Selasa, 09 Februari 2021

Prof. Asmawi Zainul dalam Kenangan Sang Murid

 



In memoriam Prof. Dr. H. Asmawi Zainul, M.Ed

Oleh Enang Cuhendi*)

Sekitar pertengahan 1990 penulis mulai menginjakkan kaki untuk menempuh studi di IKIP Bandung (Sekarang UPI/Universitas Pendidikan Indonesia). Program Diploma 3 Pendidikan Sejarah merupakan jurusan yang diambil saat itu. Baru kemudian mendapat kesempatan langsung lanjut ke S1 tanpa melalui tes lagi.

Memasuki semester kedua kuliah kami berkenalan dengan mata kuliah studi sosial. Seorang bapak dengan rambut tersisir rapi dan sedikit beruban masuk kelas diikuti dosen muda di belakangnya. Cara berpakaiannya dendy dengan kemeja tangan pendek dan celana kotak-kotak. Sepatu pun bukan sepatu pantofel formal, seperti halnya dosen senior yang lain. Tangannya hanya menenteng sebuah buku tebal tanpa membawa tas apapun. Sementara kacamata menggantung di dadanya.

"Assalamualaikum, selamat pagi! Saya Asmawi Zainul yang akan menemani Saudara dalam perkuliahan ini. Itu di belakang asisten saya, Pak Agus Mulyana." sapanya ramah dengan suara sedikit berat.

"Sebelum kita mulai kuliah, kalau saudara mau beli kopi atau makanan, silakan keluar dulu saya beri waktu lima menit, yang penting jangan beli nasi atau krupuk, bikin ribut. Yang mau tidur silakan tidur jangan mengganggu yang lain. Ingat kalau saya sudah mulai mengajar tidak boleh ada gangguan lagi, kalau pun Saudara terlambat dan saya sedang mengajar, silakan masuk tanpa harus minta izin apalagi salaman. Biar konsentrasi saya mengajar dan teman lain yang sedang belajar tidak terganggu." paparnya panjang lebar tentang aturan main kuliah.

Setelah dipersilakan seketika mahasiswa berebut keluar untuk memesan cemilan atau kopi. Setelah selesai buru-buru masuk kelas lagi. Pak Asmawi, panggilan akrab pada  dosen ini, hanya duduk sambil menunggu mahasiswa kumpul.

"Ok, sekarang kita mulai. Saudara nanti mau nilai berapa? A, B atau C? Nah untuk nilai saya serahkan pada saudara untuk memilih. Nilai yang Saudara kontrak hari ini, itu adalah nilai Saudara di akhir perkuliahan. Syaratnya nilai ujian Saudara harus memenuhi target minimal yang ditetapkan.  Untuk A, Saudara minimal harus mencapai 80, kalau hanya mendapat 79 otomatis Saudara tidak lulus. Begitu juga nilai yang lainnya." jelasnya.

Saya seketika langsung pasang target A. Kakak tingkat yang ada di samping saya nanya sambil berbisik. "Nang, kamu ngambil A. Susah loh lulusnya. Akang juga sudah dua kali ga lulus-lulus." katanya.

"Ah, A atau B sama aja capenya, Kang. Kemungkinan untuk tidak lulus juga sama. Mending langsung aja pasang target tinggi." kata penulis sambil senyum.

Setelah perkuliahan berjalan banyak penglaman yang penulis dan kawan-kawan dapat. Setiap kali ada bahan ajar yang harus diperbanyak, saat kami mau mengumpulkan uang untuk foto copy, beliau selalu bilang, "Sudah hitung saja berapa orang, nih uangnya dari saya. Saya tahu lah mahasiswa itu kan  gak punya uang." katanya sambil bercanda. Candaan ringan yang membuat kami dekat dengan beliau.

Sesi-sesi perkuliahan betul-betul penulis nikmati. Penjelasan yang detail dan mudah dipahami semakin membuat paham akan materi yang diberikan. Namun ada satu hal yang selalu menjadi catatan, entah mengapa hampir semua mahasiswa sependapat ketika UTS atau UAS soal yang keluar serasa begitu sulit untuk dijawab padahal saat kuliah kita paham. Pantesan banyak senior yang mengulang mata kuliah ini. Dengan sedikit kerja ekstra alhamdulillah penulis sendiri bisa satu kali ujian langsung lolos, tanpa harus mengulang. Entah itu mungkin hanya sebuah keberuntungan, tapi yang jelas untuk memahami Prof Asmawi penulis seringkali berbincang dengan Pak Agus Mulyana asisitennya yang kini menjadi Dekan FPIPS UPI. 

