Rabu, 01 September 2021

MENGAPA DIBUAT STRATA ?

 Oleh: Yanuar Iwan


Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian ( Gus Dur )


Kehidupan sosial terkadang aneh, aturan-aturan sosial dan budaya justru mengarahkan manusia untuk mempertegas perbedaan-perbedaan, semakin tinggi status sosial yang dimiliki seseorang maka akan semakin tinggi pula perlakuan dan penghormatan masyarakat kepadanya. Dalam proses sosial hal tersebut tidaklah salah, yang menjadi masalah adalah apabila seseorang atau kelompok yang memiliki kewenangan "elit" tersebut terus memperkuat strata sosialnya dengan "segala cara" guna mendapatkan penghargaan-penghargaan tertentu bahkan menikmati perlakuan penghargaan dari strata sosial dibawahnya.


Masyarakat tunduk dan patuh kepada kelompok elit tanpa syarat, sementara kelompok elit menikmatinya, kekuasaan dan jabatan memang memabukkan. Kita menggunakan lambang-lambang pergaulan modern untuk mempertegas  dan menyatakan status kita dari pakaian, kendaraan, gaya bicara sampai dengan mode rambut, mungkin saja ada sebagian penghuni strata elit yang "bahagia" ketika mereka melihat orang-orang  dengan strata dibawahnya menundukkan kepala dan tubuhnya, sambil mengucapkan salam " hangat" dan senyum "perihnya". Dan kitapun bangga dengan lambang-lambang modern yang kita kenakan tetapi terkadang kita lupa ada perbedaan mendasar antara "ketaatan" dan "kultus" individu dan  secara tidak sadar kita dengan sengaja atau tidak turut menguatkan kembalinya feodalisme zaman kolonial dengan segala pernak-perniknya.


Cipanas, akhir Agustus 2021.