Minggu, 26 September 2021

PENDIDIKAN GURU PENGGERAK SELAMAT DATANG GURU MASA DEPAN



Oleh Rudianto, M.Pd.

 

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2019-2024 salah satu visi Pemerintah Republik Indonesia berfokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta. Berbicara tentang pengembangan SDM melalui peningkatan kualitas pendidikan tidak akan lepas dari guru sebagai ujung tombaknya.

Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta, Kemendikbud mengembangkan rangkaian kebijakan Merdeka Belajar pada tahun 2019. Kebijakan ini dicetuskan sebagai langkah awal melakukan lompatan di bidang pendidikan. Tujuannya adalah mengubah pola pikir publik dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi komunitas penggerak pendidikan. Filosofi “Merdeka Belajar” disarikan dari asas penciptaan manusia yang merdeka memilih jalan hidupnya dengan bekal akal, hati, dan jasad sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, merdeka belajar dimaknai kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan.

Langkah awal merdeka belajar meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional diganti ujian (asesmen), Ujian Nasional tahun 2021 diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang lebih fleksibel.

Keempat kebijakan tersebut tentu saja belum cukup untuk menghasilkan manusia unggul melalui pendidikan. Hal krusial yang mendasar untuk segera dilakukan adalah mewujudkan tersedianya guru Indonesia yang berdaya dan memberdayakan.

Guru Indonesia yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik. Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan.

Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru. 

Program ini bertujuan memberikan bekal kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan pedagogi kepada guru sehingga mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar satuan Pendidikan serta berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan satuan pendidikannya masing-masing. Rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ditunjukkan melalui sikap dan emosi positif terhadap satuan pendidikan, bersikap positif terhadap proses akademik, merasa senang mengikuti kegiatan di satuan pendidikan, terbebas dari perasaan cemas, terbebas dari keluhan kondisi fisik satuan pendidikan, dan tidak memiliki masalah sosial di satuan pendidikannya.

Kemampuan menggerakkan komunitas belajar merupakan kemampuan guru memotivasi dan terlibat aktif bersama anggota komunitasnya untuk bersikap reflektif, kolaboratif serta berbagi pengetahuan yang mereka miliki dan saling belajar dalam rangka mencapai tujuan bersama. Komunitas pembelajar guru di antaranya Pusat Kegiatan Gugus (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) serta komunitas praktis (Community of Practice) lainnya baik di dalam satuan pendidikan atau dalam wilayah yang sama.

PGP didesain untuk mendukung hasil belajar yang implementatif berbasis lapangan dengan menggunakan pendekatan andragogi dan blended learning selama 9 (sembilan) bulan. Kegiatan PGP dilaksanakan menggunakan metode pelatihan dalam jaringan (daring), lokakarya, dan pendampingan individu. PGP menerapkan andragogi, pembelajaran berbasis pengalaman, kolaboratif, dan reflektif.

PGP bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan dan pedagogi guru sehingga dapat menghasilkan profil guru penggerak sebagai berikut:

  1. mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi, dan kolaborasi;

  2. memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik;

  3. merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua;

  4. mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi satuan pendidikan yang mengoptimalkan proses belajar peserta didik yang berpihak pada peserta didik dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar satuan pendidikan; dan

  5. berkolaborasi dengan orang tua peserta didik dan komunitas untuk pengembangan satuan pendidikan dan kepemimpinan pembelajaran.

Terlepas dari berbagai hambatan yang ada mulai dari kuota, jaringan internet, waktu, kesibukan dan yang lainnya, PGP ini memiliki muara yang sangat luarbiasa. Program PGP ini akan menghasilkan guru masa depan dengan mental inovatif, kreatif, peduli, sabar, penyayang, berjiwa kepemimpinan, pancasilais, nasionalisme, dan sebagainya. PGP diharapkan menghasilkan guru yang paripurna.

Pada tahap pertama ini kurang lebih 2.500 orang Calon Guru Penggerak (CGP) sedang mengikuti PGP. Kegiatan yang dimulai pada pertengahan Oktober 2020 ini akan berakhir pada Juli 2021. Pada kegiatan PGP tahap pertama ini melibatkan 500 orang pendamping dan 145 Fasilitator Nasional. 

Kita tunggu perubahan yang luarbiasa pada pendidikan di Indonesia. Semoga!

*Disadur dari Pengantar Program Pendidikan Guru Penggerak Learning Management System untuk Calon Guru Penggerak

**Penulis adalah Pengawas Disdik Kabupaten Cirebon yang bertugas sebagai Fasilitator Nasional Pendidikan Guru Penggerak wilayah Kabupaten Pidie Provinsi Aceh.


