Sabtu, 04 September 2021

BUNG KARNO DAN PERISTIWA 17 OKTOBER 1952

 Oleh : Yanuar Iwan


"Kepemimpinan sejati berasal dari individualitas yang diekspresikan secara jujur dan kadang-kadang secara tidak sempurna... para pemimpin harus berjuang untuk ketulusan daripada kesempurnaan ( Sheryl Sandberg )

Quotes dari Sheryl Sandberg ( CEO FB ) dan mantan Kepala Staf Departemen Keuangan AS, kiranya pas untuk menggambarkan seorang Soekarno sebagai presiden sekaligus pemimpin dari bangsa besar bernama Indonesia.

Bung Karno adalah pemimpin yang dipuja sekaligus dibenci, pemimpin Indonesia paling populer sekaligus kontroversial, cinta dan ketulusan adalah dua kata kunci untuk memahami Bung Karno, cinta terhadap yang maha pencipta, cinta terhadap tanah airnya, cinta terhadap keindahan,  cinta terhadap wanita dan cinta dan ketulusannya kepada rakyat Indonesia.

Dengan cinta dan ketulusannya Bung Karno bersama Indonesia menjalani masa-masa sulit seperti yang terjadi pada dekade 50an, dekade penuh gejolak dan demokrasi parlementer menjadi biang kekisruhan politik. Kabinet jatuh bangun silih berganti, pemimpin partai politik sibuk mengutamakan ego sektoral.

Tentara gerah dengan situasi ini, rivalitas tentara dan parlemen diperkeruh dengan isu rasionalisasi dan  restrukturisasi dari dua orang perwira tinggi TNI, Nasution dan TB Simatupang perwira pemikir ini menginginkan agar proses re-ra dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan Belanda MMB ( Misi militer Belanda ) dalam hal teknis tidak dalam hal ideologis tentara. Usulan ini memicu konflik dan perpecahan para perwira yang mendapatkan dukungan dari parlemen seperti Kolonel Bambang Sugeng dan Kolonel  Bambang Supeno segera menjadi kelompok penentang Nasution. Re-ra segera mempertajam rivalitas didalam tubuh TNI AD dan meningkatkan konflik antara TNI AD versus parlemen.

Peristiwa 17 Oktober 1952 adalah ujian bagi seorang Soekarno, istana dikepung, artileri-artileri berat dikerahkan langsung menghadap keistana. Nasution ( KSAD ) dengan bahasa halus tetapi menekan berujar "ini tidak ditujukan kepada Bung Karno pribadi, melainkan untuk menentang sistem pemerintahan. Bung Karno harus segera membubarkan parlemen".

Mataku memerah karena marah, "Engkau benar dalam tuntutanmu, tetapi salah dalam caranya. Soekarno tidak akan menyerah menghadapi paksaan. Tidak pernah kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional Indonesia.

"Bila ada kekacauan  di negara kita, setiap orang berpaling kepada tentara", balas Nasution. "Tokoh-tokoh politik membikin perang, tetapi si prajurit yang harus mati. Wajar bila kami turut berbicara tentang apa yang sedang berlangsung."

"Mengemukakan apa yang terasa dihatimu kepada Bung Karno- YA. Tetapi mengancam Bapak Republik Indonesia - TIDAK JANGAN SEKALI-KALI".

( kutipan percakapan Soekarno - AH Nasution di istana negara 17 Oktober 1952. (Cindy Adams "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia")

Peristiwa bernuansa  "kup" ini dengan sukses berhasil diselesaikan Bung Karno dengan kharisma, kejujuran, dan ketulusannya. Presiden RI pertama  tersebut langsung mendatangi para prajurit yang mengepung istana, membuka komunikasi dan dialog dengan para prajurit bersenjata lengkap dan berakhir dengan teriakan "Hidup Bung Karno"

Si Bung tidak pernah melarikan diri dari masalah, ia memiliki kharisma dan aura seorang pemimpin, dengan sorot matanya satu batalyon infanteri dan batalyon artileri "luluh lantah". Pemimpin berkualitas banyak jumlahnya, tetapi pemimpin yang memiliki kharisma hanya bisa dihitung dengan jari, Si Bung memiliki ketulusan untuk dekat dengan rakyat, pemimpin paling berani dimasanya, pemimpin yang jauh  dari korupsi ( Bung Karno meninggalkan istana hanya menggunakan kaus oblong dan piyama, Gus Dur mengenakan celana pendek saat meninggalkan istana ) dua presiden ini hendak memberikan gambaran bahwa istana jauh dari nuansa borjuis dan feodal. Tidak ada pemimpin yang sempurna, tetapi Bung Karno sudah memberikan segalanya bagi Indonesia dengan segala kejujuran, ketulusan, dan rasa cintanya yang besar kepada republik bernama Indonesia.


Cipanas, 4 September 2021.