Kamis, 29 April 2021

Cara Efektif Mengendalikan Emosi Diri


Oleh

Sulistyowati 

SMPN 1 PUJON  


“Manage Emotions Wisely, So As Not To Harm Yourself” 


Cobalah untuk belajar membiarkan hal-hal tertentu lepas dari hidup kita.  Hal-hal yang bisa menimbulkan emosi kita, seperti rasa marah, sedih dan cemas akan makin menjadi masalah apabila kita terus memikirkan dan memeliharanya.   Hal-hal tersebut juga sebenarnya bisa pergi dari kehidupan kita dengan mudah, namun kita sendirilah yang justru tidak rela untuk membiarkannya pergi dari pikiran kita dan terus menerus memikirkannya.  Oleh karena itu, ikhlaskanlah.  Biarkanlah yang lalu menjadi masa lalu, dan fokuskan diri kita untuk menghadapi masa depan.

Beritahu saya jika para sahabat pernah mengalami kondisi ini. Ketika sedang berkendara, tiba-tiba disalip pengendara lain dengan seenak perutnya. Tentunya kaget dan emosi dibuatnya. Beberapa nama hewan dan sumpah serapah pun keluar dari mulut tanpa sensor, waduh???.  Jika akrab dengan kondisi di atas, kita mungkin termasuk orang yang susah mengendalikan emosi. Barangkali juga sahabat  merasakan dampak negatif emosi tersebut seperti stres, tekanan darah tinggi, serangan jantung, gangguan tidur, stroke, atau gangguan pernapasan (asma). Berita baiknya, sahabat  bisa mengendalikan emosi diri sendiri. Berikut tujuh cara di bawah ini akan membantu para sahabat melakukannya. 

1. Menenangkan diri

Dari perspektif manajemen marah, marah bisa dilihat sebagai sebuah siklus (aggression cycle)  yang terdiri dari eskalasi, eksplosi, dan pasca-eksplosi. Oleh karena itu, saat marah, tenangkan diri sehingga siklus agresi berantakan. Dengan pikiran tenang, bisa berpikir logis dan mencari solusi. Untuk menenangkan diri, bisa melakukan cara-cara berikut:

  • Tarik napas dalam-dalam – Saat menarik napas, fokuskan pikiran pada napas yang masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah. Lakukan berulang sehingga bisa menurunkan emosi sedikit demi sedikit.

  • Hitung 1 s.d 10 – Dalam hati, hitung dari satu sampai sepuluh secara perlahan untuk meredakan emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali.

  • Alihkan perhatian – Kita bisa mengalihkan perhatian pada hal-hal lain seperti menonton TV atau pergi ke toilet.

2. Berempati

Pemicu marah terkadang hal sepele. Untuk menghindari masalah sepele ini menjadi besar, berempatilah. Empati adalah keadaan mental yang membuat kita merasakan keadaan atau pikiran orang lain. Kembali kepada contoh pengendara yang menyalip kita, berempatilah kepada dia. Mungkin dia sedang buru-buru atau memang karakternya sudah begitu. Dengan berempati, tidak akan mengeluarkan sumpah serapah dan nama hewan.

Contoh lain, jika si istri ngomel-ngomel, berempatilah kepada dia. Mungkin saja dia capai memasak, membereskan rumah, dan mengurus anak sehingga kondisi mentalnya tidak stabil.

Mungkin akan sedikit susah berempati ini karena merasa diri lebih superior. Namun, kuatkanlah melakukannya karena memang tujuan kita adalah meredam marah.

3. Mengingat dampak negatif yang akan terjadi

Emosi yang meluap-luap biasanya membuat yang bersangkutan gelap mata. Jika sudah demikian, dia akan memukul, berteriak, memaki, atau merusak barang-barang yang ada. Nah, untuk menghindari keadaan ini, ingatlah dampak negatif yang akan terjadi jika kita tidak bisa melawan emosi. Sebagai contoh, jika bertengkar hebat dengan isteri. Saat amarah akan meledak (misalnya akan memukul), ingat dampak negatif yang akan terjadi seperti isteri akan lebam mukanya, mertua membenci, atau kita dilaporkan isteri ke polisi karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

4. Menganggap hari terakhir kita hidup

Jika masih sulit mengontrol emosi, anggap hari saat kita marah adalah hari terakhir kita hidup. Dengan menganggap seperti itu, emosi kita akan mereda dengan sendirinya karena ingin mati dengan membawa kebaikan, bukan membawa emosi (semoga)

5. Memaafkan dan melupakan

Kita sering mengungkit-ungkit masalah lama sehingga emosi meluap lagi? Mulai sekarang, maafkan mereka yang telah memberi kita masalah (misalnya menyakiti, membohongi, merendahkan, atau menjelekkan kita) dan lupakan.

