Senin, 16 Agustus 2021

Kemerdekaan Guru Honorer Bagai Pungguk Merindukan Bulan

Oleh Suliyanti


    Menjadi guru di bumi pertiwi bak sosok pemeran utama dalam sebuah film dengan akhir sedih penuh harapan, terutama jika ternyata guru tersebut berstatus honorer. Status yang tidak tercatat dalam undang-undang guru namun hidup nyata penuh keprihatinan. Tugas sama berat dengan yang berstatus PNS dan guru Yayasan jika di sekolah swasta, namun penghargaan jauh dari kata cukup bahkan bisa dikata minus. Tentu nyinyiran netizen julid tetap saja bersuara sumbang kenapa mau jadi guru, kenapa mau jadi guru honorer sudah tahu tidak akan jadi milyoner, kenapa mau jadi guru honorer kalo tahu keadaannya di batas atas luar biasa. Guru honorer bak kekasih tak dianggap, sangat diperlukan namun keberadaannya terabaikan.


Guru honorer dalam lintas sejarah

    Sejak 1912 para guru pribumi mencoba untuk memperjuangkan persamaan hak dan posisi terhadap Belanda, dalam wadah PGHB Persatuan Guru Hindia Belanda berupaya agar posisi guru pribumi mendapatkan tempat sesuai kemampuan, setara dengan guru Belanda, bukan lagi guru kelas tiga yang tidak mendapatkan jabatan apapun termasuk kepala sekolah, karena semua dijabat oleh guru Belanda. Guru pribumi pada saat itu tak jauh berbeda dengan guru honorer saat ini yang tidak bisa menempati posisi stategis, karena hanya guru pribumi, hanya inlander bukan guru Belanda. Jika dikaitkan saat ini sama saja guru honorer tidak bisa menempati posisi stategis karena hanya guru honorer. Maka pertanyaannya adalah sudahkah merdeka guru honorer jika keadaannya sama dengan masa penjajahan Belanda, kemampuannya tidak dilirik hanya karena honorer?.


Strata guru honorer

    Guru dalam Undang-undang Guru dan dosen tidak terdapat istilah guru PNS, guru honorer, guru yayasan apalagi guru jadi-jadian bin abal-abal. Hanya terdapat satu kata guru. Namun dalam dunia nyata guru memiliki klasifikasi tertentu dari mulai guru PNS, guru honorer negeri, guru honorer swasta bahkan bisa jadi ada klasifikasi lainnya. Bagaimana dengan strata sosial  tingkatan guru, seolah guru honorer  merupakan golongan tingkat dua bahkan tingkat tiga. Sebagai contoh jika guru yang menghonor di swasta ada golongan pertama adalah jajaran pemilik Yayasan, golongan selanjutnya adalah managemen dan staff atau guru yayasan dan golongan terakhir adalah guru honorer. Bagaimana dengan yang menghonor di sekolah negeri? Starta tetap ada dari ring pertama adalah kepala sekolah dan para waka selanjutnya ring ke dua para guru berstatus PNS dan terakhir para guru honorer. Maka sebuah pertanyaan terlontar sudahkah merdeka jika guru honorer masih dipandang golongan kelas tiga?.


Guru honorer sosok yang dituntut ideal dengan keadaan hidup jauh dari ideal

    Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru, penggalan lagu himne guru karya Sartono ini menggambarkan bahwa guru sangatlah terpuji, penggalan selanjutnya adalah Sebagai prasasti terima kasihku Tuk pengabdianmu, betapa guru merupakan sosok pengabdi, pelukis kanvas bagi peserta didik generasi penerus bangsa. 

    Engkau bagai pelita dalam kegelapan, sosok guru termasuk honorer merupakan sosok pembawa cahaya berupa ilmu meskipun guru honorer tak sedikit yang berada dalam kegelapan gaji yang tak kunjung sesuai undang-undang guru yang menyatakan bahwa guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Betapa guru honorer harus rela di gaji alakadarnya. Jika upah buruh merujuk pada Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kota (UMK) maka guru honorer tidak merujuk pada minimum upah manapun karena masih banyak guru honorer yang bergaji tigaratus ribu bahkan kurang dari itu, dan itupun masih juga terlambat dibayarkan, sungguh dalam kegelapan yang hakiki. Guru honorer adalah sosok yang wajib survive dengan berbagai keadaan yang tak menguntungkan itu berjuang menambah penghasilan, banyak guru honorer multi status dan multi peran demi keberlangsungan ekonomi.  Selain itu wajib berwajah bak artis papan atas, di panggung kelas mendidik dengan sepenuh hati meski kantong bolong dan dapur tak ngebul. 

    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan, guru adalah mata air ilmu, penyejuk peserta didik, meski guru honorer kering mendapatkan hak promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja, lagi-lagi sesuai undang-undang guru dan dosen. Honorer juga haus dalam memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, memperoleh perlindungan dan berbagai kesempatan lainnya yang seringkali terpasung karena berstatus honorer. Tak sedikit guru honorer dengan kemampuan dana terbatas berupaya meningkatkan kompetensi diri dengan ikut berbagai pelatihan dengan kocek mandiri.

    Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa, pahlawan menurut kbbi adalah sosok orang yang berjuang, gagah berani dalam membela kebenaran, pahlawan asal kata phala dalam Bahasa sansekerta berarti buah, juga berarti orang yang mendapatkan pahala karena perjuangannya. Maka guru honorer adalah sosok pahlawan yang terkhianati keadaan, lone ranger juga lone wolf seolah berjuang sendiri, buahnya tak kunjung dirasakan sedangkan perjuangan sudah pada titik darah kepasrahan. Problematika guru honorer tak kunjung usai, berbagai kebijakan dilaksanakan, meski berusaha untuk menyelesaikan masalah namun masih jauh dari harapan. Uforia perbaikan nasib guru honorer sering digaungkan namun tak sekali tiga kali berujung pada kecewa hal ini biasa didapat jika suara honorer diperlukan jangka lima tahunan pergantian kepemimpinan baik daerah maupun pusat dilaksanakan. 

    Maka sudahkah guru honorer merdeka?, sedangkan gagasan kemerdekaan guru pribumi (honorer) sudah bertunas lebih dari seratus tahun namun bak pinang dibelah lima keadaan mirip tak jauh berbeda. Kebijakan pemerintah jangan setengah hati, Jangan sampai kemerdekaan guru honorer bagai pungguk merindukan bulan.