Minggu, 29 Agustus 2021

TALIBAN DAN MASA DEPAN AFGANISTAN

Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jabar

Kita hidup dalam dunia yang penuh ketakutan. Kehidupan manusia sekarang digerogoti dan dijadikan pahit-getir oleh rasa ketakutan.


Ketakutan akan hari depan

Ketakutan akan bom hidrogen

Ketakutan akan ideologi-ideologi

( Bung Karno )


Afganistan negeri 1001 konflik kembali dikuasai Taliban 15 Agustus 2021. Sejarah mencatat Taliban pernah berkuasa di Afganistan masa 1996-2001 sebelum digulingkan Amerika  Serikat.


Menjadi ironi politik "lelahnya" Amerika Serikat di Afganistan dihantam pula dengan merajalelanya korupsi di departemen pertahanan dan dinas ketentaraan nasional Afganistan. Tidak adanya ideologi tentara mempercepat kehancuran rezim Ashraf Gani.


Taliban yang sejak awal Juni melakukan operasi militer pengepungan jalur logistik militer pemerintah, dengan mudah menguasai kota Kabul sekaligus mendapatkan senjata-senjata modern buatan Amerika Serikat yang sengaja dijual oleh Tentara Nasional Afganistan.


Kepanikan dan ketakutan melanda penjuru negeri, individu, keluarga, sebagian masyarakat yang selama ini mendukung AS dan sekutunya segera memadati bandara Kabul, tragedi kemanusiaan terjadi, puluhan orang tewas terinjak-injak, anak terpisah dari orang tuanya, beberapa jatuh dari pesawat. Inggris, Perancis, Jerman, Canada dan Amerika Serikat seakan berlomba menjadi "pahlawan" bagi bangsa yang tercabik-cabik oleh perang saudara. Trauma dan luka sejarah yang demikian dalam, memory penindasan terhadap perempuan, eksekusi tanpa proses peradilan, dan monopoli kebenaran sepihak menjadi "ketakutan" kolektif bagi sebagian masyarakat yang ingin melarikan diri.


Pertanyaannya adalah apakah Taliban kekinian sama dengan Taliban era 1996 ? Melihat dinamika geopolitik global tidak ada bangsa yang mampu membangun dirinya sendiri tanpa membuka hubungan dengan negara lain khususnya dibidang ekonomi dan perdagangan. Kesediaan Taliban untuk berkomunikasi dan melakukan kontak dengan negara lain seperti Qatar dan Indonesia bahkan dengan AS membuktikan bahwa mereka berniat untuk melakukan perubahan khususnya pada pembangunan ekonomi, Taliban berusaha mencari solusi-solusi terbaru diluar solusi yang dilakukan Cina dan Rusia.


Taliban akan segera menghadapi problematika besar yang pertama adalah pembentukkan pemerintahan yang inklusif dan demokratis mengingat penduduk Afganistan terdiri dari beragam etnis, pemerintahan inklusif ini diharapkan mampu memenuhi aspirasi berbagai kelompok etnis. Yang kedua adalah penegakkan hukum dan mendisiplinkan kelompok-kelompok  milisi, karena sampai detik ini penculikkan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang dianggap pro AS masih terus terjadi di Kabul dan Jalallabad. Taliban menolak bertanggungjawab atas pembunuhan tersebut, lantas siapakah pelakunya ?


Perdana Menteri Inggris Boris Johnsons telah menegaskan Taliban harus terus berkomitmen dan membuktikan janjinya bukan hanya sekedar ucapan-ucapan untuk mendapatkan simpati dan dukungan. Salah satu ancaman serius bagi stabilitas perdamaian di Afganistan adalah kelompok-kelompok milisi dari dalam Taliban sendiri yang sering terlibat konflik kekerasan.


Yang ketiga adalah kemampuan Taliban dalam mengatasi serangan-serangan teror, peristiwa bom bunuh diri diluar bandara Kabul yang menewaskan ratusan penduduk sipil dan tiga belas tentara Amerika Serikat pada 26 Agustus 2021. Kelompok ISIS-K menyatakan bertanggungjawab atas peristiwa berdarah ini. Antisipasi keamanan Taliban terhadap serangan-serangan teror yang dilakukan kelompok ISIS dan Al Qaeda menjadi pekerjaan rumah yang rumit dan berat, karena stabilitas keamanan  adalah prasyarat bagi terwujudnya pembangunan ekonomi.


ISIS dan organisasi sempalannya seperti ISIS-K sudah memproklamasikan akan terus menyerang pemerintahan Taliban yang dianggap berkhianat  karena sudah membuka komunikasi dengan AS. Pada akhirnya Taliban sendirilah yang menentukan bagaimana wajah Afganistan dimasa depan. Semoga terjadi perdamaian di Afganistan.


Bogor, 28 Agustus 2021