Kamis, 08 April 2021

MENGHADIRKAN PEPATAH-PETITIH MINANGKABAU DALAM KELAS IPS

 Oleh : Rusmita

Guru IPS SMPN 1 Ciruas, Banten


Ada banyak alasan bagi kita untuk bangga menjadi bangsa Indonesia. Jika menjelajah nusantara maka akan ditemui macam ragam budaya dan kearifan lokal di setiap daerah. Budaya dan kearifan lokal inilah yang menjadi ciri khas dan membentuk karakter anak bangsa di setiap daerah.

Kearifan lokal merupakan istilah yang sering dipakai kalangan ilmuan untuk mewakili sistem nilai, norma yang disusun, dianut, difahami dan diaplikasikan masyarakat lokal berdasarkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam berinteraksi dan berhubungan dengan alam sekitar (Prijono 2000). Zakaria (1994) menyebutkan dengan istilah kearifan yaitu sebagai pengetahuan kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu.

Kearifan lokal pada setiap daerah hanya akan dapat dimiliki oleh masyarakat, khususnya generasi muda,  jika dilakukan proses pewarisannya dengan sengaja. Pewarisan tidak akan terjadi dengan sendirinya. 

Pewarisan kearifan lokal ini menjadi semakin mendesak, melihat kenyataan begitu derasnya arus globalisasi menghanyutkan anak bangsa. Mereka hanyut semakin jauh dari budaya dan kearifan lokal. Budaya dan kearifan lokal terancam tergerus bahkan terkikis. 

Bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda sekarang lebih  familiar dengan budaya dari luar dan bahkan mungkin  tidak mengenal sama sekali budaya daerahnya sendiri. Dengan terenggutnya mereka dari budaya dan kearifan lokal,maka terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam tingkah laku mereka. 

Begitu sering kita melihat orang tua yang menangis sambil mengurut dada karena sikap anaknya yang dengan suara tinggi menghardik orang tuanya. Atau kita terbiasa melihat fenomena generasi muda yang tidak lagi menghiraikan nilai-nilai agama atau sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat.

Pertanyaanya, “siapa yang salah”? Orang tua, generasi muda, ataukah pendidikan kita?

Akan lebih bijak jika kita tidak mencari kambing hitam. Adalah  tanggung jawab semua pihak untuk tidak membiarkan generasi muda  tercerabut dari akar budayanya. Semua unsur harus saling mendukung, terutama keluarga,pemerintah dan lembagaa pendidikan. Sebuah aksi yang nyata harus dilakukan agar eksistensi budaya lokal tetap kukuh. 

Sebagai bagian dari unsur pendidikan,  guru-guru IPS seharusnya bisa ikut ambil bagian dalam pelestarian kearifan lokal ini. Walaupun yang dilakukannya kelihatan kecil, namun akan dapat memberi warna dalam usaha mempertahankan kearifan lokal. Tentunya guru IPS dapat memainkan perannya sesuai dengan kearifan lokal di daerah masing-masing.

Nilai-nilai kearifan lokal itu hendaknya mampu dikembangkan dalam pembelajaran IPS dan ditransformasikan kepada peserta didik dalam rangka membentuk dan mengembangkan karakter mereka.

Masyarakat Minangkabau contohnya, mereka terbiasa mengolah “ kata-kata” untuk mengungkapkan nilai-nilai dasar dan norma-norma yang menjadi pegangan

hidup mereka. 


Kata-kata dalam bentuk pepatah-petitih  menjadi media utama untuk menyampaikan   filsafat hidup mereka.  Filsafat tersebut bisa saja tentang makna hidup, makna waktu, makna alarn, makna kerja bagi kehidupan, dan makna individu  dalam hubungan kemasyarakatan.


Petatah petitih adalah salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau yang berbentuk puisi dan berisi kalimat atau ungkapan yang mengadung pengertian yang dalam, luas, tepat, halus dan kiasan. Kata yang digunakan dalam petatah-petitih merupakan kata yang mengandung makna kiasan, perumpamaan dan perbandingan yang mengandung suatu makna tertentu. Petatah-petitih ada kalanya diungkapkan dalam kalimat pendek dan ada kalanya berbentuk pantun. 

Dalam pepatah Minangkabau “Nan mudo pambimbiang dunia, nan capek kaki ringan tangan, ancang-ancang dalam nagari”, tersirat pentingnya mewariskan budaya kepada generasi muda. Dalam pepatah itu terkandung makna pemuda adalah harapan bangsa ditangan pemuda terletak maju mundurnya bangsa dimasa depan.


Jika para generasi muda tidak segera  dikenalkan dengan budayanya maka yang akan terjadi adalah seperti diungkapkan dalam pepatah “Bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun ratak sabuah jadi tuah, jikok dibukakpusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah. Yang maknanya adalah karena banyaknya yang mempengaruhi kebudayaan kita yang datang dari luar, kemurnian kebudayaan Adat istiadat mulai kabur dari masyarakat.


Agar nilai-nilai kearifan  lokal dalam bentuk pepatah-petitih dapat dipahami maknanya oleh generasi muda, pengenalannya  dapat diintegrasikan ke dalam materi ajar IPS di SMP dari kelas VII sampai kelas IX  dan  disesuaikan dengan tuntutan kurikulum seperti kurikulum tahun 2013. 


Ada banyak pepatah-petitih yang hidup dalam masyarakat Minangkabau. Dalam hal ini guru-guru IPS tentu harus bisa untuk  memilah pepatah-petitih yang dapat diadaptasikan dalam pembelajaran IPS di SMP.


