Kamis, 29 April 2021

Cara Efektif Mengendalikan Emosi Diri


Oleh

Sulistyowati 

SMPN 1 PUJON  


“Manage Emotions Wisely, So As Not To Harm Yourself” 


Cobalah untuk belajar membiarkan hal-hal tertentu lepas dari hidup kita.  Hal-hal yang bisa menimbulkan emosi kita, seperti rasa marah, sedih dan cemas akan makin menjadi masalah apabila kita terus memikirkan dan memeliharanya.   Hal-hal tersebut juga sebenarnya bisa pergi dari kehidupan kita dengan mudah, namun kita sendirilah yang justru tidak rela untuk membiarkannya pergi dari pikiran kita dan terus menerus memikirkannya.  Oleh karena itu, ikhlaskanlah.  Biarkanlah yang lalu menjadi masa lalu, dan fokuskan diri kita untuk menghadapi masa depan.

Beritahu saya jika para sahabat pernah mengalami kondisi ini. Ketika sedang berkendara, tiba-tiba disalip pengendara lain dengan seenak perutnya. Tentunya kaget dan emosi dibuatnya. Beberapa nama hewan dan sumpah serapah pun keluar dari mulut tanpa sensor, waduh???.  Jika akrab dengan kondisi di atas, kita mungkin termasuk orang yang susah mengendalikan emosi. Barangkali juga sahabat  merasakan dampak negatif emosi tersebut seperti stres, tekanan darah tinggi, serangan jantung, gangguan tidur, stroke, atau gangguan pernapasan (asma). Berita baiknya, sahabat  bisa mengendalikan emosi diri sendiri. Berikut tujuh cara di bawah ini akan membantu para sahabat melakukannya. 

1. Menenangkan diri

Dari perspektif manajemen marah, marah bisa dilihat sebagai sebuah siklus (aggression cycle)  yang terdiri dari eskalasi, eksplosi, dan pasca-eksplosi. Oleh karena itu, saat marah, tenangkan diri sehingga siklus agresi berantakan. Dengan pikiran tenang, bisa berpikir logis dan mencari solusi. Untuk menenangkan diri, bisa melakukan cara-cara berikut:

  • Tarik napas dalam-dalam – Saat menarik napas, fokuskan pikiran pada napas yang masuk ke hidung atau bayangkan pemandangan yang indah. Lakukan berulang sehingga bisa menurunkan emosi sedikit demi sedikit.

  • Hitung 1 s.d 10 – Dalam hati, hitung dari satu sampai sepuluh secara perlahan untuk meredakan emosi. Jika perlu, lakukan beberapa kali.

  • Alihkan perhatian – Kita bisa mengalihkan perhatian pada hal-hal lain seperti menonton TV atau pergi ke toilet.

2. Berempati

Pemicu marah terkadang hal sepele. Untuk menghindari masalah sepele ini menjadi besar, berempatilah. Empati adalah keadaan mental yang membuat kita merasakan keadaan atau pikiran orang lain. Kembali kepada contoh pengendara yang menyalip kita, berempatilah kepada dia. Mungkin dia sedang buru-buru atau memang karakternya sudah begitu. Dengan berempati, tidak akan mengeluarkan sumpah serapah dan nama hewan.

Contoh lain, jika si istri ngomel-ngomel, berempatilah kepada dia. Mungkin saja dia capai memasak, membereskan rumah, dan mengurus anak sehingga kondisi mentalnya tidak stabil.

Mungkin akan sedikit susah berempati ini karena merasa diri lebih superior. Namun, kuatkanlah melakukannya karena memang tujuan kita adalah meredam marah.