Cara ini adalah cara favorit saya dalam menghilangkan emosi. Dengan memaafkan dan melupakan, saya bisa berfokus pada hal-hal penting yang berdampak positif pada kehidupan saya. Selain itu, saya juga terhindar dari balas dendam serta emosi berkepanjangan. 

6. Membaca ta’awudz

Jika sahabat beragama Islam, baca ta’awudz (a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim) untuk menahan diri ketika sedang marah. Dengan membaca ta’awudz tersebut, kita memohon perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan setan yang merupakan sumber amarah.

7. Berolahraga

Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi emosi adalah berolahraga seperti berjalan kaki, bermain sepak bola, lari, atau berenang. Apa pun jenisnya, olahraga bisa menstimulasi zat-zat kimia dalam otak yang membuat lebih rileks dan bahagia. Selain itu, olahraga akan menguras energi secara positif sehingga melenturkan ketegangan syaraf. 

Emosi harus dikendalikan agar tidak memberi dampak negatif pada diri sendiri atau orang lain. Cobalah  melakukan 7 cara di atas. Jangan heran bila kesulitan menerapkannya karena memang mengendalikan emosi itu perlu waktu, latihan serta kesabaran. Cobalah terus menerus sehingga mendapatkan cara efektif dalam mengontrol emosi kita. 

 Ketika suatu masalah membuat beban emosi semakin berat, cobalah untuk memikirkan hal-hal lain.  Kita bisa mencoba berhitung, menyebutkan berbagai nama binatang yang kita ketahui, atau mengingat-ingat cerita lucu yang pernah kita baca.  Usahakan untuk tidak memikirkan masalah yang menjadi sumber emosi sampai merasa lebih siap untuk menghadapinya tanpa harus "meledak". 

Selalu lakukan introspeksi.  Tinjau lagi permasalahan dari sudut pandang orang lain, sambil mencoba mengoreksi diri sendiri.  Jangan takut untuk mengakuinya ketika menyadari bahwa kita melakukan suatu kesalahan, yang justru membuat kita merasa emosi.  Jangan biarkan pride kita menghalangi proses introspeksi, dan membuat emosi kita semakin tinggi.

  Ada banyak metode yang bisa digunakan untuk mengontrol emosi.  Mulai cara-cara alami dan sederhana, hingga menggunakan obat-obatan tertentu.  Yang jelas, emosi memang harus selalu dikendalikan, apalagi dalam situasi yang menuntut kita untuk bersikap secara profesional.  Jangan sampai rasa marah, sedih, atau bahkan senang mempengaruhi saat kita harus mengambil keputusan-keputusan penting yang seharusnya dilandasi oleh logika.  

          Tiada henti ikhtiar maksimal dalam mengendalikan emosi, baik secara lahir maupun batin. Sangat tidak mudah untuk di lakukan, mengingat sifat dasar manusia dengan segala sifat  negatif maupun positif. Tapi bukan berarti tidak bisa. Sebagai manusia yang beragama, sepatutnya kecuali iktiar, Memohon kepada Sang Pemilik serta Pengendali diri kita, agar senantiasa diberikan Rahmat serta Kekuatan untuk mengendalikan diri menuju pada kesempurnaan Jiwa di Dunia dan  Akherat kelak, Aamiin. Barokalloh. 



DAFTAR PUSTAKA 


Artikel www.muslimafiyah.com

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati. 2020. Indahnya Berkarya Tuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara.

sumber :http://vitatha .blogspot.com

 



                                                   







Sabtu, 10 April 2021

PGRI Mengutuk Keras Penembakan Guru


Socius.Media. Jakarta (10/4) Hari ini PB PGRI secara resmi mengeluarkan
pernyataan sikap terkait peristiwa penembakan dan kekerasan pada guru di Papua serta pembakaran gedung sekolah dan rumah guru. Sebagaimana diberitakan media seorang guru SMPN 1 Julukoma, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua yang bernama Yonatan Randen tewas ditembak oleh kelompok separatis bersenjata pada Jumat 9 April 2021.

Sebelumnya pada Kamis (9/4)) seorang guru sekolah dasar bernama Oktovianus Rayo juga ditemukan tewas di Kampung Julukoma dan Distrik Beoga Kabupaten  Puncak. Ini peristiwa kesekian kalinya, setelah sebelumnya beberapa guru di daerah konflik kembali menjadi korban kekerasan oleh kelompok kriminal bersenjata.

