Kamis, 30 September 2021

KOMUNISME DAN RADIKALISME VS PROFIL PELAJAR PANCASILA

 


Oleh

Enang Cuhendi, S.Pd. MM.Pd.

Setiap akhir September bangsa Indonesia seakan diingatkan kembali tentang peristiwa duka pada 30 September 1965. Dalam sejarah peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Pemberontakan G 30 S/PKI. Pemberontakan yang bertujuan untuk mengganti ideologi negara, Pancasila dengan komunisme.

Terkait dalang dari peristiwa tersebut memang masih ada sejumlah kontroversi. Namun berdasarkan sejumlah data dan fakta sejarah yang ada, sebagian sejarawan percaya bahwa pelakunya adalah Partai Komunis Indonesia. Partai berideologi komunis yang telah beberapa kali melakukan pemberontakan di Nusantara. Tercatat mereka pernah memberontak pada 1927, 1948 dan 1965. Keadaan tersebut akhirnya memaksa rakyat Indonesia untuk mendesak dibubarkannya PKI dan telah disyahkan melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966.

Peristiwa tersebut memang sudah berlalu cukup lama. Bahkan Negara-negara penganut paham komunis juga sudah banyak bertumbangan. Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslowakia,  dan negara-negara komunis Eropa Timur lainnya sudah bubar. Walau demikian ini tidak berarti masalah komunisme selesai. Kewaspadaan atas ideologi ini tetap harus dijaga. Apalagi masih ada sejumlah negara-negara komunis yang masih berjaya, seperti halnya: Cuba, Vietnam, Laos dan tentunya Tiongkok.

Pada 1998 bangsa Indonesia telah melakuakn gerakan reformasi. Reformasi di Indonesia seharusnya untuk melakukan reorganisasi, refungsionalisasi dan revitalisasi atas segala hal yang dianggap perlu dibenahi. Kenyataannya ternyata telah menyimpang sehingga terjadi disorganisasi, disfungsionalisasi dan disvitalisasi. Selain itu disamping menghasilkan perubahan yang positif, juga berdampak pada adanya fenomena kebebasan yang seolah-olah tanpa batas.

Pasca reformasi, terkait dengan komunisme dengan menggunakan dalih reformasi beberapa pihak mencoba membuka peluang untuk kembalinya gerakan komunis. Indikasinya terlihat antara lain dengan bergulirnya ide penghapusan TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 beberapa waktu lalu yang menggelinding bagaikan bola salju, munculnya tuntutan rehabilitasi terhadap eks tapol G.30-S/PKI serta maraknya buku dan atribut berhaluan kiri hadir di tengah masyarakat.

Apalagi dalam kondisi krisis multi dimensi yang berkepanjangan dan adanya berbagai ketidakpastian berbagai indikasi bangkitnya komunisme di Indonesia telah nyata muncul. Krisis multidimensi telah membawa akibat yang cukup serius hampir di seluruh aspek kehidupan, antara lain bertambahnya jumlah penduduk miskin, pengangguran, menurunnya derajat toleransi dan meningkatnya tindak kriminalitas serta konflik horisontal dan vertikal. Kondisi ini menjadi lahan subur untuk tersemainya benih-benih gerakan komunis.

Komunisme secara partai politik memang sudah lama dibubarkan. Namun secara ideologi dan gerakan, komunisme masih menjadi bahaya laten yang siap mengancam kapan saja. Komunisme yang bergerak saat ini merupakan komunisme gaya baru. Dengan selain ciri khususnya yang bersifat radikal revolusioner dan menghalalkan segala cara, juga menyesuaikan diri dengan organisasi yang disusupinya termasuk organisasi agama. Secara pribadi penulis meyakini bahwa bahaya laten komunisme masih ada dan terus mengancam bangsa kita.

Radikalisme

Di samping komunisme, satu bahaya lain yang juga mengancam keutuhan bangsa, yaitu radikalisme. Dalam konteks politik radikalisme bisa dipahami sebagai pandangan ekstrem dan keinginan untuk perubahan sosial yang cepat. Secara etimologi, radikalisme berasa dari istilah radikal. Kata radikal berasal dari bahasa Latin, radix atau radici yang berarti 'akar'. Istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala.

Sementara menurut KBBI, radikalisme memiliki tiga arti. Pertama, radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, kedua, radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, dan ketiga, radikalisme adalah sikap ekstrem dalam aliran politik.

Aksi radikalisme umumnya terkait dengan konsep terorisme dan ekstrimisme. Terorisme umumnya terkait aksi-aksi penggunaan kekerasan dan tindakan teror untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan. Sedangkan ekstrimisme terwujud dalam berbagai aksi yang melampaui batas kebiasaan atau hukum dan memaksakan kehendak dalam membela atau menuntut sesuatu.

Radikalisme bukan sebuah gerakan baru. Gerakan ini sudah berkembang sejak abad ke-18 di Eropa. Inggris, Perancis kemudian juga Amerika Serikat menjadi tempat-tempat yang bersejarah dalam mendorong tumbuhnya benih radikalisme ini. Dalam Ensiklopedia Britanica tercatat Charles James Fox menjadi pelopor radikalisme dengan gerakannya yang disebut “Reformasi radikal” di Inggris pada 1797.

Paham radikal bisa menyasar siapapun dan tak mengenal umur. Kalau pada awalnya pelaku radikalisme lekat dengan posisi dan aspirasi kaum liberal di Inggris. Tahap berikutnya menyebar pada para pengikut Marxis dan kelompok golongan lainnya, termasuk yang mengatasnamakan agama. Yang paling membahayakan radikalisme berpotensi menyasar generasi muda usia 17-24 tahun. Alasannya, kaum muda dalam usia ini masih enerjik, labil dan tengah mencari jati diri.

