Kamis, 04 Februari 2021

Vaksinasi Pendidikan Indonesia

 


Oleh:
Rizki Mega Saputra,S.Pd
Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan


Apakah yang Anda bayangkan tentang vaksin?

Pasti akan terbayang tentang suntik vaksin sinovac yang merupakan salah satu vaksin COVID-19 diproduksi oleh perusahaan China yang telah memasuki berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin melalui disuntikkan maupun diteteskan ke dalam mulut untuk meningkatkan produksi antibodi guna menangkal penyakit tertentu (alodokter.com,2018).

Baiklah, Penulis tidak akan membahas vaksin yang sesungguhnya namun vaksin yang akan diumpamakan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Apakah pembaca merupakan orang tua siswa, siswa atau guru?

Bagaimana pendapat Anda selama pembelajaran jarak jauh saat pandemi?

Jawaban yang muncul dalam benak pasti capek dan bingung.

Sudut pandang orang tua dan siswa beranggapan bahwa pembelajaran saat ini gak ada efek yang berarti karena pembelajaran yang dilakukan bikin susah ditambah lagi pembelajaran yang dilakukan kebanyakan bukan belajar dari guru tapi pemberian tugas yang menyebabkan orang tua menjadi sibuk mengajari anaknya di rumah, belum lagi orang tua dengan segala keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.

Sudut pandang siswa akan menganggap bahwa belajar sekarang susah karena siswa harus belajar sendiri dan cari sendiri.

Penulis sebenarnya menganggap bahwa ini merupakan momen yang sangat tepat untuk menerapkan pembelajaran yang kita kenal dengan student learning center yang semua pembelajaran akan banyak peran siswa dibandingkan seorang guru. Momen ini juga menjadi lebih baik menurut penulis karena siswa dengan begitu akan terbiasa dengan membaca dan menganalisis yang kita kenal dengan literasi.

Gerakan literasi akan terwujud dengan baik ketika memang kondisi saat ini dipaksakan pada semua siswa. Tujuannya bahwa siswa bisa belajar dengan baik dan bisa menganlisis sebuah permasalahan yang ada disekitarnya.

Sisi lain seorang guru merasakan hal yang sama, guru jungkir balik mengikuti proses belajar jarak jauh melalui luar jaringan (luring) dan dalam jaringan (daring) selama pandemi COVID-19. Kondisi ini memang sangat serba sulit apalagi pemerintah yang mengambil kebijakan-kebijakan untuk pelaksanaan pembelajaran selama pandemi ini bisa adil dan tidak adil juga ketika negara kita adalah banyak ketimpangan dalam pendidikan.

Per tanggal 17 April 2020, diperkirakan 91,3% atau sekitar 1,5 miliar siswa di seluruh dunia tidak dapat bersekolah karena munculnya pandemi Covid-19 (UNESCO, 2020).

Jumlah tersebut termasuk di dalamnya kurang lebih 45 juta siswa di Indonesia atau sekitar 3% dari jumlah populasi siswa yang terkena dampak secara global (Badan Pusat Statistik, 2020).

Perubahan mendadak dari metode tatap muka di ruang kelas menjadi pembelajaran jarak jauh di rumah juga menunjukkan kebutuhan peningkatan kapasitas guru.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompetensi informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) guru-guru Indonesia tidak tersebar merata di seluruh wilayah (Widodo & Riandi, 2013 dikutip dari Koh et al, 2018).

Vaksinasi pendidikan di Indonesia ini yang penulis katakan bahwa perlu banyak suntikan-suntikan pada salah satu garda terdepan dalam suatu negara.

Kesenjangan kualitas pendidikan tidak hanya pada sumber daya manusianya saja akan tetapi pada sarana dan prasarana masih sangat berbeda jauh antar daerah, sehingga sangat mendesak menurut penulis untuk disuntik dengan berbagai soft skills kepada manusianya.

Kita sudah memasuk dunia teknologi jika sumber daya manusianya tidak bisa mengikuti dengna baik maka cara lama dengan metode lama siap-siap negara kita tetap dalam keadaan tertinggal. Sudah saatnya berbenah semua dengan kondisi seperti ini. Terutama guru yang menjadi tolok ukur pendidikan maka sudah harus bisa berubah menguasai teknologi.

Peningkatan kompetensi yang selama ini masih pada teori dan hal yang sebagai formalitas saja. Jangan sampai masalah klasik seperti kekurangan guru padahal nyatanya banyak guru yang menumpuk di kota maka angkat guru honor daerah yang berkompenten, sekolah tidak ada gedung padahal pengajuan sudah berulang kali pihak setempat, biaya sekolah yang mahal dengan alasan bahwa harus ada pungutan komite untuk membayar guru honor atau untuk membangun gedung sekolah padahal jika masalah guru honor maka buat kebijakan tidak ada penerimaan guru honor kemudian masalah gedung harusnya pemerintah yang memikirkan bukan pihak sekolah, sekolah tidak memiliki perangkat teknologi seperti komputer padahal kemampuan pengoperasian komputer saat ini menjadi kemapuan dasar bersaingan diera modern ini dan lain sebagainya.

Hal seperti ini harus “divaksin” oleh berbagai pihak yang berwenang menjadi pemangku kebijakan pendidikan di Indonesia.

Harapan penulis bahwa apa yang sudah diupayakan dalam kebijakan yang ditetapkan menjadi kebaikan bagi semua elemen yang menginginkan kemajuan pendidikan di negara kita lebih baik jangan sampai sumber daya manusia yang dimiliki negara ini malah akui oleh negara lain.

RMS(Socius.03)