Berikut ini adalah beberapa contoh pepatah petitih Minangkabau  yang bisa dikenalkan kepada siswa dikelas VII. 


A. Pada awal pertemuan ( menanamkan kepada siswa  akan pentingnya ilmu ) :


1. Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.

maknanya: ;
Pengetahuan hanya didapat dengan berguru ( belajar) kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi.


2. Gadang ombak caliak kapasianyo, gadang kayu caliak kapangkanyo.

 maknanya: : :
Menilai seseorang jangan dari pakaiannya, tetapi nilailah dari pengetahuannya dan budi pekertinya.


3. Panjang namuah dikarek sen Satitiak jadikan lauik, sakapa jadikan gunuang.

maknanya:

Berusahalah dengan dasar pengetahuan yang ada untuk melanjutkan mencapai pengetahuan yang lebih tinggi.


4. Pasa jalan dek batampuah, lanca kaji dek ba ulang.

 maknanya:

Pengetahuan didapat dengan dipelajari, untuk lebih berguna harus diamalkan dalam kehidupan.


B. Materi : Manusia, Tempat dan Lingkungan


Ada banyak pepatah Minangkabau yang memperlihatkan  kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Salah satunya adalah pepatah berikut :  


Panakiak pisau sirauik, Ambiak galah batang lintabuang, Silodang ambiak ka nyiru

Nan satitiak jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadi guru”, 

(Untuk menakik ambil pisau siraut, untuk galah batang lintabuang, Selodang untuk niru. Setetes air jadikan laut, sekepal tanah jadikan gunung, alam terkembang jadikan guru).


Pantun diatas merupakan landasan utama dalam penyusunan adat Minangkabau, yaitu menjadikan alam sekitar sekitar sebagai guru, masyarakat Minangkabau diminta untuk membaca, merenungkan, dan mempelajari apa-apa yang terjadi disekitarnya, kemudian mempergunakannya sesuai dengan sifat unsur tersebut. Seperti untuk membuat galah ( kayu paanjang )  haruslah diambil batang yang lurus, liat dan kokoh sedangkan untuk niru sebaiknya digunakan selodang. Kemampuan untuk mempelajari tanda-tanda alam ini, menurut tatanan adat Minangkabau juga merupakan suatu ilmu. 


Selanjutnya dalam pepatah yang lain,  mencerminkan bagaimana cara masyarakat minang cara menghargai dan memanfaatkan lingkungannya.


Nan lunak ditanam baniah,

nan kareh dibuek ladang, 

nan bancah palapeh itiak,

ganangan ka tabek ikan, 

bukik batu katambang ameh, tambang timbago dengan perak, tambang batubaro dengan minyak, batanam nan bapucuak 

mamaliharo nan banyawa,

sawah batumpak dinan data,

ladang babidang din nan lereang, 

banda baliku turun bukik

(Yang lunak ditanami benih, yang keras jadikan ladang, yang basah tempat melepas itik, genangan untuk memelihara ikan, bukit batu untuk tambang emas, tembaga, perak, batubara dan minyak, bercocok tanam tumbuhan, memelihara yang bernyawa, sawah berpetak di tempat yang datar, ladang berbidang di tempat yang lereng, selokan berliku menuruni bukit)


Pepatah diatas mempunyai makna mendalam agar manusia bisa memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing, tidak ada lingkungan yang diabaikan atau disalahgunakan. Jika lingkungan disalahgunakan maka terjadilah musibah sebagai akibat dari kelalaian manusia tersebut.


C. Materi Interaksi sosial dan Lembaga Sosial

Beberapa contoh pepatah-petitih yang relevan adalah sebagai berikut :


1. Anjalai pamago koto, tumbuah sarumpun jo ligundi, kalau pandai bakato kato, umpamo santan jo tangguli.

maknanya :

Kata bijak Minang di atas mengajak kita untuk berpandai-pandai dalam berucap dan bertutur kata. Karena jika kalimat yang diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti, maka orang juga akan senang menyimaknya.


2. Nan kuriak iyolah kundi, Nan merah iyolah sago, Nan baiak iyolah budi, Nan indah iyolah baso.

maknanya :

Jadilah orang yang mampu menjaga lisan dan tutur kata, jangan suka ceplas-ceplos tidak menentu. Karena banyak percekcokan yang terjadi hanya karena tersinggung oleh perkataan orang lain.


3.Lamak dek awak, katuju di urang.

maknanya :

Pepatah Minang yang terkenal ini memiliki arti bahwa, jadilah orang yang disenangi oleh orang lain, suka membantu sesama tanpa mengorbankan diri sendiri. Harusnya kita merasa senang, orang lain juga merasakan manfaatnya.


4. Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum aia.

maknanya :

Dalam pergaulan, jadilah orang yang setia kawan dan jadilah sahabat yang mampu diandalkan, saling memikul dan mendukung satu sama lain


 5. Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.

maknanya :

Peribahasa di atas menjelaskan kepada kita untuk senantiasa memelihara sikap perilaku yang baik kepada diri sendiri, maupun sesama. Dan juga, mengupayakan untuk membuang kebiasaan-kebiasaan yang buruk

Pepatah-petitih diatas hanyalah sedikit contoh dari pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran IPS. Diharapkan dengan menghadirkan pepatah-petitih dalam pembelajaran IPS akan terjadi internalisasi nilai-nilai karakter kearifan lokal. Dengan demikian akan   makin terbuka ruang untuk membentuk kepribadian siswa.