Senin, 05 Juli 2021

Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi Di Tengah Masa Pandemi


Oleh
N. EVI SUSANTIKA, M.Pd. 
(CGP Angkatan 2 Kab. Tasikmalaya)
Unit Kerja : SMPN 1 Mangunreja 


Saat ini merupakan masa dimana semua murid menikmati masa liburan selepas kegiatan pembelajaran meski dilakukan secara daring/ Jarak Jauh. Begitu pun dengan para tenaga pendidik/guru  memanfaatkan dirinya berada ditengah keluarga setelah usainya melakukan kegiatan pembimbingan terhadap murid-muridnya, semoga selalu menjaga kesehatan dan tetapi semangat dalam menghadapi semua kondisi ini yang berseliweran di hampir semua beranda medsos/chat pribadi yang menginfokan khabar duka,  akan tetapi bagi CGP (Calon Guru Penggerak) momen kegiatan daring dimanfaatkan secara optimal dalam mengisi waktu yang sarat makna.  Sekilas memang agak kewalahan ditengah masa-masa yang semestinya menenangkan diri tapi ini masih bergelut dengan tugasa dan materi pada LMS yang sudah terjadwalkan. Alhamdulillah selama ini saya selalu mensyukuri diberi kesempatan untuk bergabung pada kegiatan Program Guru Penggerak yang digagas oleh Bapak Nadiem Makarim, B.A, M.B.A (Mendikbud & Ristek)

Pandemi semakin melambung dan melanda di sekitaran kita, semoga sahabat, saudara semua tetap selalu waspada dan jadikan lah ini masa untuk selalu bertafakur, muhasabah diri, tidak dianggapa lalai, ambil hikmah dari semuanya, semoga wabah segera berakhir dan tidak membuat kemalasan, belajar dan menambah wawasan jangan sampai tertunda yaaa ..... Dalam rangka penulis menjalani kegiatan Pendidikan Guru Pendamping (PGP) selama 9 bulan terjadwal sejak tanggal 13 April hingga 20 Desember 2021. Dan pekan ini menginjak pada bulan ke tiga itu artinya  sudah melewati 2 bulan dengan melahap 1 Modul, dan sekarang proses menggarap dan menjalani Modul 2 tentang “ Praktek Pembelajaran yang Berpihak pada Murid.  Dengan sub Judul ;”Memenuhi Kebutuhan Belajara Murid Melalui Pembelajaran Berdifirensiasi. 

Penulis yakin, kita semua mempercayai bahwa anak lahir dengan keunikannya masing-masing. Sebagai pendidik, kita memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Lewat praktek pembelajaran berdiferensiasi, murid tidak hanya akan dapat memaksimalkan potensi mereka, tapi mereka juga akan dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai penting lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih holistik/utuh. Oleh karena itu, penting untuk para pendidik mengetahui bagaimana proses pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan, dengan cara-cara yang memungkinkan guru untuk dapat mengelolanya secara efektif.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

  2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

  3. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

  4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

  5. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

Memetakan Kebutuhan Belajar Murid

Sekedar melepas rasa kangen terhadap murid kubuka lagi  daftar siswa sederet nama-nama murid tertulis dalam hati berdoa semoga pembelajaran tatap muka segera terrealisasi. Ingatlah satu persatu murid di kelas . Bagaimanakah karakteristik setiap anak di kelas Anda? Tahukah Anda apa kekuatan mereka? Bagaimana gaya belajar mereka? Apa minat mereka? Siapakah yang memiliki keterampilan menghitung paling baik di kelas Anda? Siapakah yang sebaliknya? Siapakah yang paling menyukai kegiatan kelompok? Siapakah yang justru selalu menghindar saat bekerja kelompok? Siapakah yang level membacanya paling tinggi? Siapakah murid yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan mereka? Siapakah yang paling senang menulis? Siapakah yang lebih senang berbicara?

Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan oleh keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus menghadapi tantangan yang beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Berbagai usaha mereka lakukan yang tentu saja tujuannya adalah untuk memastikan setiap murid di kelas mereka sukses dalam proses pembelajarannya.

Berbagi  kasus yang pernah ku alami ketika pembelajaran tatap muka, dengan beragamnya karakter anak, seorang pendidik mampu menyiasati seoptimal mungkin agar pembelajaran di kelas semakin menyenangkan. Dalam satu materi ajar pun pasti semua anak tidak sama dalam meresponnya, maka hal ini Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Disamping itu  perlu melakukan identifikasi kebutuhan belajar dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap kebutuhan belajar murid-muridnya, yang berbeda kesiapan belajarnya, kemauan/minatnya sehingga selama proses pembelajaran semua murid dapat terlayani kebutuhan belajarnya dan sama-sama menerima hak belajarnya.

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah:

  1. Kesiapan belajar (readiness) murid

  2. Minat murid

  3. Profil belajar murid


  1. Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.  

2. MINAT MURID

Kita tahu bahwa seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Ada murid yang minat nya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains, drama, memasak, dsb.  Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya: 

  • Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;

  • Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;

  • Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;

  • Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

3. PROFIL BELAJAR MURID 

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. 

Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.  Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil. Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:

  • Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.

  • Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.

  • Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).

  • Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).

  • Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiata lainnya)

Untuk mengatasinya maka perlu diperhatikan dan mampu mengenali karakter murid-muridnya. Mengatasi pembelajaran masa pandemi, guru menyiasati sebelum memberikan melakukan kegiatan pembelajaran mesti dipahami aspek tersebut, seperti halnya materi ajar IPS tentang Peran dan Pelaku kegiatan Ekonomi, dari hasil pemetaan kesiapan belajar, profil belajar (gaya Audio, Visual, Kinesitas) maka model pembelajaran pun dibedakan,  jika murid tersebut gaya belajar audio (maka lakukan melalui Voice Note/rekaman suara) dan langsung interaksi  melalui WA, bagi murid yang bergaya visual (melihat) murid dapat diberikan video pembelajaran yang menarik dan dikondisikan dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan murid yang bergaya kinesitas/gerak, pembelajaran dilakukan melalui bermain peran dengan keluarganya mengenali kegiatan ekonomi dalam kehidupan  sehari (misal berbelanja ke warung/pasar) tentunya selalu menjaga prokes. 

Adapun tujuan dari penerapan pembelajaran tersebut tiada lain untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

Penulis berharap dapat  menginvestasikan waktu untuk terlibat dalam sebuah perjalanan belajar yang memiliki tujuan mulia di akhirnya. Tujuan itu adalah menciptakan lingkungan belajar yang memanusiakan setiap murid di kelas serta memberikan mereka dukungan dan kesempatan sebaik-baiknya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal dan lebih baik lagi. Penulis sadar masih banyak keterbatasan, oleh karena itu perlu terus untuk memacu diri agar lebih mampu menjalani dan beraktivis dalam dunia pendidikan secara nyata. 


                                    Mangunreja, 5 Juli 2021