Radikalisme sejatinya sulit diidentifikasi dari segi penampilan dan prilaku. Radikalisme ada pada ranah pemikiran. Akan tetapi di Indonesia dengan mengacu pada Undang-Undang No 5 Tahun 2018 Tentang Tindak Pidana Terorisme, kriteria radikal dapat dilihat dari sikap atau gerakan seseorang atau kelompok yang memiliki kecenderungan untuk: anti-Pancasila, anti kebhinekaan, anti NKRI, dan anti Undang-Undang Dasar 1945.

Membangun Profil Pelajar Pancasila

Berkembangnya komunisme dan radikalisme tentunya harus diantisipasi, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Prinsip jangan biarkan komunisme dan radikalisme tumbuh subur di Nusantara harus terus digaungkan. Jangan pernah lengah dengan gerakan yang akan merusak keutuhan bangsa kita.

Peran aktif semua pihak dalam melawan paham berbahaya mutlak diperlukan. Dalam hal ini termasuk peran dunia pendidikan. Mengingat sasaran dari gerakan-gerakan ini salah satunya adalah generasi muda atau pelajar dan mahasiswa.

Salah satu yang bisa dilakukan dunia pendidikan adalah memperkuat karakter di kalangan pelajar dan juga mahasiswa. Pembentukan karakter mutlak diperlukan, karena dengan karakter yang terbangun dengan kuat pengaruh-pengaruh negatif dari luar akan mudah ditangkal.

Salah satu gerakan membangun karakter di kalangan pelajar yang sedang dikembangkan pemerintah adalah membangun profil pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila merupakan sebuah profil ideal karakter pelajar di Indonesia yang harus diwujudkan oleh semua pihak melalui enam elemen kunci. Keenam elemen kunci ini meliputi: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, 2) Berkebhinekaan global, 3) gotong royong, 4) Mandiri, 5) Bernalar Kritis, dan 6) Kreatif.

Elemen pertama menekankan bahwa pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ini diharapkan ia mampu memahami ajaran agama dan kepercayaannya dengan baik serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Pelajar ini mampu berakhlak mulia, terkait dengan akhlak dalam beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak dalam bernegara. Dengan keyakinan agama yang kuat dan akhlak mulia seperti ini maka kemungkinan terpapar gerakan-gerakan membahayakan, seperti komunisme dan radikalisme akan dapat diminimalisir.

Elemen berkebhinekaan global mengandung arti bahwa pelajar Indonesia diharapkan mampu mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lainnya. Dengan ini diharapkan akan tumbuh rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Kemampuan sang pelajar untuk mengenal dan menghargai budaya, berkomunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebhinekaan menjadi modal terbangunnya sifat toleransi, terbuka dan menjauhkan dari pemikiran yang eksklusif dan ekstrem.

Elemen ketiga, menuntut setiap pelajar Indonesia untuk memiliki kemampuan bergotong royong. Kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Karakter untuk mampu melakukan kebersamaan, kolaborasi, memiliki kepedulian, dan kemampuan berbagi dengan sesama. Dengan ini mereka akan mampu hidup berdampingan secara damai dan sejahtera bersama. Dengan kondisi seperti ini, maka kondisi yang memungkinkan tumbuhnya benih-benih paham berbahaya akan dapat terantisipasi.

Kemandirian perlu diperkuat dalam diri pelajar Indonesia. Mereka harus tumbuh menjadi pelajar mandiri. Pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Para pelajar yang dibangun untuk memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri. Hasil akhirnya akan mendorong lahirnya sikap yang tidak tergantung pada orang lain dan tidak mudah terpengaruhi pengaruh orang luar. Kemandirian ini akan mampu meredam mereka ketika mendapat bisikan atau ajakan negatif dari luar.

Kemampuan bernalar kritis di kalangan pelajar ditandai dengan kemampuan secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Para pelajar harus memiliki kemampuan ini agar dapat mencerna dan mensikapi dengan baik setiap informasi atau ajakan yang mereka terima. Sampai akhirnya mampu memutuskan untuk mengiyakan atau menolak informasi tersebut dengan logika sehat.

Elemen terakhir yaitu kreatif. Elemen ini betujuan membangun pelajar Indonesia menjadi insan yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Kunci dari kreatif ini adalah mampu menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal. Dengan kreatifitas yang dimilikinya diharapkan setiap pelajar akan berhasil dalam hidupnya dan tumbuh menjadi sosok yang sukses. Kesuksesan hidup inilah yang akan menjauhkan ia dari kemiskinan sebagai tempat subur tertanamnya pemikiran dan gerakan negatif, seperti komunisme dan radikalisme.

Dengan terbangunnya karakter pelajar Pancasila yang digali dari nilai luhur bangsa diyakini akan mampu melawan gempuran paham berbahaya. Komunisme, radikalisme, bahkan kapitalisme yang juga marak berkembang diharapkan dapat ditangkal dan tidak akan tumbuh dalam diri para pelajar. Ini artinya menyelamatkan bangsa ke depan.

Walau masih dalam proses, setidaknya inilah salah upaya menyelamatkan bangsa dari hantaman gerakan berbahaya di masa depan. Jangan pernah berhenti untuk terus berperang dengan paham-paham berbahaya yang berkembang dengan mengatasnamakan apapun.