Sabtu, 19 Juni 2021

PETER CAREY DAN SEJARAH PERANG JAWA

Oleh : Yanuar Iwan


Sejarah adalah pertarungan antara manusia dan dunia ide-ide, tidak hanya soal kecukupan materi hidup mereka. Apa yang diungkapkan Karl popper seorang filsuf asal Inggris berbanding lurus dengan konsistensi seorang Peter Carey,  Sejarawan Inggris kelahiran Myanmar, Carey dengan kesabaran dan ketelitiannya berhasil menghasilkan karya sejarah "brilyan" terlepas dari karya tulis sejarahnya tersebut ditulis untuk memenuhi salah satu syarat akademik untuk meraih gelar profesor. Buku dengan tebal 1.456 halaman dengan judul Kuasa Ramalan ; Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Jawa, 1785-1855 terbagi kedalam tiga jilid. Telah berhasil menghadirkan informasi-informasi kesejarahan aktual mengenai Perang Jawa ( 1825-1830 ).


Carey membahas kondisi sosial, politik, keagamaan dan ekonomi yang mempengaruhi keadaan masyarakat Jawa sebelum pecahnya perang, ketertindasan masyarakat Jawa akibat pajak yang makin "menggila" transformasi nilai-nilai budaya Eropa yang dipaksakan, aroganisme feodal, peredaran candu yang dilindungi dan dilegalkan oleh penguasa Inggris dan Belanda, konflik keraton, sampai dengan akulturasi agama Islam dengan kebudayaan Jawa. Carey secara meyakinkan berhasil "meluruskan" sejarah yang ditulis oleh para sejarawan Belanda bahwa Pangeran Diponegoro mengangkat senjata   dan menggerakkan perlawanan karena ambisinya untuk merebut takhta keraton Yogyakarta, Diponegoro melawan karena tanah leluhurnya dipatok tombak-tombak untuk pembukaan jalan kereta api pengangkut hasil bumi, yang membuat prihatin referensi dari para sejarawan Belanda ini digunakan oleh pustaka dunia sekelas _Encylopedia Britannica_ ,Carey menuliskan bahwa Pangeran Diponegoro memimpin Perang Jawa dibawah panji-panji Islam, Diponegoro bukanlah pembaharu Islam hal ini berbeda dengan Perang Padri di Sumatera Barat, Diponegoro ditempatkan sebagai tokoh pemimpin yang ditakdirkan menjadi sosok Ratu Adil melalui akulturasi kepercayaan Jawa dengan Islam, nama  Ngabdulkamit yang digunakan Pangeran Diponegoro memiliki persamaan  arti dengan sebutan orang Jawa akan datangnya ratu adil ( Eru Cokro), Carey tidak menempatkan Pangeran Diponegoro sebagai sosok heroik, sisi Diponegoro sebagai manusia, sebagai pemimpin, sebagai pemikir, sebagai panglima perang, dan proses sosialisasinya dengan kondisi hierarkhis keraton, dengan orang tuanya, dengan para  ulama dan dengan masyarakat Jawa menjadi informasi-informasi kesejarahan aktual.


Carey berhasil mengungkap kekuatan karakter Pangeran Diponegoro sekaligus kelemahannya, integritasnya terhadap perjuangan, ketegarannya sebagai pemimpin ketika satu persatu panglima militer yang mendukungnya menyerah kepada Belanda, kekagumannya terhadap kebesaran Turki Ottoman, ketertarikannya kepada pembantu perempuannya ( wanita keturunan Tionghoa ). Sejarah ditulis oleh para pemenang, dan pemenang menentukan wajah sejarah, sejarah seharusnya ditempatkan sebagai pertarungan ide-ide, dan bukan menghamba kepada  kekuasaan, hal inilah yang tidak diungkap oleh para sejarawan Belanda. Tulisan Carey mengenai proses sosialisasi dan pendidikan Pangeran Diponegoro di Pesantren, kehidupannya ditengah rakyat kebanyakan menjadi sisi lebih potret kesejarahan. Sebagaimana yang dikatakan dalam pengantarnya peranan penting Perang Jawa bagi masa depan Indonesia adalah "Benang halus antara keprihatinan ekonomi dan pengharapan akan Ratu Adil menciptakan gerakan dengan jangkauan sosial yang luar biasa, dalam beberapa segi merupakan pendahulu bagi gerakan kebangsaan awal abad ke 20".   Karya sejarah Peter Carey layak dijadikan bahan bacaan dan informasi aktual kesejarahan bagi para dosen, guru, dan pemerhati sejarah, sumbangsih Peter Carey bagi sejarah Indonesia menjadi nyata dan tidak sia-sia karena selama tiga puluh tahun Carey melakukan penelitian sejarah dari arsip-arsip nasional di Jakarta dan Yogyakarta, arsip-arsip kolonial di negeri Belanda, termasuk babad Diponegoro yang ditulis sewaktu Pangeran Diponegoro diasingkan ke Makasar. 


Daftar pustaka ; 

Peter Carey,

 Kuasa Ramalan; Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Jawa, 1785-1855. 


Cisarua, 19 Juni 2021.