Atas dasar itu PGRI secara resmi mengeluarkan  pernyataan sikap yang ditanda tangani langsung Ketua umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., dan Sekretaris Jenderal PB PGRI, Drs. H.M. Ali. H. Arahim, M. Pd. Isi pernyataan sikap PB PGRI sebagai berikut:

1.      Mengutuk keras atas penembakan yang menyebabkan tewasnya dua orang guru di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua dalam dua hari berturut-turut.

2.      PGRI juga sangat menyesalkan terjadinya pembakaran terhadap 3 gedung sekolah (SD Jambul, SMPN 1, dan SMAN 1 Beoga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua) dan rumah guru pada Kamis (8/4/2021).

3.      Guru adalah penyuluh peradaban bangsa yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan generasi bangsa sehingga harus dilindungi dalam menjalankan tugasnya.

4.      PGRI meminta negara hadir melalui pemerintah, pemerintah daerah, aparat pertahanan dan keamanan, tokoh masyarakat (adat) untuk dapat memberikan perlindungan terhadap keselamatan para guru yang bertugas di pedalaman yang saat ini tersulut konflik agar mereka mendapatkan jaminan keselamatan diri, dan keluarganya.

5.      Apabila guru tersebut merasakan ketidakpastian akan jaminan keselamatan dalam menjalankan tugasnya, maka mohon bantuan Pemerintah dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi mereka agar mendapatkan tempat tugas yang aman dan terlindungi.

Tidak lupa PGRI juga memanjatkan doa pada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa melindungi para guru dan seluruh masyarakat yang berada di daerah konflik. Kepada keluarga korban PGRI berdoa agar senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan. Harapannya semoga permasalahan di daerah konflik segera teratasi. (EC-Socius 01)


Kamis, 08 April 2021

MENGHADIRKAN PEPATAH-PETITIH MINANGKABAU DALAM KELAS IPS

 Oleh : Rusmita

Guru IPS SMPN 1 Ciruas, Banten


Ada banyak alasan bagi kita untuk bangga menjadi bangsa Indonesia. Jika menjelajah nusantara maka akan ditemui macam ragam budaya dan kearifan lokal di setiap daerah. Budaya dan kearifan lokal inilah yang menjadi ciri khas dan membentuk karakter anak bangsa di setiap daerah.

Kearifan lokal merupakan istilah yang sering dipakai kalangan ilmuan untuk mewakili sistem nilai, norma yang disusun, dianut, difahami dan diaplikasikan masyarakat lokal berdasarkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam berinteraksi dan berhubungan dengan alam sekitar (Prijono 2000). Zakaria (1994) menyebutkan dengan istilah kearifan yaitu sebagai pengetahuan kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu.

Kearifan lokal pada setiap daerah hanya akan dapat dimiliki oleh masyarakat, khususnya generasi muda,  jika dilakukan proses pewarisannya dengan sengaja. Pewarisan tidak akan terjadi dengan sendirinya. 

Pewarisan kearifan lokal ini menjadi semakin mendesak, melihat kenyataan begitu derasnya arus globalisasi menghanyutkan anak bangsa. Mereka hanyut semakin jauh dari budaya dan kearifan lokal. Budaya dan kearifan lokal terancam tergerus bahkan terkikis. 

Bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda sekarang lebih  familiar dengan budaya dari luar dan bahkan mungkin  tidak mengenal sama sekali budaya daerahnya sendiri. Dengan terenggutnya mereka dari budaya dan kearifan lokal,maka terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam tingkah laku mereka. 

Begitu sering kita melihat orang tua yang menangis sambil mengurut dada karena sikap anaknya yang dengan suara tinggi menghardik orang tuanya. Atau kita terbiasa melihat fenomena generasi muda yang tidak lagi menghiraikan nilai-nilai agama atau sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat.

Pertanyaanya, “siapa yang salah”? Orang tua, generasi muda, ataukah pendidikan kita?

Akan lebih bijak jika kita tidak mencari kambing hitam. Adalah  tanggung jawab semua pihak untuk tidak membiarkan generasi muda  tercerabut dari akar budayanya. Semua unsur harus saling mendukung, terutama keluarga,pemerintah dan lembagaa pendidikan. Sebuah aksi yang nyata harus dilakukan agar eksistensi budaya lokal tetap kukuh. 

