Rabu, 16 Juni 2021

MENANTI BERSATUNYA FATAH DAN HAMAS

Oleh : Yanuar Iwan


Konflik Palestina-Israel sudah menjadi konflik klasik yang rumit dan berkepanjangan.


Rumit karena melibatkan kepentingan-kepentingan strategis negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Cina, berkepanjangan karena ditentukan oleh wajah kekuasaan di Palestina dan Israel.


Kekalahan tragis Mesir, Suriah, dan Yordania, dalam perang 1967 merubah tatanan geopolitik Timur Tengah, termasuk kawasan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Israel menguasai kedua wilayah strategis ini, dan sejak itu pertumpahan darah terus terjadi.


Israel dengan masif dan sistemik terus mendatangkan imigran Yahudi dari seluruh dunia dan memperluas pemukiman dengan menggusur tempat tinggal masyarakat Palestina.


Konflik berdarah pada Mei 2021 secara umum terjadi karena meluasnya pemukiman Yahudi dan makin terbatasnya wilayah Palestina terutama di Jalur Gaza.


Jalur Gaza menjadi target utama misil Israel karena mereka khawatir dengan perkembangan Hamas yang terus mendapatkan dukungan masyarakat Palestina di Jalur Gaza.


Gencatan senjata antara Palestina-Israel akan terus menjadi perdamaian semu apabila Israel tetap pada prinsipnya tidak mengakui negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. 


Hingga detik ini internal kekuasaan Palestina terpecah antara Al Fatah ( Sayap sekuler ditubuh PLO ) menguasai Tepi Barat, dan Hamas ( Sayap agama ditubuh PLO ) menguasai Jalur Gaza. 


Fatah didirikan oleh Yasser Arafat pada 1959 dengan tujuan membentuk negara Palestina merdeka yang heterogen menggunakan kekuatan senjata dan diplomasi untuk  menghadapi Zionis Israel. Hamas didirikan Sheikh Ahmad Yassin dengan dukungan dari Ikhwanul Muslimin Mesir pada 1987 bertujuan mendirikan Negara Islam Palestina.


Pemilu tahun 2006 Hamas memperoleh 76 kursi sementara Fatah hanya 43 kursi, Hamas membentuk otoritas  sendiri di Jalur Gaza  dengan dukungan penuh dari Iran, Suriah, dan Milisi Hizbullah Libanon.

Hamas tidak pernah mengakui hasil-hasil perundingan Oslo 1993 diantaranya tidak mengakui Fatah dibawah Arafat sebagai Pemerintah Otoritas  Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza dan menentang pengakuan Israel sebagai suatu negara.


Upaya rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas sudah dilakukan sejak 2007 hingga 2017 perbedaan tujuan dan garis perjuangan menghambat kesepakatan keduanya. Garis radikal dan moderat ala Timur Tengah menjadi batu sandungan antar keduanya.


Gus Dur dalam salah satu tulisannya menyatakan bahwa Mossad dengan sistematis merekrut  dan menggunakan orang-orang Palestina yang profesional dibidangnya untuk bekerja dibidang-bidang strategis dengan gaji yang besar sementara yang tidak memiliki keterampilan, hidup dalam penderitaan di Jalur Gaza.


Gus Dur juga mengatakan masih adanya sikap radikal di negara-negara seperti Irak, Iran dan  Suriah, Hizbullah di Libanon dan Partai Likud ( Partai sayap kanan radikal ) di Israel mengakibatkan masalah Palestina-Israel menjadi sangat sulit  untuk diselesaikan.


Kita menunggu dengan penuh harap terjadinya rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas untuk berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, tanpa terjadinya rekonsiliasi dan konsolidasi diantara  faksi-faksi di PLO cita-cita perjuangan tersebut akan sulit dicapai.


SMPN 1 Cipanas, 16  Juni 2021. Di Perpustakaan.