Selasa, 06 April 2021

Menulis Best Practice dengan praktis

 


Oleh Nursyamsi, S.Pd
(SMPN 4 Pare-pare, Sulawesi Selatan)


Ketika sedang santai sambil membuka Handphone dan mulai membaca satu-persatu pesan yang masuk. Pandangan tertuju pada pesan yang ada di grup WA socius writers FKGIPS. Disana ada undangan dari bapak Enang Cuhendi, S.Pd., MM.Pd. sebagai Koordinator Socius Writer Club FKGIPS Nasional untuk mengikuti acara “Bincang Socius” edisi April 2021 via google meet https://meet.google.com/tfq-oehm-rqn dengan materi penulisan best practice yang akan dibawakan oleh narasumber hebat yaitu bapak Dr. Endang Kasupardi.,M.Pd. yang berprofesi sebagai seorang guru, dosen, peneliti, penulis, sastrawan dan budayawan sekaligus pembimbing Socius Writers Club FKGIPS Nasional.

Membaca pesan tersebut, saya menjadi antusias untuk mengikuti materinya dan ingin segera mengisi daftar peserta yang siap untuk mengikuti kegiatan tersebut. Namun teringat kembali bahwa saya punya agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. Saat itu, ada perasaan galau karena akan ketinggalan ilmu yang bermanfaat, karena sudah lama ingin belajar menulis best practice. Tuhan akhirnya memberikan jalan, saya bisa ikut kegiatan ini. Acara yang sejatinya dilaksanakan di waktu yang sama, rupanya diundur ke malam hari. Sehingga saya bisa mengikuti kegiatan bincang socius. Tanpa menunggu waktu lama, malam itu segera saya mengisi daftar peserta yang siap hadir di kegiatan bincang socius.


Materi Kiat Praktis Menyusun Best Practice disajikan dengan santai oleh narasumber,  sehingga peserta bisa menyimak dengan baik. Dari pemaparan narasumber, saya bisa memahami bahwa menulis best practice itu tidak sesulit yang saya bayangkan selama ini. Apalagi penyampaian materi diselingi dengan tanya jawab oleh peserta. Beberapa pertanyaan yang ada di kepala saya pun bisa diwakilkan oleh peserta lain dan dijawab dengan detail oleh narasumber.

Berdasarkan pemaparan narasumber disebutkan bahwa Best Practice adalah sebuah karya tulis yang menceritakan atau melaporkan pengalaman terbaik dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi oleh guru ataupun kepala sekolah untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan pembelajaran.

Menulis best practice adalah hal yang sangat sederhana dan ringan karena berdasarkan pengalaman paling mengesankan yang telah dilalui oleh penulis. Best practice berbeda dengan penelitian tindakan kelas yang memerlukan beberapa tahapan siklus untuk membuktikan suatu model pembelajaran efektif atau tidak efektif digunakan dalam proses pembelajaran.

Best Practice adalah tulisan yang tidak terlalu ilmiah. Seorang guru dalam kegiatan proses pembelajaran di kelas dapat menuliskan atau menceritakan pengalamannya kepada orang lain dengan berbagi solusi terhadap masalah yang sama dengan yang dihadapi oleh orang lain. Misalnya, ketika seorang guru sedang mengajar di kelas, ada siswa yang mengantuk dan tidak antusias mengikuti pelajaran, maka guru tersebut memberi selingan ice breaking untuk membangun kembali semangat belajar siswa, meskipun kegiatan tersebut tidak ada dalam RPP. Pengalaman memberikan ice breaking disela-sela pembelajaran ternyata berdampak positif dan berkesan bagi guru dan siswa. Siswa kembali antusias belajar, dan tidak ada lagi yang mengantuk. Pengalaman ini bisa dituliskan menjadi sebuah best practice.

Secara umum, sistematika menulis best practice terdiri dari judul, pendahuluan, inti dan penutup, yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan, hasil yang diharapkan, pelaksanaan dan hasil penyelesaian masalah, simpulan dan saran, serta daftar pustaka.

Perbedaan mendasar antara Penelitian Tindakan Kelas dengan Best Practice yaitu penelitian tindakan kelas memerlukan tahapan siklus untuk melihat hasil berdasarkan teori, sementara Best Practice hanya menceritakan pengalaman terbaik yang nyata tanpa manipulasi sehingga tidak memerlukan siklus.

Dalam menulis best practice hal yang harus dihindari adalah menuliskan pengalaman yang tidak pernah dialami oleh penulis atau dengan kata lain, pengalaman yang diceritakan adalah hal fiktif atau manipulasi, sehingga perlu untuk menuliskan secara detail waktu, tempat, model kegiatan, serta foto-foto dokumentasi untuk menguatkan bahwa yang diceritakan dalam tulisan tersebut adalah nyata dialami oleh penulis.

Yang perlu dilakukan untuk menulis best practice adalah Ingat pengalaman terbaik, ceritakan, tuliskan, kemudian edit.


Parepare, 06 April 2021