3. Mengingat dampak negatif yang akan terjadi

Emosi yang meluap-luap biasanya membuat yang bersangkutan gelap mata. Jika sudah demikian, dia akan memukul, berteriak, memaki, atau merusak barang-barang yang ada. Nah, untuk menghindari keadaan ini, ingatlah dampak negatif yang akan terjadi jika kita tidak bisa melawan emosi. Sebagai contoh, jika bertengkar hebat dengan isteri. Saat amarah akan meledak (misalnya akan memukul), ingat dampak negatif yang akan terjadi seperti isteri akan lebam mukanya, mertua membenci, atau kita dilaporkan isteri ke polisi karena melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

4. Menganggap hari terakhir kita hidup

Jika masih sulit mengontrol emosi, anggap hari saat kita marah adalah hari terakhir kita hidup. Dengan menganggap seperti itu, emosi kita akan mereda dengan sendirinya karena ingin mati dengan membawa kebaikan, bukan membawa emosi (semoga)

5. Memaafkan dan melupakan

Kita sering mengungkit-ungkit masalah lama sehingga emosi meluap lagi? Mulai sekarang, maafkan mereka yang telah memberi kita masalah (misalnya menyakiti, membohongi, merendahkan, atau menjelekkan kita) dan lupakan.

Cara ini adalah cara favorit saya dalam menghilangkan emosi. Dengan memaafkan dan melupakan, saya bisa berfokus pada hal-hal penting yang berdampak positif pada kehidupan saya. Selain itu, saya juga terhindar dari balas dendam serta emosi berkepanjangan. 

6. Membaca ta’awudz

Jika sahabat beragama Islam, baca ta’awudz (a-‘udzu billahi minas syaithanir rajiim) untuk menahan diri ketika sedang marah. Dengan membaca ta’awudz tersebut, kita memohon perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan setan yang merupakan sumber amarah.

7. Berolahraga

Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi emosi adalah berolahraga seperti berjalan kaki, bermain sepak bola, lari, atau berenang. Apa pun jenisnya, olahraga bisa menstimulasi zat-zat kimia dalam otak yang membuat lebih rileks dan bahagia. Selain itu, olahraga akan menguras energi secara positif sehingga melenturkan ketegangan syaraf. 

Emosi harus dikendalikan agar tidak memberi dampak negatif pada diri sendiri atau orang lain. Cobalah  melakukan 7 cara di atas. Jangan heran bila kesulitan menerapkannya karena memang mengendalikan emosi itu perlu waktu, latihan serta kesabaran. Cobalah terus menerus sehingga mendapatkan cara efektif dalam mengontrol emosi kita. 

 Ketika suatu masalah membuat beban emosi semakin berat, cobalah untuk memikirkan hal-hal lain.  Kita bisa mencoba berhitung, menyebutkan berbagai nama binatang yang kita ketahui, atau mengingat-ingat cerita lucu yang pernah kita baca.  Usahakan untuk tidak memikirkan masalah yang menjadi sumber emosi sampai merasa lebih siap untuk menghadapinya tanpa harus "meledak". 

Selalu lakukan introspeksi.  Tinjau lagi permasalahan dari sudut pandang orang lain, sambil mencoba mengoreksi diri sendiri.  Jangan takut untuk mengakuinya ketika menyadari bahwa kita melakukan suatu kesalahan, yang justru membuat kita merasa emosi.  Jangan biarkan pride kita menghalangi proses introspeksi, dan membuat emosi kita semakin tinggi.

  Ada banyak metode yang bisa digunakan untuk mengontrol emosi.  Mulai cara-cara alami dan sederhana, hingga menggunakan obat-obatan tertentu.  Yang jelas, emosi memang harus selalu dikendalikan, apalagi dalam situasi yang menuntut kita untuk bersikap secara profesional.  Jangan sampai rasa marah, sedih, atau bahkan senang mempengaruhi saat kita harus mengambil keputusan-keputusan penting yang seharusnya dilandasi oleh logika.  

          Tiada henti ikhtiar maksimal dalam mengendalikan emosi, baik secara lahir maupun batin. Sangat tidak mudah untuk di lakukan, mengingat sifat dasar manusia dengan segala sifat  negatif maupun positif. Tapi bukan berarti tidak bisa. Sebagai manusia yang beragama, sepatutnya kecuali iktiar, Memohon kepada Sang Pemilik serta Pengendali diri kita, agar senantiasa diberikan Rahmat serta Kekuatan untuk mengendalikan diri menuju pada kesempurnaan Jiwa di Dunia dan  Akherat kelak, Aamiin. Barokalloh. 



DAFTAR PUSTAKA 


Artikel www.muslimafiyah.com

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

Sulistyowati. 2020. Indahnya Berkarya Tuk Menginspirasi. Batu: Beta Aksara.

sumber :http://vitatha .blogspot.com