Sebagai bagian dari unsur pendidikan,  guru-guru IPS seharusnya bisa ikut ambil bagian dalam pelestarian kearifan lokal ini. Walaupun yang dilakukannya kelihatan kecil, namun akan dapat memberi warna dalam usaha mempertahankan kearifan lokal. Tentunya guru IPS dapat memainkan perannya sesuai dengan kearifan lokal di daerah masing-masing.

Nilai-nilai kearifan lokal itu hendaknya mampu dikembangkan dalam pembelajaran IPS dan ditransformasikan kepada peserta didik dalam rangka membentuk dan mengembangkan karakter mereka.

Masyarakat Minangkabau contohnya, mereka terbiasa mengolah “ kata-kata” untuk mengungkapkan nilai-nilai dasar dan norma-norma yang menjadi pegangan

hidup mereka. 


Kata-kata dalam bentuk pepatah-petitih  menjadi media utama untuk menyampaikan   filsafat hidup mereka.  Filsafat tersebut bisa saja tentang makna hidup, makna waktu, makna alarn, makna kerja bagi kehidupan, dan makna individu  dalam hubungan kemasyarakatan.


Petatah petitih adalah salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau yang berbentuk puisi dan berisi kalimat atau ungkapan yang mengadung pengertian yang dalam, luas, tepat, halus dan kiasan. Kata yang digunakan dalam petatah-petitih merupakan kata yang mengandung makna kiasan, perumpamaan dan perbandingan yang mengandung suatu makna tertentu. Petatah-petitih ada kalanya diungkapkan dalam kalimat pendek dan ada kalanya berbentuk pantun. 

Dalam pepatah Minangkabau “Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, ancang-ancang dalam nagari”, tersirat pentingnya mewariskan budaya kepada generasi muda. Dalam pepatah itu terkandung makna pemuda adalah harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan.


Jika para generasi muda tidak segera  dikenalkan dengan budayanya maka yang akan terjadi adalah seperti diungkapkan dalam pepatah “Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah. Yang maknanya adalah karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.


Agar nilai-nilai kearifan  lokal dalam bentuk pepatah-petitih dapat dipahami maknanya oleh generasi muda, pengenalannya  dapat diintegrasikan ke dalam materi ajar IPS di SMP dari kelas VII sampai kelas IX  dan  disesuaikan dengan tuntutan kurikulum seperti kurikulum tahun 2013. 


Ada banyak pepatah-petitih yang hidup dalam masyarakat Minangkabau. Dalam hal ini guru-guru IPS tentu harus bisa untuk  memilah pepatah-petitih yang dapat diadaptasikan dalam pembelajaran IPS di SMP.


Berikut ini adalah beberapa contoh pepatah petitih Minangkabau  yang bisa dikenalkan kepada siswa dikelas VII. 


A. Pada awal pertemuan ( menanamkan kepada siswa  akan pentingnya ilmu ) :


1. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.

maknanya: ;
Pengetahuan hanya didapat dengan berguru ( belajar) kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi.


2. Gadang ombak caliak kapasianyo, gadang kayu caliak kapangkanyo.

 maknanya: : :
Menilai seseorang jangan dari pakaiannya, tetapi nilailah dari pengetahuannya dan budi pekertinya.


3. Panjang namuah dikarek sen Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang.

maknanya:

Berusahalah dengan dasar pengetahuan yang ada untuk melanjutkan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi.


4. Pasa jalan dek batampuah, lanca kaji dek ba ulang.

 maknanya:

Pengetahuan didapat dengan dipelajari, untuk lebih berguna harus diamalkan dalam kehidupan.


B. Materi : Manusia, Tempat dan Lingkungan


Ada banyak pepatah Minangkabau yang memperlihatkan  kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Salah satunya adalah pepatah berikut :  


Panakiak pisau sirauik, Ambiak galah batang lintabuang, Silodang ambiak ka nyiru

Nan satitiak jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadi guru”, 

(Untuk menakik ambil pisau siraut, untuk galah batang lintabuang, Selodang untuk niru. Setetes air jadikan laut, sekepal tanah jadikan gunung, alam terkembang jadikan guru).


Pantun diatas merupakan landasan utama dalam penyusunan adat Minangkabau, yaitu menjadikan alam sekitar sekitar sebagai guru, masyarakat Minangkabau diminta untuk membaca, merenungkan, dan mempelajari apa-apa yang terjadi disekitarnya, kemudian mempergunakannya sesuai dengan sifat unsur tersebut. Seperti untuk membuat galah ( kayu paanjang )  haruslah diambil batang yang lurus, liat dan kokoh sedangkan untuk niru sebaiknya digunakan selodang. Kemampuan untuk mempelajari tanda-tanda alam ini, menurut tatanan adat Minangkabau juga merupakan suatu ilmu. 