Sabtu, 25 September 2021

MUDAHNYA MENGHAKIMI ORANG


Oleh : Yanuar Iwan


Dalam hubungan sosial antar individu dan antar kelompok manusia seringkali seseorang atau kelompok orang dengan mudah menghakimi seseorang hanya karena penampilan fisiknya. Kita menjadi khawatir apabila seorang gelandangan, pengemis, dan anak jalanan  mendekati kita, respon motorik ditubuh kita langsung memberikan peringatan "bahaya" dini ada "kotoran" mendekat. Budaya pergaulan kita mengarahkan pandangan kita kepada kebersihan, kemapanan, dan kerapihan, kita menjadi paranoia dengan lambang-lambang masyarakat marginal, sikap menghakimi mendorong kita untuk berpersepsi ria bahwa gelandangan dan pengemis identik dengan kemalasan struktural. Tanpa ada keinginan untuk mengetahui mengapa makin banyak gelandangan, pengemis, dan anak jalanan di negeri ini.

Budaya sosial kita sudah lama tercemar dengan keinginan untuk menghakimi tanpa disertai keinginan untuk mempelajari latar belakang sosial dan ekonomi mengapa mereka bertindak seperti itu.

Era kemapanan abad 21 dengan segala ukuran keberhasilannya, membuat seseorang yang menggunakan sandal jepit ditempat-tempat resmi terlihat aneh, atas nama aturan kita bersama-sama menghakimi orang yang menggunakan sandal jepit tidak tahu diri, tidak sopan, tidak layak dijadikan contoh. Ada berbagai kemungkinan sosial dan ekonomi seseorang menggunakan sandal jepit, apakah karena faktor ekonomi, ataukah organ kakinya sedang sakit sehingga tidak memungkinkan dia menggunakan sandal dan sepatu yang identik dengan aturan sosial.

Keinginan untuk menghakimi masih kuat tertanam pada budaya sosial masyarakat kita, akibat perbuatan menghakimi banyak kaum miskin, kaum pinggiran, dan orang-orang yang menjadi marginal karena sistem budaya menghakimi, semakin rendah diri bahkan sampai bunuh diri. Semangat menghakimi tidak terbatas kepada orang-orang dewasa dan remaja, kini anak-anakpun sudah menjadi "hakim" yang menghancurkan masa depan kawannya di sekolah atau di lingkungan rumah, dan Tuhan belum tentu satu sikap dengan mereka.


Cipanas, 25 September 2021.

Kamis, 23 September 2021

GURU HONORER: HABIS MANIS SEPAH DIBUANG

 


Oleh Rudianto, M.Pd.

 

Seleksi ASN jalur PPPK Guru honorer tahap 1 sudah dilaksanakan pada 13 – 17 September 2021. Pelaksanaan seleksi berjalan dengan lancar. Namun di balik kesuksesan penyelenggaraan seleksi, ada hal yang sangat menyesakan dada dan menyakitkan hati guru di Indonesia. Betapa tidak, hasil seleksi menunjukkan bahwa tingkat kelulusan atau raihan nilai yang bisa melampaui ambang batas sangat rendah. Ini berarti guru-guru yang sudah mengabdikan dirinya untuk pendidikan di Indonesia tidak diperhitungkan. Ini juga berarti pengorbanan mereka untuk mencerdaskan anak bangsa, anak ibu pertiwi tidak dihargai. 

Mereka telah berbuat yang terbaik untuk negeri dengan mengorbankan diri dan keluarganya. Mereka rela dibayar tak layak yang jauh dari profesional demi memajukan negeri. Mereka berjalan kaki menuju sekolah bukan demi kesehatan, tapi mereka lakukan itu karena tidak punya kendaraan dan tidak punya ongkos. Mereka mengenakan pakaian dan sepatu lusuh bukan untuk mengajarkan kesederhanaan, tapi itu karena mereka memiliki pakaian dan sepatu yang terbatas. Tetapi batapa beratnya ibu pertiwi membalas pengorbanan mereka.

Seleksi ASN dilakukan dengan ketat dan berat demi mendapatkan SDM guru yang berkualitas. SDM guru yang berkualitas adalah jaminan untuk menigkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ini semua saya sangat setuju. 

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah untuk mendapatkan SDM guru yang berkualitas hanya bisa dilakukan dengan seleksi yang ketat dan berat? Tentu saja tidak. Seleksi yang ketat dan berat adalah salah satu cara untuk menjaring SDM yang berkualitas. 

Untuk mewujudkan SDM guru yang berkualitas bukan berarti guru yang ada yang dianggap kurang berkualitas harus dienyahkan. Guru-guru honorer yang sudah memiliki masa kerja belasan bahkan puluhan tahun bukan tidak mau meningkatkan berkualitas, tetapi kesempatan mereka untuk meningktakan kualitas yang tidak diberikan. Sebab tidak ada guru yang bodoh atau tidak berkualitas. Yang ada adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kualitas diri guru. 

