Sabtu, 05 Juni 2021

Putih Cantik, Hitam Jelek


Jun Ji Hyun

Sociusmedia-Kulit putih sering menjadikan tolak ukur definisi cantik. Fenomana ini sudah luas bahkan menjadi ukuran seorang wanita dimanapun berada. 

Begitu banyak citra tentang kecantikan dan standar feminitas yang disebarkan oleh media dipandang tidak realistis oleh sejumlah penulis wanita dan feminis. media dinilai berpotensi merintangi pemahaman kita tentang diri kita sendiri sebagai wanita dan pria paling tidak dalam tiga cara. Pertama, media mengabadikan ideal - ideal tak realistis tentang keharusan dari masing - masing gender, mengisyaratkan bahwa orang - orang yang normal itu tidak memadai berdasarkan perbandingan dengan yang lain.

Kata cantik berasal dari bahasa latin, bellus. Sedangkan menurut kamus lengkap bahasa Indonesia edisi keempat (2008), cantik mempunyai arti, indah, jelita, elok dan molek. Kemudian dalam penerapannya, pemaknaan seseorang terhadap kecantikan itu berbeda dan bahkan selalu berubah dari waktu ke waktu. Konsep kecantikan seseorang di daerah tertentu boleh jadi berbeda dari konsep kecantikan seseorang di daerah lain. 

Anggapan  masyarakat yang menganggap bahwa cantik itu putih sangat dipengaruhi oleh kekuatan media dalam mengkonstruksi kecantikan, secara sosial pun cantik itu adalah Putih, secara tidak langsung telah menimbulkan kegelisahan pada sebagaian besar wanita. 

Secara tidak sadar standar yang selalu di blow up media yang selalu menampilkan sosok wanita-wanita yang berkulit putih dan bertubuh langsing, selain itu juga, terdapat konteks kecantikan yang mendunia bahwa cantik itu, berkulit putih, tinggi dan berambut lurus. Belum lagi dengan begitu meraknya konteks kecantikan di indonesia yang kemudian dijuari oleh perempuan yang memiliki kriteria tersebut.

Kecantikan yang mengusung tema whitening, yang semakin menguatkan anggapan mereka bahwa wanita yang cantik adalah yang berkulit putih. 

Terlebih lagi saat ini Wanita Indonesia mengidolakan wanita-wanita korea sebagai identifikasi kecantikan.

Tren seperti ini semakin menguatkan bahwa tekanan dan dilema wanita antara desakan untuk selalu terlihat cantik dan juga untuk tidak dijadikan objek kriteria kecantikan komersil‖ yang dipasarkan oleh industri kecantikan dan kosmetik lewat media. 

Beberapa anggapan bahwa cantik itu relatif namun tidak semua masyarakat memahami seperti itu. 

Sebenarnya anggapan atau pandangan ini membahayakan pada generasi selanjutnya, karena jika tidak diluruskan maka menyebabkan tindakan diskriminasi yang semakin tajam dan bisa menumbukan sikap rasisme. Belum lagi masyarakat kita ukuran warna kulit, hidung mancung, bentuk rambut dan beberapa hal di Indonesia adalah berasalah secara lahir. 

Penulis berpandangan bahwa sikap seperti ini tidak lepas peran dari media dan juga sikap westernisasi, dimana mereka sangat rasis dengan warna kulit yang disebut dengan Apartheid. 

Zaman kekaisaran Romawi, wanita cantik adalah wanita yang bertubuh gemuk, wanita yang subur, sehingga tak heran jika Julius Caesar jatuh cinta pada Cleopatra, yang menurut  Sejarah adalah wanita yang betubuh subur.

Nyma TangBeauty influencer berkulit sangat hitam ini sudah memiliki 369 ribu pengikut di Instagram. Dia sering berbagi tips dan tutorial makeup untuk wanita yang memiliki skintone spesial seperti dirinya.

Nyma Tang

Tak cuma pandai makeup, Nyma Tang juga mulai merambah bisnis kosmetik. Tahun lalu, wanita berdarah Sudan ini bekerjasama dengan MAC dan merilis lipstik merah yang cocok untuk kulit gelap. Namanya kini melejit sebagai beauty influencer papan atas yang ramai direkomendasikan para artis.

Kecantikan itu bukan dari warna kulit saja namun lebih penting dari aspek ruhaniah seseorang atau disebut inner beauty. 

Nyma Tang salah satu wanita yang berhasil mengubah anggapan masyarakat bawah cantik harus putih. Jadi mulai sekarang kita harus membuka wawasan bahwa cantik itu relatif dan jangan sampai menjadi korban media untuk industri pemutih kulit. 

Apakah pembaca masih beranggapan cantik harus putih? 

(RMS.Sociusmedia02)

Referensi: 

https://bit.ly/3iiCsGo