Kamis, 23 September 2021

GURU HONORER: HABIS MANIS SEPAH DIBUANG

 


Oleh Rudianto, M.Pd.

 

Seleksi ASN jalur PPPK Guru honorer tahap 1 sudah dilaksanakan pada 13 – 17 September 2021. Pelaksanaan seleksi berjalan dengan lancar. Namun di balik kesuksesan penyelenggaraan seleksi, ada hal yang sangat menyesakan dada dan menyakitkan hati guru di Indonesia. Betapa tidak, hasil seleksi menunjukkan bahwa tingkat kelulusan atau raihan nilai yang bisa melampaui ambang batas sangat rendah. Ini berarti guru-guru yang sudah mengabdikan dirinya untuk pendidikan di Indonesia tidak diperhitungkan. Ini juga berarti pengorbanan mereka untuk mencerdaskan anak bangsa, anak ibu pertiwi tidak dihargai. 

Mereka telah berbuat yang terbaik untuk negeri dengan mengorbankan diri dan keluarganya. Mereka rela dibayar tak layak yang jauh dari profesional demi memajukan negeri. Mereka berjalan kaki menuju sekolah bukan demi kesehatan, tapi mereka lakukan itu karena tidak punya kendaraan dan tidak punya ongkos. Mereka mengenakan pakaian dan sepatu lusuh bukan untuk mengajarkan kesederhanaan, tapi itu karena mereka memiliki pakaian dan sepatu yang terbatas. Tetapi batapa beratnya ibu pertiwi membalas pengorbanan mereka.

Seleksi ASN dilakukan dengan ketat dan berat demi mendapatkan SDM guru yang berkualitas. SDM guru yang berkualitas adalah jaminan untuk menigkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ini semua saya sangat setuju. 

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah untuk mendapatkan SDM guru yang berkualitas hanya bisa dilakukan dengan seleksi yang ketat dan berat? Tentu saja tidak. Seleksi yang ketat dan berat adalah salah satu cara untuk menjaring SDM yang berkualitas. 

Untuk mewujudkan SDM guru yang berkualitas bukan berarti guru yang ada yang dianggap kurang berkualitas harus dienyahkan. Guru-guru honorer yang sudah memiliki masa kerja belasan bahkan puluhan tahun bukan tidak mau meningkatkan berkualitas, tetapi kesempatan mereka untuk meningktakan kualitas yang tidak diberikan. Sebab tidak ada guru yang bodoh atau tidak berkualitas. Yang ada adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kualitas diri guru. 

Mereka juga pasti sangat mau meningkatkan kualitas dirinya. Mengapa mereka tidak memiliki kemampuan dan kesempatan meningkatkan kualitas? Ini karena banyak hal. Pertama, mereka tidak memiliki biaya untuk meninkatkan kualitas dirinya. Pada era 4.0, segala informasi tersaji dengan leluasa di dunia maya. Tetapi apakah mereka mampu menjangkau dunia maya secara leluasa? Perangkat dan kuota akan menjadi penghalang bagi mereka untuk mengakses informasi secara leluasa.

Kedua, mereka tidak memiliki waktu untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Meskipun waktu mereka sama 24 jam dalam sehari, tetapi sebagian besar waktu mereka digunakan untuk bekerja sampingan untuk menopang ekonomi keluarganya. Penulis pernah bertemu denga supir ojol yang ternyata mereka guru honorer di sebuah SMP negeri. Dia menjadi ojol semenjak subuh sampai waktunya mengajar. Setelah mengajar dia kembali menjadi ojol sampai malam. Ketika ditanya kapan merencanakan pembelajaran, dia jawab, RPP cukup dalam ingatan yang disusun sambil menjadi ojol. 

Ketiga, mereka tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Ini lebih tepatnya mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai guru. Ketika ada pelatihan atau bimtek yang diselenggarakan oleh disdik atau kementrian, guru honorer jarang sekali dilibatkan. Intinya berikanlah kesempatan yang sama kepada semua guru untuk meningkatkan kualitas! Inilah yang harus dilakukan Pemerintah, organisasi profesi guru, LSM pndidikan, dan semua pihak.

Melihat hal di atas, guru honorer bukan berarti tidak memungkinkan untuk ditingkatkan kompetensinya. Untuk meningkatkan kualitas guru, berikanlah pola pembinaan profesionalisme guru yang benar. Pembinaan guru yang benar harus memperhatikan, kebutuhan, kondisi, situasi, pendampingan, berkelajutan, keberagaman, serta hal lainnya. Pelatihan guru dalam jabatan akan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan guru honorer kelak setelah mereka menjadi ASN.

Bahkan guru honorer yang sudah lama mengabdi memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki oleh guru baru. Dalam poses pembelajaran pepatah “pengalaman adalah guru yang baik dan guru yang baik adalag guru yang berpengalaman” selalu akan berguna. Artinya guru honorer yang sudah memiliki masa kerja yang lama adalah guru-guru yang berpengalaman. Sementara pengalaman tidak bisa didapatkan melalui jenjang pendidikan. Harus diingat jam terbang seseorang dalam mengajar akan menjadi bekal bagi guru dalam meningkatkan kompetensinya.

Jadi, apa ruginya bagi pemerintah untuk mengangkat guru honorer menjadi ASN. Justru pemerintah akan menadapatkan guru yang berpengalaman yang berkualitas kalau mampu mengakat guru honor dan mampu membinanya dengan tepat. 

Penulis adalah Ketua APKS PGRI Kabupaten Cirebon.