Sabtu, 25 September 2021

MUDAHNYA MENGHAKIMI ORANG


Oleh : Yanuar Iwan


Dalam hubungan sosial antar individu dan antar kelompok manusia seringkali seseorang atau kelompok orang dengan mudah menghakimi seseorang hanya karena penampilan fisiknya. Kita menjadi khawatir apabila seorang gelandangan, pengemis, dan anak jalanan  mendekati kita, respon motorik ditubuh kita langsung memberikan peringatan "bahaya" dini ada "kotoran" mendekat. Budaya pergaulan kita mengarahkan pandangan kita kepada kebersihan, kemapanan, dan kerapihan, kita menjadi paranoia dengan lambang-lambang masyarakat marginal, sikap menghakimi mendorong kita untuk berpersepsi ria bahwa gelandangan dan pengemis identik dengan kemalasan struktural. Tanpa ada keinginan untuk mengetahui mengapa makin banyak gelandangan, pengemis, dan anak jalanan di negeri ini.

Budaya sosial kita sudah lama tercemar dengan keinginan untuk menghakimi tanpa disertai keinginan untuk mempelajari latar belakang sosial dan ekonomi mengapa mereka bertindak seperti itu.

Era kemapanan abad 21 dengan segala ukuran keberhasilannya, membuat seseorang yang menggunakan sandal jepit ditempat-tempat resmi terlihat aneh, atas nama aturan kita bersama-sama menghakimi orang yang menggunakan sandal jepit tidak tahu diri, tidak sopan, tidak layak dijadikan contoh. Ada berbagai kemungkinan sosial dan ekonomi seseorang menggunakan sandal jepit, apakah karena faktor ekonomi, ataukah organ kakinya sedang sakit sehingga tidak memungkinkan dia menggunakan sandal dan sepatu yang identik dengan aturan sosial.

Keinginan untuk menghakimi masih kuat tertanam pada budaya sosial masyarakat kita, akibat perbuatan menghakimi banyak kaum miskin, kaum pinggiran, dan orang-orang yang menjadi marginal karena sistem budaya menghakimi, semakin rendah diri bahkan sampai bunuh diri. Semangat menghakimi tidak terbatas kepada orang-orang dewasa dan remaja, kini anak-anakpun sudah menjadi "hakim" yang menghancurkan masa depan kawannya di sekolah atau di lingkungan rumah, dan Tuhan belum tentu satu sikap dengan mereka.


Cipanas, 25 September 2021.