Mereka juga pasti sangat mau meningkatkan kualitas dirinya. Mengapa mereka tidak memiliki kemampuan dan kesempatan meningkatkan kualitas? Ini karena banyak hal. Pertama, mereka tidak memiliki biaya untuk meninkatkan kualitas dirinya. Pada era 4.0, segala informasi tersaji dengan leluasa di dunia maya. Tetapi apakah mereka mampu menjangkau dunia maya secara leluasa? Perangkat dan kuota akan menjadi penghalang bagi mereka untuk mengakses informasi secara leluasa.

Kedua, mereka tidak memiliki waktu untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Meskipun waktu mereka sama 24 jam dalam sehari, tetapi sebagian besar waktu mereka digunakan untuk bekerja sampingan untuk menopang ekonomi keluarganya. Penulis pernah bertemu denga supir ojol yang ternyata mereka guru honorer di sebuah SMP negeri. Dia menjadi ojol semenjak subuh sampai waktunya mengajar. Setelah mengajar dia kembali menjadi ojol sampai malam. Ketika ditanya kapan merencanakan pembelajaran, dia jawab, RPP cukup dalam ingatan yang disusun sambil menjadi ojol. 

Ketiga, mereka tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Ini lebih tepatnya mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Ketika ada pelatihan atau bimtek yang diselenggarakan oleh disdik atau kementrian, guru honorer jarang sekali dilibatkan. Intinya berikanlah kesempatan yang sama kepada semua guru untuk meningkatkan kualitas! Inilah yang harus dilakukan Pemerintah, organisasi profesi guru, LSM pndidikan, dan semua pihak.

Melihat hal di atas, guru honorer bukan berarti tidak memungkinkan untuk ditingkatkan kompetensinya. Untuk meningkatkan kualitas guru, berikanlah pola pembinaan profesionalisme guru yang benar. Pembinaan guru yang benar harus memperhatikan, kebutuhan, kondisi, situasi, pendampingan, berkelajutan, keberagaman, serta hal lainnya. Pelatihan guru dalam jabatan akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan guru honorer kelak setelah mereka menjadi ASN.

Bahkan guru honorer yang sudah lama mengabdi memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki oleh guru baru. Dalam poses pembelajaran pepatah “pengalaman adalah guru yang baik dan guru yang baik adalag guru yang berpengalaman” selalu akan berguna. Artinya guru honorer yang sudah memiliki masa kerja yang lama adalah guru-guru yang berpengalaman. Sementara pengalaman tidak bisa didapatkan melalui jenjang pendidikan. Harus diingat jam terbang seseorang dalam mengajar akan menjadi bekal bagi guru dalam meningkatkan kompetensinya.

Jadi, apa ruginya bagi pemerintah untuk mengangkat guru honorer menjadi ASN. Justru pemerintah akan menadapatkan guru yang berpengalaman yang berkualitas kalau mampu mengakat guru honor dan mampu membinanya dengan tepat. 

Penulis adalah Ketua APKS PGRI Kabupaten Cirebon.

 


Rabu, 15 September 2021

MENUJU DIGITALISASI PEMBELAJARAN

 


Oleh Rudianto, M.Pd.


Bulan Maret 2020 Pendidikan di Indonesia dihadapkan pada perubahan yang sangat besar. Pandemi Covid 19 yang masuk ke Indonesia pada Maret 2020 sudah mengubah tatanan Pendidikan Indonesia. Pada saat itu Indonsia baru saja memulai perubahan pendidikan dengan digulirkannya Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar sebagai gebrakan baru dalam pendidikan Indonesia yang disampaikan oleh Mas Menteri. “Pokok-pokok kebijakan Kemendikbud RI tertuang dalam paparan Mendikbud RI di hadapan para kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, Jakarta, pada 11 Desember 2019”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Merdeka_Belajar  09/09/2021 : 23.01). Ada empat pokok perubahan sebagai langkah awal Merdeka belajar yaitu menghilangkan UN, Menyerahkan USBN kepada sekolah, RRP yang sederhana, dan PPDB berbasis zonasi yang lebih luas. Menyusul kemudian rangkaian penjabaran merdeka belajar yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Organisasi Penggerak, Pendidikan Guru Penggerak, Pendidikan Sekolah Penggerak, dan masih beragam program lainnya.

Sebagian besar proram Merdeka Belajar digulirkan berbasis kecakapan 4.0. Ini berarti guru-guru dituntut untuk menguasai IT. Tuntutan penguasaan IT bagi guru-guru juga dipaksa oleh keadaan Pandemi Covid 19. Pada bulan Maret 2020 pembelajaran nyaris lumpuh ketika diberlakukan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah.