Sesi kedua penulis bertemu dengan Prof Asmawi pada saat mengambil mata kuliah Evaluasi Pendidikan. Suasana yang sama kami temui juga dalam mata kuliah Evaluasi Pendidikanini. Persis tidak berubah, dari mulai aturan main, kontrak, gaya mengajar sampai betapa banyak mahasiswa yang tumbang alias tidak lulus di akhir semester. Kalau pun ada yang berubah hanyalah asistennya, kali ini Bu Yani Kusmarni yang menjadi asisten beliau. Alhamdulillah, untuk yang kedua kali nilai A bisa penulis dapat dari perkuliahan dengan Prof Asmawi. Istimewanya, penulis raih nilai itu tanpa harus melalui proses remedial dan menjadi satu-satunya yang lulus langsung pada putaran pertama.

Saat-saat menikmati perkuliahan dengan Prof. Asmawi Zainul adalah saat-saat penuh kenangan dan perjuangan. Terasa sekali bagaimana menjadi seorang mahasiswa yang sesungguhnya. Kami dituntut banyak belajar, membaca referensi dan berlatih membuat soal. Apa yang diajarkan beliau sangat terasa manfaatnya ketika penulis terjun menjadi guru IPS dan banyak berkecimpung dalam proses pembuatan soal ujian, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Prof. Asmawi telah berhasil  memberikan fondasi yang kuat bagaimana mengajarkan IPS melalui mata kuliah Studi Sosial, dan terampil membuat soal melalui Evaluasi Pendidikan. Dua hal yang menjadi tuntutan kompetensi profesional penulis saat ini sebagai seorang guru IPS SMP. 

Di mata penulis sosok guru besar UPI ini memang fenomenal. Selain dikenal memiliki wawasan keilmuan yang mumpuni, Lulusan Master of Social Studies Education dan Doktor psychometric dari State University of New York at Buffalo (UB) ini juga sangat dekat dengan mahasiswa. Sebagai mantan aktivis kemasiswaan tentunya beliau tahu persis apa isi hati mahasiswa, terutama para aktivis kampus. Setiap kali diundang untuk mengisi materi di setiap acara kemahasiswaan sepanjang tidak bentrok acara beliau selalu hadir.  Dalam satu obrolan Prof. Asmawi pernah berpesan agar tidak terlalu terlena dalam berorganisasi, tapi tetap utamakan studi. 

Kepedulian kepada mahasiswa mungkin  juga didasari dari perjalanan hidupnya yang luar biasa ketika menjadi mahasiswa. Bagi pria kelahiran Bengkulu 7 Desember 1937 ini pahit getirnya kehidupan sebagai anak rantau yang jauh dari orang tua selama kuliah menjadi tempaan hidup tersendiri. Semua kesulitan dan kerja keras ini yang ingin beliau tularkan kepada kami.

Buah dari kerja keras dan pantang menyerah itu memang sudah dipetik sang anak rantau. Karir profesional dan akademik yang diraih Prof Asmawi terbilang sukses. Di lingkungan IKIP Bandung atau UPI setidaknya selain menjadi dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah sejak 1964 juga tercatat pernah menjadi Sekretaris Jurusan Pendidikan Sejarah (1972-1976), Wakil Dekan FPIPS (1976-1982) dan Direktur Sekolah Pasca Sarjana (sejak 2003) dan Ketua Senat Akademik UPI (2003-2007). Di luar IKIP Bandung /UPI Prof. Asmawi pernah menjadi Pembantu Rektor Universitas Terbuka (1992-2003), Member of American Educational Research Association,  dan Rektor Universitas Muhammadyah Sukabumi (2009-2015).

Kini terhitung sejak 8 februari 2021 Prof. Asmawi Zainul sudah berpulang ke rahmatullah. Meninggalkan keluarga dan kita semua, para muridnya. Semoga ilmu yang beliau ajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir sepanjang masa. Selamat jalan, Prof. Asmawi Zainul. Jasamu tiada tara. Di sini kami tetap mencintaimu.

Enang Cuhendi

Guru SMPN 3 Limbangan, Garut.
Ketua PW FKGIPS Jabar dan Waketum III PP FKGIPS Nasional