Selanjutnya dalam pepatah yang lain,  mencerminkan bagaimana cara masyarakat minang cara menghargai dan memanfaatkan lingkungannya.


Nan lunak ditanam baniah,

nan kareh dibuek ladang, 

nan bancah palapeh itiak,

ganangan ka tabek ikan, 

bukik batu katambang ameh, tambang timbago dengan perak, tambang batubaro dengan minyak, batanam nan bapucuak 

mamaliharo nan banyawa,

sawah batumpak dinan data,

ladang babidang din nan lereang, 

banda baliku turun bukik

(Yang lunak ditanami benih, yang keras jadikan ladang, yang basah tempat melepas itik, genangan untuk memelihara ikan, bukit batu untuk tambang emas, tembaga, perak, batubara dan minyak, bercocok tanam tumbuhan, memelihara yang bernyawa, sawah berpetak di tempat yang datar, ladang berbidang di tempat yang lereng, selokan berliku menuruni bukit)


Pepatah diatas mempunyai makna mendalam agar manusia bisa memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing, tidak ada lingkungan yang diabaikan atau disalahgunakan. Jika lingkungan disalahgunakan maka terjadilah musibah sebagai akibat dari kelalaian manusia tersebut.


C. Materi Interaksi sosial dan Lembaga Sosial

Beberapa contoh pepatah-petitih yang relevan adalah sebagai berikut :


1. Anjalai pamago koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.

maknanya :

Kata bijak Minang di atas mengajak kita untuk berpandai-pandai dalam berucap dan bertutur kata. Karena jika kalimat yang diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti, maka orang juga akan senang menyimaknya.


2. Nan kuriak iyolah kundi, Nan merah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah baso.

maknanya :

Jadilah orang yang mampu menjaga lisan dan tutur kata, jangan suka ceplas-ceplos tidak menentu. Karena banyak percekcokan yang terjadi hanya karena tersinggung oleh perkataan orang lain.


3.Lamak dek awak, katuju di urang.

maknanya :

Pepatah Minang yang terkenal ini memiliki arti bahwa, jadilah orang yang disenangi oleh orang lain, suka membantu sesama tanpa mengorbankan diri sendiri. Harusnya kita merasa senang, orang lain juga merasakan manfaatnya.


4. Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum aia.

maknanya :

Dalam pergaulan, jadilah orang yang setia kawan dan jadilah sahabat yang mampu diandalkan, saling memikul dan mendukung satu sama lain


 5. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.

maknanya :

Peribahasa di atas menjelaskan kepada kita untuk senantiasa memelihara sikap perilaku yang baik kepada diri sendiri, maupun sesama. Dan juga, mengupayakan untuk membuang kebiasaan-kebiasaan yang buruk

Pepatah-petitih diatas hanyalah sedikit contoh dari pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran IPS. Diharapkan dengan menghadirkan pepatah-petitih dalam pembelajaran IPS akan terjadi internalisasi nilai-nilai karakter kearifan lokal. Dengan demikian akan   makin terbuka ruang untuk membentuk kepribadian siswa.


TRUMP DAN SENTIMEN ANTI ASIA

 Oleh : Yanuar Iwan

(SMPN 1 Cipanas, Canjur, Jabar)


Mengamati perkembangan sosial politik di negeri Paman Sam hati dan perasaan seperti diaduk-aduk antara emosi, rasional, dan solidaritas.


Emosi karena AS selama ini dikenal dengan demokrasi dan hukum dengan kualitas keadilan dan transparansi mumpuni, rasional karena perkembangan tersebut cenderung berbeda antara kenyataan dan harapan, solidaritas karena saya merasa berasal dari Asia, dimana penganiayaan, penghinaan, tindak kekerasan dan pelecehan terus menyasar etnis Asia-Amerika, untuk sementara hanya  doa dan harapan yang dapat saya lakukan dalam kerangka solidaritas sebagai sesama warga Asia.


Adakah hubungan antara Trump dengan sentimen anti Asia ? 