Kebutuhan penguasan IT untuk pembelajaran menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini sejalan dengan perkembangan dunia digital. “Berkembangnya dunia digital berpengaruh terhadap cara belajar siswa dengan optimalisasi penggunaan perpustakaan digital dalam memenuhi kebutuhan atas keingintahuannya terhadap materi ajar.” (https://jurnal.uns.ac.id/habitus/article/download/28788/19628  11/09/2021 : 10:21). 

Tuntutan zaman bahkan lebih cepat dan lebih kuat. Optimalisasi perpustakan saja tidak cukup. Lebih jauh dari bahan ajar berbasis digital, pembelajaranpun harus berbasis digital.

Pendidikan sebagai corong utama perubahan penyongsong revolusi industri di abad 21 harus mengalami perubahan. Perubahan ini tidak hanya dalam taraf pemikiran namun juga direalisasikan dalam bentuk pembelajaran dan juga kurikulum. Perubahan dari cara radisional menuju arah modern, dari arah analog menuju ke arah digital. Perubahan tersebut bisa dimulai dengan merevolusi para pengajar yang akan membawa perubahan kepada para siswa. (https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/Prosidingpps/article/download/5498/4827  11/09/2021 : 10:10)

Di satu sisi kebutuhan pembelajarn digital sangat mendesak, di sisi lain kemampuan guru masih terbatas. Kecakapan 4.0 yang terus bergulir dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) masa pandemi Covid 19 mengharuskan pembelajara berbasis digital. Guru menjadi penentu perubahan ini.

Kabupaten Cirebon adalah salah satu daerah dengan berbagai permasalahan dalam pelaksanaan PJJ. Perangkat, kuota, jaringan internet adalah permasalahan yang lumrah ditemui dalam PJJ. Namun permasalahan terbesar keterlaksanaan PJJ di Kabupaten Cirebon adalah SDM yang tidak memadai. Kemampuan guru dalam menggunakan perangkat IT untuk pembelajaran masih lemah. “Di SMP Kabupaten Cirebon saat PJJ harus dilaksanakan,  saat itu 90% lebih PJJ berisi intruksi dan pertanyaan yang disampaikan melalui Grup WhatsApp. Tentu saja cara ini tidak mungkin menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan tuntunan Kurikulum 2013”. (Rudianto: 2020).

Pembelajaran seperti ini telah membuat guru dan peserta didik menjadi bosan. Pada bulan Mei 2020, tingkat partisipasi guru SMP di Kabupaten Cirebon dalam melaksanakan tugas PJJ sempat turun ke angka 60%. Bahkan tingkat partisipasi peserta didik sempat menyentuh angka 45% (Rudianto:2020). Ini terjadi karena kebosanan dalam melaksanakan pembelajaran berupa instruksi dan pertanyaan yang disampaikan lewat grup WhatsApp. 

Kondisi pembelajaran di atas akan menimbulkan permasalahan. Pencapaian pembelajaran bahkan tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai. Pembentukan karakter peserta didik akan sulit dilakukan. Kalau keadaan seperti ini dibiarkan, kepercayaan peserta ddik terhadap proses pembelajaran akan sangat menurun. Ini akan menimbulkan permasalahn yang lebih rumit ke depan. Tidak menutup kemungkinan akan hilangnya generasi masa yang akan datang.

Melihat kondisi pembelajaran seperti ini, harus segera ada upaya untuk memperbaikinya. Pembenahan yang utama adalah meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan PJJ menggunakan jaringan. Pembelajaran bebasis internet harus dikuasai oleh semua guru. Pembelajaran jarak jauh ini bisa berlangsung lebih lama. Proses pembelajaran tidak boleh menunggu. Proses pembelajaran harus berjalan terus dengan baik seperti apapun kondisi alam ini. Bahkan meskipun kondisi sudah normal, tanpa covid, pembelajaran berbasis internet harus tetap berlanjut. Blended learning akan menjadi pola pembelajaran pilihan untuk menghadapi era 5.0.

Siapkan Kita?


Penulis adalah Pengawas SMP Disdik Kabupaten Cirebon.


LETNAN JENDERAL AHMAD YANI SETIA SAMPAI AKHIR

 Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas Cianjur


Adalah sesuatu yang fatal memasuki peperangan tanpa keinginan untuk memenangkannya ( Jenderal Douglas Mac Arthur )


Tentara Nasional Indonesia terbentuk dari rakyat, berjuang bersama rakyat, menderita bersama rakyat dan merdeka bersama rakyat. Sapta Marga dan Sumpah Prajurit adalah ideologi TNI.


Ahmad Yani salah satu sosok prajurit TNI dengan komitmen terhadap Sapta Marga dan Sumpah Prajurit membuktikan integritas prajurit sejati dalam berbagai pertempuran, Pebruari 1958 pecah pemberontakan PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ) konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah akibat kesenjangan pembangunan dan hasil-hasilnya, ketidakstabilan politik dan pemerintahan, masalah korupsi, perdebatan-perdebatan dalam konstituante serta polemik dalam masyarakat mengenai konsepsi presiden.


