dan BPBD Jawa Barat yang sudah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. "Kami berharap ke depannya akan terjalin kerjasama yang lebih erat antara FKGIPS Jabar dengan BPBD dalam hal mitigasi bencana dan optimalisasi SPAB." lanjut guru IPS di SMPN 3 Limbangan, Garut, ini.

Di sesi hari pertama workshop, selain dari BPBD, tampil juga sebagai pemateri dari ACT dan FKGIPS. ACT diwakili oleh Kusmayadi, Head of Disaster Emergency Response ACT pusat dan dari FKGIPS menampilkan Hilman Latief, Ketua Pengda FKGIPS Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kusmayadi menyampaikan pentingnya masyarakat untuk memahami karakteristik bencana dan penanganannya. Sedangkan Hilman Latief mengatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang kebencanaan ini dapat ditransformasikan dalam pembelajaran IPS tanpa menambah materi dan beban kurikulum. "Beberapa KD dalam IPS sangat memungkinkan untuk disisipi pesan terkait mitigasi bencana" jelas aktivis dan pemerhati lingkungan ini.

Pada hari kedua peserta diajak praktek membuat bahan ajar mitigasi bencana yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran IPS dengan memanfaatkan aplikasi Canva. Aneka poster bertemakan mitigasi bencana lahir dari kreatifitas anggota FKGIPS lewat arahan pemateri Dian Diana, seorang guru IPS kreatif dari KBB yang juga pengurus FKGIPS.   

Aksi Kemanusiaan

Bersamaan dengan kegiatan workshop, FKGIPS melakukan aksi kemanusiaan berupa penggalangan donasi untuk membantu renovasi Rumah Qur'an Ummi Kulsum yang terletak di Soreang, Kabupaten Bandung. Kondisi Rumah Qur'an yang sangat memprihatinkan dan mengancam keselamatan jiwa para santrinya, telah menggugah rasa kemanusiaan para guru IPS. Sampai akhir sesi hari kedua kegiatan terkumpul donasi lebih dari 10 juta rupiah. Atas permintaan peserta penutupan masa akhir donasi diperpanjang sampai Minggu sore (14/2).

Rizal Fauzi dari  ACT KBB, sebagai pihak yang menawarkan progam renovasi ini, sangat berterima kasih kepada anggota FKGIPS yang telah ikut mensukseskan program renovasi Rumah Qur'an Ummi Kulsum ini. Menurut Ustadz Rizal, ini merupakan kali ketiga FKGIPS Jawa Barat bekerjasama dengan ACT KBB, setelah sebelumnya berupa pengalangan donasi untuk korban longsor Cimanggung, Sumedang dan banjir di Gunung Mas, Puncak. (EC-Socius 01)