Secara langsung tidak ada tetapi secara tidak langsung Trump telah menyulut pola perilaku pembenci, pola perilaku diskriminatif dan rasialis yang sangat bertentangan dengan cita-cita "Founding Fathers" Amerika Serikat. Setiap pemimpin punya semboyan Lincoln dengan demokrasi, Jeffersons dengan hak asasi manusia, dan Trump dengan "Makes America Great Again" sah-sah saja, yang menjadi masalah adalah apabila semboyan tersebut salah diterjemahkan  menjadi pembuatan tembok besar diperbatasan AS-Mexico, pemisahan orangtua dan anaknya dengan cap pendatang ilegal, pemindahan kedubes AS ke Yerusalem, larangan bagi pendatang dari Suriah, Libya, dan Iran, dan skandal pembunuhan jurnalis Khasogi.


Sebagai presiden Trump telah memicu tindak kekerasan yang bukan saja mencederai demokrasi tetapi juga kemanusiaan, tragedi penyerbuan gedung Capitol oleh para pendukungnya karena memprotes hasil pemilu, berakhir dengan kehancuran materi dan jatuhnya korban jiwa, dalam sejarah demokrasi AS belum ada sekalipun pendukung salah satu capres menyerbu, merusak, dan melakukan tindak kekerasan karena memprotes hasil pemilu.


Trump juga mencatat rekor terbaru didalam sejarah perpolitikan AS, sebagai presiden yang sudah tidak menjabat tetapi diproses Kongres untuk diberhentikan.

Menggelikan sekaligus tragis.


Penyataan Trump mengenai pandemi Covid-19 adalah "virus Asia" atau "Kungflu" dilatarbelakangi oleh ketidaksukaannya terhadap agresifitas perdagangan dan ekonomi China yang  membuat perdagangan dan ekonomi AS menjadi limbung, makin bertambahnya jumlah penderita Covid-19 di AS, sulitnya mencari pekerjaan, dan keberhasilan etnis Asia-Amerika dibisnis ritel khususnya orang-orang keturunan China dan Korea mengakibatkan kecemburuan sosial yang radikal dan cenderung rasis, serangan terhadap etnis Asia-Amerika meningkat tajam berdasarkan keterangan dari Kepolisian New York telah terjadi peningkatan 1300 persen dalam kejahatan rasial anti-Asia selama pandemi Covid-19 ( Kompas. Com )


Stop AAPI Hate LSM  yang dibentuk untuk menanggapi meningkatnya diskriminasi anti-Asia sejak berkembangnya pandemi virus Corona Maret 2020 lalu, menyebut peristiwa penembakan di Atlanta yang menewaskan delapan orang enam diantaranya wanita Asia adalah sebagai "tragedi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata" dalam komunitas yang selama ini sudah menjalani begitu banyak tindakan diskriminatif.( Kompas.com)


Sejak Maret 2020 hingga Februari 2021, jumlah kasus kekerasan terhadap warga Asia mencapai 3795 kasus, jumlah ini dikhawatirkan akan terus bertambah apabila kita melihat lambannya penanganan hukum oleh aparat kepolisian khususnya peristiwa yang terjadi disarana umum seperti stasiun kereta, terminal bus, dan jalan umum.


New York menjadi kota besar yang rawan bagi etnis Asia-Amerika, seorang pria terekam kamera CCTV menyerang seorang wanita Asia-Amerika berusia 65 tahun, dalam rekaman tersebut, seorang pria tiba-tiba saja menendang dan menyiksa wanita yang sedang berjalan. Seorang pria menutup pintu gedung didekat lokasi kejadian, tanpa mau peduli dan samasekali tidak mengindahkan  korban.( Kompas.com)


Martin Scorsese sutradara film Taxi Driver, pernah berujar bahwa AS dibangun dengan kekerasan, ucapan beberapa tahun lalu yang kini terbukti dan sejarah sedang berulang, kekerasan terhadap etnis diluar kulit putih terjadi secara masif di negeri yang selama ini dikenal sebagai kiblat demokrasi dan hak asasi manusia.


Apakah sikap hipokrit memang sudah menjadi hal biasa di AS mengingat politik luarnegerinya diwarnai standar ganda, presiden harus lurus dan bersih dari skandal sementara para pemilihnya bebas menerapkan pelanggaran etika, "Pilgrim Fathers" datang dengan slogan Liberty, Egality, Fraternity tetapi berakhir dengan pembantaian orang-orang Indian, Lincoln mengeluarkan UU persamaan kedudukan warganegara kulit hitam tetapi hingga kini diskriminasi terhadap orang-orang Afro-Amerika masih terus terjadi.