Pada 15 Pebruari 1958 Letnan Kolonel Ahmad Husein menyatakan berdirinya PRRI lengkap dengan kabinetnya, Sjafruddin Prawiranegara menjabat sebagai perdana menteri, pemerintah pusat menyelesaikannya dengan kekuatan militer. Kepala Staf AD Mayor Jenderal AH Nasution memberikan kepercayaan penuh kepada Kolonel Ahmad Yani untuk merencanakan dan melaksanakan tahapan operasi, Yani alumni General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas dan Spesial Warfare Course Inggris adalah perwira menengah dengan kualifikasi dan pengalaman tempur diatas rata-rata, Yani adalah sosok perwira dibalik pembentukkan batalyon dengan kualifikasi Raiders ( Banteng Raiders ) di Kodam Diponegoro Jawa Tengah dengan prestasi dan rekam jejak penumpasan pemberontakkan DI/TII tahun 1952.


Operasi militer dengan sandi Operasi 17 Agustus adalah operasi militer terbesar. Historia.id mengungkap ketiga matra TNI terlibat, AD menyumbang personil terbesar dengan 4 batalion infanteri termasuk RPKAD, AL 1 batalion Korps Komando ( KKO), AU 25 pesawat C47 Dakota, 6 pesawat pemburu P51 Mustang, 8 pembom B-25 Mitchel dan 6 pesawat AT-16 Harvard.


Kelebihan Yani didalam mengorganisir, menyatukan ego para perwira, merancang strategi dan taktik khususnya dalam tahapan pendaratan di Pantai Padang berhasil membuka dominasi keunggulan TNI, militer PRRI dipaksa untuk terus defensif dan berakhir dengan   usaha pelarian kedaerah pedalaman dengan melancarkan perang gerilya, blokade TNI dan dukungan sebagian besar rakyat kepada TNI menyulitkan strategi  perang gerilya PRRI,  TNI berhasil menguasai kota Padang pada tanggal 17 April, menyusul 4 Mei kota Bukittinggi. Pimpinan PRRI menyerahkan diri satu-persatu 29 Mei 1961 Ahmad Husein     dengan pasukannya menyerahkan diri beserta pimpinan sipil dan militer PRRI.


Bintang Yani bersinar pasca pertempuran menghadapi PRRI, Bung Karno memilih  Yani karena terkesan dengan kinerja militernya, jabatan Menteri Panglima Angkatan Darat menjadi jabatan tertinggi di angkatan darat, sikap "low profile" dan tradisi Jawa ( selalu berusaha menghormati dan menghargai pimpinan dimanapun berada ) menjadikan Yani sebagai jenderal kesayangan Bung Karno. Ditengah fokus kepada tugas dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia, dari dalam negeri Letnan  Jenderal Ahmad Yani menghadapi agresifitas PKI yang aktif melakukan propaganda, aksi-aksi sepihak PKI, fitnah dan kekerasan politik yang tensinya terus meningkat, konflik antara AD dan PKI ( pembentukkan angkatan ke 5 dan bantuan senjata dari RRC ). Isu Dewan jenderal menjadi bola panas yang dari waktu ke waktu terus membesar, walaupun Yani sudah berusaha menjelaskan kepada Bung Karno tetapi tensi politik di Jakarta terus memanas. Puncaknya satu pleton tentara tunggangan PKI  ( Cakrabirawa ) lengkap dengan senapan serbu AK 47 dibawah komando Peltu Mukijan membunuh Letnan Jenderal Ahmad Yani pada malam jahanam 1 Oktober 1965, sebagai seorang prajurit  Yang selalu mengutamakan keselamatan pemimpinnya Yani sempat bertanya "Bagaimana Bapak" ? Sambil menatap kearah anaknya yang ketujuh, Untung.


SMPN 1 Cipanas, 15 September 2021, di lokasi kelas bawah. Dalam rangka mengenang Jenderal Ahmad Yani.⭐⭐⭐🇮🇩🇮🇩

Kamis, 09 September 2021

Australia Tanah Harapan


Oleh : Yanuar Iwan

SMPN 1 Cipanas, Cianjur Jawa Barat


Australia adalah warna, benua yang hanya ditempati oleh satu negara memiliki keanekaragaman iklim dari utara, tengah, dan selatan. Keanekaragaman hayati dari kangguru, koala, dan kasuari, keanekaragaman etnis dari  Aborigin ( ras negroid ), orang-orang Eropa ( ras kaukasoid ) dan orang-orang Asia Timur ( Asiatic Mongoloid ).


