Selasa, 10 Agustus 2021

Memaknai Tahun Hijriyah

 


Oleh: Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Tahun hanyalah tahun. Angka tahun berapa pun hanyalah angka. Hal yang paling penting dari setiap tahun dan angka adalah makna dan manfaat bagi kebaikan kehidupan manusia. Tahun baru Islam atau tahun hijriyah membawa sebuah makna yang layak kita catat.

Diantara makna yang sangat mudah kita tangkap adalah makna hijrah. Hijrah adalah berpindah. Berpindah demi sebuah kebaikan. Berpindah dari zona nyaman pada zona tak aman. Berpindah dari kepastian pada ketidakpastian. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena punya visi dan misi. Punya cita-cita dan harapan.

Bayi yang lahir dari zona rahim yang nyaman ke zona kelahiran menangis dan menjerit kaget. Namun justru bayi yang tidak menjerit keIuar dari rahim bisa meninggal. Mengapa  ada operasi cesar? Karena Sang Jabang Bayi harus dipaksa ke luar agar Ia hidup. Bila dibiarkan malah bisa menimbuIkan dua kematian, Ibu dan jabang bayi.

Kelahiran pertama Sang Jabang Bayi menangis karena kaget dan masuk pada dunia Iain yang berbeda dari dunia rahim. Begitu pun Nabi Adam, Ia keluar dari zona nyaman dari  Surga ke zona tak nyaman dunia bumi. Adam dan Hawa harus berjuang hidup di zona tak nyaman yakni alam dunia bumi. Kalau di Surga Ia segalanya ada, maka di muka bumi Ia harus mencari dan berikhtiar sendiri.

Begitu pun terkait momen tahun Hijriyah.  Tahun Hijriyah terkait dengan satu tragedi yang menyedihkan. Namun harus ditempuh dan dijalani sebagai risiko agar kehidupan lebih baik. Zona aman nyaman ditinggalkan demi perubahan kehidupan yang lebiha baik. Nabi Muhammad meninggalkan Kota Mekkah, kota kelahirannya.

Kalender Hijriyah adalah penanggalan Islam yang dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad  dari kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Pepatah bijak mengatakan, “Tidak ada tokoh atau orang sukses dengan tetap tinggal di kampung halamannya”. Tidak ada bayi yang hidup dengan tetap tinggal di rahim Ibu kandungnya.

Nabi Muhammad adalah keluarga bangsawan, terhormat dan keturunan “penguasa” Bani Hasyim. Kalau Ia mau di zona aman dan nyaman, tinggal ikuti saja tradisi Quraisy. Bila  Nabi Muhammad  mengikuti apa yang menjadi tradisi Quraisy maka Ia akan baik-baik saja dan tidak harus hijrah. Bila Nabi Muhammad berkawan dengan Amr bin Hisyām, Ia akan baik-baik saja di Mekkah.

Faktanya Nabi Muhammad memilih hijrah. Hijrah menuju satu tempat dan daerah yang belum pasti aman, nyaman dan bisa hidup. Spekulasi berani  menempuh ketidakpastian dengan mengambil kesimpulan  untuk berhijrah  ke Madinah adalah wow.  Sebuah keberanian yang luar biasa, ambil risiko tidak pasti dan meninggalkan zona pasti di Mekkah.

Diantara makna tahun hijriyah adalah jadilah  seorang muslim  pemberani untuk move on, move up dan  tinggalkan zona nyaman. Unkapan DNK mengatakan, “Zona nyaman lahirkan Anak Mamah, zona tak nyamana lahirkan Anak Macan”. Artinya dibalik derita harus hijrah maka akan ada satu transformasi yang lebih baik. Walau harus menempuh kesulitan.

Andaikan Nabi Muhammad tidak hijrah maka Ia akan bersama-sama dengan Amr bin Hisyam menjadi tokoh Quraisy pelestari  tradisi leluhurnya.  Berbeda dengan  Amr bin Hisyam tidak ikut hijrah bersama Nabi Muhammad, malah Ia memeranginya, maka Ia tewas  di Perang Badar. Zona nyaman bagi Amr bin Hisyam dengan nama besarnya sebagai  "Abu al-Hakam" Bapak Kebijaksanaan, malah membuat Ia tewas dan punya gelar Abu Jahal pasca kematiannya.

Berbeda dengan Nabi Muhammad, Ia ambiI risiko pahit meninggaIkan Mekkah, Kota Tercinta dan mengundurkan diri dari “Struktur  Organisasi Kafir Quraisy”.  Awalnya Ia dianggap penista agama leluhur. Ia memilih menghindar dari status quo dan tradisi Quraisian yang menurutnya jumud dan ritualistik jahil. Nabi Muhammad punya visi misi dan cita-cita agung yang tidak sama dengan visi misi leluhurnya.

Makna lain dari tahun Hijriah adalah pentingya sahabat. Sahabat adalah orang-orang yang tetap setia saat kita dalam derita dan perjuangan tiada akhir.  Bukan sahabat kalau hanya setia saat kita sukses, berkuasa dan berada di zona nyaman. Sahabat adalah orang-orang yang tetap ada saat kita di zona tak nyaman. Sahabat sangat diperlukan dalam perjuangan.

Sekali pun Muhammad adalah Nabi, Ia tidak akan sukses tanpa sahabat. Sahabat adalah orang-orang yang menentukan suksesnya sebuah perjuangan dan hijrah. Sahabat adalah “teamwork” yang saling melengkapi untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama. Dalam agama Islam para sahabat ini membentuk jama’ah. Kejamaahan adalah sebuah kekuatan  “teamwork” yang solid.

Makna lainnya dan sangat-sangat penting adalah keyakinan, kepercayaan diri atau efikasi diri yang berbasis pada keyakinan pada Ilahi. Hijrah, berjuang, bersabar, terus melakukan manuver dan belajar dari segala yang sudah dilalui dengan yakin pada “keberpihakan” Tuhan adalah hal penting.  Kita harus, wajib dan mutlak punya prasangka baik pada Tuhan. Allah tergantung prasangka Mu.

Tiggalkan zona nyaman, kuatkan persahabatan, tingkatkan teamwork, bangun spirit kejamaahan, kuatkan   efikasi, resiliensi, adversity quotient dan  semuanya berbasis yakin pada   keberpihakan Tuhan pada kita.

Setiap keyakinan yang sebenar- benarnya yakin akan melahirkan hasil. Hidup memang tak mudah dan banyak kesulitan namun Tuhan tidak mengenal kesulitan. Ia maha kuasa dan maha segalanya. Sukses biasanya ada di ujung derita dan buah dari perjuangan yang tidak  pernah berhenti. Kun Fayakun!