Trump berasal dari kubu sayap kanan ultra nasionalis ditubuh Partai Republik, visinya untuk menjadi AS besar kembali diterjemahkan dengan pernyataan-pernyataannya yang kontra produktif dan selalu mengundan kontroversi, Trump adalah murni politikus dan yang bersangkutan juga manusia, sebagai presiden dan mantan presiden dia  tidak bisa melepaskan diri dari segala kepentingan ekonomi para pelaku bisnis besar di Wall Street ataupun para pemodal industri  strategis yang menjadi pendukung fanatik sekaligus menjadi sumber dana dipemilu AS.


Para pendukung fanatiknya yang harus lebih bijak membuka kembali sejarah berdirinya AS sebagai sebuah negara yang demokratis, egaliter, plural dan humanis. Tanpa itu apa bedanya AS dengan Jernan ketika Partai Nazi berkuasa menjelang PD II.



Cipanas, 8 April 2020. Di sekolah.

Selasa, 06 April 2021

Menulis Best Practice dengan praktis

 


Oleh Nursyamsi, S.Pd
(SMPN 4 Pare-pare, Sulawesi Selatan)


Ketika sedang santai sambil membuka Handphone dan mulai membaca satu-persatu pesan yang masuk. Pandangan tertuju pada pesan yang ada di grup WA socius writers FKGIPS. Disana ada undangan dari bapak Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd. sebagai Koordinator Socius Writer Club FKGIPS Nasional untuk mengikuti acara “Bincang Socius” edisi April 2021 via google meet https://meet.google.com/tfq-oehm-rqn dengan materi penulisan best practice yang akan dibawakan oleh narasumber hebat yaitu bapak Dr. Endang Kasupardi.,M.Pd. yang berprofesi sebagai seorang guru, dosen, peneliti, penulis, sastrawan dan budayawan sekaligus pembimbing Socius Writers Club FKGIPS Nasional.

Membaca pesan tersebut, saya menjadi antusias untuk mengikuti materinya dan ingin segera mengisi daftar peserta yang siap untuk mengikuti kegiatan tersebut. Namun teringat kembali bahwa saya punya agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. Saat itu, ada perasaan galau karena akan ketinggalan ilmu yang bermanfaat, karena sudah lama ingin belajar menulis best practice. Tuhan akhirnya memberikan jalan, saya bisa ikut kegiatan ini. Acara yang sejatinya dilaksanakan di waktu yang sama, rupanya diundur ke malam hari. Sehingga saya bisa mengikuti kegiatan bincang socius. Tanpa menunggu waktu lama, malam itu segera saya mengisi daftar peserta yang siap hadir di kegiatan bincang socius.


Materi Kiat Praktis Menyusun Best Practice disajikan dengan santai oleh narasumber,  sehingga peserta bisa menyimak dengan baik. Dari pemaparan narasumber, saya bisa memahami bahwa menulis best practice itu tidak sesulit yang saya bayangkan selama ini. Apalagi penyampaian materi diselingi dengan tanya jawab oleh peserta. Beberapa pertanyaan yang ada di kepala saya pun bisa diwakilkan oleh peserta lain dan dijawab dengan detail oleh narasumber.

Berdasarkan pemaparan narasumber disebutkan bahwa Best Practice adalah sebuah karya tulis yang menceritakan atau melaporkan pengalaman terbaik dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi oleh guru ataupun kepala sekolah untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan pembelajaran.

Menulis best practice adalah hal yang sangat sederhana dan ringan karena berdasarkan pengalaman paling mengesankan yang telah dilalui oleh penulis. Best practice berbeda dengan penelitian tindakan kelas yang memerlukan beberapa tahapan siklus untuk membuktikan suatu model pembelajaran efektif atau tidak efektif digunakan dalam proses pembelajaran.

Best Practice adalah tulisan yang tidak terlalu ilmiah. Seorang guru dalam kegiatan proses pembelajaran di kelas dapat menuliskan atau menceritakan pengalamannya kepada orang lain dengan berbagi solusi terhadap masalah yang sama dengan yang dihadapi oleh orang lain. Misalnya, ketika seorang guru sedang mengajar di kelas, ada siswa yang mengantuk dan tidak antusias mengikuti pelajaran, maka guru tersebut memberi selingan ice breaking untuk membangun kembali semangat belajar siswa, meskipun kegiatan tersebut tidak ada dalam RPP. Pengalaman memberikan ice breaking disela-sela pembelajaran ternyata berdampak positif dan berkesan bagi guru dan siswa. Siswa kembali antusias belajar, dan tidak ada lagi yang mengantuk. Pengalaman ini bisa dituliskan menjadi sebuah best practice.