Australia adalah tanah harapan bagi masyarakat Inggris abad 18, 19, dan awal abad ke 20, revolusi industri mengakibatkan masalah sosial di kota-kota besar Inggris seperti London, Manchester, dan Shiefield. Meningkatnya angka kejahatan membuat lembaga pemasyarakatan over kapasitas, hilangnya dua koloni Canada dan Amerika Serikat membuat ruang hidup _Britania_ menjadi terbatas, adalah Joseph Banks yang mengusulkan Australia dijadikan tanah "buangan" para kriminal dengan alasan tanah di Bothany Bay potensial dibuka menjadi pemukiman.


Misi Inggris pertama untuk membuka "ruang hidup" dipimpin Kapten Arthur Philip dengan 717 orang, mereka membuka Port Jackson yang kemudian menjadi Sydney dan daerah sekitarnya disebut New South Wales.


Kolonisasi berkembang, orang-orang kriminal segera berubah menjadi para pekerja dengan  tanah sekitar 15 h.a. mereka berubah menjadi petani handal. Pembentukkan New South Wales Corps ( Korps Tentara ) dan Arthur Philip menjadi gubernur pertama New South Wales memperkokoh posisi kelompok elit oligarkhi dengan akses kekuasaan besar, politik, ekonomi dan sosial.


Kaum pendatang warga Inggris yang ingin mengadu nasib di tanah harapan baru ( _ The  Free Settlers_) harus menyewa tanah-tanah yang sudah dikuasai tentara dan para oligarkhi sipil, oligarkhi sipil menjelma menjadi orang-orang kaya dengan pengaruh sangat kuat dan mereka memperoleh legalisasi karena menjadi wakil Pemerintah Inggris di Australia.


Model oligarkhi yang dibangun John  MacArthur menjadi rujukkan koloni-koloni lain seperti Tasmania ( 1803 ), Queensland ( 1824 ), Victoria ( 1824 ), Australia Barat ( 1829 ), Australia Selatan ( 1826 ).


Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang  absolut cenderung korup secara absolut. Quotes dari Lord Acton ( Sejarawan Inggris ) terbukti terjadi di New South Wales, perdagangan  rum ( sejenis minuman keras ) yang didatangkan dari Inggris benar-benar merusak kondisi mental tentara, sementara oligarkhi sipil yang dipimpin John Macarthur banyak terlibat skandal korupsi, pemerintahan di New South Wales dilanda ketidakpastian dan gangguan keamanan terjadi secara masif.


Pemerintah Inggris "gerah" dan segera mengangkat gubernur baru Lachlan Macquarie 1809 dengan pasukan _Scotland Highlanders_, Inggris berhasil menghancurkan kekuasaan Macarthur sekaligus  membubarkan New South Wales Corps.


Australia menjadi tanah harapan yang sungguh menjanjikan, kedatangan domba merino ( populer dengan wol dan dagingnya ) dari Afrika, hampir bersamaan dengan masuknya mesin-mesin industri produk revolusi industri, mesin wol dan mesin pendingin daging dengan cepat menjadikan peternakan domba menjadi primadona ekonomi di daratan Australia.


Hasrat kapitalisme mengakibatkan nafsu manusia tidak terkendali, perluasan peternakan domba ke daerah pedalaman membawa pertentangan, konflik, dan dendam antara para _Squatter_( orang yang melakukan ekspansi ke daerah pedalaman ) dengan  para petani terlebih dengan orang-orang Aborigin. Nafsu kapitalis mengakibatkan pertumpahan darah dan pembunuhan, prasangka yang diwarnai diskriminasi rasial membawa kerusakkan dan krisis kemanusiaan bagi masyarakat Aborigin, mereka menjadi kelas marginal di tanah airnya sendiri.


Sejarah pemerintahan Australia kuat dipengaruhi kemerdekaan Amerika Serikat 1776, demokrasi, kebebasan, dan persamaan menjadi rujukkan dan tujuan bersama walaupun secara ironis menjadi perlakuan standar ganda bagi penduduk asli.


Konvensi federal di Hobart 1897 memutuskan :

1. Negara-negara bagian ( daerah-daerah otonom ) akan digabungkan menjadi suatu federasi negara-negara seperti di Amerika Serikat.

2. Susunan pemerintahan Australia meniru sistem Inggris

3. Federasi negara-negara ini disebut _Commonwealth of Australia_

4. Status _Commonwealth of Australia_adalah dominion dalam British Commonwealth ( Januari 1901 Common wealth of Australia mulai diberlakukan )


Pemerintahan pusat  yang berkedudukan di Canberra memegang kekuasaan atas urusan luarnegeri, pertahanan dan keamanan, pajak dan imigrasi. Pada tahun 1867 orang-orang Freesettlers ( orang-orang yang datang dari Inggris untuk mengadu nasib ) mendorong proses penutupan deportasi para pelaku kriminal. Hingga kini Australia masih tetap menjadi bagian dari _British Commonwealth_ dan menjadi salah satu mitra terpenting Indonesia di kawasan Asia Pasifik.


