Kamis, 08 April 2021

TRUMP DAN SENTIMEN ANTI ASIA

 Oleh : Yanuar Iwan

(SMPN 1 Cipanas, Canjur, Jabar)


Mengamati perkembangan sosial politik di negeri Paman Sam hati dan perasaan seperti diaduk-aduk antara emosi, rasional, dan solidaritas.


Emosi karena AS selama ini dikenal dengan demokrasi dan hukum dengan kualitas keadilan dan transparansi mumpuni, rasional karena perkembangan tersebut cenderung berbeda antara kenyataan dan harapan, solidaritas karena saya merasa berasal dari Asia, dimana penganiayaan, penghinaan, tindak kekerasan dan pelecehan terus menyasar etnis Asia-Amerika, untuk sementara hanya  doa dan harapan yang dapat saya lakukan dalam kerangka solidaritas sebagai sesama warga Asia.


Adakah hubungan antara Trump dengan sentimen anti Asia ? 

Secara langsung tidak ada tetapi secara tidak langsung Trump telah menyulut pola perilaku pembenci, pola perilaku diskriminatif dan rasialis yang sangat bertentangan dengan cita-cita "Founding Fathers" Amerika Serikat. Setiap pemimpin punya semboyan Lincoln dengan demokrasi, Jeffersons dengan hak asasi manusia, dan Trump dengan "Makes America Great Again" sah-sah saja, yang menjadi masalah adalah apabila semboyan tersebut salah diterjemahkan  menjadi pembuatan tembok besar diperbatasan AS-Mexico, pemisahan orangtua dan anaknya dengan cap pendatang ilegal, pemindahan kedubes AS ke Yerusalem, larangan bagi pendatang dari Suriah, Libya, dan Iran, dan skandal pembunuhan jurnalis Khasogi.


Sebagai presiden Trump telah memicu tindak kekerasan yang bukan saja mencederai demokrasi tetapi juga kemanusiaan, tragedi penyerbuan gedung Capitol oleh para pendukungnya karena memprotes hasil pemilu, berakhir dengan kehancuran materi dan jatuhnya korban jiwa, dalam sejarah demokrasi AS belum ada sekalipun pendukung salah satu capres menyerbu, merusak, dan melakukan tindak kekerasan karena memprotes hasil pemilu.


Trump juga mencatat rekor terbaru didalam sejarah perpolitikan AS, sebagai presiden yang sudah tidak menjabat tetapi diproses Kongres untuk diberhentikan.

Menggelikan sekaligus tragis.


Penyataan Trump mengenai pandemi Covid-19 adalah "virus Asia" atau "Kungflu" dilatarbelakangi oleh ketidaksukaannya terhadap agresifitas perdagangan dan ekonomi China yang  membuat perdagangan dan ekonomi AS menjadi limbung, makin bertambahnya jumlah penderita Covid-19 di AS, sulitnya mencari pekerjaan, dan keberhasilan etnis Asia-Amerika dibisnis ritel khususnya orang-orang keturunan China dan Korea mengakibatkan kecemburuan sosial yang radikal dan cenderung rasis, serangan terhadap etnis Asia-Amerika meningkat tajam berdasarkan keterangan dari Kepolisian New York telah terjadi peningkatan 1300 persen dalam kejahatan rasial anti-Asia selama pandemi Covid-19 ( Kompas. Com )


Stop AAPI Hate LSM  yang dibentuk untuk menanggapi meningkatnya diskriminasi anti-Asia sejak berkembangnya pandemi virus Corona Maret 2020 lalu, menyebut peristiwa penembakan di Atlanta yang menewaskan delapan orang enam diantaranya wanita Asia adalah sebagai "tragedi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata" dalam komunitas yang selama ini sudah menjalani begitu banyak tindakan diskriminatif.( Kompas.com)


Sejak Maret 2020 hingga Februari 2021, jumlah kasus kekerasan terhadap warga Asia mencapai 3795 kasus, jumlah ini dikhawatirkan akan terus bertambah apabila kita melihat lambannya penanganan hukum oleh aparat kepolisian khususnya peristiwa yang terjadi disarana umum seperti stasiun kereta, terminal bus, dan jalan umum.


New York menjadi kota besar yang rawan bagi etnis Asia-Amerika, seorang pria terekam kamera CCTV menyerang seorang wanita Asia-Amerika berusia 65 tahun, dalam rekaman tersebut, seorang pria tiba-tiba saja menendang dan menyiksa wanita yang sedang berjalan. Seorang pria menutup pintu gedung didekat lokasi kejadian, tanpa mau peduli dan samasekali tidak mengindahkan  korban.( Kompas.com)


Martin Scorsese sutradara film Taxi Driver, pernah berujar bahwa AS dibangun dengan kekerasan, ucapan beberapa tahun lalu yang kini terbukti dan sejarah sedang berulang, kekerasan terhadap etnis diluar kulit putih terjadi secara masif di negeri yang selama ini dikenal sebagai kiblat demokrasi dan hak asasi manusia.


Apakah sikap hipokrit memang sudah menjadi hal biasa di AS mengingat politik luarnegerinya diwarnai standar ganda, presiden harus lurus dan bersih dari skandal sementara para pemilihnya bebas menerapkan pelanggaran etika, "Pilgrim Fathers" datang dengan slogan Liberty, Egality, Fraternity tetapi berakhir dengan pembantaian orang-orang Indian, Lincoln mengeluarkan UU persamaan kedudukan warganegara kulit hitam tetapi hingga kini diskriminasi terhadap orang-orang Afro-Amerika masih terus terjadi.


Trump berasal dari kubu sayap kanan ultra nasionalis ditubuh Partai Republik, visinya untuk menjadi AS besar kembali diterjemahkan dengan pernyataan-pernyataannya yang kontra produktif dan selalu mengundan kontroversi, Trump adalah murni politikus dan yang bersangkutan juga manusia, sebagai presiden dan mantan presiden dia  tidak bisa melepaskan diri dari segala kepentingan ekonomi para pelaku bisnis besar di Wall Street ataupun para pemodal industri  strategis yang menjadi pendukung fanatik sekaligus menjadi sumber dana dipemilu AS.


Para pendukung fanatiknya yang harus lebih bijak membuka kembali sejarah berdirinya AS sebagai sebuah negara yang demokratis, egaliter, plural dan humanis. Tanpa itu apa bedanya AS dengan Jernan ketika Partai Nazi berkuasa menjelang PD II.



Cipanas, 8 April 2020. Di sekolah.