Secara umum, sistematika menulis best practice terdiri dari judul, pendahuluan, inti dan penutup, yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan, hasil yang diharapkan, pelaksanaan dan hasil penyelesaian masalah, simpulan dan saran, serta daftar pustaka.

Perbedaan mendasar antara Penelitian Tindakan Kelas dengan Best Practice yaitu penelitian tindakan kelas memerlukan tahapan siklus untuk melihat hasil berdasarkan teori, sementara Best Practice hanya menceritakan pengalaman terbaik yang nyata tanpa manipulasi sehingga tidak memerlukan siklus.

Dalam menulis best practice hal yang harus dihindari adalah menuliskan pengalaman yang tidak pernah dialami oleh penulis atau dengan kata lain, pengalaman yang diceritakan adalah hal fiktif atau manipulasi, sehingga perlu untuk menuliskan secara detail waktu, tempat, model kegiatan, serta foto-foto dokumentasi untuk menguatkan bahwa yang diceritakan dalam tulisan tersebut adalah nyata dialami oleh penulis.

Yang perlu dilakukan untuk menulis best practice adalah Ingat pengalaman terbaik, ceritakan, tuliskan, kemudian edit.


Parepare, 06 April 2021




Minggu, 04 April 2021

Waspada Pesan Hoax!

 

Oleh Enang Cuhendi


Laman IG fkgipsnasional_official  secara resmi menayangkan seruan untuk hati-hati terhadap pesan singkat yang berpotensi penipuan. Tentunya ini bukan tanpa maksud. Unggahan ini dirilis mengingat banyaknya berseliweran pesan singkat di grup-grup media sosial, seperti whatapps. Termasuk grup WA FKGIPS sendiri, baik tingkat nasional, wilayah maupun daerah.

Pesan yang nadanya hampir sama seputar hadiah gratis dari aneka perusahaan memang tidak pernah surut meramaikan dunia perpesanan di tanah air. Termasuk di grup-grup komunitas yang sejatinya dihuni para profesional minimal lulusan S1. Pesan bernada seperti itu memang menggiurkan dan mampu menghipnotis para profesional yang ada di grup. Memang siapa yang tidak tergiur dengan hadiah menarik hanya ditebus bermodalkan cukup mengisi data dan membagikan info ke berbagai grup komunitas.


Pesan-pesan seperti di atas biasanya mengiming-imingi hadiah yang sifatnya gratisan (free gift). Untuk mendapatkannya penerima pesan harus mengklik tautan (link) tertentu yang sudah tersedia. Kemudian diminta mengisi data dan memenuhi syarat tertentu. Salah satu syarat biasanya penerima pesan harus menyebarkan pesan tersebut ke beberapa grup komunitas yang diikuti, umumnya grup WA karena ini yang sedang populer.

Ujung dari petualangan si penerima pesan bisa berupa adanya permintaan uang, bobolnya rekening atau diaksesnya seluruh data si penerima pesan bahkan tidak jarang dengan data seluruh anggota grup yang dikirimi pesan berantai. Data ini oleh si pelaku kejahatan biasanya akan dimanfaatkan untuk kejahatan siber atau dijual ke pihak lain. Sehingga jangan heran kalau kita seringkali menerima aneka penawaran promosi dari berbagai pihak ke nomor kita padahal kita tidak pernah bertukar nomor sebelumnya. Yang lagi tren, data kita dimanfaatkan untuk pinjaman online kepada pihak lain. 

Ketika menerima pesan seperti itu, langkah bijak selalu cek dan recek. Minimal manfaatkan google untuk mengecek kebenaran info tersebut. Bisa juga kita langsung cek melalui laman Keminfo RI.


Untuk itu kewaspadaan harus selalu kita lakukan setiap kali menerima pesan berbau iming-iming hadiah. Jangan mudah tergiur dengan gratisan. Kenali ciri-cirinya. Perusahaan ternama biasanya kalau memberikan promo selalu menggunakan media massa terpercaya atau melalui laman resmi mereka sendiri. Biasakan juga untuk melihat tautannya. Kalau tautan itu tidak familiar lebih baik hindari untuk mengklik. Terakhir selalu gunakan akan sehat dan logika. "Mana ada perusahaan yang ingin rugi" kalimat itu yang selalu saya ingat. Tidak begitu saja mereka mau mengeluarkan uang untuk hal yang tidak jelas. Kalau pun promo tentunya harus ada imbal balik yang jelas. Semoga kita selalu berhati-hati dan tidak mudah tergiur dengan segala yang berbau gratisan. Saatnya kita meningkatkan lirerasi digital.