Cipanas, 9 September, 2021 di perpustakaan.


Daftar bacaan : Soebantardjo, Ikhtisar Sejarah Asia  dan Australia, 1956.

Sabtu, 04 September 2021

BUNG KARNO DAN PERISTIWA 17 OKTOBER 1952

 Oleh : Yanuar Iwan


"Kepemimpinan sejati berasal dari individualitas yang diekspresikan secara jujur dan kadang-kadang secara tidak sempurna... para pemimpin harus berjuang untuk ketulusan daripada kesempurnaan ( Sheryl Sandberg )

Quotes dari Sheryl Sandberg ( CEO FB ) dan mantan Kepala Staf Departemen Keuangan AS, kiranya pas untuk menggambarkan seorang Soekarno sebagai presiden sekaligus pemimpin dari bangsa besar bernama Indonesia.

Bung Karno adalah pemimpin yang dipuja sekaligus dibenci, pemimpin Indonesia paling populer sekaligus kontroversial, cinta dan ketulusan adalah dua kata kunci untuk memahami Bung Karno, cinta terhadap yang maha pencipta, cinta terhadap tanah airnya, cinta terhadap keindahan,  cinta terhadap wanita dan cinta dan ketulusannya kepada rakyat Indonesia.

Dengan cinta dan ketulusannya Bung Karno bersama Indonesia menjalani masa-masa sulit seperti yang terjadi pada dekade 50an, dekade penuh gejolak dan demokrasi parlementer menjadi biang kekisruhan politik. Kabinet jatuh bangun silih berganti, pemimpin partai politik sibuk mengutamakan ego sektoral.

Tentara gerah dengan situasi ini, rivalitas tentara dan parlemen diperkeruh dengan isu rasionalisasi dan  restrukturisasi dari dua orang perwira tinggi TNI, Nasution dan TB Simatupang perwira pemikir ini menginginkan agar proses re-ra dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan Belanda MMB ( Misi militer Belanda ) dalam hal teknis tidak dalam hal ideologis tentara. Usulan ini memicu konflik dan perpecahan para perwira yang mendapatkan dukungan dari parlemen seperti Kolonel Bambang Sugeng dan Kolonel  Bambang Supeno segera menjadi kelompok penentang Nasution. Re-ra segera mempertajam rivalitas didalam tubuh TNI AD dan meningkatkan konflik antara TNI AD versus parlemen.

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah ujian bagi seorang Soekarno, istana dikepung, artileri-artileri berat dikerahkan langsung menghadap keistana. Nasution ( KSAD ) dengan bahasa halus tetapi menekan berujar "ini tidak ditujukan kepada Bung Karno pribadi, melainkan untuk menentang sistem pemerintahan. Bung Karno harus segera membubarkan parlemen".

Mataku memerah karena marah, "Engkau benar dalam tuntutanmu, tetapi salah dalam caranya. Soekarno tidak akan menyerah menghadapi paksaan. Tidak pernah kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional Indonesia.

"Bila ada kekacauan  di negara kita, setiap orang berpaling kepada tentara", balas Nasution. "Tokoh-tokoh politik membikin perang, tetapi si prajurit yang harus mati. Wajar bila kami turut berbicara tentang apa yang sedang berlangsung."

"Mengemukakan apa yang terasa dihatimu kepada Bung Karno- YA. Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia - TIDAK JANGAN SEKALI-KALI".

( kutipan percakapan Soekarno - AH Nasution di istana negara 17 Oktober 1952. (Cindy Adams "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia")

Peristiwa bernuansa  "kup" ini dengan sukses berhasil diselesaikan Bung Karno dengan kharisma, kejujuran, dan ketulusannya. Presiden RI pertama  tersebut langsung mendatangi para prajurit yang mengepung istana, membuka komunikasi dan dialog dengan para prajurit bersenjata lengkap dan berakhir dengan teriakan "Hidup Bung Karno"

Si Bung tidak pernah melarikan diri dari masalah, ia memiliki kharisma dan aura seorang pemimpin, dengan sorot matanya satu batalyon infanteri dan batalyon artileri "luluh lantah". Pemimpin berkualitas banyak jumlahnya, tetapi pemimpin yang memiliki kharisma hanya bisa dihitung dengan jari, Si Bung memiliki ketulusan untuk dekat dengan rakyat, pemimpin paling berani dimasanya, pemimpin yang jauh  dari korupsi ( Bung Karno meninggalkan istana hanya menggunakan kaus oblong dan piyama, Gus Dur mengenakan celana pendek saat meninggalkan istana ) dua presiden ini hendak memberikan gambaran bahwa istana jauh dari nuansa borjuis dan feodal. Tidak ada pemimpin yang sempurna, tetapi Bung Karno sudah memberikan segalanya bagi Indonesia dengan segala kejujuran, ketulusan, dan rasa cintanya yang besar kepada republik bernama Indonesia.


