Jumat, 19 Maret 2021

ALL ENGLAND 2021 DAN BWF YANG TIDAK ADIL


Oleh : Yanuar Iwan


Penggemar bulutangkis di Indonesia dan dunia  menyaksikan drama  ketidakadilan yang ditunjukan BWF dan Asosiasi Bulurangkis Inggris terhadap Timnas Bulutangkis Indonesia. Sudah ada tiga wakil Indonesia yang lolos kebabak enam belas besar turnamen bulutangkis tertua didunia All England, ada ganda putra ranking satu dunia Kevin/ Marcus, ganda putra ranking dua dunia Ahsan/Hendra dan tunggal putra Jonathan Christie.


Email dari Otoritas Kesehatan Inggris ( National Health Service ) yang dikirim kepada Timnas Bulutangkis Indonesia mengharuskan pemain-pemain Indonesia termasuk jajaran pelatih dan manager untuk melakukan isolasi karena pesawat yang mereka tumpangi berbarengan dengan seseorang yang terinfeksi Covid-19.


Pernyataan dari NHS terasa aneh karena sebelumnya sebagian  pemain Indonesia sudah bertanding dan kontak dengan pemain, official, wasit, hakim garis dan panitia. Idealnya BWF dan Federasi Bulutangkis Inggris menghentikan All England 2021 dan seluruh pemain, pelatih, manager, termasuk panitia seluruhnya dites PCR untuk memastikan stabilitas kesehatan di Inggris, mengapa hanya Timnas Bulutangkis Indonesia yang dites PCR dan dipaksa mundur dari All England dan wajib isolasi. Bagaimana dengan pemain lain yang sudah kontak dengan pemain Indonesia ?


BWF dan Federasi Bulutangkis Inggris tetap melanjutkan turnamen, padahal Tim Denmark, India, dan Thailand saat baru tiba di Birmingham tidak lolos dalam tes PCR pertama mereka dinyatakan positif tetapi dengan kecepatan hasil yang luar biasa pada tes PCR kedua mereka dinyatakan negatif dan diizinkan untuk tetap bermain.


BWF mungkin lupa atau sengaja lupa protokol kesehatan saat Thailand Open yang mengharuskan  setiap tim untuk datang sepuluh hari sebelum turnamen dilaksanakan, Thailand Open sukses, mengapa BWF tidak menerapkan hal ini di Inggris ?


All England sudah kehilangan prestise sebagai salah satu kejuaraan bulutangkis bergengsi kelas dunia, China, Taiwan, dan Korea Selatan membatalkan keikutsertaannya, kini Indonesia dipaksa mundur, didepak, atau di WO ( walk over ) dipaksa untuk kalah ketika kondisi pemain Indonesia sudah sangat siap.


Timnas Bulutangkis Indonesia korban ketidakadilan BWF dan Federasi Bulutangkis Inggris, pemain Turki Neslihan Yigit diizinkan tetap bermain walaupun yang bersangkutan satu pesawat dengan Tim Indonesia, dan baru dinyatakan WO setelah Tim Indonesia melakukan protes terhadap BWF.


Tidak hanya sampai disitu penderitaan Tim Bulutangkis Indonesia, Hendra Setiawan dkk dipaksa berjalan kaki dari GOR ke hotel tempat mereka menginap, BWF sudah memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang sudah terjangkit Covid-19.


Komite Olimpiade Indonesia dan PBSI harus segera mengambil tindakan  terhadap "Tragedi bulutangkis abad ini" karena tentu hal ini akan berdampak terhadap para pemain Indonesia.


Jika BWF ingin menebus dosa dan kesalahan jalan yang paling elegan adalah hentikan dan batalkan Turnamen Bulutangkis All England 2021, laksanakan tes terhadap seluruh pemain, official, dan panitia. Dunia melihat kinerja BWF jangan sampai cabang olahraga bulutangkis yang kian mendunia justru dirusak oleh tindakan dan keputusan BWF yang bertentangan dengan keadilan, merusak kualitas turnamen, dan bertindak diskriminatif.


Maju terus dan jayalah bulutangkis Indonesia.


Cisarua, medio Maret 2021.