Cipanas, 4 September 2021.

Jumat, 03 September 2021

"Jadilah Guru yang Dirindukan, Bukan Dipinggirkan"

 

Muhammad Yusuf, M.Pd. saat membuka kehiatan
webinar seni Komunikasi Mengajar yang dirindukan Siswa di Kota Depok (3/9)

Depok. Socius.(3/9). "Jadilah guru yang dicintai, bukan dibenci. Jadilah guru dinantikan bukan dinapikan, Jadilah guru yang dirindukan bukan dipinggirkan dan Jadilah guru yang digugu dan ditiru" demikian pesan Muhammad Yusuf. M.Pd. ketika memberikan sambutan saat membuka kegiatan Webinar Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan Siswa (3/9).

Sebelumnya, Kasi Kurikulum dan Penilaian Disdik Kota Depok ini yang hadir mewakili Kadisdik Kota Depok meminta peserta agar menggunakan materi yang diterima dalam kegiatan ini sebagai senjata untuk bertempur di medan pembelajaran.  Menurutnya, secanggih apapun senjata kembali pada man behind the gun-nya. Sehebat apapun materi yang diberikan tidak akan berarti jika tidak dimanfaatkan dengan baik dalam pembelajaran.

Sementara itu Erik Kurniawan, M.Pd. selaku ketua panitia kegiatan melaporkan bahwa kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Pengda FKGIPS Kota Depok dengan MGMP IPS Kota Depok. Diikuti tidak hanya oleh guru IPS Kota Depok, tetapi guru mapel lain dari berbagai jenjang dan guru dari luar Depok. Tercatat ada peserta dari Padangsidempuan, Tegal, Blitar, Tulungagung, Bandung, Bogor dan Bekasi.

Lelaki yang akrab disapa Gus Erik ini  berharap dalam kegiatan ini peserta webinar bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang baru, sehingga apa yang didapat dari webinar ini bisa disampaikan ke rekan-rekan guru di sekolahnya masing-masing. 

Selain itu menurut Ketua MGMP IPS Kota Depok  ini yang lebih penting materi ini dipraktekkan ke dalam kegiatan belajar mengajar di depan anak-anak, baik luring maupun daring.

Erik Kurniawan (Ketua Panitia), Iwa Koswara (Nara Sumber)
dan Enang Cuhendi (Moderator)

Kegiatan di Kota Depok ini merupakan rangkaian roadshow kegiatan Pelatihan Seni Komunikasi Mengajar yang Dirindukan Siswa sebagai program besar FKGIPS Nasional menyongsong pembelajaran tatap muka. 

Seperti di daerah-daerah sebelumnya antusiasme peserta nampak terlihat. Tampil sebagai nara sumber kegiatan adalah Drs. Iwa Koswara, M.Pd. dengan moderator Enang Cuhendi, S.Pd. MM.Pd. (EC-Socius 01)




Rabu, 01 September 2021

MENGAPA DIBUAT STRATA ?

 Oleh: Yanuar Iwan


Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian ( Gus Dur )


Kehidupan sosial terkadang aneh, aturan-aturan sosial dan budaya justru mengarahkan manusia untuk mempertegas perbedaan-perbedaan, semakin tinggi status sosial yang dimiliki seseorang maka akan semakin tinggi pula perlakuan dan penghormatan masyarakat kepadanya. Dalam proses sosial hal tersebut tidaklah salah, yang menjadi masalah adalah apabila seseorang atau kelompok yang memiliki kewenangan "elit" tersebut terus memperkuat strata sosialnya dengan "segala cara" guna mendapatkan penghargaan-penghargaan tertentu bahkan menikmati perlakuan penghargaan dari strata sosial dibawahnya.


Masyarakat tunduk dan patuh kepada kelompok elit tanpa syarat, sementara kelompok elit menikmatinya, kekuasaan dan jabatan memang memabukkan. Kita menggunakan lambang-lambang pergaulan modern untuk mempertegas  dan menyatakan status kita dari pakaian, kendaraan, gaya bicara sampai dengan mode rambut, mungkin saja ada sebagian penghuni strata elit yang "bahagia" ketika mereka melihat orang-orang  dengan strata dibawahnya menundukkan kepala dan tubuhnya, sambil mengucapkan salam " hangat" dan senyum "perihnya". Dan kitapun bangga dengan lambang-lambang modern yang kita kenakan tetapi terkadang kita lupa ada perbedaan mendasar antara "ketaatan" dan "kultus" individu dan  secara tidak sadar kita dengan sengaja atau tidak turut menguatkan kembalinya feodalisme zaman kolonial dengan segala pernak-perniknya.


Cipanas, akhir Agustus 2021.